http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77965:presiden-merasa-qdiaduq-dengan-sultan&catid=3:nasional&Itemid=128
Presiden Merasa "Diadu" dengan Sultan
Jakarta, (Analisa)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa "diadu" dengan Gubernur DIY Sri
Sultan Hamengkubuwono X dalam polemik tentang keistimewaan Yogyakarta.
"Saya dengan Pak Sultan tidak ada apa-apa. Kok diadu-adu," kata Presiden
Yudhoyono pada akhir sambutan acara pemberian Penghargaan Ketahanan Pangan
Nasional 2010 di Istana Negara, Jakarta, Jumat.
SBY tidak menyebutkan secara rinci siapa pihak yang mengadu tersebut.
Kepala Negara hanya menjelaskan, media massa lebih tertarik memberitakan
polemik keistimewaan Yogyakarta daripada hal-hal yang terkait ketahanan pangan.
Presiden menegaskan, dirinya sangat menghormati Sultan. Dia juga yakin
Sultan juga menghargainya. Presiden SBY meminta Sultan tetap sabar meski selama
beberapa hari menjadi bahan pemberitaan. "Terus sabar ya Pak Sultan," kata SBY.
Sultan yang duduk di barisan paling depan hanya tersenyum, tanpa memberi
tanggapan. Presiden mengakhiri acara pemberian penghargaan ketahanan pangan itu
dengan memberi kesempatan kepada semua tamu undangan untuk berjabat tangan
dengan dirinya dan Ibu Ani Yudhoyono. Namun, Sultan yang duduk di barisan depan
berbalik dan meninggalkan tempat acara. Sultan adalah salah satu kepala daerah
yang mendapat penghargaan dalam acara itu.
Sultan tidak memberikan pernyataan panjang lebar ketika wartawan mencoba
bertanya. Dia hanya menjelaskan belum mengetahui isi draf RUU Keistimewaan
Yogyakarta yang menjadi usulan pemerintah. Dia meminta wartawan bertanya kepada
rakyat Yogyakarta yang memiliki kedaulatan di wilayah itu. Menteri Koordinator
Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto mengikuti Sultan. Djoko menyarankan
wartawan untuk menunggu sejenak. "Nanti sekalian sama saya saja," kata Djoko.
Sejumlah wartawan mengartikan pernyataan Djoko sebagai janji bahwa akan
ada pernyataan bersama Sultan tentang polemik keistimewaan Yogyakarta. Namun,
sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan bersama antara Djoko Suyanto
dan Sultan. Bahkan beredar informasi bahwa keduanya telah pergi meninggalkan
Istana tanpa sepengetahuan wartawan.
Pemerintah dalam draft sementara RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) mengusulkan agar Gubernur DIY dipilih secara demokratis. Dalam
konferensi pers usai rapat kabinet paripurna di Kantor Kepresidenan, Jakarta
(2/12), Menko Polhukam Djoko Suyanto menjelaskan keturunan Kesultanan dan Paku
Alam tetap sebagai orang nomor satu atau tertinggi di wilayah DIY dengan
kewenangan tertentu di atas gubernur.
"Kita tetapkan Sultan dan Paku Alam sebagai orang nomor satu tertinggi di
wilayah itu tetapi kalau kita patuh asas demokrasi pasal 18 UUD 1945 sebagai
penyelenggara sehari-hari dipilih rakyat secara demokratis," jelasnya. Menurut
Djoko, dua rumusan itu akan dicoba untuk diformulasikan dalam satu pasal dalam
RUU DIY yang sedang dimatangkan pemerintah. Kementerian Dalam Negeri,
lanjutnya, akan menyelesaikan rumusan kata per kata dalam RUU DIY sebelum
menyerahkannya kepada DPR untuk dibahas bersama. (Ant)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/