Yang "diatas", banyak  yang nangis sesenggukan karena kehilangan
anggota, anggota badan, kesakitan maupun harta. Yang hangus lalu tewas
ga sempat merasakan yg kek gini. Yang pemborong atau mau bangun rumah,
nagis ga punya pasir-batu. Yang tinggal dipinggran kali, khawatir dg
meluapnya lahar dingin.

Nah sekarang, kata kawanku, yang "dibawah", pinggiran kali pesta pora.
ratusan ton harta karun kiriman merapi tinggal ngeduk di kali disungai
misalnya Code dst. Para pematung tersenyum ha ha hi hi dapat kiriman
bahan baku batu sak gajah-gajah.

--- In [email protected], "gsuryana" <gsury...@...> wrote:
>
> Bila sebelum belum nya Merapi batuk, maka arahnya selalu sama ke arah
> sedikit ke Barat dan longsoran kepundan dari sisi timur.
> Dengan peristiwa yang selalu sama sekian puluh tahun, maka sisi
Selatan
> dianggap sisi teraman sedang timur jarang mengalami hembusan angin
> panas/wedus gembel.
>
> Pada letusan pertama, batuknya Merapi berubah arah, menjadi sedikit ke
arah
> selatan, rekan rekan KLM yang memang termasuk rajin naik ke puncak pun
tidak
> pernah terpikirkan bahwa batuk yang sekarang berbeda dengan peristiwa
2006,
> di peristiwa 2006 memang banyak pengungsi, hanya batas ngungsinya
sampai di
> sekitaran 10 Km, selain daya dorong wedhus gembel yang tidak terlalu
kuat
> sehingga jarak terjauh menjadi maksimal kurang lebih 6 Km.
>
> Dan di hari letusan pertama, pemerintah dalam hal ini pemantau Merapi
dengan
> memasang peralatan di titik tertentu
> mendadak terjadi getaran yang cukup kuat dan tidak stabil, sehingga
langsung
> membunyikan sirine, agar masyarakat yang berada di radius 4 Km menuju
posko
> pengungsi, demikian juga dengan keluarga Mbah Marijan diminta turun ke
> lokasi pengungsi, dan oleh Mbah Marijan seluruh keluarga besarnya
diminta
> turun, dalam hal ini Mbah Marijan secara nalurinya yang memang sudah
menyatu
> dengan Merapi mengetahui bahwa letusan yang akan terjadi berbeda
dengan
> biasanya.
>
> Tim relawan ( KLM dan lainnya ), sibuk mencari warga yang bisa jadi
tidak
> tahu akan terjadi letusan, dan memang cukup banyak warga yang
menganggap
> letusannya hanya sekedar wedhus gembel semata, sehingga ada juga warga
yang
> dipaksa turun.
> Mbah Marijan pun meminta para tamu nya untuk turun, sayangnya mereka
percaya
> bahwa Mbah Marijan sebagai manusia sakti, jadi bila terjadi letusan
dan ber
> ada disamping Mbah Marijan bisa selamat,
> Sesuai dengan kebiasaan bila Merapi batuk, maka Mbah Marijan pun
memainkan
> kendangnya, hanya kali ini tidak ada perubahan, sedang waktu sangat
sempit.
>
> Dan sekitar pukul 5 sore wedhus gembel pun meluncur turun, arahnya
terpecah
> dua, sebagian ke kali gendol, sedang bagian lain ke arah cangkringan
dimana
> rumah keluarga Mbah Marijan tinggal.
> Wedhus gembel dengan rata rata kecepatan diatas 200 Km dengan suhu
diatas
> 600 melahap apapun yang menghalanginya, termasuk rumah rumah di daerah
Mbah
> Marijan tinggal.
> Setelah wedhus gembel mereda maka relawan langsung naik lagi ( kurang
lebih
> pukul 8 malam ), dimana menyisir rumah rumah yang terkena whedus
gembel
> dengan tujuan utama rumah Mbah Marijan.
> Dan setelah ditemukannya jenasah jenasah yang ada, kelompok relawan
> bersepakat untuk mengatur agar jenasah Mbah Marijan jangan ter expose
oleh
> media massa, dan memang pada saat itu ada media massa TV one yang ikut
dan
> berjanji tidak untuk di publikasi kan.
> Tim relawan sebenarnya sudah turun setelah mendapatkan posisi dimana
Mbah
> Marijan ditemukan, dan akhirnya disepakati untuk naik lagi dan
mengatur
> posisi jenasah, agar di pagi harinya jenasah Mbah Marijan bisa
langsung di
> evakuasi ke rumah sakit di Yogya.
>
> Tgl 29 terjadi lagi longsoran/erupsi yang sangat besar, dimana di
perkira
> kan 100 juta kubik material keluar dari Merapi, dalam hal ini sekali
lagi
> pemda termasuk cepat tanggap, karena daerah pengungsian berubah dalam
> kurun waktu jam, dari 10 Km menjadi 12 Km berubah lagi menjadi 15 Km
> dan akhirnya menjadi 20 Km, semua berlangsung dalam hitungan cepat.
>
> Letusan/erupsi kedua terjadi di malam hari, di awal i dengan suara "
dung "
> Yang kemudian berubah menjadi luncuran batu besar, kecil, kerikil,
debu dan
> abu.
> Para pengungsi semua di relokasi dengan kecepatan maksimal, sehingga
korban
> karena letusan/erupsi menjadi minimal.
> Yang menjadi pertanyaan beberapa dukuh ( setingkat RT ) tertimbun
material
> erupsi,
> biarpun relawan sudah berusaha sekuat tenaga, tetap saja ada yang
> tertinggal.
> Relawan KLM sebagai team SAR lokal, dan memang anggota nya banyak yang
> tinggal di lereng Merapi lebih banyak tahu mengenai situasi dan
kondisi
> warga nya,
> ada warga yang baru mandi langsung di angkut ke truk, tanpa peduli
teriakan
> yang
> kena angkut, karena didalam kondisi demikian para relawan sudah siap
menjadi
> korban
> dan target utama keselamatan warga nya.
> Dan hasil dari letusan/erupsi kedua menghasilkan ratusan ribu
pengungsi ke
> sekeliling
> Merapi, dengan situasi dan kondisi kacau balau.
>
> Seperti halnya letusan/erupsi pertama, maka tim relawan dari kelompok
KLM
> naik kembali
> ke daerah sekitar 4 Km dari puncak untuk melihat dampaknya, dan kali
ini
> letusan/erupsi
> sangat luar biasa dimana bukan saja wedhus gembel yang kesana sini,
juga
> materialnya keluar,
> sampai sampai batu sebesar mobil bisa berada jauh dari asalnya, di
kali
> gendol yang menjadi rata
> membuat banyak jembatan ambrol, dan jalan tertutup.
>
> Akhirnya diputuskan bahwa jalan jalan yang menuju puncak merapi
ditutup ala
> kadarnya, mulai dari
> drum sd batang bambu, yang menandakan daerah tsb tertutup sementara,
dan ini
> dilakukan hampir disemua
> per empat an yang menuju daerah rawan.
>
> Untuk penutupan ini bisa dibilang swadaya masyarakat dengan team KLM,
selain
> menghindari penjarahan, juga
> untuk melindungi orang nyasar yang sok tahu ingin naik ke puncak.
> Untuk yang satu ini ( sok menjadi pahlawan ) adalah Kapolda Jateng,
dimana
> di posko yang jalan keatas ditutup, dipaksa untuk dibuka, padahal
jalan di
> tutup dan dijaga oleh relawan KLM, dimana saling ngotot antar perwira
tinggi
> dengan seorang warga, menjadi menyebalkan, relawan tidak mau tahu
siapapun
> tidak boleh naik, karena dibekali HT dengan frekwensi yang sama dengan
> frekwensi seismograph, dan pada saat itu suara HT berubah ubah
menandakan
> kondisi diatas tidak stabil, hanya karena perwira, akhirnya rombongan
tsb
> naik ke atas dengan gagah perwira, sedang
> relawan hanya bisa melaporkan ke posko pusat KLM, dan dijawab oleh
posko
> pusat, bahwa rombongan tsb tidak akan lama keatas, akan langsung turun
lagi,
> ternyata benar, Kapolda tidak bisa lama diatas, hanya dalam hitungan
menit
> sudah turun kembali, karena terlalu banyak kendala untuk naik ke atas,
belum
> lagi pandangan mata yang terbatas oleh kabut.
>
> Relawan KLM bisa dibilang bergandengan dengan Artha Peduli Merapi,
yang
> menjadi unik, mereka bekerja berdasarkan data dari BMGV, BPBN,
sehingga
> informasi selalu yang terbaru.
> Dan didalam team relawan KLM ada satu kelompok team dari Bandung
dengan
> memakai kendaraan jeep tempur yang di tulis papatong, ( papatong =
capung ),
> mereka anak anak muda yang bila dilihat dijalanan biasa seperti anak
> berandalan pada umumnya, sedang didalam kenyataannya mereka memiliki
> dedikasi menolong tanpa pamrih.
>
> Posko-posko peduli Merapi bisa dibilang sangat banyak, aku pribadi
suka
> bingung mengapa sedemikian banyak
> posko ?, apa yang bisa dilakukan oleh posko posko tersebut ?, karena
selama
> aku ikut keliling dengan relawan KLM, bisa dibilang belum pernah
ketemu
> dengan anggota posko lain, malah yang aku ketemui kendaraan polisi
Laka
> Lantas yang mungkin naik keatas khawatir ada tabrakan antar binatang,
> demikian juga sebuah mobil ambulance serba guna dari partai tertentu
ikut
> naik keatas, entah untuk apa, bisa jadi sedang menjalankan tugas
mencari
> binatang nyasar.
>
> Peristiwa letusan/erupsi kedua seluruh keluarga besar mBah Marijan
bisa
> dibilang di ungsi kan ketempat yang tidak banyak orang tahu, mereka
layaknya
> warga kampung, hanya tinggal memiliki nafas, lainnya sudah punah,
karena
> daerah Mbah Marijan sudah benar benar rata dengan tanah, entah siapa
> nantinya yang peduli dengan mereka, dan kelompok mereka kurang
lebihnya 40
> jiwa, dan menjadi entah siapa nantinya yang peduli dengan para
pengungsi
> tetap
> yang wilayahnya sudah tidak bisa di diam i lagi dengan jumlah bisa
mencapai
> ribuan jiwa, bisa jadi hanya rumput yang bergoyang yang mampu
menjawab.
>
> Relawan semodel KLM murni bekerja sebagai team SAR lokal, mereka sudah
> terlatih didalam menolong sesama, karena relawan ini sudah eksis lama,
> sebelum letusan/erupsi menjadi peristiwa rutin, dimana ketua biasanya
> mendapatkan penggantinya, sedang saat ini ketua relawan KLM dipegang
sdr
> Capung, jebolan biologi UGM.
> Aku melihat tidak terjadinya regenerasi dikarenakan faktor perubahan
pola
> pendidikan di tingkat perguruan tinggi, dimana bila ditahun 70-an ada
> Mapala, Wanadri dan lain sebagainya, saat ini lebih memilih menjadi
pencinta
> alam versi baru semisal hiking, panjat tebing dan itupun dilakukan
sambil
> nyantai, berbeda dengan relawan lokal, dimana dengan bekal maksimal
1/2
> botol aqua ukuran 350, harus mampu naik kepuncak Merapi.
> Disisi lain para mahasiswa hampir di seantero Indonesia memiliki
dedikasi
> yang tinggi terhadap musibah yang acap kali terjadi, semisal ketika
terjadi
> gempa Bantul, entah dari mana serombongan mahasiswa masuk ke posko
minta
> pekerjaan, dengan posisi diatur oleh posko itu sendiri ( akhirnya
mereka
> eksis sebagai bagian dari personal bencana alam ).
>
> Untuk hal ini aku bayangkan berapa banyak siswa SLTA yang tidak mampu
> meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, sebenarnya bisa menjadi
relawan
> berkwalitas dimasa mendatang, entah Depsos mampu membuat Tagana lebih
eksis
> yang terlatih dengan relawan jebolan SLTA.
> Memang Tagana bukan untuk menjadi team SAR, karena untuk menjadi
personal
> SAR dibutuhkan kepandaian dan dedikasi yang lebih tinggi standardnya,
> minimal Tagana sudah eksis dan ada dimana mana, sayangnya dalam
peristiwa
> Merapi ada oknum Tgana yang merasa sudah menjadi personal SAR,
akibatnya
> bisa diduga.....hanya bikin susah relawan lainnya.
>
> Aku selalu bermimpi kapan ada lagi kelompok pecinta alam yang benar
benar
> cinta kepada alam, bukan semata naik ke gunung untuk mengejar target
bahwa
> sudah naik ke puncak gunung anu dan anu karena kelompok seperti ini
> eksistensinya akan sirna dikejar target IP dan Gelar perguruan tinggi
> semata.
>
> Indonesia yang posisi nya berada di 3 lempengan bawah laut ( Asia,
Australia
> dan Europa ), tidak akan pernah mampu menghindari bencana alam,
apalagi
> dengan perubahan alam yang bahasa inteleknya global warming semakin
menjadi
> jadi, tanpa membuat persiapan matang, maka korban akan terus menerus
> berjatuhan tertimpa bencana alam.
>
> Pada hari terakhir untuk kembali kerumah, aku diajak ke UGM sekedar
ngobrol,
> dan akan ada rapat antar alumni dengan rektor, aku mah pulang duluan,
maklum
> yang namanya rapat hasilnya bisa terlihat tahun depan, malah bisa bisa
hanya
> menjadi temu kangen semata.
>
> Sampai saat ini situasi dan kondisi Merapi masih belum stabil,
sehingga
> batas pengungsi hanya berubah di beberapa bagian, yang dikawatirkan
tebing
> selatan, karena bila tebing selatan rontok, otomatis Yogya mejadi
lokasi
> yang paling berbahaya, dari beberapa informasi dan pantauan mata,
wedhus
> gembel lebih banyak terarah vertikal, sedang arah horisontal tidak
sebesar
> yang ke arah vertikal.
>
> Wedus gembel termasuk angin panas yang mampu menerobos kemana saja,
bilamana
> terpapar langsung dalam hitungan detik langsung tewas dengan badan
> membengkak, aku lihat seekor sapi yang tewas dimana badannya menjadi
dua
> kali lipat membengkak dengan kulit masih utuh, menandakan mirip dengan
> penyelam yang langsung kedasar dan naik mendadak keatas, sedang yang
> berlindung dibalik sesuatu kondisi masih sama, tidak ada perubahan
mencolok.
>
> Dan Mbah Marijan meninggal dengan kondisi tidak berubah sama sekali,
tidak
> ada tanda ketakutan dan ketegangan, yang minimal menandakan bisa
memahami
> kemauan Merapi.
> Memang sebelum nya ada issue Mbah Marijan kecewa karena kali kuning di
buat
> Dam, demikian juga dengan mata air yang di jual ke perusahaan air
minum
> kemasan, padahal selama puluhan tahun, Mbah Marijan membuat tangga
sampai ke
> puncak Merapi, dan ini dilakukannya seorang diri, dengan penuh
kesabaran,
> sampai akhir hayatnya sosok Mbah Marijan tidak akan pernah hilang di
dalam
> sejarah Merapi, entah siapa penggantinya nanti ?, semoga tidak asal
pilih,
> karena peranan juru kunci di budaya Indonesia/Jawa sangat penting.
>
> Apa yang dibutuhkan oleh para relawan ?, menjadi sebuah pertanyaan
menarik,
> karena diluar dugaan, mereka membutuhkan ROKOK dan KOPI, dimana 2
barang ini
> menjadi barang mewah disaat bertugas, mereka tidak mengalami kesulitan
> dengan makan dan minum, karena sumbangan makan dan minuman masih bisa
> didapat, sedang Rokok dan Kopi siapa yang peduli
> ?..................................
>
> sur.
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke