Artikel anda ini berusaha menyoroti perilaku kolonialis dan warisan struktur 
berupa kaum oligarki di negeri jajahan saat ini. Beberapa saat yang lalu, Bank 
Dunia melaporkan1,4 miliar umat manusia di dunia ketiga hidup dalam kemiskinan, 
dan sebagian besar dari Negara-negara ini adalah bekas jajahan.ada banyak ahli 
dan penulis yang telah memaparkan hal ini, dan tentunya terkait artikel ini, 
saudara dipo hendak menyegerkan kembali ingatan kita mengenai pengalaman 
terburuk di masa lampau ini: kemakmuran negeri-negeri imperialisme itu dibayar 
melalui penaklukan, perampokan, dan penguasaan sumber daya dan tenaga kerja 
dunia ketiga selama beratus-ratus tahun.
--- On Sun, 10/17/10, ajeg <[email protected]> wrote:

From: ajeg <[email protected]>
Subject: Re: [proletar] sentimen anti islam
To: [email protected]
Date: Sunday, October 17, 2010, 7:23 PM















 
 



  


    
      
      
      

Eropa lagi salah tingkah. Setelah ikut sorak-sorak Seattle

(globlalisasi) sekarang mereka rasakan kok sorak-sorai begitu 

seperti menyambut westernisasi. Kaum radikal Eropa curiga si 

koboi mau memimpin dunia sendirian setelah Uni Soviet bunuhdiri 

sebelum duel di angkasa seperti tantangan Reagan ke Gorbachev. 



Merasa lebih tua sekaligus sebagai nenek-moyangnya Amerika, 

Eropa nggak sudi dipimpin bangsa goblok yang taunya cuma perang itu. 

Bendera persatuan Eropa (UE) pun dikebut sampai ke negeri-negeri 

eks blok Soviet supaya Eropa jadi seperti sapu lidi dan bukan lidi 

tusukan sate. 



Perundingan-perundingan macam WTO, G-8, Davos dll digelar cuma buat 

mengulur waktu sebelum Amerika "mengganyang" Eropa. Di setiap perundingan, 
Eropa & Amerika cuma bicara soal kepentingan masing-

masing, soal dominasi Barat atas dunia. Tepatnya, rebutan pengaruh, 

siapa yang lebih "Barat" diantara mereka. Eropa takut kalau rebutan 

itu harus diselesaikan lewat perang lawan Amerika. 



Maka, dengan lagak aristokratnya, Eropa memalingkan perhatian 

Amerika dari soal mengungguli Eropa. Amerika selalu diajak bicara 

soal duit & kepahlawanan. Walhasil, Amerika si koboi ultra dungu itu 

pun masuk perangkap. Sudah dari sononya Amerika kepingin diaku 

sebagai dermawan jagoan. 



Padahal, tiapkali mereka bilang "hapus kemiskinan", maksudnya adalah 

"pelihara kemiskinan". Sebab, kalau bangsa non-Barat sampai nggak 

miskin, ya ambruklah reputasi Amerika sebagai bangsa kaya. 

Artinya lagi, ambruklah juga reputasi Eropa sebagai bangsa kelas atas 

yang susah payah mereka bangun ratusan tahun lewat penjajahan. Hanya 

di soal menjaga reputasi orkay inilah kepentingan Eropa & Amerika 

bisa nyambung. 



Eropa juga nggak kalah goblok. Mereka nggak sadar bahwa masalah 

sosial yang ada sekarang merupakan buah dari serbuan budaya koboi 

Amerika dan buah dari kelakuan bangsa Eropa sendiri. Noraknya, 

dengan tampang lugu mereka gemboran merekalah yang jadi korban 

masalah sosial. 



Eropa nggak tau bahwa kehidupan kaum mudanya terinspirasi 

kebebasan Amerika & film-film Hollywood. Termasuk kebebasan nembak 

orang, kebebasan jadi orang gila dsb. Mereka juga nggak tau bahwa 

imigran yang berdatangan ke Eropa itu mengikuti jejak kekayaan 

tanah mereka yang dirampok penjajah. 



Barat takut mengakui akar masalah imigran sebenarnya adalah 

kemiskinan di tanah bekas jajahan. Mereka takut nantinya disuruh 

bayar kerugian selama menjajah ratusan tahun. Sebab, kalau itu 

sampai terjadi, Eropa bakal bangkrut. Dan, kalau bangkrut maka 

reputasi "ndoro"nya dunia bakal ambruk. 



Tapi, karena Barat itu aslinya sangat relijius (liat berita-berita konperensi 
kemiskinan di Amsterdam 2001, di mana Wolfensohn cs 

tunduk pada tekanan gereja), maka persoalannya selalu mereka 

tempatkan ke dalam sentimen agama. 



Sayangnya sikap relijius itu bukannya membebaskan, membuka cara berpikir, tapi 
untuk tunduk membenamkan diri dalam ilusi-ilusi sesat. 

Terutama parno soal hilangnya kekayaan / kemakmuran yang boleh hasil 

ngerampok. 



Saking takutnya, mereka kalap. Membabi-buta mengira imigran itu 

seluruhnya Islam. Tambah goblok lagi meyakini Islam itu hanya 

Taliban. Dan semakin nggak ketulungan tololnya karena persekutuan 

militer Eropa-Amerika (NATO) mengira Afghanistan itu letaknya di 

Atlantik Utara... 



Karena kegoblokan-kegoblokan itulah makanya sebulan ini saja sudah 

45 serdadu NATO mati di Afghan. 



Barat itu menyedihkan sekali hidupnya. 



Kesian. 



--- PAREWA <parew...@...> wrote:



> Sentimen Anti-Islam Merebak Luas di Jerman

> 

> Kamis, 14 Oktober 2010, 19:34 WIB

> 

> Imigran Muslim di Jerman

> 

> REPUBLIKA.CO.ID, JERMAN--Studi dari para ahli di Jerman Rabu 

> (13/10) kemarin mengungkapkan bahwa rasisme telah berkembang luas 

> di Jerman, ditengah-tengah perdebatan seputar imigrasi, terutama 

> dari kaum muslim, yang terus menyulut kemarahan di dalam negara 

> Jerman. 

> 

> Studi yang dilakukan oleh Lembaga Friedrich Ebert ini, 

> memperlihatkan bahwa lebih dari sepertiga (34,3%) dari mereka 

> yang disurvei percaya imigran Jerman 16mn atau orang pendatang 

> memilih tinggal di Jerman hanya untuk manfaat sosial.

> 

> Sebanyak 35,6% berpikir Jerman sedang "dibawa lari oleh pendatang"

> dan lebih dari sepersepuluhnya menyerukan 'Fuehrer' untuk 

> menjalankan negara "dengan tangan yang kuat". "Sekitar 32% dari 

> orang mengatakan mereka setuju dengan pernyataan bahwa para 

> pendatang harus kembali ke negaranya ketika pekerjaan tidak ada".

> 

> "Pada tahun 2010, telah ada peningkatan yang signifikan dalam sikap

> anti-demokratis dan rasis. Kami mengalami titik balik dramatis," 

> ungkap peneliti Elmar Braehler dan Oliver Decker. 

> 

> Sikap Partai Kanan Jauh tidak hanya ditemukan di masyarakat Jerman, 

> tetapi "pada tingkat yang mengkhawatirkan di tengah masyarakat," 

> kata laporan itu. Lebih dari setengah (58.4%) dari 2.411 orang 

> disurvei berpikir sekitar 4mn Muslim di Jerman harus memiliki sikap 

> dan mempraktikkan agamanya secara nyata.

> 

> Friedrich Ebert Foundation memiliki hubungan dekat dengan Demokrat 

> Sosial kiri tengah. Studi ini mensurvei 2.400 responden dengan usia 

> 14 sampai 90 tahun.





    
     

    
    


 



  











      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke