Refleksi : Untuk menutup tidak ketidakmampuannya, maka kedudukan Sultan untuk 
perhatian umum dialihkan dari masalah korban bencana gunung Merapi. Begitulah 
taktik Abunawas Bin Alibabanya.


http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Opini

      PENANGANAN BENCANA
      Respons Presiden Cepat, tapi Operasional Memble 

      Sabtu, 11 Desember 2010

      Realisasi janji manis pemerintah terhadap para korban bencana alam 
ternyata tak semulus yang dibayangkan. Pengungsi di Yogyakarta, misalnya, yang 
hewan ternaknya ikut menjadi korban keganasan wedhus gembel Gunung Merapi 
sampai kini masih harus menelan ludah. Mereka bahkan sempat melakukan aksi 
unjuk rasa berharap agar semua janji bisa segera direalisikan. 

      Ratusan warga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasa 
perlu berbondong-bondong mendatangi kantor pemkab setempat, untuk menagih janji 
itu. Namun, para pengungsi kecewa karena pemerintah berubah pikiran. Kalau 
semula, pemerintah akan membeli seluruh ternak termasuk yang mati; belakangan 
muncul informasi bahwa ternak yang mati tak jadi dibeli. 

      Di lain pihak, para pengungsi kebingungan, rencana mengganti ternak mati 
dengan ternak hidup bakal kian menambah penderitaan mereka. Karena, saat ini, 
mereka sudah tidak memiliki kandang lagi. 

      Keluhan yang sama juga disuarakan oleh para pengungsi korban tsunami di 
Mentawai, Sumbar. Mereka yang sempat dijanjikan mendapat rumah hunian 
sementara, akhirnya gigit jari karena rumah yang semakin dibutuhkan itu tak 
kunjung terwujud. Ungkapan serupa juga disampaikan pengungsi banjir Wasior. 
Mereka yang kehilangan rumah dan tempat usaha di perkebunan luas di wilayah 
Papua Barat, tak kunjung menerima uang biaya hidup yang telanjur dijanjikan. 

      Untuk mengetahui lebih jauh masalah tersebut, wartawan Suara Karya, 
Andira mewawancarai Guru Besar FISIP Universitas Airlangga (Unnair) Surabaya 
Prof Drs Kacung Marijan MA PhD di ruang kerjanya di Surabaya, Jumat (9/12). 

      Banyak ungkapan kekecewaan dialami para korban bencana alam terkait 
masalah ganti rugi. Bagaimana pendapat Bapak? 

      Bencana alam yang terjadi di kawasan sekitar Merapi, Mentawai dan Wasior 
memang sangat memprihatinkan karena menelan begitu banyak korban jiwa dan harta 
benda. Dalam kondisi seperti ini, memang diperlukan reaksi cepat dari 
pemerintah. Salah satunya adalah kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) ke lokasi pengungsian. 

      Itu hal positif yang memang harus dilakukan seorang kepala negara. Respon 
itu tentu saja bukan hanya sebatas mengunjungi. Di sini Presiden mempunyai 
komitmen untuk melakukan percepatan mengatasi masalah. Tapi, apa yang dilakukan 
Presiden itu lebih pada respon sesaat. Respons jangka pendek waktu itu, yang 
memang tepat dan harus dilakukan. 

      Tapi ternyata ada pihak yang mulai mempertanyakan janji pemerintah saat 
datang ke lokasi musibah! 

      Inilah masalahnya. Pemerintah memang telah memberi janji manis untuk para 
pengungsi. Namun, saat janji itu harus dioperasionalkan, ada banyak persoalan 
teknis yang membatasinya. Pertama, berkaitan dengan anggaran. Kedua, berkaitan 
dengan siapa yang melaksanakan itu. Ketiga tentang targetnya, siapa yang berhak 
mendapat santuan dan sebagainya. Persoalan teknis itulah yang tidaklah semudah 
janji yang dilontarkan. Intinya, mereka kecewa karena respon Presiden yang 
sudah cepat itu, tapi operasional teknisnya sangat lambat. Ini yang kemudian 
melahirkan persoalan di masyarakat. 

      Bukankah bencana sebetulnya sudah menjadi semacam 'agenda' rutin di Tanah 
Air kita? 

      Betul, negara kita kerap terkena bencana. Tapi, lagi-lagi, pengungsi 
harus mengalami kekecewaan besar, karena respons Presiden yang selalu besar 
dalam tiap bencana, tidak kunjung diiringi kecepatan dari segi operasional 
teknis. Ini terjadi karena manajemen dalam hal mengatasi bencana kita, masih 
belum bagus. Walau negara kita sudah terbiasa dengan bencana alam, tapi 
manajemen bencana alam masih buruk. Manajemen itu terutama yang berkaitan 
dengan teknis, standar operasional prosedur (SOP), siapa yang bertanggung jawab 
dan berapa besaran dana yang dibutuhkan. 

      Seberapa penting skenario itu di lapangan? 

      Kalkulasi dan skenario mengatasi bencana harusnya sudah muncul. Tapi, 
kita nggak punya itu. Misalnya, daerah semacam Wasior yang rawan bencana. 
Harusnya pemerintah sejak awal memetakan daerah mana saja yang potensi 
bencananya dikategorikan tinggi, sedang, atau kecil. Sehingga, mereka nantinya 
siap, manajemen seperti apa yang akan diterapkan kalau daerahnya seperti ini, 
langkahnya harus bagaimana dan sebagainya. Bukan hanya langkahnya harus seperti 
apa, tapi juga pemulihannya seperti apa, recoverasinya bagaimana. Kita kayaknya 
belum punya itu. 

      Bagaimana implikasinya di lapangan? 

      Harusnya, ketika Presiden janji A, semua bawahannya harus bisa segera 
mewujudkannya. Ini persoalannya, bukan hanya dana tapi siapa yang berhak, 
termasuk persoalan data juga. Di negara kita hal seperti ini belum cukup bagus 
sehingga janji Presiden akhirnya malah dipermasalahkan pengungsi. 

      Siapa saja yang seharusnya terlibat dalam setiap penanganan musibah di 
Tanah Air? 

      Banyak pihak yang harus dilibatkan. Mulai dari badan yang mengurusi 
bencana alam yang sudah ada, departemen teknis terkait, seperti Lementerian 
Sosial, untuk penyelamatan awal melibatkan Tim SAR, tentara, polisi, ormas, 
kelompok voluntir. Yang lain, yang sifatnya penanganan jangka agak panjang, 
juga melibatkan Kementerian Sosial, Kementerian PU dan sebagainya. Nah, ini 
juga harus dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 
Kita kayaknya belum siap ke arah sana. 

      Kalau masyarakat sekitar Merapi akhirnya memilih untuk berunjuk rasa, itu 
fenomena apa? 

      Masyarakat unjuk rasa, berarti sudah menganggap harapannya meleset. Wajar 
kalau kemudian ada unjuk rasa. Itu sah saja. Skenarionya harus cepat merumuskan 
janji Presiden. Harusnya menurut saya, ketika Presiden ngomong 'A', tim teknis 
meresponnya sesegera mungkin. Tak perlu sampai ada unjuk rasa, harus sudah 
diatasi. Kalau harus ada unjuk rasa dulu, baru diatasi, berarti pemerintahan 
sangat kurang siap. Entah di mana kurang siapnya, aspek data, uangnya atau 
institusi yang menanganinya. 

      Ada isu perubahan ganti rugi terhadap ternak mati yang awalnya akan 
dibeli, namun belakangan akan diganti dengan yang hidup. Bagaimana menurut 
Anda? 

      Ini aneh juga. Harusnya semua bawahan menuruti apa yang sudah disampaikan 
presiden. Tak perlu mempertanyakan hal lain. Omongan orang nomor satu harus 
dinyatakan. Memang akan ada persoalan terkait anggaran. Tapi, itu soal lain. 
Dugaan saya, dananya tak cukup. Pemerintah tidak membayangkan dananya bakal 
sebesar itu. Tapi, inilah fakta masyarakat sedang terkena musibah dan tugas 
negara membantu mengatasi masalah itu. 

      Haruskah Presiden berjanji kepada para pengungsi? 

      Dalam hal ini, kecepatan Presiden datang ke lokasi dengan janji manis 
untuk para pengungsi justru melahirkan kefrustasian. Karena, tidak diiringi 
kecepatan operasional dalam menindak-lanjuti kecepatan respon Presien tersebut. 
Presiden memang harus cepat, karena ini bencana. Pengungsi juga harus diberi 
semangat psikologis dan sebagainya. Tidak bisa, orang yang sudah 
hancur-hancuran begitu, petingginya bilang sebentar saya hitung dulu ada nggak 
anggarannya. Presiden memberi janji tak masalah. Yang bikin masalah justru 
operasionalnya ini. 

      Bagaimana caranya agar kekecewaan pengungsi tak lagi terulang? Bukan 
tidak mungkin, bencana berikutnya sudah mengintip kita! 

      Agar kasus macam itu tidak terulang lagi, lebih baik BNPB (Badan Nasional 
Penanggulangan Bencana) membuat skenario, melakukan pemetaan daerah mana yang 
rawan bencana, skenario dari penanganan sampai mengatasi ganti rugi atau 
melakukan pertolongan. Skenario juga butuh pembiayaan. Sehingga, ketika terjadi 
bencana Wasior, ada rumusan butuh anggaran berapa, apa yang harus dilakukan, 
anggarannya dari mana, action-nya seperti apa. Agar penanganannya bisa lebih 
cepat. 

      Apakah dalam menangani bencana harus berkaca pada negara lain? 

      Kita memang harus banyak belajar dari negara lain. Untuk gempa, misalnya, 
banyak pelajaran yang harusnya bisa kita petik dari Jepang. Manajemen bencana 
alam kita harusnya berkaca dari negara seperti itu. Memang ada problem kita, 
terutama yang terkait anggaran. 

      Bagaimana sebaiknya cara mengatasi keterbatasan anggaran seperti ini? 

      Mungkin perlu ada semacam dana khusus. Setiap tahun, misalnya, pemerintah 
mengalokasikan anggaran khusus yang berfungsi sebagai dana abadi. Walau ini 
tetap saja di bawah koordinasi kementerian keuangan. Dana khusus ini kalau tiap 
tahun dikumpulkan, kalau tak ada bencana akan ada akumulasi. Jadi, semacam dana 
pengaman untuk mengatasi bencana. 

      Bukankah terkait masalah pendanaan, selalu saja ada kekhawatiran bakal 
membuat peluang korupsi? 

      Tentu saja, nanti akuntabilitasnya harus besar, jangan sampai dikorup 
oknum yang ingin memperkaya diri sendiri dari kasus bencana. Saat ini memang 
banyak kasus dana untuk bencana justru dikorup oknum tertentu. Makanya 
akuntabilitasnya harus baik. Dengan cara seperti itu, janji semua ternak 
diganti, tak perlu dipertimbangkan lagi meski setelah dikalkulasi ternyata 
butuh dana terlalu besar. Dalam kasus Merapi, mungkin ada pertimbangan begitu, 
lalu tak kunjung ada realisasinya. Kalau ada dana khusus, tentu akan lebih 
mudah penyalurannya. Dana khusus itu nantinya disimpan di kas negara. 

      Apakah kasus kekecewaan para pengungsi bakal memengaruhi kepercayaan 
terhadap kubu SBY pada pemilu berikutnya? 

      Untungnya, kasus ini baru terjadi saat pemilu dimulai. Pemilu kan masih 
belum lama. Dukungan para pemilih memang ditentukan oleh banyaknya peristiwa. 
Contohnya pada era 2005 lalu, saat pemerintah menurunkan subsidi dan menaikkan 
BBM, waktu itu dukungan ke SBY langsung melorot termasuk ke Partai Demokrat. 

      Tapi, kemudian ada recovery yang membuat Demokrat dan Presiden SBY meraih 
kemenangam. Sekarang ini, pemilu baru berjalan setahun, kita akan melihat 
peristiwa lain di kemudian hari. Karena, perilaku memilih ditentukan banyak 
peristiwa, mulai dari politik, sosial hingga ekonomi. Kalau pemilunya sekarang, 
mereka tentu akan kecewa dengan perolehan suara yang akan didapat. Tapi, pemilu 
masih 4 tahun lagi, masih banyak peristiwa yang akan terjadi.***  

--------------------------------------------------------------------------
     






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke