Geertz Wilders:
Berpidato di Berlin
(Diposkan Oleh: JAAN in MyBlog pada tanggal 3 Oktober 2010)
Para Sahabat yang kekasih,
Saya
sangat senang berada di Berlin pada hari ini. Seperti yang
saudara-saudara ketahui, undangan yang disampaikan kepada saya oleh
sahabat saya René Stadtkewitz, telah mengakibatkan ia kehilangan
keanggotaannya di kelompok CDU di Parlemen Berlin. Namun demikian, René
tidak menyerah terhadap tekanan itu. Ia tidak mengkhianati
keyakinan-keyakinannya. Pemecatannya tersebut telah mendorongnya untuk
mendirikan sebuah partai politik baru. Saya mengucapkan selamat padanya
dan mendoakannya agar mendapatkan semua yang terbaik. Seperti yang telah
saudara-saudara dengar, beberapa minggu terakhir ini saya sangat sibuk.
Pada awal minggu ini kami berhasil membentuk sebuah pemerintahan
minoritas yang terdiri dari kaum liberal dan Kristen demokrat yang akan
didukung oleh partai saya. Ini adalah sebuah peristiwa yang bersejarah
bagi negara Belanda. Saya sangat bangga karena saya juga telah membantu
hingga ini dapat terwujud. Pada saat ini juga konferensi partai Kristen
Demokrat sedang memutuskan apakah mereka akan menyetujui koalisi ini
atau tidak. Jika mereka menyetujuinya, kita akan dapat membangun kembali
negara kita, memelihara identitas nasional kita dan memberikan masa
depan yang lebih baik kepada anak-anak kita.
Walaupun
jadwal kegiatan saya di Belanda sangat padat, saya bersikeras untuk
datang ke Berlin, karena Jerman juga membutuhkan suatu pergerakan
politis untuk membela identitas Jerman dan untuk melawan proses
islamisasi terhadap Jerman. Kanselir Angela Merkel mengatakan bahwa
proses islamisasi terhadap Jerman adalah hal yang tidak terelakkan. Ia
menyampaikan pesan agar rakyat mempersiapkan diri menghadapi lebih
banyak perubahan sebagai akibat dari imigrasi. Ia menginginkan agar
orang-orang Jerman beradaptasi dengan situasi ini. Pemimpin Kristen
Demokrat mengatakan: “Mesjid-mesjid akan menjadi suatu bagian yang
integral dari kota-kota kita lebih dari sebelumnya”.
Sahabat-sahabatku,
kita tidak boleh menerima hal yang tidak dapat diterima sebagai sesuatu
yang tidak terelakkan tanpa berbuat apa-apa. Sudah menjadi kewajiban
kita sebagai para politisi untuk memelihara bangsa kita demi anak-anak
kita. Saya berharap pergerakan yang dilakukan René akan berhasil seperti
halnya dengan partai saya yaitu Partij voor de Vrijheid, juga seperti
Schweizerische Volkspartei dari Oskar Freysinger di Switzerland, juga
seperti Dansk Folkeparti oleh Pia Kjaersgaard di Denmark, dan
pergarakan-pergerakan serupa dimanapun.
Sahabat
baik saya, Pia, baru-baru ini berbicara di Swedia atas undangan
Sverigedemokraterna. Ia mengatakan: “Saya tidak datang untuk mencampuri
politik dalam negeri Swedia karena itu adalah hal yang harus
diperhatikan sendiri oleh rakyat Swedia. Tidak! Saya datang karena
walaupun ada beberapa perbedaan dalam debat Swedia; dalam banyak hal itu
mengingatkan saya akan debat Denmark 10-15 tahun yang lalu. Dan saya
datang ke Swedia karena Swedia juga diperhatikan oleh Denmark. Kami
tidak dapat duduk berpangku tangan dan menjadi saksi bisu terhadap
perkembangan politik di Swedia”.
Hal
yang sama berlaku juga bagi saya sebagai seorang Belanda yang
menghormati Jerman. Saya berada disini karena Jerman penting bagi
Belanda dan juga bagi seluruh dunia, dan karena kita tidak dapat
mendirikan suatu Aliansi Kebebasan Internasional tanpa rekanan Jerman
yang kuat.
Sahabat-sahabat
yang kekasih, esok adalah Hari Penyatuan Jerman. Besok, tepatnya
duapuluh tahun yang lalu, bangsa anda yang besar dipersatukan kembali
setelah runtuhnya ideologi Komunis yang totalitarian. Hari Penyatuan
Jerman adalah hari yang penting bagi seluruh Eropa. Jerman adalah negara
demokrasi terbesar di Eropa. Jerman adalah pusat pembangkit ekonomi
Eropa. Kesejahteraan dan kemakmuran Jerman adalah suatu keuntungan bagi
kita semua, karena kesejahteraan dan kemakmuran Jerman adalah prasyarat
bagi kesejahteraan dan kemakmuran Eropa.
Namun
demikian, hari ini saya ada disini, untuk mengingatkan saudara-saudara
akan bahaya perpecahan yang sedang mengintai. Identitas kebangsaan
Jerman, demokrasinya dan kemakmuran ekonominya, sedang mendapat ancaman
dari ideologi politis Islam. Pada tahun 1848, Karl Marx memulai
Manifesto Komunisnya dengan kata-kata yang terkenal: “Ada yang tengah
menghantui Eropa – hantu komunisme”. Hari ini, ada hantu lain yang
sedang menghantui Eropa. Itulah hantu Islam. Bahaya ini juga bersifat
politis. Islam bukanlah agama semata-mata, seperti yang dipikirkan oleh
banyak orang: Islam terutama adalah sebuah ideologi politik. Pemahaman
ini bukanlah sesuatu yang baru.
Saya
mengutip dari buku terlaris dan serial televisi BBC The Triumph of the
West yang ditulis oleh sejarawan Oxford yang terkenal J.M. Roberts pada
tahun 1985: “Walaupun dengan sembrono kita berbicara mengenai Islam
sebagai sebuah ‘agama’, kata tersebut memuat banyak kisah sejarah
spesial Eropa Barat. Orang Muslim terutama adalah anggota dari sebuah
komunitas, pengikut suatu jalan hidup tertentu, tercakup dalam sebuah
sistem hukum tertentu, dan bukannya seseorang yang mempunyai
pandangan-pandangan teologis tertentu”. Profesor dari wilayah Flander
yaitu Urbain Vermeulen, yang juga adalah mantan Presiden European Union
of Arabists and Islamicists, mengemukakan bahwa “Islam sejatinya adalah
sebuah sistem legal, sebuah hukum”, dan bukanlah agama.
Ilmuwan
politik Amerika Mark Alexander menulis bahwa “Salah-satu dari
kesalahan-kesalahan terbesar kita adalah berpikir bahwa Islam hanyalah
salah satu agama besar dunia. Kita tidak boleh berpikir demikian. Islam
adalah politik atau tidak sama sekali, tapi sudah tentu Islam adalah
politik dengan dimensi spiritual...yang tidak akan berhenti hingga Barat
(dunia non-Islam) tidak ada lagi, hingga Barat (dunia non-Islam)
telah...benar-benar diislamkan dengan baik”.
Ini
bukanlah semata-mata merupakan pernyataan para penentang Islam. Para
sarjana Islam juga mengatakan hal yang sama. Tidak ada lagi keraguan
mengenai natur Islam bagi mereka yang telah membaca Qur’an, Sira dan
Hadith. Abu Ala Maududi, pemikir Islam Pakistan yang berpengaruh pada
abad ke-20 menulis, dan saya mengutipnya, menekankan bahwa ini bukanlah
perkataan saya namun orang-orang yang yang merupakan pemimpin sarjana
Islam – “Islam bukanlah semata-mata suatu pengakuan keyakinan religius
[tetapi] sebuah ideologi yang revolusioner, dan jihad berkaitan dengan
perjuangan revolusioner itu...untuk menghancurkan semua negara dan
pemerintahan dimanapun di muka bumi ini, yang menentang ideologi dan
program Islam”.
Ali
Sina, seorang Iran yang meninggalkan Islam yang tinggal di Kanada,
mengemukakan bahwa ada satu aturan emas yang terletak di dalam jantung
setiap agama – yaitu agar kita memperlakukan orang lain seperti halnya
kita ingin diperlakukan oleh mereka. Dalam Islam, aturan ini hanya
berlaku bagi sesama orang beriman, tapi tidak terhadap orang kafir. Ali
Sina mengatakan, “Alasan mengapa saya menentang Islam bukan karena Islam
adalah sebuah agama, tetapi karena Islam adalah sebuah ideologi politik
penjajahan dan dominasi yang berkedok agama. Karena Islam tidak
mematuhi Aturan Emas, Islam mempesona orang-orang yang kejam”.
Studi
mendalam mengenai permulaan sejarah Islam dengan jelas menyatakan bahwa
tujuan Muhammad pertama-tama adalah menaklukkan kaumnya sendiri,
orang-orang Arab, dan menyatukan mereka di bawah pemerintahannya, dan
kemudian menaklukkan dan memerintah dunia. Itulah tujuan aslinya; jelas
sekali itu bersifat politis dan didukung oleh kekuatan militer. “Saya
diperintahkan untuk memerangi semua orang hingga mereka mengatakan
‘Tidak ada Tuhan selain Allah’”, inilah yang dikatakan oleh Muhammad. Ia
melakukan hal itu sesuai dengan perintah Qur’an dalam Sura 8:39 yaitu:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu
semata-mata untuk Allah”.
Berdasarkan
mitologi, Muhammad mendirikan Islam di Mekkah setelah Malaikat Jibril
mengunjunginya untuk pertama kalinya pada tahun 610. Pada 12 tahun
pertama Islam, ketika Islam masih bersifat religius dan tidak politis,
Islam tidak mengalami kesuksesan. Pada tahun 622, Muhammad pindah ke
Yathrib, sebuah oasis yang didiami oleh banyak orang Yahudi, dengan
sekelompok pengikutnya yang berjumlah 150 orang. Disana ia mendirikan
mesjid yang pertama dicatat oleh sejarah, mengambil alih kekuasaan
politik, menamai Yathrib dengan Medina, yang berarti “Kota Nabi”, dan
memulai karirnya sebagai pemimpin politik dan militer yang menaklukkan
seluruh Arabia. Dengan demikian, penanggalan Islam dimulai dengan
hijrah, yaitu perpindahan ke Medina – saat Islam menjadi sebuah
pergerakan politik.
Setelah
kematian Muhammad, berdasarkan perkataaan dan perbuatannya, Islam
mengembangkan Syariah, yang merupakan sistem legal yang membenarkan
pemerintahan represif atas dunia ini dengan hak ilahi – termasuk
aturan-aturan untuk jihad guna memiliki kontrol absolut atas orang-orang
beriman dan juga orang-orang tidak beriman. Syariah adalah hukum di
Arab Saudi dan Iran, dan juga di negara-negara Islam lainnya. Syariah
juga merupakan sentral bagi Organization of the Islamic Conference
(OIC), yang dalam artikel 24 dari Deklarasi Kairo Mengenai Hak Azasi
manusia Dalam Islam, memproklamirkan bahwa “semua hak dan kebebasan
harus tunduk di bawah Syariah Islam”. OIC bukanlah sebuah institusi
religius; tapi sebuah lembaga politik. OIC menetapkan blok voting
terbesar di PBB dan menulis laporan-laporan mengenai apa yang disebut
sebagai “Islamofobia” di negara-negara Barat yang menuduh kita melakukan
pelanggaran hak azasi manusia. Dalam istilah alkitabiah: mereka mencari
selumbar di mata kita, namun menyangkali balok di mata mereka sendiri.
Di
bawah hukum Syariah, orang-orang di daerah-daerah yang telah
ditaklukkan tidak mempunyai hak-hak legal, bahkan tidak mempunyai hak
untuk hidup dan memiliki properti, kecuali mereka memeluk Islam.
Sebelum
saya melanjutkan, untuk menghindari kesalahpahaman, saya ingin
menekankan bahwa saya sedang berbicara mengenai Islam, bukan mengenai
orang Muslim. saya selalu membuat pembedaan yang jelas antara orang
dengan ideologi, antara orang Muslim dan Islam. Ada banyak orang Muslim
yang moderat, tetapi ideologi politik Islam tidaklah moderat dan
mempunyai ambisi global.
Ideologi
politik ini bertujuan untuk memberlakukan hukum Islam atau Syariah
terhadap seluruh dunia. Cara untuk mencapai hal ini adalah melalui
jihad. Berita baiknya adalah jutaan orang Muslim di seluruh dunia –
termasuk di Jerman dan Belanda – tidak mengikuti peraturan-peraturan
Syariah, apalagi terlibat dalam jihad. Namun demikian, kabar buruknya,
mereka yang terlibat siap untuk menggunakan semua sarana yang ada untuk
mencapai tujuan ideologis dan revolusioner mereka.
Pada
tahun 1954, dalam esainya mengenai Komunisme dan Islam, Profesor
Bernard Lewis berbicara mengenai “tradisi politik Islam yang totaliter”.
Profesor Lewis mengatakan bahwa “Secara tradisional Islam membagi dunia
menjadi Rumah Islam dan Rumah Perang. Hal ini jelas sekali paralel
dengan pandangan Komunisme mengenai hal-hal dunia...fanatisme agresif
yang dimiliki orang beriman sama saja (antara kedua paham itu)”.
Ilmuwan
politik Amerika Mark Alexander menyatakan bahwa natur Islam hanya
mempunyai sedikit perbedaan - dan hanya dalam detil dan bukan gaya –
dengan ideologi-ideologi totaliter yang menjijikkan seperti Sosialisme
Nasional dan Komunisme. Dari ketiga ideologi tersebut, ia mendaftarkan
beberapa karakteristik berikut ini:
Mereka
menggunakan pembersihan-pembersihan politis untuk “membersihkan”
masyarakat dari apa yang mereka anggap sebagai hal yang tidak
diinginkan. Mereka
hanya mentolerir satu partai politik. Islam memberi ruang untuk banyak
partai, namun bersikeras bahwa semua partai harus bersifat islami; Mereka
membujuk dengan paksa agar orang mengikuti jalan mereka; Mereka benar-benar
menghancurkan pembedaan liberal antara wilayah penilaian pribadi dengan kendali
publik; Mereka mengubah sistem pendidikan menjadi sarana untuk mencapai tujuan
indoktrinasi universal; Mereka menetapkan peraturan-peraturan untuk seni,
literatur, sains dan agama; Mereka menindas orang-orang yang diberikan status
sebagai warga negara kelas dua; Mereka
memaksakan sebuah kerangka pikir yang berdasarkan fanatisme.
Penyesuaian untuk hal itu dilakukan dengan perang dan dominasi; Mereka
suka menyiksa para lawan mereka dan memandang penghancuran yang mereka
lakukan sebagai tindakan sementara yang dilakukan untuk mencapai tujuan
dan suatu tanda kelemahan lawan; Mereka memandang politik sebagai ekspresi
kekuasaan; Mereka anti-Semitis.
Ada
satu lagi paralel yang mengejutkan, tetapi ini bukanlah suatu
karakteristik dari ketiga ideologi politik tersebut di atas, tetapi
milik Barat, yaitu ketidakmampuan Barat untuk melihat datangnya bahaya.
Prasyarat untuk memahami bahaya politik adalah kesediaan untuk melihat
kebenaran, walaupun hal itu tidak menyenangkan. Sayangnya, para politisi
modern Barat nampaknya telah kehilangan kemampuan ini. Ketidakmampuan
kita mengakibatkan kita menolak konklusi-konklusi logis dan historis
yang harus ditarik dari fakta-fakta, walaupun kita dapat, dan sudah
seharusnya mengetahuinya dengan lebih baik. Apa yang salah dengan orang
Barat modern sehingga berulangkali kita melakukan kesalahan yang sama?
Tidak
ada tempat yang lebih baik untuk merenungkan pertanyaan ini selain dari
disini, di Berlin, yang dulunya adalah ibukota kekaisaran jahat Nazi
Jerman dan yang adalah sebuah kota yang pernah dipenjarakan oleh apa
yang disebut sebagai Republik “Demokratik” Jerman selama lebih dari 40
tahun.
Ketika
para penduduk Eropa Timur menolak Komunisme pada tahun 1989, mereka
diinspirasikan oleh orang-orang yang menjadi oposan pemerintah seperti
Aleksandr Solzhenitsyn, Václav Havel, Vladimir Bukovsky, dan lain-lain,
yang mengatakan pada mereka bahwa setiap orang mempunyai hak, tapi juga
mempunyai kewajiban, untuk “hidup dalam kebenaran”. Kebebasan
membutuhkan kewaspadaan kekal; demikian pula dengan kebenaran. Namun
demikian, Solzhenitsyn menambahkan, “Kebenaran kadang terasa manis;
kadangkala juga pahit”. Mari kita menghadapi kebenaran yang pahit,
yaitu: kita telah kehilangan kemampuan kita untuk melihat bahaya dan
memahami kebenaran karena kita tidak lagi menghargai kebebasan.
Para
politisi dari hampir semua politisi yang ada hari ini memfasilitasi
islamisasi. Mereka mendukung semua sekolah Islam yang baru berdiri, bank
islami/syariah, pengadilan islami/syariah. Mereka memandang Islam
setara dengan kebudayaan kita. Islam atau kebebasan? Hal itu tidaklah
terlalu berarti bagi mereka. Tetapi itu penting bagi kita. Semua elit
universitas yang telah ada, gereja, perkumpulan-perkumpulan dagang,
media, politisi, mendapatkan kebebasannya dengan menempuh resiko. Mereka
berbicara mengenai kesetaraan, namun sangatlah mengherankan melihat
mereka gagal untuk melihat betapa di dalam Islam kaum wanita mempunyai
hak yang lebih sedikit daripada kaum pria dan orang-orang kafir
mempunyai hak yang lebih sedikit daripada para pemeluk Islam.
Apakah
kita akan mengulang kembali kesalahan fatal dari Republik Weimar?
Apakah kita tunduk kepada Islam karena komitmen kita kepada kebebasan
sesungguhnya telah mati? Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Kita
tidak seperti Ibu Merkel. Kita tidak menerima islamisasi sebagai sesuatu
yang tidak terelakkan. Kita harus tetap menjaga kebebasan agar
kebebasan itu tetap hidup. Dan, hingga pada tingkat dimana kita telah
kehilangan kebebasan kita, maka kita harus mengklaimnya kembali melalui
pemilu demokratis. Itulah sebabnya mengapa kita membutuhkan
partai-partai politik yang membela kebebasan. Untuk mendukung
partai-partai semacam itu, saya telah mendirikan International Freedom
Alliance.
Seperti
yang saudara-saudara ketahui, saya sedang diadili di Belanda. Pada hari
Senin, saya harus pergi lagi ke pengadilan, dan saya akan banyak
menghabiskan beberapa bulan ke depan disana. Saya diajukan ke pengadilan
karena opini saya mengenai Islam dan karena saya telah menyuarakan
opini-opini saya ini dalam pidato-pidato, artikel-artikel dalam dalam
film dokumenter yang saya buat yang berjudul Fitna. Saya senantiasa
hidup dalam penjagaan ketat polisi karena kaum ekstrimis Islam ingin
membunuh saya, dan saya diadili karena para petinggi Belanda –
kebanyakan diantara mereka adalah non Muslim – ingin membungkam saya.
Saya
diseret ke pengadilan karena di negara saya kebebasan tidak lagi dapat
dinikmati sepenuhnya. Tidak seperti Amerika, kami tidak memiliki First
Amandemen yang menjamin orang untuk bebas mengekspresikan opini mereka
dan mengadakan debat publik karena melakukan hal itu. Tidak seperti
Amerika, negara di Eropa, dan juga Uni Eropa, menjelaskan bagaimana
penduduknya – termasuk para politisi yang dipilih secara demokratis
seperti halnya saya juga – harus berpikir dan perkatakan apa yang
diijinkan untuk kami katakan.
Salah
satu hal yang tidak boleh lagi kami katakan adalah bahwa budaya kami
lebih superior daripada budaya lain. Ini dilihat sebagai pernyataan yang
diskriminatif – bahkan sebuah pernyataan yang mengandung kebencian.
Setiap hari kami diindoktrinasi, di sekolah-sekolah, dan melalui media,
dengan pesan bahwa semua budaya setara dan bahwa jika ada budaya yang
lebih buruk dari semua budaya lainnya, maka pasti itu adalah kebudayaan
kami. Kami dicekoki dengan perasaan bersalah dan malu akan identitas
kami sendiri dan apa yang menjadi milik kami. Kami didorong untuk
menghormati segala sesuatu, kecuali diri kami sendiri. Itulah pesan dari
golongan Kiri dan para pejabat pemerintah yang benar secara politik.
Mereka ingin agar kita merasa malu akan identitas kita sendiri sehingga
kita menolak untuk memperjuangkannya.
Obsesi
menghancurkan dari para elit politik dan budaya kami dengan kesalahan
Barat, membangkitkan pandangan Islam terhadap kita. Qur’an berkata bahwa
orang non Muslim adalah kuffar (bentuk jamak dari kafir), yang secara
harafiah berarti “orang-orang yang menolak” atau “orang-orang yang tidak
bersyukur”. Oleh karena itu, orang-orang kafir itu “bersalah”. Islam
mengajarkan bahwa dalam negara natural kita, kita semua telah dilahirkan
sebagai orang-orang beriman. Islam mengajarkan bahwa jika pada hari ini
kita bukanlah orang-orang yang beriman, maka ini adalah kesalahan kita
atau karena kesalahan leluhur kita. Akibatnya, kita senantiasa adalah
kafir – bersalah – karena baik kita maupun leluhur kita adalah
orang-orang yang murtad. Dan oleh karena itu, menurut beberapa orang,
kita layak untuk ditundukkan.
Kaum
intelektual Kiri kontemporer kita sudah buta terhadap bahaya Islam.
Mantan oposan Soviet Vladimir Bukowsky berpendapat bahwa setelah
kejatuhan Komunis, Barat gagal mengekspos orang-orang yang terkait
dengan paham Komunisme dengan kebijakan yang tepat, untuk memperbaiki
hubungan-hubungan, meredakan ketegangan internasional, hidup
berdampingan dengan damai. Ia mengemukakan bahwa Perang Dingin adalah
“Perang yang tidak pernah kita menangkan. Kita bahkan tidak pernah
berperang di dalamnya...banyak kali Barat terlibat dalam kebijakan untuk
menyenangkan blok Soviet – dan orang-orang yang berusaha menyenangkan
orang lain tidak pernah memenangkan perang”.
Islam adalah Komunisme masa kini.
Tetapi, karena kegagalan kita untuk berterus-terang dengan Komunisme,
kita tidak mampu menghadapinya, terjebak seperti yang pernah kita alami
dengan kebiasaan lama Komunisme yaitu penipuan dan bibir dolak-dalik
yang biasa menghantui negara-negara Timur dan yang kini menghantui kita
semua. Oleh karena kegagalan ini, golongan Kiri tersebut, yang dulunya
menutup mata terhadap Komunisme, kini pun menutup mata terhadap Islam.
Mereka menggunakan argumen yang serupa untuk mendapatkan keadaan damai
antara dua negara yang sebelumnya saling bermusuhan, memperbaiki
hubungan-hubungan, dan menyenangkan pihak lain, sama seperti sebelumnya.
Mereka berargumen bahwa musuh kita cinta damai, sama seperti kita,
bahwa jika kita berusaha untuk memahami mereka, maka mereka pun akan
berusaha memahami kita. Bahwa ia hanya ingin dihargai dan jika kita
menghormatinya maka iapun akan menghormati kita. Kita bahkan mendengar
pengulangan mantra kuno ekuivalensi moral. Mereka terbiasa mengatakan
bahwa “imperialisme” Barat sama jahatnya dengan imperialisme Soviet;
kini mereka mengatakan bahwa “imperialisme” Barat sama jahatnya dengan
terorisme Islam.
Dalam
pidato saya di dekat Ground Zero di New York pada 11 September, saya
menekankan bahwa kita harus berhenti mengatakan “Salahkan Barat,
salahkan Amerika” – ini adalah permainan juru bicara Islam yang berusaha
menipu kita. Dan kita harus berhenti memainkan permainan ini pada diri
kita sendiri. Saya mempunyai pesan yang sama untuk anda. Adalah suatu
penghinaan bila mengatakan bahwa kita bersalah dan kita pantas menerima
apa yang terjadi pada kita. Tidak selayaknya kita menjadi orang asing di
tanah kita sendiri. Kita tidak boleh menerima penghinaan seperti ini.
Pertama-tama, peradaban Barat adalah peradaban yang paling bebas dan
paling jaya di bumi, itulah sebabnya mengapa banyak imigran pindah
kesini, dan bukannya orang-orang Barat yang pindah kesana. Dan kedua,
apa yang disebut sebagai kesalahan kolektif itu tidak ada sama sekali.
Individu-individu yang bebas adalah agen-agen moral yang bebas, dan yang
bertanggung-jawab atas perbuatan mereka sendiri.
Saya
sangat senang berada di Berlin hari ini untuk menyampaikan pesan ini
yang adalah pesan yang sangat penting, terutama di Jerman. Apapun yang
terjadi di negara anda di masa lalu, generasi yang ada sekarang tidak
bertanggung-jawab atas hal itu. Apapun yang terjadi di masa lalu, tidak
dapat menjadi alasan untuk menghukum orang-orang Jerman pada masa kini.
Namun juga tidak dapat menjadi alasan bagi anda untuk menolak
memperjuangkan identitas anda sendiri. Satu-satunya tanggung-jawab anda
adalah untuk menghindar dari kesalahan masa lalu. Sudah menjadi tugas
anda untuk berdiri bersama orang-orang yang diancam oleh ideologi Islam,
seperti Negara Israel dan rekan-rekan seperjuangan anda yang Yahudi.
Republik Weimar menolak untuk memperjuangkan kebebasan dan telah
ditundukkan oleh ideologi totaliter, dengan konsekuensi-konsekuensi
menghancurkan bagi Jerman, Eropa dan dunia. Jangan gagal untuk
memperjuangkan kebebasan anda hari ini.
Saya
senang berada di tengah-tengah anda sekalian hari ini karena nampaknya
20 tahun setelah penyatuan Jerman kembali, generasi yang baru tidak lagi
merasa bersalah karena menjadi orang Jerman. Debat yang sangat intens
yang terjadi baru-baru ini mengenai buku terbaru Thilo Sarrazin adalah
sebuah indikasi akan fakta bahwa Jerman sedang berdamai dengan dirinya
sendiri.
Saya
sendiri belum membaca buku Dr. Sarrazin, tetapi saya mengerti bahwa,
saat para pejabat pemerintah sedang berkuasa yang benar secara politis
hampir-hampir serempak bersikap kritis terhadap tesisnya sehingga ia
kehilangan pekerjaannya, sejumlah besar orang Jerman mengakui bahwa Dr.
Sarrazin sedang mengemukakan isu-isu yang sangat penting dan mendesak.
“Orang Jerman sedang menghapus dirinya sendiri”, Sarrazin mengingatkan,
dan ia menghimbau orang Jerman untuk menghentikan proses ini. Dampak
yang dahsyat dari bukunya mengindikasikan bahwa banyak orang Jerman yang
merasakan hal yang sama. Orang Jerman tidak ingin agar Jerman
dihapuskan, walaupun mereka telah ditundukkan oleh semua indoktirnasi
politik. Orang Jerman tidak lagi merasa malu untuk menunjukkan
kebanggaan nasional mereka.
Dalam
masa-masa sulit ini, dimana identitas nasional kita sedang terancam,
kita harus berhenti merasa bersalah akan siapa diri kita. Kita bukanlah
orang-orang kafir, kita tidak bersalah. Sama seperti bangsa-bangsa lain,
orang-orang Jerman berhak untuk tetap menjadi orang Jerman. Orang
Jerman tidak harus menjadi orang Perancis, orang Belanda, orang Amerika,
ataupun orang Turki. Mereka harus tetap menjadi orang Jerman. Ketika
Perdana Menteri Turki Erdogan mengunjungi negara anda pada tahun 2008,
ia berkata kepada orang-orang Turki yang tinggal disini bahwa mereka
harus tetap menjadi orang Turki. Secara harafiah ia mengatakan bahwa
“asimilasi adalah kejahatan terhadap kemanusiaan”. Erdogan mungkin saja
benar jika ia berkata demikian mengenai orang-orang Turki di Turki.
Namun demikian, Jerman adalah negeri orang-orang Jerman. Oleh karena
itu, orang-orang Jerman berhak menuntut mereka yang datang untuk tinggal
di Jerman supaya berasimilasi; mereka berhak – bahkan mereka mempunyai
kewajiban pada anak-anak mereka – untuk menuntut para pendatang baru itu
untuk menghormati identitas bangsa Jerman dan hak orang Jerman untuk
memelihara identitas mereka.
Kita
harus menyadari bahwa Islam berkembang dengan dua cara. Oleh karena
Islam bukanlah agama, berpaling pada Islam hanyalah sebuah fenomena
marjinal. Menurut sejarah, Islam berkembang baik melalui penaklukkan
militer atau dengan menggunakan senjata hijrah, yaitu imigrasi. Muhammad
menaklukkan Medina melalui imigrasi. Hijrah juga kita alami hari ini.
Islamisasi Eropa terus berlanjut sepanjang waktu. Tetapi Barat tidak
mempunyai strategi untuk menghadapi ideologi Islam, karena kaum elit
kita mengatakan bahwa kita harus beradaptasi dengan mereka dan bukan
sebaliknya.
Ada
pelajaran yang dapat kita pelajari berkenaan dengan hal ini dari
Amerika, negara yang paling bebas di dunia. Orang-orang Amerika bangga
akan bangsa mereka, pencapaian-pencapaian dan bendera mereka. Kita juga
harus bangga pada bangsa kita. Amerika Serikat senantiasa merupakan
sebuah bangsa imigran. Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt
mengungkapkan dengan jelas kewajiban para imigran. Inilah apa yang
dikatakannya: “Kita harus bersikap tegas, yaitu jika para imigran yang
datang kemari mempunyai niat baik untuk menjadi orang Amerika dan
mengasimilasikan dirinya pada kita, ia akan diperlakukan dengan
kesetaraan yang sama dengan orang lain...Namun ini diberlakukan pada
orang yang benar-benar menjadi orang Amerika, dan hanya menjadi orang
Amerika...Disini tidak ada pemisahan-pemisahan...Kita tidak mempunyai
tempat selain untuk kesetiaan semata-mata dan itu adalah kesetiaan
kepada bangsa Amerika”.
Tidaklah
bergantung kepada saya untuk mendefinisikan hal-hal apa yang tercakup
dalam identitas nasional Jerman. Semua itu terserah kepada anda
sekalian. Namun demikian saya mengetahui bahwa kebudayaan Jerman,
seperti halnya kebudayaan negara-negara tetangganya seperti negara saya
sendiri, berakar dalam nilai-nilai Yudeo-Kristen dan humanisme. Semua
politisi yang bertanggung-jawab mempunyai kewajiban politik untuk
memelihara nilai-nilai ini terhadap ideologi yang mengancamnya. Jerman
yang penuh dengan mesjid dan para wanita yang berkerudung bukanlah
Jerman milik Goethe, Schiller dan Heine, Bach dan Mendelssohn. Itu akan
menjadi kekalahan bagi kita semua. Penting sekali bagi anda untuk
menghargai dan memelihara akar-akar anda sebagai sebuah bangsa. Jika
tidak demikian, anda tidak akan dapat mengamankan identitas anda; anda
akan dihapuskan sebagai sebuah bangsa, dan anda akan kehilangan
kebebasan anda. Dan Eropa akan kehilangan kebebasannya bersama dengan
anda.
Sahabat-sahabatku,
ketika Ronald Reagan datang ke Berlin yang terpecah 23 tahun yang lalu,
ia mengucapakan perkataan yang bersejarah, “Mister Gorbachev,
runtuhkanlah dinding ini”. Presiden Reagan bukanlah orang yang ingin
menyenangkan orang lain, tetapi orang yang menyampaikan kebenaran karena
ia mengasihi kebebasan. Hari ini, kita juga harus meruntuhkan sebuah
dinding. Bukan dinding dari beton, tetapi dinding penyangkalan dan
ketidakpedulian mengenai natur Islam. The International Freedom Alliance
bertujuan untuk mengkoordinasi dan menstimulasi usaha-usaha ini.
Oleh
karena kita membicarakan kebenaran, para pemilih telah memberikan
partai saya, yaitu Partij voor de Vrijheid, dan partai-partai lainnya
seperti Dansk Folkeparti dan Schweizerische Volkspartei, kuasa untuk
mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik, apakah itu menjadi
oposisi atau dalam pemerintahan atau dengan mendukung suatu pemerintahan
minoritas – seperti yang ingin kami lakukan di Belanda. Presiden Reagan
menunjukkan bahwa dengan menyuarakan kebenaran orang dapat mengubah
jalan sejarah. Ia menunjukkan bahwa tidak perlu berputus asa. Jangan
pernah! Kerjakan saja tugas anda. Jangan takut. Suarakan kebenaran. Bela
kebebasan. Bersama-sama kita dapat memelihara kebebasan, bersama-sama
kita harus memelihara kebebasan, dan bersama-sama, para sahabatku, kita
akan dapat memelihara kebebasan.
Terima-kasih.
http://www.jihadwatch.org/2010/10/geert-wilders-speech-in-berlin-yesterday.html
1.
Suripto on
15-10-2010 10:56:29
commented:
Wow...statement yang luar dari Wilders!
Melihat aksi-aksi Muslim saat ini, peledakan bom bunuh diri, pembakaran
rumah-rumah dan mesjid warga Ahmadiyah, serangan-serangan teror yang tak
pernah surut - JELAS ISLAM ITU SEBUAH IDEOLOGI YANG SAMA DENGAN
KOMUNISME.
Inilah saatnya pemerintah dan aparat keamanan menjadikan Islam sebagai BAHAYA
LATENT.
Jadi jika ada yang disebut bahaya latent komunis, sekarang kita harus
mewaspadai BAHAYA LATENT ISLAM!
2.
Gusty on
13-10-2010 07:39:49
commented:
Islam is the real terorist. Mereka akan
menguasai dunia tapi hanya sementara. Tanda-tanda yang mengarah ke sana
sudah mulai kelihatan sampai suatu saat Tuhan Yesus sendiri turun dari
surga dan memusnahkan pengikut-pengikut Iblis ini.
FREE E-BOOKS
JAWABAN 111 KONTRADIKSI ALKITAB PERJANJIAN LAMA
JAWABAN 155 KONTRADIKSI ALKITAB PERJANJIAN BARU
101 Penjelasan tentang TUDUHAN KONTRADIKSI dalam ALKITAB
Perang Suci - Oleh Abd Al Masih
Secrets Behind Burqa - Oleh Rosemary Sookhdeo
Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani
Mutiara Dari Surga - 1
The Truth About Muhammad - by Robert Spencer
Tuduhan-Ahmed-Deedat-Terhadap-Alkitab oleh Zakaria Boutros
Islam-Reviewed-by-M-Ali-Bahasa-Indonesia
The Hidden Life of Prophet Muhammad By Dr. A.A. Ahmed
Rahasia-Jalan-Yang-Lurus
Benarkah-Muhammad-Sempurna-Secara-Fisik oleh Ali Sina
Inilah-Ismael (Here Comes Ishmael) by Faisal Malick
Hidup-Dari-Ujung-Tombakku (Living by the Point of My
Spear)-Zaki Ameen
Akar-Terror-Islam by Abul Kasem
Membedah-Asal-Usul-Quran (The Origins of the Koran) by Ibnu
Warraq
SON of HAMAS
Mengapa Wanita Berpaling Kepada Islam - Rosemary Sookhdeo
Kerudung Yang Terkoyak
Why-Im-Not-Muslim by Ibnu Waraq
Achievement and Heritage of Muhammad oleh: Zaky Rawdat
SEJARAH KA'BAH YG TAK PERNAH DICERITAKAN
Sang-Putera-dan-Sang-Bulan oleh Curt Fletemier
YAHUDI-MENGGENGGAM-DUNIA-WILLIAM-G-CARR
Beriman Tanpa Takut oleh: Irshad Manji
Mesias yang Dinantikan Islam oleh: Joel Richardson
Siapakah Allah Ini
Christ Muhammad and I oleh: Mohammed Ghazoli
Kebenaran Tentang Muhammad
Ismael Akan Diberkati oleh: Ahmad Agyei
Ismail Saudaraku oleh: Umar Tariqas
The Secret of Qur'an oleh: Don Richardson
Islam diakhir Zaman oleh: Ellis Skolfield
Yesus dan Muhammad oleh: Mark Gabriel PhD
Islamic Invasion oleh: Robert Morey
Mengapa Kami Meninggalkan Islam oleh: Susan Crimp dan Joel
Richardson
ARTICLES
Muslim Pop - Oleh Matt Edwards
JAWABAN atas hadiah BMW dari PERTANYAAN INSAN L MOKOGINTA
Batalkan Hari Membakar Quran - Oleh Jochen Katz
60 Juta Dollar Untuk Kepala Pendeta Boutros
Pilih Mana - Puasa Islami Atau Puasa Kristen
Seperti apa Kitab Zabur dan Injil Barnabas
Heboh Film Iran - Tiru film Yesus Nabi Muhammad Diperankan
Aktor Film
Heboh Film YESUS Buatan Iran
Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani
Arsip Gambar Muhammad
Wahyu Mana Yang Asli
Quran Diinterview
Birahi Sexual Nabi Muhammad
MENGENAL ISLAM
A Letter To Gaza - Oleh Nonie Darwis
FQR 6 - Injil Kristus Yang Tanpa Salah
Klaim Islam - Setiap Orang Dilahirkan Sebagai Muslim
FQR 4 - Nama dan Atribut Kristus Dalam Quran
FQR 5 - Perawan Maria - Sebuah Tanda Dari Allah - Ayatollah
Sejati
FRQ 3 - Kehendak Tuhan Adalah Supaya Setiap Orang Bisa
Diselamatkan
FQR 1 - Apakah Anda Tahu Tentang Hikmat Kristus
FQR 2 - Orang Yang Dilahirkan Dari Roh Adalah roh
Hari Semua Orang Menggambar Muhammad
DAFTAR MUSLIM yang Meninggalkan Islam
Pengesahan Mutilasi di Amerika
Hilal-Bin-Sahar- Dewa Bulan Sabit
Islam-Bukan-Agama-bahasa-Indonesia
Menyusui-Pria-Dewasa by Zakharia Boutros
Keunikan-Alkitab-Dibandingkan-Kitab-Suci-Lainnya
Alkitab-Atau-Alquran-Yang-Dipalsukan
Muhammad-Tidak-Buta-Huruf
Tipu-Muslihat-Dalam-Islam
Ayat-Yang-Dipalsukan-Dlm-Quran
Islam-Tidak-Bisa-Membedakan-NAJIS dan DOSA
Islam-Tidak-Menyembah-Tuhan-Yang-Sama-Dengan-Tuhannya-Nabi by
Duladi
Kebohongan-Isra-Miraj
Arab-Adalah-Kota-Neraka
Nabi Muhammad Birahi-Kepada-Bayi-Sodomi
Perkawinan-Islam-dan-Penghalalan-Pelacuran-sbg-Lampr-dr-buku-kehidupan-rahasia-nabi-Muhammad
Teror-Dari-Mulut-Muhammad-Sendiri
ALEXANDER AGUNG, SI KAFIR NABI ISLAM
Fenomena Murtad Dlm 20 Thn Terakhir
Jibril as - Ahli Menyamar
Kemana Mencari Keselamatan
Apa Yang Terjadi Ketika Seseorang Meninggalkan Islam
Tagiyya - Berbohong Ala Islam Oleh Zakaria Boutros
Panggilan Dari Minaret
Pemimpin Muslim UK - Islam Bukanlah Agama Damai
Konflik GAZA berakar pada SYARIAH
Mari, bicara Fatwa Haram
Marilah kita memikirkan kembail soal Burqa!
Hubungan Islam-Machiavelli
Apa yang Sama yang Dimiliki Oleh para Rabbi di Harrow dengan
Para Rabbi di Medinah
Kesalahan Lia Eden sama dengan kesalahan Nabi Muhammad
Digantung di Iran Karena Murtad
Pandangan Islam mengenai Neraka
Anak Ketua Hamas Murtad
Ibn Mas'ud, Saksi Ketidak-beresan Quran
Contoh Moral Kenabian Muhammad Untuk Abad Kini
Islam - Berperang Dalam Dirinya Sendiri
Penjajahan Wanita Dalam Islam
TESTIMONIES
Supremasi Terang Atas Kuasa Kegelapan - Oleh Alhajji Aliyu
KEBOHONGAN PARA WANITA SAUDI ARABIA
Kesaksian Seorang Pemurtad Yang Difatwa Hukuman Mati
Kesaksian Hamran Ambrie
Kesaksian Bassam
Kesaksian Pertobatan seorang Irak-KETEMU-YESUS
Tak-Terbuktinya-Alkitab-Telah-Dipalsukan oleh Zakaria Boutros
Islam-Adalah-Ajaran-Sesat by Duladi
Kerudung Yang Terkoyak
Arifin Zaelani - Alasan Saya Meninggalkan Islam
Kesaksian Saya Meninggalkan Islam
Kesaksian Dr. Mark Gabriel yang Mengejutkan
Mengapa Kami Meninggalkan Islam
Ali Sina - Dari Beriman Menuju Pencerahan
Duladi - Mengapa Saya Benci Islam
Islam Sejati
QUESTION & ANSWERS
ISLAM BERTANYA KRISTEN MENJAWAB by Paulus M
Pilih Mana - Puasa Islami Atau Puasa Kristen
Apa Yang Al Quran Instruksikan Muslim Lakukan Terhadap
Non-Muslim
Tanggapan tulisan Muhammad dalam Perjanjian Lama
Hari Semua Orang Menggambar Muhammad
MENGRITISI PEMIKIRAN DR YAHYA WALONI
Sumber-penulisan-alquran by Zakharia Boutros
Tuduhan-Ahmed-Deedat-Terhadap-Alkitab oleh Zakaria Boutros
Tanggapan-Terhadap-Combat-Kit-Ahmed-Deedat
TIDAK ADA JALAN KEMBALI
Tanggapan atas Combat-Kit2 Ahmed Deedat
Seri-Pelajaran-Alkitab-Amazing-Facts
Masakan Allah Kok Punya ’Anak Allah’
Bagaimana Menilai Sebuah Kitabullah
Tuhan Alkitab Sama Dengan Allah SWT
Wahyu Terkini Jadi Pengukur Wahyu Terdahulu
Injil Digugat Karena Ahmad
Bukankah Alkitab Itu Korup
Tuhan Sendiri Tidak Tahu Bahwa Ia Trinitas
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/