http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=78880:pelajaran-hidup-dari-para-penulis&catid=78:umum&Itemid=131
Pelajaran Hidup dari Para Penulis
Oleh : Andryan, SH
Menulis adalah peradaban manusia yang tidak akan sirna hingga akhir
zaman. Banyak manusia yang ingin menjadi penulis meskipun itu bukanlah
cita-cita hidupnya. Berbagai motivator agar dapat menghasilkan para calon
penulis baru pun banyak
bermunculan dari masa ke masa. Dari berbagai pelatihan singkat, kursus,
hingga lewat buku motivator-motivator para penulis dituangkan untuk dapat
merangsang para calon penulis agar senantiasa mengimplementasikan ilmu yang
mereka terima dari sang motivator para penulis tersebut.
Meskipun banyak dari kita tidak dapat menulis dikarenakan tidak adanya
keinginan untuk melakukan pekerjaan menulis. Hal ini bisa dimaklumi melihat
tingkat kebutuhan akan membaca di masyarakat sangat rendah dan yang paling
banyak menghambat seorang untuk menjadi penulis adalah adanya pemahaman yang
keliru berkembang di masyarakat dan sangat sulit dihapuskan bahwa pekerjaan
menulis sangat erat kaitannya dengan bakat atau talenta yang dimiliki seseorang.
Sesungguhnya pekerjaan menulis dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa
memandang latar pekerjaan, pendidikan, gender, maupun status sosial seseorang.
Sebab, menjadi seorang penulis adalah mutlak berasal dari kemauan dan kerja
kerasnya agar dapat menghasilkan bacaan kepada khalayak ramai. Setidaknya,
walaupun sebagian masyarakat di sekitar kita belum tersalurkan kemauan
menuliskan, ada beberapa hikmah pelajaran yang sangat berharga untuk dipetik
dalam perjalanan hidup kita yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja
dari para penulis yang telah menerjunkan gagasannya ke dalam dunia pena.
Menulis adalah pekerjaan yang selalu memerlukan tingkat berpikir dan
kemudian menuangkan hasil pemikiran kita ke dalam secarik kertas atau mengetik
di hadapan monitor komputer. Lalu, apakah dengan berpikir para penulis tersebut
dapat merasakan hasilnya?. Tentu saja tidak, selain dengan terus-menerus
berpikir dalam menuangkan gagasannya, para penulis juga haruslah bekerja keras
apabila tulisan yang berbuah dari pemikirannya tersebut ingin dapat
dipublikasikan dan dibaca oleh khalayak ramai melalui media massa ataupun
buku-buku terbitan.
Banyaknya orang yang ingin dapat menulis, akan tetapi ia hanya selalu
berkhayal dan sesungguhnya malas dalam berpikir serta bekerja keras untuk terus
berkarya dalam menulis agar dapat dipublikasikan di media massa. Dengan
demikian pelajaran hidup yang dapat kita petik dari pekerjaan para penulis
yakni bahwa dalam menjalani aktivitas kehidupan, manusia senantiasa harus
dihadapi oleh berlika-liku batu sandungan dalam kehidupan. Oleh karenanya, kita
harus dapat selalu berpikir dengan proses pembelajaran dalam mencari solusi
atau mencari alternatif, serta inovasi agar dapat memudahkan kita dalam
menjalani rutinitas kehidupan.
Disamping dalam menjalani kehidupan ini harus selalu menggunakan dan
memaksimalkan pola pikir kita, para penulis juga mengajarkan akan makna dari
kerja keras. Sebab, apabila segala pola pikir kita tidak disertai dengan kerja
keras untuk terus berusaha mencapai tujuan, niscaya angan-angan kita dalam
mengarungi tujuan hidup akan tersendat di tengah jalan. Para penulis selalu
bekerja keras dengan mencapai angan-angannya tersebut, maka hal yang
sesungguhnya mustahil pun akan dapat kita capai dengan hanya bekerja keras.
Banyak para penulis kondang yang telah menghasilkan beberapa buah maha
karya dan dikenang dari masa ke masa memiliki perjalanan yang tentunya tidak
mudah dan lebih berliku-liku. Penulis buku laris luar negeri Harry Potter, JK
Rowling dan penulis dalam negeri melalui buku Tetralogi Laskar Pelangi, Andrea
Hirata adalah segelintir contoh para penulis yang pantang menyerah untuk terus
bekerja keras dalam mencapai tujuan hidup. Bahkan, kedua penulis sekaliber
dunia ini mendapati perlakuan yang tidak menyenangkan dari berpuluh-puluh
perusahaan penerbit yang dengan lantang menolak tulisannya untuk dapat
dipublikasikan dalam bentuk buku.
Dengan perjuangan kerja keras yang tiada henti, maka para penulis
tersebut pun diberi kesempatan dengan dipublikasikannya tulisan mereka.
Hasilnya, tentu saja sangat mengejutkan seantero dunia karena disamping telah
meroketkan namanya ke dalam popularitas tertinggi, juga melalui goresan
penanya, perusahaan penerbit seakan mendapatkan durian runtuh dengan memperoleh
label best seller atas bukunya tersebut.
Setidaknya apa yang para penulis perjuangkan dalam kisahnya tersebut
mengingatkan kepada kita akan arti kerja keras yang pantang menyerah. Kerja
keras untuk mencapai kehidupan yang layak, sejahtera, serta mencapai tujuan
hidup adalah langkah yang sangat nyata. Bahkan, oleh kerja keras 99 persen
dapat mengalahkan hanya 1 persen intelektual seorang Thomas Alfa Edison untuk
menemukan bola lampu modern.
Selain berpikir dan bekerja keras secara konstan dalam menjalani
kehidupan, para penulis seakan menghipnotis kita akan aktivitas dalam
menulisnya. Selain itu, ada lagi pelajaran hidup yang kita petik dari para
penulis yakni bersikap rendah hati. Sudah menjadi rahasia umum apabila
pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang sangat mulia. Disamping dapat
menyebarkan informasi yang sangat berharga dari masa ke masa, menulis juga
dapat membangkitkan motivasi serta semangat seseorang dalam menghadapi
persoalan-persoalan hidup dengan membaca tulisannya tersebut.
Menaikkan Status Sosial
Maka sudah barang tentu dengan menjadi penulis, seseorang dapat menaikkan
status sosialnya di masyarakat. Dengan demikian, kita pun lantas berpikir bahwa
para penulis akan bersikap arogan, sombong, serta menganggap dirinya lebih
tinggi kedudukannya di masyarakat, benarkah argumen tersebut? Tentu saja tidak,
sebab para penulis tentulah harus memiliki sikap tawadhu atau rendah hati.
Sikap ini harus dimiliki seorang penulis apabila ia ingin mempublikasikan
gagasannya di khalayak ramai.
Bukanlah hal yang mustahil apabila para penulis senior maupun penulis
junior kedudukannya sama. Yang membedakan keduanya yakni hasil karya tulisannya
yang layak terbit. Seandainya seseorang penulis menganggap dirinya mumpuni
dalam hal menulis, akan tetapi hasil karya tulisannya tidak mampu menembus
media cetak atau penerbit, maka ia pun akan kembali menyadarkan dirinya akan
sikap rendah hati karena masih banyak orang-orang yang lebih cerdas dan lebih
kaya gagasan dibanding dirinya untuk dapat mempublikasikan tulisannya.
Sikap rendah hati yang para penulis rasanya tersebut, tentunya juga
mempunyai petikan hikmah dalam kehidupan kita. Banyak disekitar kita yang
merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya dikarenakan mungkin dibekali oleh
kepintaran, kekayaan, kecantikan, ataupun ketenaran. Akan tetapi, apabila
seseorang tidak memiliki sikap rendah hati, cepat atau lambat apa yang telah
dimilikinya dan dibanggakannya tersebut akan segera sirna seiring dengan sikap
keangkuhan atau arogannya. Para penulis memberikan kita hikmah bagaimana sikap
rendah hati dapat membawanya ke puncak kesuksesan.
Lalu, pelajaran hidup yang sangat penting dan berharga untuk kita petik
dari aktivitas para penulis yakni bersikap sportif. Dalam melakukan kegiatan
menulis, sudah barang tentu kita juga terikat oleh moralitas dan etik dalam
menuangkan gagasan kita. Beberapa hal yang senantiasa harus ditegakkan dalam
menulis yakni menghindari sikap plagiator (penciplakan karya orang lain). Tentu
tindakan sportifitas dalam menulis adalah hal yang patut dijunjung tinggi oleh
para penulis. Menciplak karya tulis orang lain, mengirim tulisan kembar di
media cetak berbeda, serta beberapa tindakan lainnya yang hanya menjatuhkan dan
mencorengkan citranya sebagai penulis.
Menulis bukan hanya sekedar menuangkan gagasan ke khalayak ramai, mencari
popularitas lalu menerima honor, akan tetapi juga dengan menulis kita dilatih
untuk senantiasa bersikap sportif dan berbuat dengan kejujuran. Inilah bentuk
pelajaran hidup yang paling utama dari para penulis. Dengan melakukan tindakan
sportifitas yang diiringi dengan nilai kejujuran, maka kita pun dalam
mengarungi kehidupan ini tidak akan terbuai dengan perbuatan tercela dan kotor
karena sikap sportifitas dalam kehidupan akan mengawal kita menjadi pribadi
yang bersih dan menghargai karya orang lain.***
Penulis adalah Peminat Hukum, Politik dan Sosial. E-mail (
[email protected] )
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/