--- In [email protected], "ajeg" <ajegil...@...> wrote:
>
> 
> Kirain mau besaing sama Drupadi si Ny.Pandawa-5. 
> 


SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang 
panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang 
menolongnya. 

Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. 
Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa 
marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat 
berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan 
dadu. 

"Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, 
kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. 
Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau 
sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat 
ini? Apa hakmu, Kakakku?"

Yudhistira membisu. 

Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra 
yang-dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, 
malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi 
para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh 
Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. 

Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga 
dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu 
Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu…. 

Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra 
Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan 
berahi, menyeretnya pada rambut. 

"Budak!" seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. 
"Hayo, layani aku, budak!".  Suara tertawa—kasar dan aneh karena 
gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni tertawa. Duryudana tertawa. Karna 
tertawa. 

Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup 
amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik 
dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna 
menahannya. 

"Apa boleh buat, Bima", kata kesatria tengah Pandawa ini, "merekalah yang 
menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu, perjudian ini juga sejak 
mula tak ditolaknya".

"Baiklah, baiklah", sahut Bima. "Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah 
sumpahku" (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke 
segala penjuru). 

"Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara 
kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku" (dan suara 
Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), "lalu akan kuminum darahnya, 
KUMINUM!". 

Balairung seolah baru mendengarkan petir mengguntur. Beberapa bangsawan Kurawa 
mendeham mengejek, bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah 
telah jadi budak,tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu 
yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini. 

Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi? 

Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira 
itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung 
berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. 

Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh 
nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan 
akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap 
kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi 
seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar. 

Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan 
ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: 
persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah 
merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya 
dengan mata sedih tapi mulut tertutup. 

"Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa 
memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?" 

Kali ini Resi Bhisma yang termasyhur arif dan ikhlas itu menjawab, "Aku tak 
tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, 
bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau 
tanya Yudhistira sendiri". 

Tapi tak ada ucapan yang terdengar. 

Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan 
langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang 
judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang 
lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan 
antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.



=======



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke