http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=41492
Sabtu, 20 Nov 2010, | 47
Rombongan Uskup Diusir dari Lokasi Tambang
LABUAN BAJO, Timex-Rombongan Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng, Pr
bersama pemerintah dan eleman masyarakat lainnya diusir pihak PT. Grand
Nusantara Mining (GNM) di lokasi pertambangan Batu Gosok Kelurahan Labuan Bajo
Kecamatan Komodo, Kamis (18/11).
Alasan PT. GNM karena rombongan tersebut tidak mengantongi ijin dari
Dinas Pertambangan.
Ikut serta dalam rombongan tersebut adalah Plt. Sekretaris Daerah (Sekda)
Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Angelus Abut, puluhan pastor, belasan suster
dari berbagai Kongregasi di Keuskupan Ruteng, Kepala Kasat Pol PP Roby
Nggolong, GERAM, pelaku wisata, remaja masjid dan ribuan umat dari beberapa
agama seperti Katolik, Kristen dan Islam.
Puluhan staf PT. Grand Nusantara Mining menilai rombongan Pemkab Mabar
dan kelompok agama itu tidak mengantongi izin masuk dari Dinas Pertambangan
sehingga pihaknya tidak menerima.
Sebagaimana disaksikan koran ini, rombongan mengunjuggi kawasan
pertambangan Batu Gosok guna melakukan penanaman simbolis pohon perdamaian
untuk lingkungan. Sebelum berangkat ke lokasi pertambangan Batu Gosok,
rombongan Pemkab Mabar, Uskup Hubertus Leteng, tokoh agama serta umat dari
berbagai agama ini mengikuti perayaan ekraisti ekologis di Gereja Paroki Roh
Kudus Labuan Bajo yang langsung dipimpin Uskup Hubertus Leteng.
Setelah perayaan ekaristi ini, rombongan menuju lokasi pertambangan
dengan mengunakan kendaraan. Rombongan dipimpin Sekda Mabar Angelus Abut. Saat
memasuki lokasi pertambangan, tiba tiba semua kendaraan yang ditumpanggi
berhenti mendadak. Di tengah badan jalan terdapat lubang besar sedalam satu
meter yang sengaja digali pihak pertambangan beberapa jam sebelumnya untuk
menghadang rombongan yang datang.
Sementara di seberang lubang staf perusahaan berbaris membentuk barikade.
Sebagian berpakaian perusahaan sementara sebagian lagi berpakaian preman dan
mengenakan helem perusahaan serta satu unit buldoser yang diparkir di badan
jalan.
Aksi penghadangan tersebut beberapa kali nyaris ricuh. Dipicu amukan
ribuan umat beragama yang tidak terima dengan perlakuakn staf perusahaan. Pater
Marsel Agot dihujani kata kata kasar. Pelaku wisata Theo Hamun diancam oleh
staf perusahaan pertambangan emas ini. Bukan hanya itu wartawan koran ini
menjadi korban tindakan kekerasan. Kamera Digital koran ini dirampas saat
mengambil gambar di lokasi tersebut. Untung saja wartawan koran ini berikut
kamera digitalnya cepat diselamatkan.
Perlakukan yang sama juga dialami Plt. Sekda Mabar Angelus Abut. Kepada
dirinya Staf PT. Grand Nusantara Mining mempertanyakan ijin dari Dinas
Pertambangan. Berkali-kali Abut menjelaskan dirinya adalah Sekda Mabar dan
dalam kegiatan tersebut mewakili Bupati Mabar untuk mendampinggi Uskup Ruteng,
tokoh agama serta umat dari berbagai agama ke lokasi tersebut.
Namun, penjelasan Abut sama sekali tidak dihiraukan staf perusahaan itu.
Abut tetap tidak diijinkan masuk ke lokasi pertambangan. "Oke, saya akan
menyampaikan hal ini kepada bupati Mabar, bahwa kalian tidak mengijinkan
pemerintah dan uskup serta umat dari berbagai agama di daerah ini masuk ke
lokasi pertambangan. Jika pemerintah kalian usir terus nanti kalian siapa yang
atur," tegas Abut dengan nada tinggi.
Abut kepada koran ini menegaskan sikap pihak perusahaan pertambangan
sudah melampaui batas kewajaran. "Saya tidak mengerti dengan perusahaan
pertambangan ini. Kedatangan saya di sini mewakili bupati dan wakil bupati yang
sementara ini berada di luar daerah. Saya ke sini untuk mendampinggi uskup dan
umat dari berbagai agama untuk melakukan penanaman pohan perdamaian kepada
alam. Tapi kok saya malah diusir. Yang memberi kuasa pertambangan itu siapa?
Yang mengurus segala sesuatu nanti siapa kalau pihak perusahaan sama sekali
tidak menghargai pemerintah di daerah ini," kata Abut kesal.
Ironisnya, yang paling ngotot menolak abut adalah seorang tenaga honor di
Dinas Perhubungan Mabar. Honorer ini meninggalkan tugasnya dan berada di lokasi
pertambangan. Pater Marsel Agot mengungkapkan keanehan yang terjadi di lokasi
pertambangan tersebut. "Masa seorang tenaga honor daerah usir seorang
sekretaris daerah di lokasi pertambangan. Saya kira pemerintah harus tegas soal
ini," pintanya.
Melihat suasana semakin tegang, sekda dan uksup mengalah. Mgr. Leteng
meminta semua rombongan turun dari pintu masuk lokasi pertambangan. Penanaman
pohon perdamaianpun dilangsungkan di lembah Batu Gosok. Di bawah terik
matahari, Uskup Leteng memimpin Liturgi Sabda Ekologi menanam pohon serta
memberkati kawasan pertambangan Batu Gosok.
Uskup dalam doanya memohon pertolongan Tuhan atas keserakahan manusia
merusak alam ciptaan. "Situasi yang kita alami hari ini dapat kita maknai
sebagai sebuah situasi jalan salib. Hari ini kita telah bersiarah.
Dalam siarah ekologi ini, kita mengalami berbagai situasi, ada yang emosi
dan diperlakukan tidak adil. Semua situasi itu di lawan dengan situasi
perdamaian. Kita harus bisa berdamai. Berdamai tidak hanya saja pada sesama
manusia tapi perdamaian juga bisa diwujudkan pada ciptaan lain, lingkungan
salah satu diantaranya," ungkap uskup Leteng (kr4)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/