Eropa lagi salah tingkah. Setelah ikut sorak-sorak Seattle
(globlalisasi) sekarang mereka rasakan kok sorak-sorai begitu 
seperti menyambut westernisasi. Kaum radikal Eropa curiga si 
koboi mau memimpin dunia sendirian setelah Uni Soviet bunuhdiri 
sebelum duel di angkasa seperti tantangan Reagan ke Gorbachev. 

Merasa lebih tua sekaligus sebagai nenek-moyangnya Amerika, 
Eropa nggak sudi dipimpin bangsa goblok yang taunya cuma perang itu. 
Bendera persatuan Eropa (UE) pun dikebut sampai ke negeri-negeri 
eks blok Soviet supaya Eropa jadi seperti sapu lidi dan bukan lidi 
tusukan sate. 

Perundingan-perundingan macam WTO, G-8, Davos dll digelar cuma buat 
mengulur waktu sebelum Amerika "mengganyang" Eropa. Di setiap perundingan, 
Eropa & Amerika cuma bicara soal kepentingan masing-
masing, soal dominasi Barat atas dunia. Tepatnya, rebutan pengaruh, 
siapa yang lebih "Barat" diantara mereka. Eropa takut kalau rebutan 
itu harus diselesaikan lewat perang lawan Amerika. 

Maka, dengan lagak aristokratnya, Eropa memalingkan perhatian 
Amerika dari soal mengungguli Eropa. Amerika selalu diajak bicara 
soal duit & kepahlawanan. Walhasil, Amerika si koboi ultra dungu itu 
pun masuk perangkap. Sudah dari sononya Amerika kepingin diaku 
sebagai dermawan jagoan. 

Padahal, tiapkali mereka bilang "hapus kemiskinan", maksudnya adalah 
"pelihara kemiskinan". Sebab, kalau bangsa non-Barat sampai nggak 
miskin, ya ambruklah reputasi Amerika sebagai bangsa kaya. 
Artinya lagi, ambruklah juga reputasi Eropa sebagai bangsa kelas atas 
yang susah payah mereka bangun ratusan tahun lewat penjajahan. Hanya 
di soal menjaga reputasi orkay inilah kepentingan Eropa & Amerika 
bisa nyambung. 

Eropa juga nggak kalah goblok. Mereka nggak sadar bahwa masalah 
sosial yang ada sekarang merupakan buah dari serbuan budaya koboi 
Amerika dan buah dari kelakuan bangsa Eropa sendiri. Noraknya, 
dengan tampang lugu mereka gemboran merekalah yang jadi korban 
masalah sosial. 

Eropa nggak tau bahwa kehidupan kaum mudanya terinspirasi 
kebebasan Amerika & film-film Hollywood. Termasuk kebebasan nembak 
orang, kebebasan jadi orang gila dsb. Mereka juga nggak tau bahwa 
imigran yang berdatangan ke Eropa itu mengikuti jejak kekayaan 
tanah mereka yang dirampok penjajah. 

Barat takut mengakui akar masalah imigran sebenarnya adalah 
kemiskinan di tanah bekas jajahan. Mereka takut nantinya disuruh 
bayar kerugian selama menjajah ratusan tahun. Sebab, kalau itu 
sampai terjadi, Eropa bakal bangkrut. Dan, kalau bangkrut maka 
reputasi "ndoro"nya dunia bakal ambruk. 

Tapi, karena Barat itu aslinya sangat relijius (liat berita-berita konperensi 
kemiskinan di Amsterdam 2001, di mana Wolfensohn cs 
tunduk pada tekanan gereja), maka persoalannya selalu mereka 
tempatkan ke dalam sentimen agama. 

Sayangnya sikap relijius itu bukannya membebaskan, membuka cara berpikir, tapi 
untuk tunduk membenamkan diri dalam ilusi-ilusi sesat. 
Terutama parno soal hilangnya kekayaan / kemakmuran yang boleh hasil 
ngerampok. 

Saking takutnya, mereka kalap. Membabi-buta mengira imigran itu 
seluruhnya Islam. Tambah goblok lagi meyakini Islam itu hanya 
Taliban. Dan semakin nggak ketulungan tololnya karena persekutuan 
militer Eropa-Amerika (NATO) mengira Afghanistan itu letaknya di 
Atlantik Utara... 

Karena kegoblokan-kegoblokan itulah makanya sebulan ini saja sudah 
45 serdadu NATO mati di Afghan. 

Barat itu menyedihkan sekali hidupnya. 

Kesian. 


--- PAREWA <parew...@...> wrote:

> Sentimen Anti-Islam Merebak Luas di Jerman
> 
> Kamis, 14 Oktober 2010, 19:34 WIB
> 
> Imigran Muslim di Jerman
> 
> REPUBLIKA.CO.ID, JERMAN--Studi dari para ahli di Jerman Rabu 
> (13/10) kemarin mengungkapkan bahwa rasisme telah berkembang luas 
> di Jerman, ditengah-tengah perdebatan seputar imigrasi, terutama 
> dari kaum muslim, yang terus menyulut kemarahan di dalam negara 
> Jerman. 
> 
> Studi yang dilakukan oleh Lembaga Friedrich Ebert ini, 
> memperlihatkan bahwa lebih dari sepertiga (34,3%) dari mereka 
> yang disurvei percaya imigran Jerman 16mn atau orang pendatang 
> memilih tinggal di Jerman hanya untuk manfaat sosial.
> 
> Sebanyak 35,6% berpikir Jerman sedang "dibawa lari oleh pendatang"
> dan lebih dari sepersepuluhnya menyerukan 'Fuehrer' untuk 
> menjalankan negara "dengan tangan yang kuat". "Sekitar 32% dari 
> orang mengatakan mereka setuju dengan pernyataan bahwa para 
> pendatang harus kembali ke negaranya ketika pekerjaan tidak ada".
> 
> "Pada tahun 2010, telah ada peningkatan yang signifikan dalam sikap
> anti-demokratis dan rasis. Kami mengalami titik balik dramatis," 
> ungkap peneliti Elmar Braehler dan Oliver Decker. 
> 
> Sikap Partai Kanan Jauh tidak hanya ditemukan di masyarakat Jerman, 
> tetapi "pada tingkat yang mengkhawatirkan di tengah masyarakat," 
> kata laporan itu. Lebih dari setengah (58.4%) dari 2.411 orang 
> disurvei berpikir sekitar 4mn Muslim di Jerman harus memiliki sikap 
> dan mempraktikkan agamanya secara nyata.
> 
> Friedrich Ebert Foundation memiliki hubungan dekat dengan Demokrat 
> Sosial kiri tengah. Studi ini mensurvei 2.400 responden dengan usia 
> 14 sampai 90 tahun.





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke