Wuik! Dalem bener ini nyepiritualnya... 
Bahwa setiap segala-sesuatu punya 2 sisi berlawanan. 

Di kisah ini misalnya bukan cuma ada kekuatan, 
ada kelemahan, ada kelembutan, & ada kebrutalan. Tapi 
juga ada kelemahan sekaligus kekuatan & kelembutan 
sekaligus kebrutalan. 

Buat para lelanang ini peringatan untuk pinter-pinter 
kendaliin napsu. Dalam hal ini atas tahta (kekuasaan) 
dan harta (judi). 

Sebab nih ya, krempuan kalo dah marrrahh... bukan 
cuma bisa nenteng palu.. tapi jalani sumpah! 

Ati-ati.. 

Seperti si lembut Drupadi tea, tenang-tenang dia 
jalani sumpahnya: kramas kalem pake.. darah Dursasana. 

Padahal, si gagah perkasa Bima, cuma sampe bersumpah 
(minum darah Dursasana). 

Itu baru secuplik doang dari kisah Drupadi. Masih banyak 
lagi spiritualisme yang terkandung di lekuk-liku kisahnya. 

Salut buat pak haji! 

Ayo blubps, bawa palu... 


--- "rezameutia" <rezameu...@...> wrote:

> --- "ajeg" <ajegil...@...> wrote:
> 
> > Kirain mau besaing sama Drupadi si Ny.Pandawa-5. 
> > 
> 
> 
> SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada 
> rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua 
> mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya. 
> 
> Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. 
> Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan 
> gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang 
> berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan 
> pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. 
> 
> "Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, 
> karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi 
> budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang 
> pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang 
> menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? 
> Apa hakmu, Kakakku?"
> 
> Yudhistira membisu. 
> 
> Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda 
> Destarastra yang-dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, 
> dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah 
> menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus 
> hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai 
> milik penghabisan. 
> 
> Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah 
> tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai 
> orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang 
> terhormat itu…. 
> 
> Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting 
> putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh 
> kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. 
> 
> "Budak!" seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain 
> Drupadi. "Hayo, layani aku, budak!".  Suara tertawa—kasar dan aneh 
> karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni tertawa. 
> Duryudana tertawa. Karna tertawa. 
> 
> Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan 
> katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api 
> seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang 
> di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. 
> 
> "Apa boleh buat, Bima", kata kesatria tengah Pandawa ini, 
> "merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu, 
> perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya".
> 
> "Baiklah, baiklah", sahut Bima. "Jangan tegur aku lagi. Tapi 
> dengarlah sumpahku" (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya 
> hingga terdengar ke segala penjuru). 
> 
> "Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang 
> menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan 
> kuku-kuku tanganku" (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, 
> menggeletar), "lalu akan kuminum darahnya, KUMINUM!". 
> 
> Balairung seolah baru mendengarkan petir mengguntur. Beberapa 
> bangsawan Kurawa mendeham mengejek, bukankah ancaman Bima itu omong 
> kosong, karena ia secara sah telah jadi budak,tapi sebagian 
> tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas 
> telah terjadi di tempat terhormat ini. 
> 
> Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi? 
> 
> Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri 
> Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki 
> perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung 
> dan pasrah itu. 
> 
> Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu 
> meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di 
> kepala: di depannya, ia seakan akan menghadapi berlapis-lapis kain 
> yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut 
> oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah 
> tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar. 
> 
> Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu 
> yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu 
> hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini 
> wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan 
> tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi 
> mulut tertutup. 
> 
> "Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah 
> dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri 
> dan kemerdekaannya?" 
> 
> Kali ini Resi Bhisma yang termasyhur arif dan ikhlas itu menjawab, 
> "Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, 
> mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-
> kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri". 
> 
> Tapi tak ada ucapan yang terdengar. 
> 
> Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing 
> menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang 
> bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: 
> tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya 
> yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan 
> penaklukan, antara hamba dan tuan.
> 
> 
> 
> =======





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke