http://www.suarapembaruan.com/home/2010-terjadi-117-kasus-kekerasan-atas-nama-agama/2504

2010, Terjadi 117 Kasus Kekerasan Atas Nama Agama
Jumat, 7 Januari 2011 | 11:47



[JAKARTA] Sepanjang tahun 2010, telah terjadi sebanyak 117 kasus kekerasan 
dengan mengatasnamakan agama termasuk gangguan terhadap rumah ibadah. Kondisi 
tersebut cukup memprihatinkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Hal itu mendorong perwakilan dari para penganut agama di Tanah Air menggelar 
sebuah seminar untuk mengenang setahun wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman 
Wahid (Gus Dur) yang dinilai sebagai tokoh pruralisme di Indonesia.

"Kegiatan ini dimaksudkan untuk meneladani kiprah Gus Dur dalam kehidupan 
bergama, berbangsa dan bernegara. Kami ingin menatap masa depan Indonesia yang 
lebih baik dari sisi keharmonisan antaragama," ungkap Dr Eddie Kusuma MA, 
selaku penanggung jawab seminar bertajuk Melestarikan Semangat (spirit) Gus Dur 
dalam Kebangsaan dan Multikulturalisme, di Jakarta, Kamis (6/1).

Seminar yang akan digelar di Hotel Borobudur, Jakarta ini akan dibuka Menteri 
Agama Suryadharma Ali, dan dihadiri istri almarhum Gus Dur, Shinta Nuriyah 
Wahid beserta putrinya, mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno, Ketua Mahkamah 
Konstitusi Mahfud MD, Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta Ketua Umum Dewan 
Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siraj. 

Kehadiran mereka untuk memberi kesaksian mengenai Gus Dur semasa hidupnya yang 
dinilai sebagai tokoh dan guru bangsa yang menghargai pluralisme dan 
multikulturalisme dengan semangat kebangsaan yang tinggi. Para pembicara adalah 
pakar dan tokoh rohaniawan dari tujuh agama di Indonesia, Islam, Katolik, 
Kristen, Buddha, Hindu, Konghuchu dan Tao. Selain itu, akan hadir pembicara 
kunci yang juga merupakan sahabat Gus Dur, Master Chin Kung. 

Pendeta Buddha dari Tradisi Mahayana ini dikenal sebagai sahabat dekat Gus Dur. 
Keduanya kerap melanglang buana dan berbicara mengenai pentingnya keharmonisan 
dan kerukunan serta toleransi antarumat beragama.

Menurut Prof Dr HM Nur Kholis Setiawan dari Program Pascasarjana Universitas 
Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang terlibat di kepanitiaan seminar, 
diharapkan dari ajang ini para wakil tokoh agama akan turut berperan aktif 
memberikan penjelasan mengenai arti realitas multikultularisme kepada umatnya. 
"Diharapkan umat tidak gampang terprovokatif," ungkapnya. 

Gus Dur dikenal sebagai sosok yang mampu menjaga tali silaturahim dengan semua 
pihak tanpa memandang ras, agama atau golongan. Almarhum bukan hanya kiai yang 
hanya paham tentang ilmu agama, tetapi juga seorang yang rasional terhadap 
ilmu-ilmu sosial. 

Gus Dur juga  memiliki keberanian dalam mempertahankan apa yang dia yakini 
kebenarannya, meskipun harus berlawanan arus dengan banyak orang. Agama 
dipandang Gus Dur sebagai pemersatu ideologi nasional untuk Negara Kesatuan 
Republik Indonesia  dan bukan untuk mendirikan negara agama. "Karenanya ke 
depan kita berharap lahirnya Gus Dur-Gus Dur yang baru," ungkap Eddie. [L-9]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke