Orang rumah suka bingung dengan kelakuanku yang semakin tua semakin ngaco,
mulai dari partai, dimana saat ini aku maju mencalonkan diri menjadi ketua
setingkat kecamatan, membawahi 16 Kelurahan, dan bila aku terpilih aku tidak
akan pernah mau maju menjadi anggota legislatif, dan mendonasikan minimal
250 ribu perminggu untuk pertemuan di Kelurahan secara bergiliran dengan
topik khusus mengenai politik.
Juga aku membuat syarat bahwa di kabinet ku aku hanya perlu 2 orang yang
sopan dan bisa patuh dengan aturan partai sisa nya harus bisa berantem dan
nonjok orang, aku bilang bahwa roh sejati dari partai PDI-Perjuangan adalah
milik wong cilik yang tidak bisa menjilat, yang ada hanya kerja dan nonjok
orang.

Disaat pemilihan berlangsung, aku dikabari oleh rekanku bahwa Merapi kondisi
nya sudah dalam status awas, yang menandakan setiap saat bisa meningkat.
Aku bilang aku siap berangkat, dengan kondisi tidak lagi memakai bendera
partai dan golongan, yang akhirnya aku malah masuk kedalam ormas orang gila,
gila karena orang orang nya bisa dan mau bekerja tanpa upah demi
menyelamatkan pendaki Merapi yang kesasar.

Aku terlambat 2 hari setelah letusan pertama, dan langsung dikenalkan ke
Komunitas Lereng Merapi, yang anggota nya berasal dari beragam golongan,
mulai dari tukang tambal ban sampai ke sarjana.

Kedatanganku langsung menuju tempat tempat strategis untuk bisa memantau
puncak Merapi. yang pada akhirnya dari 5 lokasi, terpilih satu lokasi,
disaat menjelang pukul 6 sore kami mulai lapar, sehingga diputuskan turun
dahulu, dan disaat kami turun langsung ke posko KLM, disana terlihat muka
muka tegang, karena seismograf yang dipancarkan oleh BMG suaranya tidak
stabil yang menandakan Merapi akan mengeluarkan lagi awan panas dan
material.

Kelompok ku tetap tidak ambil pusing karena menganggap lokasi yang akan kami
jadikan posko pengamatan jauh dari kebiasaan merapi batuk.
Dan kami mengajak 1 orang anggota KLM untuk ikut naik, dan dia dengan pura
pura menerima panggilan telp pergi bolak balik bicara di telp, ini dilakukan
lebih dari 3 X, akibatnya kita memutuskan untuk mencari lokasi sedikit
dibawah nya.

Di situ cukup banyak anak muda dengan motornya siap ngebut kabur melihat
puncak merapi yang
tertutup kabut dan awan tebal, sehingga mendadak kami mendengar suara "dung"
yang cukup keras, dan dibarengi oleh suara guntur dan suara mirip pasukan
kuda sedang menyerang musuh, gemuruh suara jatuhan material terjadi beberapa
kali dengan suara yang hampir sama dengan suara guntur, yang membedakan
hanya gema nya saja, dimana suara guruh ada sedikit gema, sedang runtuhan
merapi tidak ada gemanya.

Tidak lama kemudian ada beberapa kendaraan ngebut turun kearah Yogya, kami
hanya memperhatikan saja, sambil membincangkan suara pertama itu pertanda
suara apa.
Tidak lama kemudian turun hujan, dan ketika aku seka ternyata bukan air
melainkan debu, seniorku yang memang anggota Basarnas dan brevet SAR
Internastional langsung memerintahkan semua masuk ke mobil.
Didalam mobil kami mencoba berfikir ada apa, dan dimana asal suara tsb,
salah satu teman yang menjadi sopir mulai morang maring ingin cepat cepat
turun, temanku masih berusaha kontak ke posko KLM, dan akhirnya melalui HP
tersambung, ternyata semua pengungsi di posko, posko juga dekat dengan
tempat pengungsian dengan jumlah ribuan jiwa, hanya mereka turun secara
lurus sedang kami berada sejajar dengan jalur turun mereka sehingga akhirnya
kami menjadi termasuk yang terakhir turun dari posisi, begitu mulai menyatu
dengan kelompok pengungsi yang turun langsung, debu di kaca mobil sudah
tebal, untungnya wiper mobil airnya kosong, sehingga sekali kali debu di
bersihkan oleh wiper kering malah menjadi lebih praktis, dibandingkan dengan
kendaraan yang membersihkan debunya dengan air, yang malah semakin kotor,
kondisi sangat kacau, aku langsung teringat film Dantes Peak ( ? ) dengan
actor Piere Brosnan, Listrik mati, debu mengepul padat, kendaraan saling adu
cepat ( dari kaliurang ke arah Yogya ), begitu memasuki kota Yogya, kelompok
mahasiswa sudah siap dengan filter masker yang dibagikan begitu saja dan
kepada siapa saja yang belum memakai masker, padahal jam sudah menunjukan
diatas jam 11.
Setelah merasa berada di posisi aman, kami masuk ke sebuah rumah saudara
dari temanku, dan pemiliknya diminta mengungsi berserta keluarganya, di
posisi ini kami hanya bisa menonton TV One yang sepertinya menyiarkan
langsung, padahal crew hampir seluruh media tayang kocar kacir, salah
satunya crew Metro TV yang ikut kami karena ketika dia mau kembali ke hotel,
hotelnya sudah kosong, sedang mobil untuk menyiarkan berada di hotel tsb,
juga aku melihat beberapa mobil dari media tayang lainnya yang diparkir
begitu saja, ternyata apa yang ditayangkan oleh TV One berita di Magelang
yang tidak ada hubungan langsung dengan bagian kami, plus termasuk jauh dari
zona hujan abu, kerikil dan batu kecil.

Esoknya kami kembali pulang ke rumah, maklum pesanan pesawat tidak bisa di
open, sehingga harus pulang, karena persiapan tempur pun belum komplit.

Pagi harinya kelompok KLM mendaki lagi untuk mencari tahu kejadian semalam,
yang ternyata terjadi perubahan besar besaran kontur dari gunung merapi.

Temanku pergi sendirian setelah kejadian tgl 4 Nov, dan aku ikut lagi yang
tanggal
12 November ( bawa mobil saendiri, 11 jam istirahat 2 x ketika sampai
kepalaku
langsung muter muter puyeng, baru nyadar bahwa usia ku sudah uzur
huehuehue )

Kepergianku yang kedua kali, khusus untuk kembali ke lokasi lokasi yang aku
datangi
pertama kali, dan dari sekian banyak lokasi yang aku datang i, ternyata
semua nya sudah
rata dengan tanah tertimbun pasir, kerikil debu dan batu kecil maupun besar,
yang
besar sebesar avansa sih gak kurang, dan kali gendol yang lebarnya sekitar
70  sd 100
meter dengan kedalaman kurang lebih 30 sd 40 meter menjadi rata mirip padang
pasir.
Biarpun sudah diberi hujan lebat, ketika aku jamah pasirnya tetap saja
hangat, dan
karena aku memakai sepatu kets pendek aku tidak berani jalan ketengah
khawatir
kejeblos malah membuat kesulitan teman temanku.

Dan temanku menunjukan lokasi lokasi yang pernah aku datangi pertama kali,
dimana
saat ini sudah menjadi rata, demikian juga dengan sungai yang dibuat dam
irigasi dengan
lubang 4 buah, malah sudah tersumbat sehingga air menerjang pagar jembatan
dan mem
buat pagar jembatan ambrol ( mirip masuk taman safari dimana ada jembatan
dengan
diatasnya mengalir air yang cukup deras. entah bila hujan besar ).

Melihat itu semua aku hanya bisa termenung, entah kapan masyarakat pengungsi
yang rumahnya amblas tertimbun pasir dan batu......dan SBY masih belum juga
mengatakan bencana Merapi menjadi bencana nasional, memang korban tidak
sebanyak
orang yang selamat, sehingga bila main kalkulasi tidak banyak korban, dan
SBY oon lupa
bahwa yang menjadi korban bukan saja yang tewas, melainkan juga pengungsi
yang rumahnya
sudah rata dengan tanah, memang juga ada pengungsi yang rumahnya masih layak
tinggal
dilain pihak harus mengungsi karena posisi nya menjadi terlalu dekat dengan
bahaya dimasa
mendatang, dan ada pula pengungsi yang sekedar mengungsi karena lebatnya
hujan abu, sehingga
berbahaya untuk dijadikan tempat tinggal.

Pengungsi di gedung olah raga yang asalnya berjumlah 30 ribuan, sedikit demi
sedikit berpindah lokasi
ada yang kembali dan ada yang ngontrak, bertahan di gedung olah raga
menurutku hanya akan mengakibatkan depresi

Aku kagum dengan kelompok KLM, dimana mereka gabungan dari manusia manusia
berani mati tanpa perlu di kenal siapa mereka, mereka pula lah yang pertama
mendatangi
rumah Mbah Marijan, dan mereka pula lah yang mengatur posisi posisi mayat
yang tewas
dengan tujuan nantinya bisa menyamarkan tubuh Mbah Marijan, maklum sudah
bisa diduga
pagi hari pasti akan banyak kelompok yang merasa dekat dengan Mbah Marijan
naik ke lokasi
perumahan Mbah Marijan, dan mereka kecele karena ketika naik, sepasang mayat
sudah keburu masuk
ke mobil untuk dibawa ( tujuannya selain tidak membuat heboh, juga agar
tidak dijadikan alat tayang
media massa ( dalam hal ini TV one melanggar janji, dimana merekam kejadian
awal dengan kamera
on dijinjing, sehingga membuat KLM kecewa, akhirnya perwakilan TV one minta
maaf. )

Setelah terjadi erupsi kedua KLM tetap naik lagi ke wilayah Mbah Marijan,
kedatangan  mereka
khusus untuk mencari pusaka pusaka yang dimiliki oleh keluarga Mbah Marijan,
dan memang
ditemukan beberapa pusaka serta sebuah Al Quran cukup besar dan hangus
sebagian dan disimpan
rapi untuk nantinya diberikan kepada putra/i Mbah Marijan.
Ada issue bahwa Mbah Marijan memiliki uang cash sd 600 juta rupiah, membuat
kelompok KLM
marah, karena mereka yang terbilang dekat dengan Mbah Marijan tahu betul
berapa banyak uang
yang dimilikinya, terakhir sebelum beliau tewas, sudah meminta tolong ke
satu orang anggota KLM agar
membagikan uang milik nya senilai 10 juta, dan dibagi menjadi 4 bagian.
KLM diketuai oleh Capung, dan ada nama nama julukan lainnya bagi para
anggota, yang pasti mereka
bekerja di Merapi bukan mencari uang, melainkan menyelamatkan orang
tersesat, dimana saking hapalnya
wilayah lereng merapi, bila ada pendaki nyasar, cukup menelpon dan
menjelaskan situasi di sekitarnya, langsung
ketahuan.
Capung Sarjana Biologi UGM yang nyasar menjadi penerus generasi sebelumnya
menjadi salah satu ketua terbang layang Jawa Tengah, memiliki seorang putra,
ada lagi Tonden yang paling awal menemukan jenasah Mbah Marijan dan terkagum
kagum dengan kondisi jenasah Mbah Marijan, dimana selain kulit masih utuh,
juga tidak ada tanda ketakutan maupun kesakitan, seperti yang sudah tahu
bahwa tugas nya sudah selesai menjadi juru kunci Merapi.
Mbah Marijan biasanya meneriakan Assalaam Mualaikum ke merapi, bila
dirasakan merapi akan menumpahkan lava nya, dan acap kali bermain kendang
untuk melunakan merapi yang memang menjadi salah satu gunung teraktif di
dunia.

bersambung.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke