mBon Aisyah heran melihat Bapaknya kok bisa menangis campur tertawa,dia nanyak 
abahnya ngapa ta pak kok nangis campur tertawa? Tadi nabi sudah ngajak aku 
untuk menemani beliau Hijrah.Tadinya Abu Bakar ngoyak oyak Rasul ayo kita cepet 
nyusul sahabat2 kita yg sudah duluan ke Madinah.Tunggu dulu saya belum 
diperintahkan.Makanya setelah nabi ngasih tahu besuk kita berangkat,maka Abu 
bakar nangis campur tertawa.
Ibarat kapten Kapal maka seluruh awak kapal disuruh menyelamatkan diri dulu 
baru terakir Kapten kapal yg bertanggung jawab,so do Nabi.

Shalom,
Tawangalun.

--- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote:
>
> Refleksi : Membaca berita gembira menyenangkan pembaca. Membaca berita sedih 
> membuat orang menjadi sedih. Apakah Al Quran menberitakan berita sedih 
> sehingga  pembaca harus menanggis?
> 
> http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/gaya-hidup-muslim/14286-menangislah-ketika-menbaca-al-quran
> 
> Menangislah, Ketika Membaca al-Quran 
> Monday, 22 November 2010 15:54 
> 
> Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak bersenandung dengan 
> al-Qur'an, demikian kata Nabi
> 
> 
>  
> Berbeda dengan Kitab Suci lain, al-Quran adalah firman Allah yang tidak 
> mengandung kebatilan sedikit pun. Ia memberi petunjuk jalan yang lurus dan 
> memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, 
> agar selamat di dunia dan di akhirat.
> 
> 
> Untuk itu tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang Muslim melebihi 
> keutamaan mempelajari al-Quran. Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah 
> orang yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
> 
> 
> Karena begitu mulianya kedudukan al-Qur'an, maka ketika membaca al-Quran  
> seseorang perlu memperhatikan adab-adabnya  agar mendapatkan kesempurnaan 
> pahala dalam membaca Nya:
> 
> 
> Pertama, ihlas dan menuluskan niat karena Allah semata. Ini merupakan adab 
> yang paling penting di mana suatu amal selalu terkait dengan niat. Hal ini 
> sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya semua amalan itu tergantung 
> niat-niatnya dan setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya." 
> (HR.al-Bukhari, kitab Bad'ul Wahyi, Jld.I, hal.9) 
> 
> 
> Karena itu, wajib mengihlaskan niat dan memperbaiki tujuan serta menjadikan 
> hafalan dan perhatian terhadap al-Qur'an demi-Nya, menggapai surga-Nya dan 
> mendapat ridla-Nya. 
> 
> 
> Siapa saja yang menghafal al-Qur'an atau membacanya karena riya', maka ia 
> tidak akan mendapatkan pahala apa-apa. Nabi SAW bersabda, "Tiga orang yang 
> pertama kali menjalani penyidangan pada hari Kiamat nanti.[Rasulullah SAW 
> kemudian menyebutkan di antaranya].dan seorang laki-laki yang belajar ilmu 
> lalu mengajarkannya, membaca al-Qur'an lalu ia dibawa menghadap, lalu Allah 
> mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka ia pun mengetahuinya, lalu Dia 
> SWT berkata, 'Untuk apa kamu amalkan itu.?" Ia menjawab, 'Aku belajar ilmu 
> untuk-Mu, mengajarkannya dan membaca al-Qur'an.' Lalu Allah berkata, 'Kamu 
> telah berbohong akan tetapi hal itu karena ingin dikatakan, 'ia seorang Qari 
> (pembaca ayat al-Qur'an).' Dan memang ia dikatakan demikian. Kemudian ia 
> dibawa lalu wajahnya ditarik hingga dicampakkan ke dalam api 
> neraka."(HR.Muslim, Jld.VI, hal.47) 
> 
> 
> Manakala seorang Muslim menghafal dan membaca al-Qur'an semata karena 
> mengharapkan keridlaan Allah, maka ia akan merasakan kebahagian yang tidak 
> dapat ditandingi oleh kebahagiaan apa pun di dunia. 
> 
> 
> Kedua, menghadirkan hati (konsentrasi penuh) ketika membaca dan berupaya 
> menghalau bisikan-bisikan syetan dan kata hati, tidak sibuk dengan 
> memain-mainkan tangan, menoleh ke kanan dan ke kiri dan menyibukkan pandangan 
> dengan selain al-Qur'an. 
> 
> 
> Ketiga, mentadabburi (merenungi) dan memahami apa yang dibaca, merasakan 
> bahwa setiap pesan di dalam al-Qur'an itu ditujukan kepadanya dan merenungi 
> makna-makna Asma Allah dan sifat-Nya. 
> 
> 
> Keempat, tersentuh dengan bacaan. Imam as-Suyuthi RAH berkata, "Dianjurkan 
> menangis ketika membaca al-Qur'an dan berupaya untuk menangis bagi yang tidak 
> mampu (melakukan yang pertama-red.,), merasa sedih dan khusyu'." (al-Itqan, 
> Jld.I, hal.302) 
> 
> 
> Kelima, bersuci. Maksudnya dari hadats besar, yaitu jinabah dan haidh atau 
> nifas bagi wanita. 
> 
> 
> Al-Qur'an merupakan zikir paling utama. Ia adalah kalam Rabb Ta'ala. Karena 
> itu, di antara adab membacanya, si pembaca harus suci dari hadats besar dan 
> kecil. Ia dianjurkan untuk berwudhu sebelum membaca. Hal ini berdasarkan 
> hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar RA, ia berkata, Rasulullah 
> SAW bersabda, "Tidaklah menyentuh al-Qur'an kecuali orang yang suci." (Shahih 
> al-Jaami', no.7657) 
> 
> 
> Perlu diketahui, bahwa seseorang boleh membaca al-Qur'an asalkan tidak sedang 
> berhadats besar, demikian pula disunnahkan baginya untuk mencuci mulut 
> (menggosok gigi-red.,) dengan siwak sebab ia membersihkan mulut sedangkan 
> mulut merupakan 'jalan' al-Qur'an. 
> 
> 
> Keenam, sebaiknya, ketika membaca al-Qur'an, menghadap Qiblat sebab ia 
> merupakan arah yang paling mulia, apalagi sedang berada di masjid atau di 
> rumah. Tetapi bila tidak memungkinkan, baik karena ia berada di kios, mobil 
> atau sedang bekerja, maka tidak apa membaca al-Qur'an sakali pun tidak 
> menghadap Qiblat. 
> 
> 
> Ketujuh, disunnahkan bagi seseorang untuk ber-ta'awwudz (berlindung) kepada 
> Allah dari syaithan yang terkutuk. Allah Ta'ala berfirman, "Maka apabila kamu 
> membaca al-Qur'an, berlindunglah kepada Allah dari syaithan yang terkutuk." 
> (an-Nahl:98) 
> 
> kedelapan, memperindah suaranya ketika membaca al-Qur'an sedapat mungkin.
> 
> 
> Rasulullah SAW bersabda, "Hiasilah al-Qur'an dengan suara-suara kamu sebab 
> suara yang bagus membuatnya bertambah bagus." (dinilai shahih oleh al-Albani, 
> Shahih al-Jaami', no.358)
> 
> "Disunnahkan memperbagus dan menghiasi suara dengan al-Qur'an. Terdapat 
> banyak hadits yang shahih mengenai hal itu. Jika seseorang suaranya tidak 
> bagus, maka ia boleh memperbagus semampunya asalkan jangan keluar hingga 
> seperti karet (dilakukan secara tidak semestinya dan menyalahi kaidah 
> tajwid-red.,)." (al-Itqaan, Jld.I, hal.302) 
> 
> 
> Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak 
> bersenandung dengan al-Qur'an (melantunkannya dengan bagus)." (Shahih 
> al-Bukhari, Jld.XIII, hal.501, bab at-Tauhid, no.7527) 
> 
> Hendaknya pembaca al-Qur'an membaca sesuai dengan karakternya, tidak 
> menyusah-nyusahkan diri (dibuat-buat) dengan cara menaklid salah seorang 
> Qari' atau dengan intonasi-intonasi tertentu sebab hal itu dapat menyibukkan 
> dirinya dari mentadabburi dan memahaminya serta menjadikan seluruh 
> keinginannya hanya pada mengikuti orang lain (taqlid) saja. 
> 
> 
> Kesembilan, membaca dengan menggunakan mushaf. Hal ini dikatakan oleh 
> as-Suyuthi, "Membaca dengan menggunakan mushaf lebih baik dari pada membaca 
> dari hafalan sebab melihatnya merupakan suatu ibadah yang dituntut." 
> (al-Itqaan, Jld.I, hal.304) 
> 
> 
> Hanya saja, Imam an-Nawawi dalam hal ini melihat dari aspek kekhusyu'an; bila 
> membaca dengan menggunakan mushaf dapat menambah kekhusyu'an si pembaca, maka 
> itu lebih baik. Demikian pula, bila bagi seseorang yang tingkat kekhusyu'an 
> dan tadabburnya sama dalam kondisi membaca dan menghafal; ia boleh memilih 
> membaca dari hafalan bila hal itu menambah kekhusyu'annya. 
> 
> Di antara hal yang perlu diperhatikan di sini, hendaknya seorang pembaca, 
> khususnya bagi siapa saja yang ingin menghafal, untuk memilih satu jenis 
> cetakan saja sehingga hafalannya lebih kuat dan mantap. 
> 
> 
> Demikian pula, hendaknya ia menghormati mushaf dan tidak meletakkannya di 
> tanah/lantai, tidak pula dengan cara melempar kepada pemiliknya bila ingin 
> memberinya. Tidak boleh menyentuhnya kecuali ia seorang yang suci. 
> 
> 
> Sepuluh, membaca di tempat yang layak (kondusif) seperti di masjid sebab ia 
> merupakan tempat paling afdhal di muka bumi, atau di satu tempat di rumah 
> yang jauh dari penghalang, kesibukan dan suara-suara yang dapat mengganggu 
> untuk melakukan tadabbur dan memahaminya. Karena itu, ia tidak seharusnya 
> membacakan al-Qur'an di komunitas yang tidak menghormati al-Qur'an.
> 
> 
> Demikianlah adab-adab membaca firmal Allah, yang tiada duanya, dibanding 
> dengan kitab-kitab suci agama lain. [SUMBER: Silsilah Manaahij Dauraat 
> al-'Uluum asy-Syar'iyyah -fi'ah an-Naasyi'ah- al-Hadits karya Dr Ibrahim bin 
> Sulaiman al-Huwaimil, hal.21-25/hidayatullah.com]
>  
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke