http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=73130:korupsi-dan-terhambatnya-pertumbuhan-ekonomi&catid=78:umum&Itemid=131


      Korupsi dan Terhambatnya Pertumbuhan Ekonomi        

      Oleh : Sorta Pandiangan, SE



      Hampir dalam banyak kesempatan, para ekonom selalu kritis dan telah 
berulang kali mengingatkan bahwa kinerja perekonomian kita masih jauh dari 
mumpuni. 

      Belum mampu menyediakan lapangan kerja dalam jumlah yang banyak, belum 
mampu mengatasi masalah kemiskinan yang menyelimuti hampir separuh dari jumlah 
penduduk.

      Kinerja perekonomian negara sama sekali tidak bisa memberi kesejahteraan 
bagi rakyat. Pemerintah boleh saja mengklaim ekonomi negara baik-baik saja. 
Kita begitu sering mendengar klaim bernada bangga bahwa kita mampu mencatat 
pertumbuhan positif ketika banyak negara gagal mencatat pertumbuhan akibat 
krisis. Kita tidak ingin membantah klaim itu. Tetapi, adalah hak kita untuk 
mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi negara dalam tahun-tahun belakangan 
ini.

      Mengacu pada potret pengangguran, kemiskinan, dan aspek kesejahteraan 
rakyat, kita secara terbuka sudah menilai dan menyatakan kualitas pertumbuhan 
ekonomi kita terbilang buruk. Sebab, rata-rata pertumbuhan di atas 5 persen per 
tahun yang dicatat selama ini ternyata tidak memiliki daya yang cukup untuk 
merespons masalah-masalah tersebut. Karenanya, kita tak pernah mau berbangga 
atas data tentang pertumbuhan itu.

      Kita justru prihatin klaim pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu 
bertolakbelakang dengan penderitaan warga miskin. Akhirnya, penilaian bahwa 
kinerja ekonomi negara masih jauh dari ideal seperti mendapatkan pembenaran 
dari Dana Moneter Internasional atau IMF (International Monetary Fund) dan Bank 
Dunia. IMF prihatin dengan praktik korupsi di negara ini, sementara Bank Dunia 
mempertanyakan pengelolaan anggaran pembangunan.

      Harus Memberantas Korupsi

      Menurut IMF, jika ingin kinerja ekonomi negara terus bertumbuh dan 
kompetitif, Indonesia harus memberantas korupsi. Investor asing, kata IMF, saat 
ini sangat berhati-hati menanamkan uangnya di Indonesia. Mereka menunggu sampai 
pemerintah serius memerangi korupsi yang makin merajalela, serta penegakan 
supremasi hukum. Karena itu, IMF minta Pemerintah Indonesia tidak berlama-lama 
membiarkan investor diliputi kekhawatiran akan kepastian hukum serta 
transparansi. Sebab bisa menghambat kepastian investasi.

      Sedangkan Bank Dunia menilai kinerja ekonomi negara belum maksimal akibat 
rendahnya efektivitas pengelolaan anggaran pembangunan, khususnya anggaran 
belanja. Seperti kita di dalam negeri, Bank Dunia pun prihatin melihat 
pencairan anggaran belanja yang akhir-akhir ini terus melemah.

      Padahal, menurut perhitungan Bank Dunia, ekonomi Indonesia bisa tumbuh 
sekitar 0,5 poin, persentase lebih tinggi jika pemerintah efektif mengelola 
anggaran belanja. Persoalan atau hambatan pembangunan ekonomi yang dikemukakan 
Bank Dunia dan IMF tidak baru di telinga kita. Tetap saja faktor korupsi, 
kepastian hukum, dan juga pengelolaan anggaran.

      Tidak ada yang membantah bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa. Sebab 
dampak dari korupsi juga luar biasa, dan bisa beberapa generasi ikut menanggung 
beban dari para koruptor uang negara. Selain masuk kategori kejahatan luar 
biasa, korupsi merupakan penghambat utama perkembangan perekonomian Indonesia 
karena korupsi menggerogoti uang negara. Paling tidak, hal itu diakui Menteri 
Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

      Keprihatinan banyak kalangan disuarakan terhadap tindakan korupsi yang 
belum juga berkurang, malah cenderung bertambah. Termasuk keprihatinan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono, padahal program utama pemerintahan Kabinet Indonesia 
Bersatu Jilid II adalah upaya pemberantasan korupsi. Karena gurita korupsi 
telah merambah hingga ke pemerintahan daerah, termasuk ke pemerintahan desa, 
upaya pemberantasan korupsi makin sulit.

      Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibentuk untuk mengatasi tindak 
pidana ini dengan kekuasaan yang cukup besar pun belum mampu. Saat KPK bekerja 
melakukan penyadapan, penyelidikan, penyidikan, hingga penuntutan, ketika itu 
pula jaringan para koruptor juga bekerja mengambil pundipundi negara.

      Belum maksimalnya upaya pemberantasan korupsi menyebabkan Dana Moneter 
Internasional (IMF) mengingatkan kembali Indonesia akan ancaman bahaya korupsi 
bagi kelangsungan perkembangan perekonomian Indonesia. Pemimpin misi IMF di 
Indonesia Thomas Raumbaugh mengungkapkan belakangan pihaknya menemukan 
ketertarikan perusahaan multinasional masuk ke Indonesia. Namun, para investor 
akan mengawasi secara seksama perkembangan pemberantasan korupsi.

      Karena itu, Indonesia harus serius memprioritaskan pemberantasan korupsi 
jika ingin membangun perekonomian dengan kinerja terbaik di dunia. Tentu hal 
ini menjadi peringatan dini bangsa ini untuk lebih serius memberantas korupsi 
demi perbaikan kondisi ekonomi.

      Sebenarnya bangsa ini tahu bagaimana mengatasi semua hambatan itu. 
Sayang, kita tidak bersungguh-sungguh mengatasi semua hambatan itu. Sebab, kita 
lebih senang beretorika, bersilat lidah, sekadar membangun citra lewat slogan 
dan janji-janji. Bukan hanya IMF yang prihatin dengan perkembangan korupsi, 
bahkan rakyat Indonesia pun nyaris putus asa, karena korupsi seperti sudah 
menjadi bagian dari sistem. Slogan 'perangi korupsi' memang terus bergema, 
tetapi pada saat yang sama "industri" korupsi justru semakin menjamur. ***

      Penulis adalah kolomnis, pemerhati ekonomi, bermukim di kota Medan.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke