Bila sebelum belum nya Merapi batuk, maka arahnya selalu sama ke arah
sedikit ke Barat dan longsoran kepundan dari sisi timur.
Dengan peristiwa yang selalu sama sekian puluh tahun, maka sisi Selatan
dianggap sisi teraman sedang timur jarang mengalami hembusan angin
panas/wedus gembel.

Pada letusan pertama, batuknya Merapi berubah arah, menjadi sedikit ke arah
selatan, rekan rekan KLM yang memang termasuk rajin naik ke puncak pun tidak
pernah terpikirkan bahwa batuk yang sekarang berbeda dengan peristiwa 2006,
di peristiwa 2006 memang banyak pengungsi, hanya batas ngungsinya sampai di
sekitaran 10 Km, selain daya dorong wedhus gembel yang tidak terlalu kuat
sehingga jarak terjauh menjadi maksimal kurang lebih 6 Km.

Dan di hari letusan pertama, pemerintah dalam hal ini pemantau Merapi dengan
memasang peralatan di titik tertentu
mendadak terjadi getaran yang cukup kuat dan tidak stabil, sehingga langsung
membunyikan sirine, agar masyarakat yang berada di radius 4 Km menuju posko
pengungsi, demikian juga dengan keluarga Mbah Marijan diminta turun ke
lokasi pengungsi, dan oleh Mbah Marijan seluruh keluarga besarnya diminta
turun, dalam hal ini Mbah Marijan secara nalurinya yang memang sudah menyatu
dengan Merapi mengetahui bahwa letusan yang akan terjadi berbeda dengan
biasanya.

Tim relawan ( KLM dan lainnya ), sibuk mencari warga yang bisa jadi tidak
tahu akan terjadi letusan, dan memang cukup banyak warga yang menganggap
letusannya hanya sekedar wedhus gembel semata, sehingga ada juga warga yang
dipaksa turun.
Mbah Marijan pun meminta para tamu nya untuk turun, sayangnya mereka percaya
bahwa Mbah Marijan sebagai manusia sakti, jadi bila terjadi letusan dan ber
ada disamping Mbah Marijan bisa selamat,
Sesuai dengan kebiasaan bila Merapi batuk, maka Mbah Marijan pun memainkan
kendangnya, hanya kali ini tidak ada perubahan, sedang waktu sangat sempit.

Dan sekitar pukul 5 sore wedhus gembel pun meluncur turun, arahnya terpecah
dua, sebagian ke kali gendol, sedang bagian lain ke arah cangkringan dimana
rumah keluarga Mbah Marijan tinggal.
Wedhus gembel dengan rata rata kecepatan diatas 200 Km dengan suhu diatas
600 melahap apapun yang menghalanginya, termasuk rumah rumah di daerah Mbah
Marijan tinggal.
Setelah wedhus gembel mereda maka relawan langsung naik lagi ( kurang lebih
pukul 8 malam ), dimana menyisir rumah rumah yang terkena whedus gembel
dengan tujuan utama rumah Mbah Marijan.
Dan setelah ditemukannya jenasah jenasah yang ada, kelompok relawan
bersepakat untuk mengatur agar jenasah Mbah Marijan jangan ter expose oleh
media massa, dan memang pada saat itu ada media massa TV one yang ikut dan
berjanji tidak untuk di publikasi kan.
Tim relawan sebenarnya sudah turun setelah mendapatkan posisi dimana Mbah
Marijan ditemukan, dan akhirnya disepakati untuk naik lagi dan mengatur
posisi jenasah, agar di pagi harinya jenasah Mbah Marijan bisa langsung di
evakuasi ke rumah sakit di Yogya.

Tgl 29 terjadi lagi longsoran/erupsi yang sangat besar, dimana di perkira
kan 100 juta kubik material keluar dari Merapi, dalam hal ini sekali lagi
pemda termasuk cepat tanggap, karena daerah pengungsian berubah dalam
kurun waktu jam, dari 10 Km menjadi 12 Km berubah lagi menjadi 15 Km
dan akhirnya menjadi 20 Km, semua berlangsung dalam hitungan cepat.

Letusan/erupsi kedua terjadi di malam hari, di awal i dengan suara " dung "
Yang kemudian berubah menjadi luncuran batu besar, kecil, kerikil, debu dan
abu.
Para pengungsi semua di relokasi dengan kecepatan maksimal, sehingga korban
karena letusan/erupsi menjadi minimal.
Yang menjadi pertanyaan beberapa dukuh ( setingkat RT ) tertimbun material
erupsi,
biarpun relawan sudah berusaha sekuat tenaga, tetap saja ada yang
tertinggal.
Relawan KLM sebagai team SAR lokal, dan memang anggota nya banyak yang
tinggal di lereng Merapi lebih banyak tahu mengenai situasi dan kondisi
warga nya,
ada warga yang baru mandi langsung di angkut ke truk, tanpa peduli teriakan
yang
kena angkut, karena didalam kondisi demikian para relawan sudah siap menjadi
korban
dan target utama keselamatan warga nya.
Dan hasil dari letusan/erupsi kedua menghasilkan ratusan ribu pengungsi ke
sekeliling
Merapi, dengan situasi dan kondisi kacau balau.

Seperti halnya letusan/erupsi pertama, maka tim relawan dari kelompok KLM
naik kembali
ke daerah sekitar 4 Km dari puncak untuk melihat dampaknya, dan kali ini
letusan/erupsi
sangat luar biasa dimana bukan saja wedhus gembel yang kesana sini, juga
materialnya keluar,
sampai sampai batu sebesar mobil bisa berada jauh dari asalnya, di kali
gendol yang menjadi rata
membuat banyak jembatan ambrol, dan jalan tertutup.

Akhirnya diputuskan bahwa jalan jalan yang menuju puncak merapi ditutup ala
kadarnya, mulai dari
drum sd batang bambu, yang menandakan daerah tsb tertutup sementara, dan ini
dilakukan hampir disemua
per empat an yang menuju daerah rawan.

Untuk penutupan ini bisa dibilang swadaya masyarakat dengan team KLM, selain
menghindari penjarahan, juga
untuk melindungi orang nyasar yang sok tahu ingin naik ke puncak.
Untuk yang satu ini ( sok menjadi pahlawan ) adalah Kapolda Jateng, dimana
di posko yang jalan keatas ditutup, dipaksa untuk dibuka, padahal jalan di
tutup dan dijaga oleh relawan KLM, dimana saling ngotot antar perwira tinggi
dengan seorang warga, menjadi menyebalkan, relawan tidak mau tahu siapapun
tidak boleh naik, karena dibekali HT dengan frekwensi yang sama dengan
frekwensi seismograph, dan pada saat itu suara HT berubah ubah menandakan
kondisi diatas tidak stabil, hanya karena perwira, akhirnya rombongan tsb
naik ke atas dengan gagah perwira, sedang
relawan hanya bisa melaporkan ke posko pusat KLM, dan dijawab oleh posko
pusat, bahwa rombongan tsb tidak akan lama keatas, akan langsung turun lagi,
ternyata benar, Kapolda tidak bisa lama diatas, hanya dalam hitungan menit
sudah turun kembali, karena terlalu banyak kendala untuk naik ke atas, belum
lagi pandangan mata yang terbatas oleh kabut.

Relawan KLM bisa dibilang bergandengan dengan Artha Peduli Merapi, yang
menjadi unik, mereka bekerja berdasarkan data dari BMGV, BPBN, sehingga
informasi selalu yang terbaru.
Dan didalam team relawan KLM ada satu kelompok team dari Bandung dengan
memakai kendaraan jeep tempur yang di tulis papatong, ( papatong = capung ),
mereka anak anak muda yang bila dilihat dijalanan biasa seperti anak
berandalan pada umumnya, sedang didalam kenyataannya mereka memiliki
dedikasi menolong tanpa pamrih.

Posko-posko peduli Merapi bisa dibilang sangat banyak, aku pribadi suka
bingung mengapa sedemikian banyak
posko ?, apa yang bisa dilakukan oleh posko posko tersebut ?, karena selama
aku ikut keliling dengan relawan KLM, bisa dibilang belum pernah ketemu
dengan anggota posko lain, malah yang aku ketemui kendaraan polisi Laka
Lantas yang mungkin naik keatas khawatir ada tabrakan antar binatang,
demikian juga sebuah mobil ambulance serba guna dari partai tertentu ikut
naik keatas, entah untuk apa, bisa jadi sedang menjalankan tugas mencari
binatang nyasar.

Peristiwa letusan/erupsi kedua seluruh keluarga besar mBah Marijan bisa
dibilang di ungsi kan ketempat yang tidak banyak orang tahu, mereka layaknya
warga kampung, hanya tinggal memiliki nafas, lainnya sudah punah, karena
daerah Mbah Marijan sudah benar benar rata dengan tanah, entah siapa
nantinya yang peduli dengan mereka, dan kelompok mereka kurang lebihnya 40
jiwa, dan menjadi entah siapa nantinya yang peduli dengan para pengungsi
tetap
yang wilayahnya sudah tidak bisa di diam i lagi dengan jumlah bisa mencapai
ribuan jiwa, bisa jadi hanya rumput yang bergoyang yang mampu menjawab.

Relawan semodel KLM murni bekerja sebagai team SAR lokal, mereka sudah
terlatih didalam menolong sesama, karena relawan ini sudah eksis lama,
sebelum letusan/erupsi menjadi peristiwa rutin, dimana ketua biasanya
mendapatkan penggantinya, sedang saat ini ketua relawan KLM dipegang sdr
Capung, jebolan biologi UGM.
Aku melihat tidak terjadinya regenerasi dikarenakan faktor perubahan pola
pendidikan di tingkat perguruan tinggi, dimana bila ditahun 70-an ada
Mapala, Wanadri dan lain sebagainya, saat ini lebih memilih menjadi pencinta
alam versi baru semisal hiking, panjat tebing dan itupun dilakukan sambil
nyantai, berbeda dengan relawan lokal, dimana dengan bekal maksimal 1/2
botol aqua ukuran 350, harus mampu naik kepuncak Merapi.
Disisi lain para mahasiswa hampir di seantero Indonesia memiliki dedikasi
yang tinggi terhadap musibah yang acap kali terjadi, semisal ketika terjadi
gempa Bantul, entah dari mana serombongan mahasiswa masuk ke posko minta
pekerjaan, dengan posisi diatur oleh posko itu sendiri ( akhirnya mereka
eksis sebagai bagian dari personal bencana alam ).

Untuk hal ini aku bayangkan berapa banyak siswa SLTA yang tidak mampu
meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, sebenarnya bisa menjadi relawan
berkwalitas dimasa mendatang, entah Depsos mampu membuat Tagana lebih eksis
yang terlatih dengan relawan jebolan SLTA.
Memang Tagana bukan untuk menjadi team SAR, karena untuk menjadi personal
SAR dibutuhkan kepandaian dan dedikasi yang lebih tinggi standardnya,
minimal Tagana sudah eksis dan ada dimana mana, sayangnya dalam peristiwa
Merapi ada oknum Tgana yang merasa sudah menjadi personal SAR, akibatnya
bisa diduga.....hanya bikin susah relawan lainnya.

Aku selalu bermimpi kapan ada lagi kelompok pecinta alam yang benar benar
cinta kepada alam, bukan semata naik ke gunung untuk mengejar target bahwa
sudah naik ke puncak gunung anu dan anu karena kelompok seperti ini
eksistensinya akan sirna dikejar target IP dan Gelar perguruan tinggi
semata.

Indonesia yang posisi nya berada di 3 lempengan bawah laut ( Asia, Australia
dan Europa ), tidak akan pernah mampu menghindari bencana alam, apalagi
dengan perubahan alam yang bahasa inteleknya global warming semakin menjadi
jadi, tanpa membuat persiapan matang, maka korban akan terus menerus
berjatuhan tertimpa bencana alam.

Pada hari terakhir untuk kembali kerumah, aku diajak ke UGM sekedar ngobrol,
dan akan ada rapat antar alumni dengan rektor, aku mah pulang duluan, maklum
yang namanya rapat hasilnya bisa terlihat tahun depan, malah bisa bisa hanya
menjadi temu kangen semata.

Sampai saat ini situasi dan kondisi Merapi masih belum stabil, sehingga
batas pengungsi hanya berubah di beberapa bagian, yang dikawatirkan tebing
selatan, karena bila tebing selatan rontok, otomatis Yogya mejadi lokasi
yang paling berbahaya, dari beberapa informasi dan pantauan mata, wedhus
gembel lebih banyak terarah vertikal, sedang arah horisontal tidak sebesar
yang ke arah vertikal.

Wedus gembel termasuk angin panas yang mampu menerobos kemana saja, bilamana
terpapar langsung dalam hitungan detik langsung tewas dengan badan
membengkak, aku lihat seekor sapi yang tewas dimana badannya menjadi dua
kali lipat membengkak dengan kulit masih utuh, menandakan mirip dengan
penyelam yang langsung kedasar dan naik mendadak keatas, sedang yang
berlindung dibalik sesuatu kondisi masih sama, tidak ada perubahan mencolok.

Dan Mbah Marijan meninggal dengan kondisi tidak berubah sama sekali, tidak
ada tanda ketakutan dan ketegangan, yang minimal menandakan bisa memahami
kemauan Merapi.
Memang sebelum nya ada issue Mbah Marijan kecewa karena kali kuning di buat
Dam, demikian juga dengan mata air yang di jual ke perusahaan air minum
kemasan, padahal selama puluhan tahun, Mbah Marijan membuat tangga sampai ke
puncak Merapi, dan ini dilakukannya seorang diri, dengan penuh kesabaran,
sampai akhir hayatnya sosok Mbah Marijan tidak akan pernah hilang di dalam
sejarah Merapi, entah siapa penggantinya nanti ?, semoga tidak asal pilih,
karena peranan juru kunci di budaya Indonesia/Jawa sangat penting.

Apa yang dibutuhkan oleh para relawan ?, menjadi sebuah pertanyaan menarik,
karena diluar dugaan, mereka membutuhkan ROKOK dan KOPI, dimana 2 barang ini
menjadi barang mewah disaat bertugas, mereka tidak mengalami kesulitan
dengan makan dan minum, karena sumbangan makan dan minuman masih bisa
didapat, sedang Rokok dan Kopi siapa yang peduli
?..................................

sur.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke