Masinh mending nDeboost kan? Kadang mbaca, kadang respon. Kalau nT ditanyain masih Indonesia atau bukan lalu blangkemen. Tapi ga sengaja ngaku yang sudah bukan Indonesia lagi. Juga si @Sagu-t..kucing.
--- In [email protected], "Jusfiq" <kesayangan.al...@...> wrote: > > Saya teringat istilah ini: > > "The so-called Islamic reformers remind me of the salon orchestra, which - > in a heroic display of giving the passengers the illusion of normalcy - > continued to play on the deck of the Titanic until it went down. Likewise, > the reformers are playing an alluring melody, but know full well that no one > is listening anyway." > > http://groups.yahoo.com/group/proletar/message/288058 > > > --- In [email protected], "sunny" <ambon@> wrote: > > > > http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/artikel/889-mencari-pemikir-pembaru-islam.html > > > > Mencari Pemikir Pembaru Islam > > Rabu, 06 Oktober 2010 00:00 Marzuki Wahid > > > > Menyambut Public Lecture ISIF 2010 > > > > MENCARI PEMIKIR PEMBARU ISLAM > > > > > > Pada Minggu, 3 Oktober 2010 nanti, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) > > Cirebon akan menyelenggarakan Public Lecture I 2010 di kampus Swasembada, > > Majasem, Cirebon. Public Lecture kali ini menghadirkan tiga pemikir Islam > > yang berbeda aliran, yakni Ulil Abshar-Abdalla (tokoh dan pemikir Islam > > liberal), KH. Husein Muhammad (pemikir dan feminis Muslim dari kalangan > > Pesantren), dan Prof. Dr. Shalahudin Kafrawi (akademisi moderat yang > > menjadi Assistant Professor of Religious Studies di Hobart and William > > Smith Colleges, USA). Tiga tokoh ini akan mendiskusikan topik yang sama, > > yakni "dialektika tradisi dan pembaruan dalam pemikiran Islam." Tulisan ini > > bermaksud memberikan pengantar diskursus dan agenda pertanyaan atas topik > > tersebut. > > > > Perginya Sang Pembaru > > > > Sepeninggal pemikir pembaruan Islam Indonesia kawakan Nurcholish > > Madjid-biasa dipanggil Cak Nur--pada 2005, dalam dua tahun terakhir ini > > pemikir besar Islam secara beruntun meninggalkan kita. Yakni, Abdurrahman > > Wahid-alias Gus Dur--wafat pada 30 Desember 2009, Moh. 'Abid al-Jabri > > meninggal dunia pada 3 Mei 2010, Nasr Hamid Abu Zayd menghembuskan nafas > > terakhir pada 5 Juli 2010, dan Mohammed Arkoun menemui Tuhannya pada 14 > > September 2010 di Paris, Prancis. > > > > Dunia Islam-khususnya umat Islam Indonesia-terus terang saja kehilangan > > para pembaru itu (al-mujaddidun). Penantian kita terhadap kritik tajam dan > > tawaran-tawaran pemikiran cerdas mereka berakhir sudah. Mereka telah > > meninggalkan kita untuk selamanya. Akan tetapi, pemikiran mereka terus > > menyinari zaman dan menjadi sumber diskursus akademik yang tak pernah habis. > > > > Kilauan pemikiran mereka telah tercatat turut serta menyemarakkan hingar > > bingar cakrawala pemikiran Islam dan kehangatannya dalam merespon > > perkembangan zaman yang terus berubah. Dalam setiap uluhati muslim reformis > > terpahat rapih spirit pembaruan, pembebasan, dan ijtihad mereka dalam > > menghadirkan Islam di tengah jantung kehidupan masyarakat kontemporer > > dengan segala tantangan dan pergolakannya. > > > > Kembali Sunyi > > > > Dalam konteks Indonesia, jujur saja, sepeninggal Cak Nur dan Gus Dur-dua > > begawan pemikir pembaruan Islam asal Jombang-Indonesia sepi dari dinamika > > pemikiran kritis-transformatif. > > > > Cak Nur dan Gus Dur tidak saja terus melontarkan pikiran-pikiran kritisnya, > > tetapi juga mereka berupaya mengubah keadaan dengan berbagai kekuatan yang > > mereka miliki. Dengan gamblang, Gus Dur tidak saja menjadikan kekuatan > > sosial-budaya, melalui organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama, sebagai > > basis gerakan, tetapi juga kekuatan sosial-politik dia ciptakan dan > > kekuasaan politik dia raih demi transformasi sosial yang dia imajinasikan. > > > > Gus Dur memang berbeda dengan al-Jabiri, Abu Zayd, Arkoun, Cak Nur, atau > > Harun Nasution. Gus Dur tidak saja pemikir pembaruan, tetapi juga sekaligus > > pembaru sosial-budaya-politik itu sendiri. Puncak karir politiknya pernah > > menjadi Presiden, yang menorehkan dasar-dasar penting bagi reformasi > > politik Indonesia. > > > > Selama ini, Cak Nur dan Gus Dur adalah peledak 'bom' dan sasaran 'bom' > > kontroversi pemikiran Islam yang menggugahkan kesadaran pembaruan pemahaman > > ajaran Islam di Indonesia. 'Bom' pemikiran mereka kini digantikan dengan > > bom molotov dan bom rakitan milik para teroris. Bukan dinamika pemikiran > > yang meledak, melainkan ratusan jiwa manusia berguguran. > > > > Setback Pembaruan Islam > > > > Tanpa mengecilkan makna pembaruan para tokoh Islam neo-modernis tersebut, > > paska reformasi justru kelompok fundamentalis dan Islam garis keras > > kembali beraksi. Banjirnya fatwa "sesat" terhadap kelompok minoritas, > > menyelesaikan masalah dengan kekerasan berbasis agama, maraknya aksi teror, > > dan munculnya kembali gagasan "negara Islam" adalah sejumlah indikator > > setback pemikiran Islam di Indonesia. > > > > Pertanda apakah ini? Bentuk kegagalan gerakan pembaruan neo-modernisme > > Islam ataukah tidak tuntasnya tawaran pembaruan pemikiran mereka? > > Melangitnya gagasan pembaruan mereka ataukah akibat tidak adanya kader > > pembaru yang meneruskan gerakan mereka? Mengapa? Bukankah jumlah sarjana > > Islam semakin melimpah di negeri ini? > > > > Langkanya kader pembaru > > > > Betul, Indonesia dengan ribuan perguruan tingginya sebetulnya tidak > > kekurangan sarjana. Setiap tahun, ribuan sarjana Islam bergelar doktor > > diproduksi, professor ditetapkan, dan penelitian dilakukan. Tetapi > > pemikiran yang genuine, kritis, dan transformatif jarang ditemukan lahir > > dari pergulatan akademis mereka. Mengapa? > > > > Kita segera memahami karena pendidikan Islam kita diselenggarakan tidak > > untuk mencetak sang pemikir dan pembaru, melainkan sarjana yang taat dengan > > kaidah-kaidah ilmiah dan ajaran-ajaran Islam yang dimapankan. Mereka jago > > mencari, mengumpulkan, dan mengutak-atik data hingga menjadi karya ilmiah > > yang bernilai tinggi, bahkan canggih dalam mengutip berbagai pemikiran > > orang menjadi satu rangkuman yang utuh. Tapi mereka lupa untuk merumuskan > > dan menawarkan pemikiran mereka sendiri yang berbeda dengan pendahulunya > > sebagai jawaban atas tantangan zamannya. > > > > Di sinilah dibutuhkan keberanian yang kadang harus keluar dari pakem-pakem > > keilmiahan yang telah disakralkan sekalipun. Dibutuhkan kecerdasan dan > > kearifan mendalam untuk berempati dengan realitas yang terus berubah dan > > terus menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Dibutuhkan pemihakan > > transformatif yang nyata terhadap kelompok sosial yang terpinggirkan, > > tertindas, dan tidak diuntungkan oleh sistem dan struktur sosial. Inilah > > intelektual organik, pemikir pembaru, yang diperankan para Nabi dan Rasul > > pada zamannya. > > > > Spirit dan elan vital pembebasan, pembaruan, dan pemihakan inilah yang > > hilang dari konstruksi keilmiahan dan kesarjanaan kita. Semua ini > > diakibatkan dari kuatnya paradigma dan ideologi positivisme dengan berbagai > > cabangnya dalam ilmu pengetahuan yang kita terima. Positivisme seolah telah > > menjadi wasit kebenaran yang membentengi para intelektual untuk turut serta > > melakukan pembebasan, transformasi, dan pemihakan terhadap kelompok sosial > > tersebut. > > > > Kepada Siapa Kita Berharap? > > > > Benar bahwa pemikir dan pembaru tidak dilahirkan, melainkan dibentuk > > melalui proses pergulatan sosial-intelektual, sosial-budaya, dan > > sosial-politik yang tiada henti, dengan berbagai pembelajaran demi > > pembelajaran dari kearifan sosial. Tempaan akademik saja tidak cukup. > > Pergulatan sosial dalam proses pembebasan dan transformasi sosial bersama > > komunitas basis sangat penting untuk mengasah ideologi keberpihakan > > sosial-intelektual. > > > > Dengan performances sebagaimana kita saksikan dewasa ini, bisakah > > pendidikan tinggi Islam kita membentuk seorang pemikir pembaru yang > > dibutuhkan zaman ini? Bisakah pesantren-gudang khazanah intelektual > > klasik-menjadi lokomotif pembaruan pemikiran Islam? > > > > KH. Husein Muhammad, Ulil Abshar-Abdalla, dan Shalahudin Kafrawi-tiga > > narasumber dalam Public Lecture ISIF nanti-semuanya adalah alumni pesantren > > tradisional, juga lulusan pendidikan tinggi Islam, baik di Indonesia maupun > > di luar negeri. Kiai Husein dikenal dengan kyai-gender, feminis Muslim, dan > > getol dengan pembelaannya terhadap hak-hak kaum perempuan, baik melalui > > pemikiran-pemikirannya ataupun gerakannya dalam gerbong Fahmina-institute > > dan Komnas Perempuan. Kiai Husein pernah aktif di organisasi Nahdlatul > > Ulama dan menjadi petinggi partai politik. > > > > Sementara Gus Ulil dikenal dengan liberalisasi pemikirannya, pendiri dan > > tokoh jaringan Islam liberal. Secara diametral, Islam liberal berpunggungan > > dengan Islam fundamentalis atau Islam garis keras. Gus Ulil selain > > menggunakan LSM sebagai basis gerakan, kini menggunakan jalur partai > > politik untuk melembagakan pemikiran dan gerakannya. > > > > Adapun Kang Shalahudin memilih jalur akademik sebagai kendaran dalam > > menyampaikan pesan-pesan pemikiran keislamannya. Kang Shalahudin mengajar > > dan menjadi peneliti di beberapa universitas di Amerika. > > > > Sejarah akan mencatat siapakah di antara tiga pemikir ini yang akan menjadi > > pemikir pembaru di masa mendatang? Siapakah menjadi penerus Gus Dur atau > > Cak Nur? Bukan saja mengkotbahkan pembaruan pemikiran Islam dari menara > > akademik, melainkan dalam waktu yang sama di tengah hingar bingar > > kapitalisme global melakukan proses pembebasan dan transformasi sosial > > bersama masyarakat yang tertindas, terpinggirkan, dan tereksploitasi. > > Selamat datang pemikir pembaru Islam!!![] > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
