http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/yogya-ditutupi-abu

Yogya Ditutupi Abu 
Diterbitkan : 5 November 2010 - 3:54pm |


 
Pemerintah Kamis malam kemarin menetapkan zona bahaya merapi dari 15 menjadi 20 
kilometer. Puluhan ribu pengungsi yang berada di kamp-kamp penampungan 
dipindahkan ke berbagai kompleks olahraga misalnya di Maguwoharjo. 

Salah satu rekan Radio Nederland, Edwin Mooibroek berada di Yogyakarta dan 
untuk sementara harus tinggal di kota itu, karena hampir semua rencana 
penerbangan yang dibatalkan. Kami menanyakan pengalamannya di Yogyakarta yang 
ditutupi abu Merapi:

"Kemarin kelihatannya situasi mulai mereda, sampai tiba-tiba kemarin malam 
diberitakan letusan  terbesar Merapi yang memuntahkan awan panas hingga 7 
kilometer ke udara. Pemerintah langsung memperluas zona berbahaya dari 15 
menjadi 20 kilometer. Semua orang yang tinggal di zona 15 kilometer diminta 
mengungsi, ada sekitar 60 orang yang dirawat di rumah sakit terkena luka bakar 
dan bahkan ada yang meninggal dunia. Mereka mengira desa mereka masih masuk 
wilayah aman, tapi ternyata awan panas mencapai desa-desa tersebut. Jadi 
kemungkinan jumlah korban tewas terus meningkat.

Saya tinggal di hotel di pusat kota Yogyakarta. Ketika saya tadi bangun dan 
turun ke bawah untuk sarapan pagi, saya pikir di luar hujan rintik-rintik. tapi 
setelah saya amati lebih baik, ternyata itu adalah hujan abu yang cukup besar 
ukurannya. Boleh disamakan dengan badai pasir dan di mana -mana ditutup abu. 
Semua orang di sini menggunakan penutup mulut. 

Abu panas semakin mendekati kota Yogyakarta, yang berjarak kurang lebih 35 
kilometer dari puncak merapi. Banyak orang mempertanyakan apakah jarak yang 
ditetapkan pemerintah yaitu 20 kilometer benar aman.

"Semua orang di sini memang disibukkan oleh Merapi. Semuanya menggunakan 
penutup mulut. Saya mendengar cerita dari penduduk yang tinggal di pinggiran 
Yogya memutuskan untuk mengungsi karena sepanjang malam mendengar suara gemuruh 
Merapi, yang barengi dengan kilatan petir. Mereka takut, karena itu 
meninggalkan rumahnya, dan sekarang mencari perlindungan di rumah keluarga di 
Yogyakarta yang letaknya lebih jauh."

Tranportasi adalah masalah terbesar. Bandara Yogyakarta ditutup paling tidak 
selama 24 jam. Garuda Indonesia malah membatalkan penerbangan hingga lusa. 
Karena bandara ditutup maka orang berebut membeli karcis kereta api, baik dari 
dan ke Yogyakarta. Banyak orang yang tinggal di luar Yogya ingin masuk kota 
tersebut mengunjungi keluarganya. 

Sementara itu semakin banyak penduduk yang dievakuasi, sekitar 25.000 orang 
kemarin malam, dan mereka ditampung di gedung-gedung sekolah, universitas dan 
gelora di Yogyakarta. Karena tempat-tempat ini sebelumnya tidak dipersiapkan 
untuk menjadi tempat penampungan, maka pemerintah daerah harus beimprovisasi. 
Relawan diminta untuk membagi-bagikan makanan.

Selain itu diperkirakan akan terjadi bencana banjir, paling tidak aliran lava 
dingin dari Merapi akan mengalir ke sungai-sungai, disertai dengan bongkahan 
besar batu-batu dari kawah. Jadi semua sekolah dan tempat-tempat umum di 
pinggir sungai juga telah diamankan. Presiden SBY baru saja berpidato di 
televisi dan menyatakan bahwa pemerintah mengambil-alih komando penanganan 
Merapi. Juga TNI mendapat wewenang lebih luas.

Para turis asing yang berada di Yogyakarta sebagian masih tetap tinggal di kota 
tersebut. Kebanyakan dari mereka menyesuaikan jadwal perjalanan, seperti 
sekelompok besar turis Belanda yang Jumat pagi akhirnya meninggalkan kota Yogya 
untuk ke Bali menggunakan kendaraan umum atau pribadi. Sebagian karena cemas 
akan dampak abu Merapi pada kesehatan, dan berusaha secepat mungkin 
meninggalkan kota tersebut dengan bis atau kereta, jika mereka masih bisa 
mendapatkan karcis.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke