http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/demokrasi-vs-monarki-nilai-budaya-asli/

Senin 06. of Desember 2010 12:47 
Demokrasi vs Monarki: Nilai Budaya Asli
OLEH: DARWIN DARMAWAN



     
Saudara akan membeli detergen. Mana yang akan Saudara utamakan: kemasan atau 
isinya? Merek atau daya bersihnya? Buat apa kemasannya menarik, kalau 
kualitasnya tidak baik? Kita membeli isi, bukan bungkus. 

Itu pertimbangan rasionalnya. Kenyataannya tidak selalu sama. Milan Kundera 
pernah berkata, pilihan rasional tidak selalu operasional. Dia acap kali kalah 
dengan pertimbangan pasar. Dengan kemampuan menghadirkan citra, kesan, bungkus, 
penampilan yang serba wah dan indah, pasar mampu menumpulkan daya kritis atau 
reflektif seseorang dalam mengambil keputusan. 


Barang A isinya kalah berkualitas dibanding barang B. Namun karena barang A 
lebih sering muncul di televisi, dibungkus dengan baik dan menarik, lama-lama 
dirasa bisa menaikkan gengsi. Orang pun lalu kemudian lebih memilih barang A 
dibanding B. Pun jika harga barang A lebih mahal dibanding harga barang B. 


Kundera tidak bicara tentang barang untuk konsumsi sehari-sehari. Ia bicara 
tentang politik yang dalam beberapa hal seperti barang konsumsi. Politik, 
demikian menurutnya, tidak lagi dilihat sebagai upaya membangun polis atau 
kota, tapi upaya membangun citra.


Yang menang dalam politik adalah mereka yang pandai membangun image, bukan yang 
berhasil membangun kota. Satu pekan ini muncul kontestasi wacana mengenai 
keunikan daerah Yogyakarta. Kontestasi mengerucut mengenai keberadaan gubernur 
Yogya dan wakilnya. Dua kekuatan yang mengemuka: pro dan kontra keunikan Yogya. 
Yang pro berpendapat, gubernur dan wakilnya ditetapkan berdasar­kan tradisi 
seperti sediakala. Sri Sultan dan Paku Alam otomatis ditetapkan menjadi 
gubernur dan wakilnya. Yang kontra berpendapat sebaliknya. Dengan alasan 
demokrasi, mereka menginginkan gubernur dan wakilnya dipilih langsung oleh 
rakyat, melalui mekanisme pemilihan langsung oleh rakyat.


Mana yang akan menang? Kita tidak tahu. Prosesnya masih berlangsung sampai 
sekarang. Yang jelas, di dalam kedua wacana tersebut, ada kuasa yang 
beroperasi. Wacananya tidak netral dan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tanpa 
upaya problematisasi atau mengritisi, wacana apa pun yang menang bisa 
menghasilkan opresi (Foucault: 1972).

Bungkus atau Isi?
Apa itu demokrasi? Seder­hana­nya itu adalah kekuasaan yang dipegang rakyat dan 
untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat yang menentukan pemerintah dan 
wakil-wakilnya. Itu sebabnya ada pemilihan umum langsung oleh rakyat. Karena 
keunikannya, walaupun bagian dari negara Indonesia, Yogyakarta tidak seperti 
itu. Karena pertimbangan historis, Yogyakarta menjadi daerah yang ditetapkan 
sebagai daerah Istimewa. Salah satu keistimewannya, kepala daerah Yogya adalah 
Sultan dan Paku Alam.


Tradisi tersebut yang ingin dihilangkan karena pertimbang­an demokrasi. SBY, 
merujuk pada keunikan Yogya yang menetapkan kepala dae­rahnya, berkata: Tidak 
boleh ada monarki di negara demokrasi.
Di balik kata-kata ini, ada asumsi Yogya dijalankan secara monarki, yaitu 
pemerintahan dipegang oleh raja. Lalu kedua, demokrasi itu lebih baik dibanding 
monarki khas Yogya. 


Persoalannya, demokrasi yang bagaimana? Demokrasi secara substansi memang baik. 
Namun kalau demokrasi hanya kulit, ini yang mengkhawatir­kan.  Seperti yang 
Kundera katakan, politik saat ini lebih mengedepankan bungkus atau kulit. Jadi 
betapa pun terdengar baik, isinya tidak berkualitas. Betapapun terkesan indah, 
kualitasnya ternyata mengecewakan.


Ini beberapa indikatornya. Para wakil rakyat , di tengah duka karena bencana, 
sebagian pergi melakukan kunjungan kerja (wisata?) ke luar negeri. Para wakil 
rakyat, saat sebagian besar rakyat miskin susah cari makan, mengusulkan 
pembelian mobil dan renovasi rumah dinas. Para wakil rakyat, untuk sekadar 
melakukan tugas (mi­nimum), banyak yang suka membolos.
Bagaimana dengan peme­rintah dan aparat negara lainnya yang (katanya) dipilih 
secara demokratis? Di beberapa dae­rah, pemerintah yang menja­lan­­kan 
demokrasi, tidak ber­hasil melindungi hak-hak beribadah sebagian rakyatnya. Di 
beberapa daerah, pemerintah yang menjalankan demo­krasi tidak berhasil 
menciptakan lapangan kerja, juga pendidikan yang berkualitas untuk rakyatnya. 
Bahkan, untuk meng­atur secara fisik daerah istimewa Jakarta dalam hal lalu 
lintas dan mengurangi bencana banjir, pemerintah yang menjalankan demokrasi 
masih jauh dari keberhasilan. Di situ vulgar terlihat, demokrasi masih berupa 
bungkus.


Bandingkan dengan Yogya yang (katanya) monarki. Saat bencana Merapi terjadi, 
rakyatnya bahu-membahu membantu. Ada beberapa rumah tangga yang secara spontan 
menyiapkan lima bungkus nasi; ada dukuh yang segera mengum­pul­kan baju layak 
pakai satu jam setelah letusan besar 30 Oktober 2010 terjadi; ada warga yang 
dengan inisiatif sendiri menyiramkan air ke kaca-kaca mobil yang tertutup abu 
merapi. 


Seorang pedagang kaki lima dan seorang pedagang angkringan dengan bangga 
mengungkapkan keunikan Yogya, yang menurut mereka memiliki solidaritas sosial 
yang kuat. "Ini, demikian mereka berkata, yang membuat sebagian besar korban 
Merapi mampu menghadapi bencana besar itu."


Lihat juga tata kota Yogya. Sepanjang jalan Solo dan jalan-jalan utama, 
terlihat pohon-pohon yang tertata rapi, terawat subur dan indah. Tidak salah 
kalau pemerintah daerah memasang tulisan: "Jalan raya adalah taman terpanjang." 
Yogya juga memiliki tata kelola air yang sejauh ini berhasil menghindarkan 
rakyatnya dari banjir. Walaupun jumlah kendaraan sangat banyak, tetapi Yogya 
relatif berhasil mengatasi kemacetan. Salah satunya, karena kedisiplinan polisi 
menegakkan aturan lalu lintas. 
Dari sisi ekonomi, barang-barang di Yogya relatif lebih murah di banding daerah 
lainnya. Tingkat korupsi pemerintah Yogya juga sangat rendah. Kerukunan 
antarkelompok masyarakat juga sangat terjaga. Orang dengan berbagai latar 
belakang suku dan agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di Yogyakarta. 
Situasi yang jarang kita temukan di daerah lainnya.
Indikator-indikator sederhana itu menunjukan, walau Yogya tidak demokratis, 
isinya relatif lebih dekat dengan arti demokrasi sesungguhnya, dibanding 
beberapa daerah yang menjalankan (bungkus) demokrasi. Jika arti demokrasi 
yaitu: pemerintah dipegang oleh rakyat dan untuk rakyat, maka silakan juga 
tanya warga Yogya. Sejauh ini rasa-rasanya, penetapan gubernur dalam diri Sri 
Sultan dan wakilnya adalah aspirasi mayoritas warga Yogya.

Bukan Hanya Prestasi  
Tentu, indikator-indikator tersebutbukan hanya karena prestasi Sri Sultan 
sebagai kepala daerah Yogyakarta. Menurut opini penulis, ini disebabkan 
pengaruh nilai dan budaya Yogya yang masih kuat dipegang rakyatnya. Nilai-nilai 
seperti harmoni, rasa malu yang positif, juga introspeksi diri saat menghadapi 
hal buruk, mendasari cara rakyat Yogya berpikir dan bertindak. Sri Sultan 
sejauh ini berhasil menjadi benteng nilai dan budaya yang ada, serta 
menjalankan kepemimpinan yang khas Yogya. Dia menjamin sekaligus juga 
dipengaruhi budaya tersebut saat menjalankan perannya sebagai raja. 


Tradisi kepemimpinan ke­rajaan ini juga bukan tanpa risiko negatif. Kekuasaan 
yang dilegitimasi dengan budaya, jika penguasanya tidak punya komitmen 
kerakyatan seperti yang sudah Sri Sultan tunjukan, bisa menghasilkan penindasan 
dan kesewenang-wenangan. Oleh karena itu, tradisi ini cepat akan lambat akan 
berhadapan dengan persoalan suksesi kepemimpinan. Hanya saja, karena budaya 
Yogya begitu kuat, siapa pun raja Yogya nantinya, sejauh nilai dan budaya 
Yogyakarta masih tetap terjaga, Yogyakarya akan tetap menjadi wilayah yang 
demo­kratis secara isi. Bahkan, Yogyakarta bisa menjadi model bagaimana sebuah 
tata kelola pemerintah yang (katanya) monarkis jauh lebih mampu menyejahterakan 
rakyatnya. 


Oleh karena itu, kontestasi mengenai bagaimana cara mendapatkan gubernur dan 
wakil gubernur Yogyakarta ke depan yang akan diatur dalam UUK Yogyakarta, 
rasanya kalah strategis dibanding meng­upayakan sebuah UUK Yogya yang menjamin 
lestarinya nilai dan budaya Yogya. Entah kepala daerah Yogya ditetapkan atau 
dipilih langsung, hendaklah kepala daerah tersebut tetap memiliki komitmen dan 
strategi untuk melestarikan budaya. Penulis malah khawatir, dengan demokrasi 
versi barat sekarang, nilai dan budaya itu lenyap karena digantikan oleh mereka 
yang pandai berjualan dan mengemas demokrasi.

Penulis adalah Rohaniwan Kristen, Graduate Student pada Centre for Religious 
and Cultural Studies (CRCS) UGM. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke