Materialisme, sebuah weltanschauung terhadap alam raya +++
Ada orang yang ingin berusaha mengetahui bagaimana alam raya ini bergerak, dan ada juga yang tidak. Pengetahuan mendasar tentang alam raya (termasuk manusia), bagi orang Indonesia rata-rata di brain wash/cuci otak oleh agama. Agama ini sebenarnya ingin berusaha menjelaskan tentang alam raya, namun konsepnya telah usang. Sedangkan ilmu pengetahuan berkembang pesat meski belum bisa mengurai kinerja alam raya secara keseluruhan. So far,banyak orang mengira konstruksi pemikiran agama ini bukan masalah serius, tapi biasanya orang seperti ini jarang mengambil keputusan penting atau jarang berpikir. Materialisme, tepatnya adalah suatu weltanschauung tentang alam raya yang melihat alam raya dan manusia sebagai suatu mesin mekanistik. Memang di dalam pandangan kaum-kaum berotak teknis mekanistik, maka kerja alam raya dan manusia hanyalah seperti mesin mekanis saja. Sama sekali tidak ada unsur penggerak takhyul-nya dan mesin mekanis ini bekerja secara otomatis akibat setiap materi bergerak dan berinteraksi, sehingga mengakibatkan suatu gejala unik yang sebab mengakibatkan sebab secara berurutan dalam satuan waktu. Saya mencoba berusaha menganalisis, saya masih banyak melihat orang Indonesia yang tidak paham materialisme, dikiranya ini suatu kepercayaan/paham belaka, jelas memang orang Indonesia mengalami krisis serius dalam hal pemikiran/logika. Namun memang memahami materialisme memerlukan kecerdasan khusus, saya juga melihat orang-orang yang mengembangkan pemikiran materialisme kebanyakan orang-orang yang kuat berada di logiknya, mereka rata-rata ahli matematis atau ilmu alam. +++ So far, orang yang mendasarkan fundament pemikirannya kepada agama dan materialisme tidak terlalu berpengaruh signifikan apabila orang tersebut hanya menjalani hidup dan tidak sering mengambil keputusan penting. Artinya kalau orang tidak memerlukan keahlian/keterampilan berpikir, maka memang tidak ada signifikansi membangun konstruksi logika materialisme. Kalau memang orang hanya menjalani hidupnya saja dan tidak membutuhkan keterampilan berpikir, maka agama memang cukup baginya....dan agama ini sesungguhnya seperti brainwashing, atau mengulang-ngulang, atau memutar-mutar informasi seperti kaset terhadap dogma-dogma yang pernah diterimanya. Kami pernah punya pengalaman penting thd signifikansi perbedaan cara berpikir materialisme dan agama. Saya masih ingat betul, sebelum kakak saya tercinta meninggal. Kami bukanlah keluarga Islam yang tertutup. Suami kakak saya yang meninggal, lulusan business administrasi dari Amerika Serikat. Kakak saya yang lain bekerja di perusahaan Amerika yang ada di Indonesia. Saya akan tunjukan signifikansi bagaimana mengambil keputusan genting, apabila cara berpikir didasarkan atas agama dan atas materialisme. Hari Sabtu bulan september, atau 1 hari setelah lebaran, kakak saya mulai kesakitan luar biasa. Penyakit kanker memang ganas menyerang dan menimbulkan rasa sakit luar biasa. Kami semua panik, dan telah memanggil pak Kiai untuk memandu membacakan yasin, semua orang tepat mengira malaikat pencabut nyawa sedang akan mengambil nyawa kakak saya. Ini per konstruksi logika Islam. Semua keluarga saya berpikir seperti itu karena pikirannya DIKONSTRUKSI OLEH LOGIKA ISLAM. Tapi saya telah membaca Materialisme, dan saya cukup membaca ilmu kedokteran juga sudah cukup lama, ..lalu mari perhatikan apa yang terjadi... Jam 8 pagi, saya sudah tidak kuat melihat kakak saya yang kesakitan...saya segera keluar ruangan...disusul kakak saya yang lain. Jam 8 pagi itu saya sudah mengusulkan pemberian obat penenang dan penghilang rasa sakit, tepatnya morfin. Tapi kakak saya nomor 4 membantahnya, "tidak bisa seperti itu, mati adalah kehendak Allah, kematian berada pada kuasa Allah, biarlah Allah yang mengambil nyawanya sesuai kapan kehendaknya" ya sudah... saya diam.... sampai sekitar jam 6 sore, bayangkan dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore kakak saya teriak-teriak menahan sakit, atau 10 jam kesakitan luar biasa....baru ayah saya keluar menyusul saya dan menanyakan bagaimana sebaiknya. Memang di keluarga kami, sayalah orang yang paling berpengalaman mengambil keputusan dan sering mengajarkan rasionalisme, karena saya berbisnis sejak muda atau sejak 24 tahun saya sudah memimpin perusahaan internet service provider yang keputusan-keputusannya harus diambil secara cepat dan tepat. Saya memberitahukan kepada ayah saya yang juga sudah tidak kuat melihat penderitaan anaknya (yang juga kakak saya) kesakitan seperti itu, bahwa pagi hari saya sudah mengusulkan pemberian obat penenang dan penghilang rasa sakit, tapi ditolak. Tapi kami semua sudah tidak kuat melihatnya menderita. Asal tahu saja, morfin ini juga beresiko, tepatnya bisa menghentikan jantungnya dan membuat pernafasan sesak... jadi kami dihadapkan pada situasi yang sulit sekali 1. Melihat kakak saya kesakitan diserang kanker 2. Menghentikan kesakitannya dengan morfin, namun justru morfin yang akan membunuhnya. Pemberian morfin ini juga melalui prosedur ketat, harus ada tanda tangan suaminya yang menyetujui pemberian morfin. Sekitar jam 8 malam kami semua sudah sepakat...pemberian obat penghilang rasa sakit harus diLAKUKAN apapun resikonya. dan setelah itu memang benar-benar dilakukan, dan kemudian hilanglah rasa sakit itu, kakak saya mulai terdiam. Jam 10 malam kami semua ngobrol, dan kakak saya yang nomor 2 mengatakan... "benar kata wawan, bahwa obat penghilang rasa sakit ternyata menenangkannya, kalau begitu memang lebih baik dia meninggal dalam keadaan tenang (atau artinya dalam keadaan diberi obat penenang), sudah tidak ada pilihan" dan esok harinya, memang kakak saya mengalami perlambatan fungsi organ tubuh.... sebelum meninggal, yang dikeluhkannya adalah sesak....dan bicaranya sangat lirih. +++ Dari pengalaman ini, nampak sekali perbedaan cara pengambilan keputusan penting terhadap suatu masalah. Bagi mereka yang pikirannya dikonstruksi agama, kesakitan orang sebelum meninggal dianggap/disebabkan sebagai nyawanya mau dicabut. Bagi saya yang pikirannya menggunakan materialisme, kesakitan disebabkan oleh internal kondisi tubuh biologis. Lalu tampak sekali perbedaan cara mensolusikannya... Keluarga kami memanggil Kiai untuk membacakan doa, dan itu dilakukan dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Sedangkan pemberian obat, atau menuruti usul/solusi yang saya berikan, baru dilakukan jam 6 sore setelah semua keluarga tidak kuat lagi menahan penderitaannya. Kita semua tidak tahu, fungsi organ mana yang lebih dulu berhenti terhadap meninggalnya kakak saya, bisa juga/kemungkinan besar justru disebabkan oleh morfin atau obat penghilang rasa sakit, atau artinya usul saya-lah yang justru membunuhnya...(melihat gejala meninggalnya adalah sesak napas memang kemungkinan besar morfinlah yang justru menghentikan fungsi tubuh biologisnya) Sampai disini....coba anda pikirkan... a. kalau menuruti pak kiai dan pemikiran keluarga saya yang lain bahwasanya "KEMATIAN BERADA PADA KEHENDAK ALLAH, DAN TERSERAH ALLAH KAPAN AKAN MENCABUT NYAWANYA", maka kakak saya bisa berteriak-teriak nggak karu-karuan selama berhari-hari... b. kalau memberikan morfin sejak awal memang bisa membunuhnya secara cepat, namun tidak sakit. jadi pilihannya adalah... a. membiarkannya mati secara kesakitan namun umurnya lebih lama beberapa hari lagi. b. lebih baik cepat membunuhnya tapi tidak dengan rasa sakit. +++ Dari sini nampak jelas, berpikir jitu, berpikir tepat, berpikir logika...dibutuhkan untuk mengambil keputusan-keputusan yang penting, genting dan signifikan. Berpikir jitu butuh keterampilan, dan ini perlu dilatih, saya sendiri hingga saat ini masih melatihnya dengan bermain tetris dan sudoku. Di sini juga nampak jelas, bahwa agama sering membawa kita berpikir yang salah/tidak rasional/tidak jitu/fallacy... namun kembali ke permasalahan utama... SIAPAKAH ANDA? APAKAH ANDA SEORANG YANG MEMBUTUHKAN BERPIKIR JITU/TEPAT/BENAR? ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
