http://www.surya.co.id/2010/11/10/revolusi-surabaya-bukan-fiktif.html Revolusi Surabaya Bukan Fiktif Rabu, 10 Nopember 2010 | 07:13 WIB Sumiati Anastasia Alumnus University of Birmingham/Tinggal di Balikpapan
Kesadaran sejarah sebagian besar generasi muda kita ternyata agak payah. Bayangkan ada yang menyebutkan peristiwa heroik di Surabaya pada tahun 1945 hanya fiktif belaka. Padahal banyak sumber asing membuktikan sebaliknya. Itu adalah fakta. Misalnya, berdasar laporan wartawannya, The London Times (edisi 13-14 November 1945 ), antara lain mengabarkan: "Perlawanan rakyat Surabaya bertambah sengit, pada hari Minggu tengah malam para perempuan keluar rumah untuk mengumpulkan mayat-mayat". Letkol AFJ Doulton, seorang perwira Divisi ke-23 India menyamakan pertempuran Surabaya sebagai inferno atau neraka (The Fighting Cock). Lewat bukunya Revolutie in Soerabaja (Walburg Pers, 2002), Willy Meelhuijsen malah memberikan kronologi dan latar belakang agak detail mengenai kisah heroisme di Surabaya. Menurut buku Willy, peristiwa di Surabaya terjadi karena Belanda tidak menyadari kuatnya sentimen anti penjajah di jiwa seluruh warga Surabaya seiring proklamasi Soekarno-Hatta 17 Agustus 1945. Sumber biang kerok dari peristiwa berdarah itu adalah kebijakan Dr HJ van Mook sendiri. Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang ke 68 atau yang terakhir itu mendesak pengiriman tentara Inggris (sekutu) ke Surabaya setelah Jepang menyerah pada sekutu, 15 Agustus 1945. Van Mook tak peduli dengan pernyataan Proklamasi 17 Agustus 1945. Dia juga tak peduli pernyataan proklamasi distrik Surabaya pada 3 September 1945 oleh Residen Soedirman (Proclamatie van het Bestuur van de Republiek Indonesie in het gewest Soerabaja) yang isinya antara lain bahwa proses pengambil-alihan seluruh birokrasi dan administrasi pemerintahan, dilakukan secara seksama, sejak tanggal pengumuman tersebut (Koran Soeara Asia, 4 September 1945). Buktinya, Van Mook malah mengirim pasukan Belanda (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees/ RAPWI) di kawasan Gunungsari pada 18 September 1945. Tidak heran jika kemudian sebagian massa melakukan perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje, 19 September 1945. Van Mook pula yang ada di balik kehadiran Komandan Allied Forces in the Netherlands East Indies (AFNEI) LaksamanaWilfred Patterson dan perwira AL Kerajaan Belanda Kapten PJG Huyer. Patterson atas mandat pimpinan puncak AL Kerajaan Belanda, Laksamana CEL Helfrich menyuruh Huyer membentuk tim persiapan pengambil-alihan Surabaya pada 29 September 1945. Patterson, seperti diketahui didukung Laksamana AL Inggris Lord Louis Mountbatten yang ketika itu menjabat pimpinan tertinggi Komando Asia Tenggara. Terbujuk Inggris bisa dibujuk Van Mook. Pada 25 Oktober 1945, Brigade 49 dari 23rd British-Indian Division (Divisi 23) yang berkekuatan sekitar 5.000 tentara, mendarat di Surabaya di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Mereka segera masuk ke dalam kota dan mendirikan pos pertahanan di delapan tempat. Tanggal 26 Oktober 1945 dicapai kesepakatan antara pimpinan Indonesia dengan komandan Brigade 49, Brigadir Mallaby, yang isinya antara lain Inggris selaku wakil sekutu akan membantu Indonesia dalam pemeliharaan keamanan dan perdamaian. Untuk itu, Inggris pun segera mulai melucuti persenjataan tentara Jepang, juga senjata yang dimiliki rakyat Indonesia di Surabaya. Tetapi rakyat menolak. Serangan total pada tentara sekutu (Inggris) dilakukan mulai tanggal 28 Oktober 1945, pukul 04.30 pagi. Delapan pos pertahanan Inggris diserbu oleh sekitar 30.000 rakyat bersenjata, dan masih ditambah sekitar 100.000 bonek (bondo nekat) -artinya benar-benar bermodal nekad- dengan senjata bambu runcing, clurit, pedang, golok dan sebagainya. Tercatat sekitar 60 laskar ikut berpartisipasi dalam penyerbuan itu. Hampir seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia terwakili. Jadi itu merupakan pertempuran segenap elemen bangsa ini, bukan hanya warga Surabaya (sehingga dengan pertimbangan ini, Bung Karno menjadikannya sebagai Hari Pahlawan). Brigjen Mallaby menyadari, jika pertempuran dilanjutkan, mereka akan kalah. Maka, tanggal 28 Oktober 1945 malam, dia menghubungi pimpinan Republik di Jakarta. Pada 29 Oktober sore hari, Presiden Sukarno dan Wapres Mohamad Hatta tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat militer yang disediakan Inggris. Bung Karno bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan dan gencatan senjata. Setelah Presiden Sukarno dan rombongannya pulang ke Jakarta, terjadi insiden tembak menembak, yang mengakibatkan tewasnya Mallaby, komandan Brigade 49 di Surabaya. Inggris menyalahkan pihak Indonesia telah melanggar gencatan senjata, dan membunuh Mallaby secara licik. Kedua tuduhan itu tidak benar, namun Inggris tetap menghancurkan Surabaya. Inggris mengerahkan lebih 30.000 tentaranya yang dilengkapi dengan persenjataan mutakhir yang dimiliki tentara Inggris, yaitu pasukan Divisi 5 berkekuatan sekitar 20.000 tentara. Akibat penghancuran selama sekitar 3 minggu, diperkirakan lebih dari 20.000 penduduk Surabaya tewas, termasuk hancurnya hampir separo Kota Surabaya. Mempertimbangkan pengorbanan yang luar biasa itu, Sumarsono pasca peristiwa 10 November 1945 langsung mengusulkan kepada Bung Karno agar peristiwa itu dijadikan Hari Pahlawan. Jadi peristiwa heroik tersebut bukan kisah fiktif. Sejarah seharusnya menjadi guru bagi kita. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
