Otak kebo.

Otak binatang..

Rajin ngumpulin cerita tentang mualaf, termasuk yang sekedar kibulan, tapi 
takut melihat berita orang Islam yang jadi murtad.

Otrak kebo.

--- In [email protected], "Tawangalun" <tawanga...@...> wrote:
>
> Kisah Bocah Amerika Masuk Islam
>  
> Klo agan2 ngga malu setelah baca ini kebangeten banget dah!!
> 
> Kisah spiritual anak kecil yang memeluk islam hanya karena dia baca mengenai 
> buku Islam, setelah sebelumnya orang tuanya memberinya semua buku semua agama 
> yang ada di dunia, Orang tua mutusin agar anaknya sendiri yang memilih 
> agamanya.
> 
> langsung aja baca bawah ane
> KISAH BOCAH AMERIKA MASUK ISLAM
> 
> Rasulullah saw bersabda: "Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. 
> Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau 
> Majusi." (HR. Bukhari)
> 
> 
> 
> Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan 
> hadits tersebut di atas.
> 
> Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. 
> Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh 
> dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis 
> maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik 
> agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander 
> memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim 
> seorangpun.
> 
> Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari 
> sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar'i, membaca sejarah Islam, 
> mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar 
> adzan.
> 
> Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan 
> tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad 'Abdullah, 
> dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai 
> sejak masih kecil.
> 
> Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. 
> Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya 
> kepada wartawan itu, "Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?"
> 
> Wartawan itu berkata: "Tidak". Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan 
> anak itu atas jawabannya.
> 
> Bocah itu kembali berkata , "Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan 
> mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?". Dia menghujani wartawan itu 
> dengan banyak pertanyaan. "Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? 
> Apakah engkau telah menunaikan 'umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan 
> pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku 
> membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? 
> Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang 
> muslim di komunitas yang bukan Islami ?"
> 
> Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan 
> menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau 
> gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang 
> dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model 
> Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia 
> sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, "Terkadang aku 
> kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat."
> 
> Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, "Apa yang membuatmu tertarik 
> pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?" Dia diam 
> sesaat kemudian menjawab.
> 
> Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, "Aku tidak tahu, segala yang aku 
> ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah 
> bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku".
> 
> Wartawab bertanya kembali, "Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?"
> 
> Muhammad tersenyum sambil menjawab, "Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu 
> secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa 
> di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama". Kemudian dia 
> meneruskan : "Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, 
> akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut".
> 
> "Apakah cita-citamu ?" tanya wartawan
> 
> Dengan cepat Muhammad menjawab, "Aku memiliki banyak cita-cita. Aku 
> berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad".
> 
> "Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah 
> sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?" tanya wartawan lagi.
> 
> Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : 
> "Sesungguhnya gambar Ka'bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia 
> menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam 
> khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi 
> mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan 
> mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa 
> dirasakan oleh orang lain".
> 
> Tampaklah senyuman di wajah Muhammad 'Abdullah, dia melihat ibunya 
> membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf 
> di sekitar Ka'bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan 
> antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa 
> memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
> 
> Kemudian Muhammad meneruskan, "Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa 
> dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah 
> pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan 
> biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar."
> 
> Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan 
> keteledorannya, "Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke 
> Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam 
> waktu dekat ini."
> 
> "Apakah cita-citamu yang lain ?" tanya wartawan.
> 
> "Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah 
> bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka." jawab 
> Muhammad
> 
> Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan 
> isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya 
> sekitar tema ini.
> 
> Muhammad berkata, "Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, 
> sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina."
> 
> "Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?" tanya wartawan lagi.
> 
> Muhammad menjawab, "Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan 
> menghafal Al Quran."
> 
> "Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?" tanya wartawan
> 
> Maka dia menjawab dengan meyakinkan : "Tentu"
> 
> "Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau 
> menghindari daging babi ?"
> 
> Muhammad menjawab, "Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku 
> sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui 
> bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak 
> menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan 
> kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi."
> 
> "Apakah engkau sholat di sekolahan ?"
> 
> "Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat 
> di sana setiap hari" jawab Muhammad
> 
> Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu 
> langsung berkata kepada wartawan,"Apakah engkau mengijinkanku untuk 
> mengumandangkan adzan ?"
> 
> Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata 
> mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah 
> itu menyuarakan adzan.
> 
> Subhanallah
> Ane yakin bakal nangis haru seperti wartawan itu, jika ane di situ
> 
> Shalom,
> Tawangalun.
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke