Releksi : Siap, cuma saja bukan untuk tenmpat jauh dari Jakarta http://www.surya.co.id/2010/11/02/tsunami-mengapa-kita-tidak-siap.html
Mengapa Kita Tidak Siap? Selasa, 2 Nopember 2010 | 07:18 WIB Erlinawati Graham Penulis Lepas/Tinggal di Wellington, Selandia Baru Saya bangga ketika mendengar bahwa Selandia Baru, negara yang kini 'mengadopsi' saya, menjadi negara pertama yang menawarkan bantuan kepada para korban tsunami yang menyapu Kepulauan Pagai, Mentawai, Sumatera Barat. Laporan pertama yang saya dengar datang dari orang asing yang bekerjasama dengan SurfAid -LSM internasional yang didirikan oleh warga Kiwi, Dr Dave Jenkins. Pada tahun 1999, Jenkins bekerja di Singapura dan melakukan perjalanan ke Mentawai untuk berlibur dan berselancar. Jenkins terkejut melihat perbedaan yang sangat kontras antara kehidupan di kapal pesiar mewah dan warga desa yang miskin, sakit serta tengah menderita karena penyakit yang sebetulnya dapat dicegah, seperti malaria. Jenkins tergerak untuk melakukan sesuatu (bantuan kemanusiaan) dan dalam 11 tahun terakhir dia telah membantu mengumpulkan dana jutaan dolar AS untuk membantu meningkatkan kesehatan penduduk di kawasan pulau tersebut. Namun, saya prihatin ketika mendengar bahwa Tanah Air saya masih belum mengembangkan sistim layanan darurat nasional yang mampu menangani bencana alam, seperti yang telah menghantam Mentawai, Wasior di Papua, hingga Merapi di Jawa Tengah. Saya bahkan juga mendengar laporan bahwa tidak ada peringatan dini tsunami karena peralatan telah rusak (atau dirusak) oleh nelayan dan tidak berfungsi lagi serta kurang dirawat. Kita tahu gempa berkekuatan 7,5 skala richter dan tsunami setinggi tiga meter datang sebagai kejutan. Pantai barat pulau Sumatera telah lama dikenal secara internasional sebagai salah satu zona dunia yang paling tidak stabil di mana lempeng-lempeng tektonik yang letaknya berkilo-kilo meter di bawah bumi bergerak dan menciptakan kekacauan menakutkan di permukaan. Dengan pengetahuan ini sungguh luar biasa bahwa pemerintah Indonesia tidak memiliki sistem yang siap di tempat untuk mengatasi tragedi. Betul, pulau-pulau tersebut terpencil. Itu bukan alasan karena pulau-pulau tersebut selalu terpencil. Bukankah, gugusan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri dari gugusan kepulauan, besar maupun kecil yang selalu dibanggakan ke seluruh dunia sebagai zamrud khatulistiwa? Memang benar, banyak desa miskin dan tidak memiliki infrastruktur seperti bandar udara dan pusat-pusat informasi darurat. Mengapa tidak? Atau, apakah menghabiskan dana untuk daerah terpencil di republik kita kurang penting daripada agenda para politisi yang melakukan titian muhibah ke Eropa? Pembunuh Sebenarnya Bukankah sila kelima Pancasila menyebutkan: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini tidak berarti bahwa hak-hak rakyat hanya untuk masyarakat Jakarta dan Surabaya saja, tetapi untuk setiap warga negara di manapun mereka tinggal di kepulauan Nusantara ini. Saya selalu memahami bahwa peran pemerintah adalah untuk melindungi warganya. Orang-orang biasanya berpikir, ini merujuk pada ancaman yang datang dari luar, seperti tentara-tentara asing. Namun 'pembunuh' sebenarnya adalah bencana alam itu sendiri. Saya baru saja kembali dari Nias di mana saya melihat 'ulah' tsunami 2004 dan gempa bumi 2005. Setelah kejadian-kejadian ini pemerintah, yang disokong bantuan dari luar negeri dan dipimpin oleh seseorang yang efisien, Kuntoro Mangkusubroto, bekerja untuk merehabilitasi pulau-pulau tersebut. Saya harus mengatakan bahwa perbaikan-perbaikan sudah dilakukan meski belum menyeluruh. Jalan utama utara-selatan dalam kondisi baik, tetapi jalan-jalan darat ke pedalaman masih mengerikan, penuh lubang dan hampir tidak bisa dilewati. Dengan ambulans saya berkeliling sebagai penumpang bukan sebagai pasien, kendaraan tidak mampu untuk naik bahkan jalan kecil ditepi Gunungsitoli - ibu kota provinsi yang masih berada di pantai dan rentan terhadap setiap tsunami. Banyak rumah masih belum diperbaiki, bagaimanapun pemerintah telah membangun kantor yang besar dan indah di bukit serta aman dari gelombang ombak yang besar. Sementara dana dari luar negeri digunakan untuk mengajar masyarakat -khususnya anak-anak-tentang cara bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk bencana alam dan apa yang harus mereka lakukan ketika bumi bergetar dan air pasang datang. Lembaga yang melakukan pekerjaan ini bukan pemerintah tetapi unit dari Yakkum, LSM yang berbasis di Jogjakarta yang awalnya didirikan oleh pekerja komunitas dari Selandia Baru, mendiang Colin McLennan. Seperti Dr Dave Jenkins, Colin juga terkejut saat melihat orang sakit dan miskin yang tak mendapat perawatan layak. Colin mengumpulkan jutaan dolar AS dan Yakkum, yang beroperasi di Bali, Jawa Tengah dan Nias, membantu ribuan orang cacat untuk memulihkan kehidupan mereka dan menjadi anggota masyarakat yang berguna. Mengapa harus menunggu orang luar untuk datang ke negara kita, melihat ketimpangan ini dan berbuat sesuatu? Bagaimana pun saya berterimakasih kepada orang asing yang telah membantu, tetapi saya berharap tanggung jawab ini dipikul pemerintah dan para politisi di mana saya telah membayar pajak. Saya juga berharap pemimpin kita untuk mulai menunjukkan kepeduliannya kepada setiap warga negara Indonesia, di mana pun mereka berada. Saya berharap ini dilakukan sekarang dan saya yakin akan Anda lakukan juga. n [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
