Refleksi : Terbuka, tetapi tidak boleh berjabat tangan dengan yang berlainan 
kelamin dan bukan keluarga, berarti  tertutup.


http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=75396:penegasan-pks-partai-islam-terbuka&catid=78:umum&Itemid=131


      Penegasan PKS, Partai Islam Terbuka        
      Oleh : Ikrimah Hamidy, ST



      Pasca Musyawarah Wilayah ke-2 PKS Sumut pada 8-10 Oktober yang lalu, dan 
terpilih M. Hafez, Lc,MA- alumni Universitas al Azhar Cairo dan IAIN Sumut, 
sudah menjadi tradisi bahwa pergantian kepemimpinan adalah hal yang biasa saja, 
makanya pergantian ketua DPW PKS SUMUT tidak terjadi dinamika negatif di 
internal partai. 

      Saat ini PKS sudah menggelar tema besar " Bekerja Untuk Indonesia adalah 
Ibadah", yang kemudian diturunkan oleh tiap wilayah bahwa bekerja untuk 
propinsi masing-masing juga bagian dari ibadah. Oleh karene itulah, dalam 
sambutannya ketua DPW PKS Sumut terpilih menegaskan eksistensi PKS sebagai 
partai Islam terbuka. Tema ini tentu menjadi ruh dalam aktifitas partai, baik 
kerja di masyarakat maupun di pemerintahan. Sebenarnya ada apa hingga PKS 
membuka wacana seperti ini?

      Ada dua hal yang dianggap perlu sehingga tema diatas diangkat kepermukaan 
, yaitu :

      1.Tentu saja tema bekerja dan ibadah adalah implementasi dari pemahaman 
PKS bahwa kader partai dan masyarakat diberi pemahaman bahwa konteks ibadah itu 
sangat luas, tatkala didasari niat dan cara yang benar untuk melakukan 
perbaikan dan perubahan untuk Indonesia. 

      Perubahan yang tidak semata-mata lip service belaka, namun sebuah kerja 
aktual. Maka dari itu, titik tekan bekerja dengan partai sebagai sarana, 
menjadi penting karena merupakan bagian dari perintah Allah SWT, fakuli'malu 
fasayarollhu 'amalakum (maka bekerjalah kamu, niscaya Allah SWT akan melihat 
amal kamu). Dan kerenanya pula, bekerja untuk kebaikan dan perubahan tersebut 
merupakan bagian dari ibadah. 

      2. Kaitannya dengan sikap PKS tentang keterbukaan. Beberapa waktu yang 
lalu, jajaran pimpinan PKS ditingkat pusat seperti Sekjend Anis Matta, 
mengangkat sebuah tema "PKS partai terbuka". Tema yang menjadikan sebahagian 
kader dan simpatisan PKS mengernyitkan kening. Kebingungan muncul yang ditandai 
dengan banyaknya pertanyaan dan komentar di website milik PKS. Ada apa dengan 
PKS? Sebuah sikap yang dianggap menghilangkan nilai Islam selama ini dan 
melekat dalam jati diri PKS. 

      Partai Terbuka

      Namun sesungguhnya tema "PKS partai terbuka" merupakan bagian dari 
aktualisasi nilai-nilai ke-Islaman yang sesungguhnya menjadi hal yang harus 
dipahami oleh kader PKS dalam materi-materi kaderisasi selama ini. Bahwa 
keterbukaan PKS bukanlah menghilangkan asas Islam yang selama ini dipegang 
teguh. 

      Asas merupakan tumpuan utama PKS dalam beraktifitas dan dia tidak akan 
pernah lepas hingga kapanpun, walau akhirnya nanti PKS berganti nama dengan 
partai apapun namanya. Namun keterbukaan PKS adalah dalam hal sikap dan 
penerimaan. 

      Maksudnya sikap PKS yang ditandai dengan aktifitasnya harus menjangkau 
seluruh elemen masyarakat Indonesia atau Sumatera Utara yang heterogen. Memberi 
manfaat bagi seluruh masyarakat tanpa melihat asal usul suku, agama, ras dan 
lain-lain. 

      Contoh sederhananya adalah apabila PKS melaksanakan aktifitas sosial, 
maka rakyat yang kurang mampu dari berbagai suku atau agama tadi, tidak menjadi 
tolak ukur, sehingga hanya yang beragama Islam saja yang harus diberi. Padahal 
ada masyarakat non Islam yang seharusnya wajib diberi tetapi ditinggalkan hanya 
karena perbedaan agama. 

      Hal ini sudah dibuktikan oleh Rasulullah sendiri, bahwa dalam riwayat 
yang panjang disebutkan, bagaimana Rasulullah saw pada hidupnya memiliki 
kebiasaan merawat seorang nenek Yahudi yang buta, dengan membersihkan rumah dan 
memberinya makan sehabis sholat subuh walaupun si nenek tadi sangat sangat 
membenci Rasulullah. 

      Hingga dalam tiap pertemuan dengan si nenek yang buta, caci maki keluar 
dari mulut si nenek tentang Rasulullah. Namun hal tadi tidak mengurangi kasih 
sayang Rasulullah, hingga akhir hayat beliau dan si nenek tetap dengan 
agamanya. Kebiasaan ini diteruskan oleh Abu Bakar dan karena perlakuannya 
berbeda dengan Rasulullah, si nenek mengetahui bahwa orang yang melayaninya 
bukanlah orang yang sama. 

      Dan tatkala dijelaskan oleh Abu Bakar bahwa orang yang dulu selalu 
merawat dan melayaninya adalah Rasulullah maka disitulah kesadaran si nenek 
muncul dan perubahan sikap terjadi padanya tentang Islam. Dari sisi penerimaan, 
bahwa PKS membuka pintu bagi kalangan non Islam untuk hadir didalam struktur 
partai, untuk dapat bekerja sama membangun dan memperbaiki keadaan. 

      Hal ini telah dicontohkan pula oleh Rosulullah SAW tatkala beliau 
memimpin Madinah, maka beliau membuat sebuah kontrak kerja yang melibatkan 
semua elemen masyarakat Madinah, yang terdiri dari beragam suku dan agama. Maka 
muncullah Piagam Madinah, dimana salah satu butirnya mengatur partisipasi semua 
agama di Madinah untuk saling membantu dan melindungi apabila kota Madinah 
diserang oleh musuh. 

      Dalam hal partisipasi secara struktural, maka perlu dipahami bahwa PKS 
adalah struktur organisasi yang memiliki pola dan kaidah sesuai dengan anggaran 
dasar dan anggaran rumah tangganya. Bila ternyata terdapat tawaran dan 
keinginan bersama untuk bekerja untuk kebaikan masyarakat, maka tentu tawaran 
ini akan diterima. 

      Sedangkan untuk hal-hal yang bernuasa idiologi dan kepercayaan, maka PKS 
mengatakan- sebagaimana juga Allah telah berfirman," Bagi agamamu dan bagiku 
agamaku". PKS akan tetap menyampaikan keindahan Islam dalam bentuk kerja nyata 
hingga akhirnya dengan kesadaran sendirilah. 

      Siapapun orangnya, akan memilih keputusannya terhadap Islam, apakah 
diikuti atau tidak. Maka bergabungnya non Islam dalam PKS adalah semata-mata 
untuk program-program kebaikan umum dan kepentingan umum. Apalagi jika orang 
tersebut memiliki skil tertentu yang sangat diperlukan publik.

      Akhirnya penjelasan ini hanyalah sedikit hal yang mencoba membangkitkan 
pemahaman ke-islaman dan kepartaian kita. Tentu saja, pemahaman adalah dasar 
utama untuk bisa bekerja dan mengamalkan Islam dengan baik, yang akhirnya 
menimbulkan prasangka baik pula terhadap Islam. 

      Dengan nilai-nilai inilah PKS bekerja, bukan dengan simbol dan pemanis 
buatan. Diatas semua itu, tentu ada hakim yang Maha Tinggi untuk nantinya 
menilai ini semua. Semoga ijtihad dan sikap ini merupakan kebenaran yang 
mendapat ganjaran kebaikan oleh Allah swt dan penerimaan yang baik oleh publik 
sehingga PKS semakin dipercaya pada Pemilu yang akan datang, untuk dapat 
berkontribusi lebih banyak lagi bagi masyarakat.*** 

      Penulis adalah Wakil Ketua DPRD Medan dari Fraksi PKS
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke