Dan Dipo yang memang sedeng itu bilang Indonesia perlu bantu Belanda yang jaminan kesehatannnya termasuk yang bagus di Eropa..
--- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote: > > Refleksi: Apakah negara begini yang Anda kehendaki? > > http://riaupos.com/news/2010/11/28/balada-pelayanan-rs-kita/ > > Balada Pelayanan RS Kita > - 28 November 2010Posted in: Liputan Khusus > > > > Seorang bocah 13 tahun terjatuh dari kendaraan. Kepalanya robek dan darah > segar mengucur deras. Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sebuah > rumah sakit swasta. Namun karena penjamin tidak ada-orangtuanya baru tahu > beberapa saat kemudian-sang bocah tergolek dengan darah segarnya di ruang > unit gawat darurat (UGD) tanpa rawatan sama sekali. Satu jam kemudian > orangtuanya sampai dan kaget melihat hal itu. Ia segera meminta ambulan > melarikan ke RSUD karena ia sadar tak kuat bayar. > > Sampai di RSUD segera ditangani di UGD. Setelah kepalanya dijahit sang anak > kemudian dibawa ke ruang rawat inap setempat. Di ruang rawat inap tersebut > ibu korban yang mendampingi panik. Darah masih terus mengalir dari kuping > sang anak. Hati saya masih teriris-saat mendengar cerita dua hari sebelumnya, > saat korban dibawa ke rumah sakit. Ibu korban waktu itu, terpaksa terus > memeras sapu tangan handuknya guna menyeka darah yang terus mengucur deras > dari kuping anaknya-tanpa bantuan perawat sama sekali. Bahkan, saat seorang > tetangga lain yang menjenguk berinisiatif mendatangi perawat jaga untuk > meminta kapas, jawaban ketus yang diterima. "Tidak ada kapas, beli saja > diapotik," katanya. > > Senin pekan lalu pukul 07.15 WIB, saya tergopoh menyusuri lorong rumah sakit. > Kabar duka itu terasa menyengat: Sang anak akhirnya meninggal dunia.. Bocah > bertubuh mungil itu terbujur kaku tak bernyawa hanya ditutupi selembar kain > panjang di atas tempat tidur beralaskan plastik di bangsal Cendrawasih RSUD > Arifin Achmad Pekanbaru. > > Meski sudah ditimpa musibah berat begitu, persoalan sang ibu belum juga > selesai. Si anak belum boleh dibawa pulang sebelum administrasinya > diselesaikan. Sang ibu yang miskin bingung biaya dari mana. Lalu solusinya > harus mengurus dulu surat miskin baru bisa meringankan beban biaya perawatan > di rumah sakit Akhirnya beberapa tetangga yang hadir pun berinsiatif untuk > segera mencarikan ambulans-karena jika terus memikirkan kepanikan orangtua > korban, alhasil mayat korban akan lama terlantar di rumah sakit hingga siang > hari. > > Kebetulan saya juga tidak membawa uang cukup, bersama salah satu keluarga > dekat korban, saya mendatangi bagian keperawatan. Akhirnya, walau sedikit > berat hati, pihak rumah sakit mengizinkan mayat dibawa pulang menjelang surat > miskin dilengkapi, dengan syarat ada yang menjamin-alhasil KTP saya pun jadi > penjamin. > > Terlintas pertanyaan di benak saya. Lantas bagaimana program Jaminan > Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sebagai sebuah program pemerintah untuk > memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat miskin. Program ini adalah > pergantian nama dari Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) tahun > 2007 sudah efektifkah? Tetap saja banyak cerita miring yang berhembus > terhadap pelayanan pada mereka yang mengantongi Jamkesmas ini. > > Singkatnya, kalau Anda orang miskin dan sakit sehingga perlu dirawat di RS, > maka bersiap-siaplah untuk repot mengurusi berbagai hal tentang administrasi, > sebelum nantinya keluarga Anda betul-betul ditangani oleh dokter yang > merawatnya. Inilah satu kenyataan yang terjadi di rumah sakit kita. Pelayanan > dan jaminan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan untuk orang miskin masih > saja terabaikan, terkalahkan oleh banyaknya birokrasi yang harus dilalui oleh > mereka. > > Memang semuanya serba gratis, kecuali bila ada obat-obatan yang tidak > tersedia di apotik RS, maka kita harus membelinya di apotik di luar RS. Tapi > karena gratis inilah, maka akhirnya birokrasi yang harus dilalui juga harus > banyak, dan cukup melelahkan. Dan tanpa terasa juga semua ini harus > mengeluarkan biaya untuk operasional selama mengurus administrasi tersebut. > > Belum lagi, sikap dan cercaan baik dari perawat, petugas RS atau juga dokter > kalau tidak mengikuti prosedur yang mereka minta. Jangan kaget kalau ada > dokter atau petugas perawat yang berbicara cukup keras atau lantang, > menjelaskan kepada keluarga pasien tentang kondisi pasien atau menyuruh > mereka untuk melengkapi sesuatu administrasi yang belum dipenuhi. > > Memang cukup menjengkelkan, bahkan terkadang bikin hati ingin marah dengan > kondisi seperti ini. Memperingati Hari Kesehatan Nasional yang jatuh setiap > tanggal 12 November hingga berusia ke-46 tahun 2010 ini, tentu saja kita > berharap kondisi ini bisa berubah. Selama ini sistem pelayanan kesehatan > rumah sakit di Indonesia yang selalu dihadapkan pada dua problem. > > Pertama, pengobatan penyakit. Sedangkan kedua, buruknya pelayanan rumah sakit > terhadap keselamatan pasien, terutama pada masyarakat miskin. Tidak ada uang, > sosok berlumuran darah itu, akan dibiarkan tergolek, jika belum ada yang > bertanggung jawab pembiayaannya. Kondisi ini hampir terjadi baik di rumah > sakit pemerintah maupun swasta. Karena memang pelayanan kesehatan sekarang > orientasi sosialnya mulai menipis tapi cenderung orientasi bisnis. > > Bahkan kalau mau jujur di lapangan banyak pemilik kartu Jamkesmas sebenarnya > adalah orang kaya. Kesalahan ini terletak pada tidak tegasnya definisi miskin > dan kelalaian kepala desa dalam menentukan siapa yang berhak menerima kartu. > Yang menyedihkan banyak orang yang benar-benar miskin tidak mendapatkan kartu > Jamkesmas. Ke depan, tentunya kriteria pemegang Jamkesmas, harus lebih ketat, > yang benar-benar fakir dan miskin bukan yang pura-pura miskin.*** > > Oleh Deslina, Penanggung jawab Desk Perempuan > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
