http://www.youtube.com/watch?v=6M9-XDU66do&feature=related


Wayang Golek (Jawa Barat)
otet tea — Tue, 07/04/2009 - 22:42

    * kesenian urang Sunda
    * Wayang

Budaya

Wayang Golek (Jawa Barat) 1. Asal-usul
Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan 
lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat 
dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari 
wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 
Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek 
yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) 
menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang 
purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. 
Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. 
Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit 
sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut 
sebagai wayang golek.

Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan 
wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak 
masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah 
Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk 
kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak 
dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. 
Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. 
Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek 
purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).

Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah 
III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman 
(penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, 
untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk 
gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, 
atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh 
berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada 
awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan 
sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan 
Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan 
bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang 
digunakan adalah bahasa Sunda.

 

2. Jenis-jenis Wayang Golek
Ada tiga jenis wayang golek, yaitu: wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan 
wayang golek modern. Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan 
ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon. Wayang golek purwa 
adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan 
pengantar bahasa Sunda sebagai. Sedangkan, wayang golek modern seperti wayang 
purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya 
menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk 
menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek 
modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar tahun 
1970--1980.

3. Pembuatan
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan 
meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk 
mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan 
cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang 
merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. 
Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, 
putih, prada, dan hitam.

4. Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika 
semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat 
pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati 
pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut 
dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat". 
Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman 
seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara 
lain sebagai berikut: Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman 
sejati sebab itu harus menjaga nilainya. Dua: Mendidik masyarakat. Itulah 
sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah 
laku. Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau 
membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada 
masyarakat. Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa 
gotong-royong dalam segala masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika 
di lingkungan masyarakat. Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan 
menjaga kepribadian sendiri dan bangsa. Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk 
dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap 
adat-istiadat bangsa. 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke