http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/artikel/889-mencari-pemikir-pembaru-islam.html

Mencari Pemikir Pembaru Islam 
Rabu, 06 Oktober 2010 00:00 Marzuki Wahid 

Menyambut Public Lecture ISIF 2010

MENCARI PEMIKIR PEMBARU ISLAM


Pada Minggu, 3 Oktober 2010 nanti, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon 
akan menyelenggarakan Public Lecture I 2010 di kampus Swasembada, Majasem, 
Cirebon. Public Lecture kali ini menghadirkan tiga pemikir Islam yang berbeda 
aliran, yakni Ulil Abshar-Abdalla (tokoh dan pemikir Islam liberal), KH. Husein 
Muhammad (pemikir  dan feminis Muslim dari kalangan Pesantren), dan Prof. Dr. 
Shalahudin Kafrawi (akademisi moderat yang menjadi Assistant Professor of 
Religious Studies di Hobart and William Smith Colleges, USA). Tiga tokoh ini 
akan mendiskusikan topik yang sama, yakni "dialektika tradisi dan pembaruan 
dalam pemikiran Islam." Tulisan ini bermaksud memberikan pengantar diskursus 
dan agenda pertanyaan atas topik tersebut.

Perginya Sang Pembaru

Sepeninggal pemikir pembaruan Islam Indonesia kawakan Nurcholish Madjid-biasa 
dipanggil Cak Nur--pada 2005, dalam dua tahun terakhir ini pemikir besar Islam 
secara beruntun meninggalkan kita. Yakni, Abdurrahman Wahid-alias Gus 
Dur--wafat pada 30 Desember 2009, Moh. 'Abid al-Jabri meninggal dunia pada 3 
Mei 2010, Nasr Hamid Abu Zayd menghembuskan nafas terakhir pada 5 Juli 2010, 
dan Mohammed Arkoun menemui Tuhannya pada 14 September 2010 di Paris, Prancis.

Dunia Islam-khususnya umat Islam Indonesia-terus terang saja kehilangan para 
pembaru itu (al-mujaddidun). Penantian kita terhadap kritik tajam dan 
tawaran-tawaran pemikiran cerdas mereka berakhir sudah. Mereka telah 
meninggalkan kita untuk selamanya. Akan tetapi, pemikiran mereka terus 
menyinari zaman dan menjadi sumber diskursus akademik yang tak pernah habis.

Kilauan pemikiran mereka telah tercatat turut serta menyemarakkan hingar bingar 
cakrawala pemikiran Islam dan kehangatannya dalam merespon perkembangan zaman 
yang terus berubah. Dalam setiap uluhati muslim reformis terpahat rapih spirit 
pembaruan, pembebasan, dan ijtihad mereka dalam menghadirkan Islam di tengah 
jantung kehidupan masyarakat kontemporer dengan segala tantangan dan 
pergolakannya.

Kembali Sunyi

Dalam konteks Indonesia, jujur saja, sepeninggal Cak Nur dan Gus Dur-dua 
begawan pemikir pembaruan Islam asal Jombang-Indonesia sepi dari dinamika 
pemikiran kritis-transformatif.

Cak Nur dan Gus Dur tidak saja terus melontarkan pikiran-pikiran kritisnya, 
tetapi juga mereka berupaya mengubah keadaan dengan berbagai kekuatan yang 
mereka miliki.  Dengan gamblang, Gus Dur tidak saja menjadikan kekuatan 
sosial-budaya, melalui organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama, sebagai basis 
gerakan, tetapi juga kekuatan sosial-politik dia ciptakan dan kekuasaan politik 
dia raih demi transformasi sosial yang dia imajinasikan.

Gus Dur memang berbeda dengan al-Jabiri, Abu Zayd, Arkoun, Cak Nur, atau Harun 
Nasution. Gus Dur tidak saja pemikir pembaruan, tetapi juga sekaligus pembaru 
sosial-budaya-politik itu sendiri. Puncak karir politiknya pernah menjadi 
Presiden, yang menorehkan dasar-dasar penting bagi reformasi politik  Indonesia.

Selama ini, Cak Nur dan Gus Dur adalah peledak 'bom' dan sasaran 'bom' 
kontroversi pemikiran Islam yang menggugahkan kesadaran pembaruan pemahaman 
ajaran Islam di Indonesia. 'Bom' pemikiran mereka kini digantikan dengan bom 
molotov dan bom rakitan milik para teroris. Bukan dinamika pemikiran yang 
meledak, melainkan ratusan jiwa manusia berguguran.

Setback Pembaruan Islam

Tanpa mengecilkan makna pembaruan para tokoh Islam neo-modernis tersebut, paska 
reformasi justru kelompok fundamentalis  dan Islam garis keras kembali beraksi. 
Banjirnya fatwa "sesat" terhadap kelompok minoritas, menyelesaikan masalah 
dengan kekerasan berbasis agama, maraknya aksi teror, dan munculnya kembali 
gagasan "negara Islam" adalah sejumlah indikator setback pemikiran Islam di 
Indonesia.

Pertanda apakah ini? Bentuk kegagalan gerakan pembaruan neo-modernisme Islam 
ataukah tidak tuntasnya tawaran pembaruan pemikiran mereka? Melangitnya gagasan 
pembaruan mereka ataukah akibat tidak adanya kader pembaru yang meneruskan 
gerakan mereka? Mengapa? Bukankah jumlah sarjana Islam semakin melimpah di 
negeri ini?

Langkanya kader pembaru

Betul, Indonesia dengan ribuan perguruan tingginya sebetulnya tidak kekurangan 
sarjana. Setiap tahun, ribuan sarjana Islam bergelar doktor diproduksi, 
professor ditetapkan, dan penelitian dilakukan. Tetapi pemikiran yang genuine, 
kritis, dan transformatif jarang ditemukan lahir dari pergulatan akademis 
mereka. Mengapa?

Kita segera memahami karena pendidikan Islam kita diselenggarakan tidak untuk 
mencetak sang pemikir dan pembaru, melainkan sarjana yang taat dengan 
kaidah-kaidah ilmiah dan ajaran-ajaran Islam yang dimapankan. Mereka jago 
mencari, mengumpulkan, dan mengutak-atik data hingga menjadi karya ilmiah yang 
bernilai tinggi, bahkan canggih dalam mengutip berbagai pemikiran orang menjadi 
satu rangkuman yang utuh. Tapi mereka lupa untuk merumuskan dan menawarkan 
pemikiran mereka sendiri yang berbeda dengan pendahulunya sebagai jawaban atas 
tantangan zamannya.

Di sinilah dibutuhkan keberanian yang kadang harus keluar dari pakem-pakem 
keilmiahan yang telah disakralkan sekalipun. Dibutuhkan kecerdasan dan kearifan 
mendalam untuk berempati dengan realitas yang terus berubah dan terus 
menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Dibutuhkan pemihakan transformatif 
yang nyata terhadap kelompok sosial yang terpinggirkan, tertindas, dan tidak 
diuntungkan oleh sistem dan struktur sosial. Inilah intelektual organik, 
pemikir pembaru, yang diperankan para Nabi dan Rasul pada zamannya.

Spirit dan elan vital pembebasan, pembaruan, dan pemihakan inilah yang hilang 
dari konstruksi keilmiahan dan kesarjanaan kita. Semua ini diakibatkan dari 
kuatnya paradigma dan ideologi positivisme dengan berbagai cabangnya dalam ilmu 
pengetahuan yang kita terima. Positivisme seolah telah menjadi wasit kebenaran 
yang membentengi para intelektual untuk turut serta melakukan pembebasan, 
transformasi, dan pemihakan terhadap kelompok sosial tersebut.

Kepada Siapa Kita Berharap?

Benar bahwa pemikir dan pembaru tidak dilahirkan, melainkan dibentuk melalui 
proses pergulatan sosial-intelektual, sosial-budaya, dan sosial-politik yang 
tiada henti, dengan berbagai pembelajaran demi pembelajaran dari kearifan 
sosial.  Tempaan akademik saja tidak cukup. Pergulatan sosial dalam proses 
pembebasan dan transformasi sosial bersama komunitas basis sangat penting untuk 
mengasah ideologi keberpihakan sosial-intelektual.

Dengan performances sebagaimana  kita saksikan dewasa ini, bisakah pendidikan 
tinggi Islam kita membentuk seorang pemikir pembaru yang dibutuhkan zaman ini? 
Bisakah pesantren-gudang khazanah intelektual klasik-menjadi lokomotif 
pembaruan pemikiran Islam?

KH. Husein Muhammad, Ulil Abshar-Abdalla, dan Shalahudin Kafrawi-tiga 
narasumber dalam Public Lecture ISIF nanti-semuanya adalah alumni pesantren 
tradisional, juga lulusan pendidikan tinggi Islam, baik di Indonesia maupun di 
luar negeri. Kiai Husein dikenal dengan kyai-gender, feminis Muslim, dan getol 
dengan pembelaannya terhadap hak-hak kaum perempuan, baik melalui 
pemikiran-pemikirannya ataupun gerakannya dalam gerbong Fahmina-institute dan 
Komnas Perempuan.  Kiai Husein pernah aktif di organisasi Nahdlatul Ulama dan 
menjadi petinggi partai politik.

Sementara Gus Ulil dikenal dengan liberalisasi pemikirannya, pendiri dan tokoh 
jaringan Islam liberal. Secara diametral, Islam liberal berpunggungan dengan 
Islam fundamentalis atau Islam garis keras. Gus Ulil selain menggunakan LSM 
sebagai basis gerakan, kini menggunakan jalur partai politik untuk melembagakan 
pemikiran dan gerakannya.

Adapun Kang Shalahudin memilih jalur akademik sebagai kendaran dalam 
menyampaikan pesan-pesan pemikiran keislamannya. Kang Shalahudin mengajar dan 
menjadi peneliti di beberapa universitas di Amerika.

Sejarah akan mencatat siapakah di antara tiga pemikir ini yang akan menjadi 
pemikir pembaru di masa mendatang? Siapakah menjadi penerus Gus Dur atau Cak 
Nur? Bukan saja mengkotbahkan pembaruan pemikiran Islam dari menara akademik, 
melainkan dalam waktu yang sama di tengah hingar bingar kapitalisme global 
melakukan proses pembebasan dan transformasi sosial bersama masyarakat yang 
tertindas, terpinggirkan, dan tereksploitasi. Selamat datang pemikir pembaru 
Islam!!![]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke