Two thumbs up buat Anda, Pak Sur

--- In [email protected], "gsuryana" <gsury...@...> wrote:
>
> Orang rumah suka bingung dengan kelakuanku yang semakin tua semakin ngaco,
> mulai dari partai, dimana saat ini aku maju mencalonkan diri menjadi ketua
> setingkat kecamatan, membawahi 16 Kelurahan, dan bila aku terpilih aku tidak
> akan pernah mau maju menjadi anggota legislatif, dan mendonasikan minimal
> 250 ribu perminggu untuk pertemuan di Kelurahan secara bergiliran dengan
> topik khusus mengenai politik.
> Juga aku membuat syarat bahwa di kabinet ku aku hanya perlu 2 orang yang
> sopan dan bisa patuh dengan aturan partai sisa nya harus bisa berantem dan
> nonjok orang, aku bilang bahwa roh sejati dari partai PDI-Perjuangan adalah
> milik wong cilik yang tidak bisa menjilat, yang ada hanya kerja dan nonjok
> orang.
> 
> Disaat pemilihan berlangsung, aku dikabari oleh rekanku bahwa Merapi kondisi
> nya sudah dalam status awas, yang menandakan setiap saat bisa meningkat.
> Aku bilang aku siap berangkat, dengan kondisi tidak lagi memakai bendera
> partai dan golongan, yang akhirnya aku malah masuk kedalam ormas orang gila,
> gila karena orang orang nya bisa dan mau bekerja tanpa upah demi
> menyelamatkan pendaki Merapi yang kesasar.
> 
> Aku terlambat 2 hari setelah letusan pertama, dan langsung dikenalkan ke
> Komunitas Lereng Merapi, yang anggota nya berasal dari beragam golongan,
> mulai dari tukang tambal ban sampai ke sarjana.
> 
> Kedatanganku langsung menuju tempat tempat strategis untuk bisa memantau
> puncak Merapi. yang pada akhirnya dari 5 lokasi, terpilih satu lokasi,
> disaat menjelang pukul 6 sore kami mulai lapar, sehingga diputuskan turun
> dahulu, dan disaat kami turun langsung ke posko KLM, disana terlihat muka
> muka tegang, karena seismograf yang dipancarkan oleh BMG suaranya tidak
> stabil yang menandakan Merapi akan mengeluarkan lagi awan panas dan
> material.
> 
> Kelompok ku tetap tidak ambil pusing karena menganggap lokasi yang akan kami
> jadikan posko pengamatan jauh dari kebiasaan merapi batuk.
> Dan kami mengajak 1 orang anggota KLM untuk ikut naik, dan dia dengan pura
> pura menerima panggilan telp pergi bolak balik bicara di telp, ini dilakukan
> lebih dari 3 X, akibatnya kita memutuskan untuk mencari lokasi sedikit
> dibawah nya.
> 
> Di situ cukup banyak anak muda dengan motornya siap ngebut kabur melihat
> puncak merapi yang
> tertutup kabut dan awan tebal, sehingga mendadak kami mendengar suara "dung"
> yang cukup keras, dan dibarengi oleh suara guntur dan suara mirip pasukan
> kuda sedang menyerang musuh, gemuruh suara jatuhan material terjadi beberapa
> kali dengan suara yang hampir sama dengan suara guntur, yang membedakan
> hanya gema nya saja, dimana suara guruh ada sedikit gema, sedang runtuhan
> merapi tidak ada gemanya.
> 
> Tidak lama kemudian ada beberapa kendaraan ngebut turun kearah Yogya, kami
> hanya memperhatikan saja, sambil membincangkan suara pertama itu pertanda
> suara apa.
> Tidak lama kemudian turun hujan, dan ketika aku seka ternyata bukan air
> melainkan debu, seniorku yang memang anggota Basarnas dan brevet SAR
> Internastional langsung memerintahkan semua masuk ke mobil.
> Didalam mobil kami mencoba berfikir ada apa, dan dimana asal suara tsb,
> salah satu teman yang menjadi sopir mulai morang maring ingin cepat cepat
> turun, temanku masih berusaha kontak ke posko KLM, dan akhirnya melalui HP
> tersambung, ternyata semua pengungsi di posko, posko juga dekat dengan
> tempat pengungsian dengan jumlah ribuan jiwa, hanya mereka turun secara
> lurus sedang kami berada sejajar dengan jalur turun mereka sehingga akhirnya
> kami menjadi termasuk yang terakhir turun dari posisi, begitu mulai menyatu
> dengan kelompok pengungsi yang turun langsung, debu di kaca mobil sudah
> tebal, untungnya wiper mobil airnya kosong, sehingga sekali kali debu di
> bersihkan oleh wiper kering malah menjadi lebih praktis, dibandingkan dengan
> kendaraan yang membersihkan debunya dengan air, yang malah semakin kotor,
> kondisi sangat kacau, aku langsung teringat film Dantes Peak ( ? ) dengan
> actor Piere Brosnan, Listrik mati, debu mengepul padat, kendaraan saling adu
> cepat ( dari kaliurang ke arah Yogya ), begitu memasuki kota Yogya, kelompok
> mahasiswa sudah siap dengan filter masker yang dibagikan begitu saja dan
> kepada siapa saja yang belum memakai masker, padahal jam sudah menunjukan
> diatas jam 11.
> Setelah merasa berada di posisi aman, kami masuk ke sebuah rumah saudara
> dari temanku, dan pemiliknya diminta mengungsi berserta keluarganya, di
> posisi ini kami hanya bisa menonton TV One yang sepertinya menyiarkan
> langsung, padahal crew hampir seluruh media tayang kocar kacir, salah
> satunya crew Metro TV yang ikut kami karena ketika dia mau kembali ke hotel,
> hotelnya sudah kosong, sedang mobil untuk menyiarkan berada di hotel tsb,
> juga aku melihat beberapa mobil dari media tayang lainnya yang diparkir
> begitu saja, ternyata apa yang ditayangkan oleh TV One berita di Magelang
> yang tidak ada hubungan langsung dengan bagian kami, plus termasuk jauh dari
> zona hujan abu, kerikil dan batu kecil.
> 
> Esoknya kami kembali pulang ke rumah, maklum pesanan pesawat tidak bisa di
> open, sehingga harus pulang, karena persiapan tempur pun belum komplit.
> 
> Pagi harinya kelompok KLM mendaki lagi untuk mencari tahu kejadian semalam,
> yang ternyata terjadi perubahan besar besaran kontur dari gunung merapi.
> 
> Temanku pergi sendirian setelah kejadian tgl 4 Nov, dan aku ikut lagi yang
> tanggal
> 12 November ( bawa mobil saendiri, 11 jam istirahat 2 x ketika sampai
> kepalaku
> langsung muter muter puyeng, baru nyadar bahwa usia ku sudah uzur
> huehuehue )
> 
> Kepergianku yang kedua kali, khusus untuk kembali ke lokasi lokasi yang aku
> datangi
> pertama kali, dan dari sekian banyak lokasi yang aku datang i, ternyata
> semua nya sudah
> rata dengan tanah tertimbun pasir, kerikil debu dan batu kecil maupun besar,
> yang
> besar sebesar avansa sih gak kurang, dan kali gendol yang lebarnya sekitar
> 70  sd 100
> meter dengan kedalaman kurang lebih 30 sd 40 meter menjadi rata mirip padang
> pasir.
> Biarpun sudah diberi hujan lebat, ketika aku jamah pasirnya tetap saja
> hangat, dan
> karena aku memakai sepatu kets pendek aku tidak berani jalan ketengah
> khawatir
> kejeblos malah membuat kesulitan teman temanku.
> 
> Dan temanku menunjukan lokasi lokasi yang pernah aku datangi pertama kali,
> dimana
> saat ini sudah menjadi rata, demikian juga dengan sungai yang dibuat dam
> irigasi dengan
> lubang 4 buah, malah sudah tersumbat sehingga air menerjang pagar jembatan
> dan mem
> buat pagar jembatan ambrol ( mirip masuk taman safari dimana ada jembatan
> dengan
> diatasnya mengalir air yang cukup deras. entah bila hujan besar ).
> 
> Melihat itu semua aku hanya bisa termenung, entah kapan masyarakat pengungsi
> yang rumahnya amblas tertimbun pasir dan batu......dan SBY masih belum juga
> mengatakan bencana Merapi menjadi bencana nasional, memang korban tidak
> sebanyak
> orang yang selamat, sehingga bila main kalkulasi tidak banyak korban, dan
> SBY oon lupa
> bahwa yang menjadi korban bukan saja yang tewas, melainkan juga pengungsi
> yang rumahnya
> sudah rata dengan tanah, memang juga ada pengungsi yang rumahnya masih layak
> tinggal
> dilain pihak harus mengungsi karena posisi nya menjadi terlalu dekat dengan
> bahaya dimasa
> mendatang, dan ada pula pengungsi yang sekedar mengungsi karena lebatnya
> hujan abu, sehingga
> berbahaya untuk dijadikan tempat tinggal.
> 
> Pengungsi di gedung olah raga yang asalnya berjumlah 30 ribuan, sedikit demi
> sedikit berpindah lokasi
> ada yang kembali dan ada yang ngontrak, bertahan di gedung olah raga
> menurutku hanya akan mengakibatkan depresi
> 
> Aku kagum dengan kelompok KLM, dimana mereka gabungan dari manusia manusia
> berani mati tanpa perlu di kenal siapa mereka, mereka pula lah yang pertama
> mendatangi
> rumah Mbah Marijan, dan mereka pula lah yang mengatur posisi posisi mayat
> yang tewas
> dengan tujuan nantinya bisa menyamarkan tubuh Mbah Marijan, maklum sudah
> bisa diduga
> pagi hari pasti akan banyak kelompok yang merasa dekat dengan Mbah Marijan
> naik ke lokasi
> perumahan Mbah Marijan, dan mereka kecele karena ketika naik, sepasang mayat
> sudah keburu masuk
> ke mobil untuk dibawa ( tujuannya selain tidak membuat heboh, juga agar
> tidak dijadikan alat tayang
> media massa ( dalam hal ini TV one melanggar janji, dimana merekam kejadian
> awal dengan kamera
> on dijinjing, sehingga membuat KLM kecewa, akhirnya perwakilan TV one minta
> maaf. )
> 
> Setelah terjadi erupsi kedua KLM tetap naik lagi ke wilayah Mbah Marijan,
> kedatangan  mereka
> khusus untuk mencari pusaka pusaka yang dimiliki oleh keluarga Mbah Marijan,
> dan memang
> ditemukan beberapa pusaka serta sebuah Al Quran cukup besar dan hangus
> sebagian dan disimpan
> rapi untuk nantinya diberikan kepada putra/i Mbah Marijan.
> Ada issue bahwa Mbah Marijan memiliki uang cash sd 600 juta rupiah, membuat
> kelompok KLM
> marah, karena mereka yang terbilang dekat dengan Mbah Marijan tahu betul
> berapa banyak uang
> yang dimilikinya, terakhir sebelum beliau tewas, sudah meminta tolong ke
> satu orang anggota KLM agar
> membagikan uang milik nya senilai 10 juta, dan dibagi menjadi 4 bagian.
> KLM diketuai oleh Capung, dan ada nama nama julukan lainnya bagi para
> anggota, yang pasti mereka
> bekerja di Merapi bukan mencari uang, melainkan menyelamatkan orang
> tersesat, dimana saking hapalnya
> wilayah lereng merapi, bila ada pendaki nyasar, cukup menelpon dan
> menjelaskan situasi di sekitarnya, langsung
> ketahuan.
> Capung Sarjana Biologi UGM yang nyasar menjadi penerus generasi sebelumnya
> menjadi salah satu ketua terbang layang Jawa Tengah, memiliki seorang putra,
> ada lagi Tonden yang paling awal menemukan jenasah Mbah Marijan dan terkagum
> kagum dengan kondisi jenasah Mbah Marijan, dimana selain kulit masih utuh,
> juga tidak ada tanda ketakutan maupun kesakitan, seperti yang sudah tahu
> bahwa tugas nya sudah selesai menjadi juru kunci Merapi.
> Mbah Marijan biasanya meneriakan Assalaam Mualaikum ke merapi, bila
> dirasakan merapi akan menumpahkan lava nya, dan acap kali bermain kendang
> untuk melunakan merapi yang memang menjadi salah satu gunung teraktif di
> dunia.
> 
> bersambung.
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke