http://riaupos.com/news/2010/11/15/dradjad-wibowo-pun-menangis-oleh-bersihar-lubis/

Dradjad Wibowo pun Menangis 
Oleh Bersihar Lubis
- 15 November 2010Posted in: Opini
Sesekali  enak juga berandai-andai. Begini, Bung! Bagaimana sekiranya saham 
Krakatau Steel (KS) yang laris manis itu, antara lain dialokasikan kepada 
koperasi karyawan KS serta komunitas UKM  maupun Pemerintah Provinsi Banten 
serta beberapa kabupatennya tempat pabrik baja itu berlokasi? Alangkah 
populisnya.

Saya terbayang suatu mimpi yang indah telah terjadi. Yakni, wajah bursa saham 
tampil secara surprise. Tak lagi semata menampilkan aktor individual pelaku 
saham, maupun para broker dan sekuritas, tetapi juga merakyat.

Mendadak sontak BUMN KS bak mengamalkan pasal 33 UUD 1945, tentang perekonomian 
kita yang berasas kekeluargaan. Tidak lagi bersemangat individual, yang konon 
sangat kapitalistik.

Bayangkan, jika sejak Rabu (10/11) lalu saham KS diperdagangkan di bursa efek 
dengan harga perdana Rp850 per saham, maka Rp3,1 miliar saham yang dilepaskan 
ke publik dalam tempo tiga menit kemudian melejit menjadi Rp1.240 per saham. 
Hitung saja, berapa yang dinikmati pihak-pihak yang kita sebut di alinea awal 
tulisan ini? Pastilah lumayan, Saudaraku!

Jauh di Kota Medan, saya pun bisa menghibur ekonom Dradjad Wibowo. Dia tidak 
perlu lagi menangis seperti ramai ditulis berita di internet. Coba, saudaraku? 
Saat berakhirnya perdagangan hari Rabu, saham KS menguat Rp420 atau 49,41 
persen ke level Rp1.270. Bahkan saat ditutup Kamis (12/11), naik lagi Rp70 
(5,51 persen) ke level Rp1.340 per saham. Hampir saja terkena penghentian 
perdagangan secara otomatis (auto rejection) karena harga hampir melonjak 
hingga 50 persen.

Namun pengandaian saya telah hanyut ke laut. Di alam realitas, ternyata justru 
para investor, khususnya asing yang berpesta-pora. Beli borong Rp850 per lembar 
saham, lalu menjualnya saat harga tinggi. Rabu lalu saja, dihitung-hitung 
terjual bersih (net sell) senilai Rp378,693 miliar, sehingga kepemilikan asing 
di saham KS hanya tersisa 5 persen. Bacalah di internet dan berita media massa, 
ternyata broker yang tercatat menjual saham KS paling banyak adalah nama-nama 
perusahaan asing. Juga yang membeli.

Saya tidak tahu lagi apa gerangan nasib langkah 13 ekonom domestik yang ingin 
membatalkan IPO KS itu? Namun, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano 
Herman Marciano yakin hal itu tidak bisa dilakukan.

Soalnya, IPO KS hingga kini tidak melanggar peraturan UU Pasar Modal. Dan 
memang sudah meluncur sejak 10 November lalu. Tentu saja, para pendukung pasar 
bebas akan mengatakan, bahwa inilah kemauan pasar. Bahwa aksi beli para 
investor itu tiada lain merupakan sentimen positif terhadap saham KS.

Rupa-rupanya, para pelaku pasar modal asing kurang atau tidak kebagian saat 
masa penawaran, sehingga memburunya lagi melalui broker. Maklum, saat penawaran 
jumlah peminat melimpah ruah.

Tak pelak, fakta ini semakin menegaskan perekonomian kita yang kapitalistik. 
Kepentingan dan keuntungan invidual lebih diutamakan. Sementara kepentingan dan 
keuntungan masyarakat, sesuai pasal 33 UUD 1945, semakin terabaikan.

Ah, Anda akan menuding saya sebagai orang yang romantic, yang merindukan barang 
lama yang sudah terendam dalam realitas liberalisasi perekonomian, termasuk di 
pasar modal. Terserahlah. Tapi secara konstitusional, perekonomian kita yang 
berasas kekeluargaan dan mementingkan kemaslahatan orang banyak, sama sekali 
belum diamandemen, bukan? Saya hanya kecut. Setelah kisah Indosat, Semen 
Gresik, KS dan lainnya, BUMN mana lagi gerangan yang menyusul?

Jika kita flashback beberapa hari dalam sepekan ini, IPO KS bagaikan 
pertunjukan teater. The show must go on. Begitulah, kira-kira tekad Dirut 
Kratakatu Steel (KS) Fazwar Bujang di Jakarta, seperti dikatakannya kepada pers 
Senin (8/11) lalu. Menteri BUMN Mustafa Abubakar bahkan siap merespon class 
action dari sejumlah ekonom yang menilai IPO KS merugikan pemerintah Rp1 
triliun.

Rencana penggugat meminta Bapepam membatalkan atau menunda sampai proses 
pengadilan selesai, tak membuat pusing Kepala Bapepam, Fuad Rahmany. "Ini kan 
rumor, apa ada pelanggaran? Orang ini belum ada transaksi," kata Fuad. 
Pendeknya, tidak bisa melarang (IPO KS). "Kalau dilarang, nggak ada yang mau 
IPO disini. Nanti pada IPO di Singapura," katanya.

Tim evaluasi privatisasi BUMN bentukan Menteri Mustafa juga tak menemukan 
adanya kongkalikong dalam proses penawaran IPO KS. "Tidak ada rekayasa dalam 
penunjukkan underwriter, pricing (penetapan harga) dan penjatahan," kata 
Hikmanto, anggota Tim Evaluasi IPO KS, Selasa (9/11/2010).

KS berencana melepaskan 3.155.000.000 saham ke publik dan mencatatkannya di 
Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010. Harga Rp850 per saham pun 
memicu banyak orang merenggut untung cepat dari kenaikan harga saham IPO KS 
pada saat listing perdana di bursa.

Tapi versi underwriter, jika naik saja Rp50 ke Rp900 per lembar, maka KS bisa 
kehilangan sekitar setengah dari investor yang sudah menawar. Bahkan, Dirut 
Danareksa Sekuritas Marciano Herman selaku underwriter mengatakan, penundaan 
pencatatan (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya dapat dilakukan jika 
terjadi kondisi darurat seperti meledaknya gunung Anak Krakatau.

Artinya, ada force major. Saya teringat pun terkenang kisah-kisah lama, yakni 
saat Bapepam diketuai oleh I Putu Gde Ary Suta pada 1998 silam. Putu malah 
telah melaporkan kasus insider trading pada saham PT Semen Gresik kepada 
Menteri Keuangan.

Kala itu, saham SMGR pada 3 Juni yang semula Rp4.850 selembar dalam tempo dua 
pekan melonjak hingga Rp10.200. Dari data transaksi, banyak yang agresif 
membeli. Tiga di antaranya adalah penasihat keuangan Semen Gresik, yakni tiga 
sekuritas milik pemerintah yang terkenal.

Mereka tergolong insider yang haram ikut main. Bahkan, salah satunya 
berhubungan dengan Goldman Sach, sekuritas asing penasihat keuangan Cemex, 
perusahaan Meksiko yang membeli saham Semen Gresik. Namun saat itu semua pihak 
yang dituduh membantah. Kasihan Ary Suta malah terpental dari jabatannya di 
Bapepam.

Kisah itu pun seingat saya padam. Masih seingat saya pula, kala itu, tidak ada 
dekler terbuka dan meluas dari pemerintah. Tak tahulah. Rupanya, lain zaman 
lain ceritanya. Meski kita semua sependapat bahwa jual beli saham di bursa 
bukanlah sebuah sandiwara.***

Bersihar Lubis, wartawan senior tinggal di Medan.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke