Refleksi : Bukan masalah aneh bin ajaib bagi tahanan berduit di NKRI melancong 
ke luar negeri, karena penguasa Indonesia bukan saja sahabat koruptor tetapi 
juga koruptor. Jadi segala hal bisa diurus asal ada fulus dan konco luas. Lihat 
saja kasus Akbar Tanjung, mantan  ketua DPR, sekalipun sudah dijatuhui hukuman 
penjara, tetapi masih bisa pergi ke luarnegeri. Tommy Soeharto saja bisa pulang 
weekend naik helikopter dari Nusakembangan.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=270042


   TAHANAN JALAN-JALAN
            Gayus Ngaku Pelesir ke Tiga Negara 

            Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, Kepala Divisi Humas Mabes 
Polri. 
            Sabtu, 8 Januari 2011


            JAKARTA (Suara Karya): Akhirnya Gayus Tambunan mengaku, dirinya 
keluar dari rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pada 24 September 
2010. Dia mengaku pelesiran ke Makau. Pekan berikutnya bahkan dia jalan-jalan 
ke Kuala Lumpur dan Singapura. 

            Pengakuan Gayus tersebut diungkapkan Kepala Divisi Humas Mabes 
Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jakarta, Jumat 
(7/1). 

            Menurut Anton, mantan pegawai Ditjen Pajak yang memiliki rekening 
miliaran rupiah itu mengaku ke Makau pada 24 September 2010 dan jalan-jalan ke 
Singapura pada 30 September 2010. 

            "Gayus diinterogasi, yang bersangkutan benar ke sana. Ke Makau 24 
September, yang ke Singapura itu rangkaian dengan Kuala Lumpur," kata dia. 

            Namun, apakah paspor atas nama Sony Laksono yang digunakan Gayus 
pelesiran itu dibuat sebelum atau sesudah Gayus ditahan di Mako Brimob, Anton 
belum bisa memastikan. Kata Anton, polisi masih menyelidiki waktu pembuatan 
paspor Gayus. 

            "Itu masih diselidiki, tentunya kita berharap penyidik nanti bisa 
cepat mengungkap itu semua," ujar Anton. 

            Ia menjelaskan, Gayus HP Tambunan memperoleh paspor atas nama Sony 
Laksono melalui jasa calo. "Gayus mengakui bahwa paspor yang dipergunakannya 
diperoleh dari calo," katanya. 

            Anton mengatakan, penyidik masih mendalami keluarnya paspor Gayus 
oleh jasa calo apakah ada kaitannya dengan pihak Imigrasi atau tidak. "Gayus 
mengakui menggunakan paspor tersebut ke Makau, Kuala Lumpur, dan Singapura 
bersama istrinya," katanya. 

            Polisi kini masih terus mengorek keterangan dari Gayus terkait 
pembuatan paspor, siapa calo atau orang yang dianggap membantu membuat KTP Sony 
Laksono, dan berapa uang yang dikeluarkan Gayus untuk si calo. 

            Menurut Kabag Penum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar, 
Gayus menggunakan nama Sony Laksono dalam kartu tanda penduduk (KTP) yang 
dibuat di sebuah rumah di Jakarta Pusat. 

            "KTP itu dibuat di sebuah rumah di Jakarta Pusat. Masih diselidiki, 
hasil interogasi, Gayus mengaku membuat KTP," kata Boy Rafli di Mabes Polri, 
Jakarta, kemarin. 

            Polisi, lanjut Boy, hingga kini belum menemukan lokasi rumah yang 
disebut Gayus itu. Dari pengakuan Gayus, kata Boy, rumah itu merupakan tempat 
usaha. Namun, polisi sudah memastikan bahwa Gayus saat membuat KTP dibantu oleh 
seseorang. "Kita sendiri belum menemukan (rumah). Apakah benar di sana 
lokasinya. Itu kan baru sebatas pengakuan, yang jelas dia dibantu seseorang 
untuk dibuatkan KTP palsu," kata Boy. Polisi juga mengaku belum tahu siapa 
orang yang membantu pembuatan KTP Gayus tersebut. 

            "Itu hal yang berbeda sepertinya. Tapi, kita mulai dari KTP dulu, 
dari situ kita lihat ke mana," ujar dia. 

            Boy Rafli juga mengungkapkan, pihak Mabes Polri berencana untuk 
memanggil Devina, penumpang pesawat yang mengungkap keberadaan Gayus ke media. 
Keterangan Devina diharapkan polisi bisa membantu mengungkap kasus ini. 

            "Sedang disiapkan dan diatur jadwalnya. Kita meminta kesediaan Ibu 
Devina untuk dapat dimintai keterangan," kata Boy menjelaskan. 

            Polri, lanjut Boy, siap memfasilitasi keamanan Devina dalam memberi 
keterangan. Polri meminta Devina menghubungi polisi bila merasa khawatir. 

            Sementara itu, catatan Kemenkum dan HAM tentang rute kepergian Sony 
Laksono masih tidak berubah. Sony "hanya" terbang di tiga negara, yaitu Makau 
pada 24 September, Kuala Lumpur 30 September, dan kembali dari Singapura pada 2 
Oktober 2010. 

            "Belum ada temuan negara lain, baru tiga negara itu," kata Kepala 
Humas Imigrasi Kemenkum dan HAM Maroloan J Baringbing pada wartawan di ruang 
kerjanya, Jumat. 

            Sementara itu, ihwal foto paspor Sony Laksono telah dilansir oleh 
Sekretaris Satgas PMH Denny Indrayana. Pihak Kemenkum dan HAM mengaku tidak 
tahu keberadaan fisik paspor Gayus tersebut. "Fisik paspor belum di tangan 
Imigrasi maupun tim Kemenkum dan HAM. Tapi datanya dipastikan palsu," ujar 
Baringbing. 

            Karena belum menyita paspor itu, tim Kemenkum tidak bisa memastikan 
apakah fisik paspor itu asli atau palsu. "Kami kesulitan mengambil paspor 
karena paspor itu berada di tangan pemiliknya. Cuma kan kita belum tahu 
pemiliknya siapa," kata Baringbing. 

            Kasus ini memang membingungkan. Sebab, meskipun data di paspor itu 
palsu, namun bisa menembus sistem Imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta. Padahal, 
paspor itu secara kasat mata penuh kejanggalan, seperti foto pemegang paspor 
mengenakan kacamata, hal yang menyalahi prosedur. 

            Secara terpisah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini 
belum mau mengambil sikap terkait pengusutan kasus Gayus Tambunan itu. 

            Indonesia Coruption Watch (ICW) menilai, KPK lebih memilih 
keharmonisan dengan institusi kepolisian mengingat dua lembaga ini pernah 
bertikai sewaktu kasus Cicak vs Buaya. 

            Wakil Koordinator ICW Emerson Juntho menyatakan, KPK juga terkesan 
menjaga nama baik Kapolri Jendral Timur Pradopo yang baru saja dilantik. "KPK 
tidak ingin merusak citra Kapolri baru, karena muncul stigma dari masyarakat 
kalau Kapolri telah gagal," kata dia. 

            KPK sendiri, seperti diakui Juru Bicaranya, Johan Budi SP, mendapat 
beberapa data penting dari Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan 
(PPATK) saat pertemuan pimpinan kedua lembaga itu, Kamis lalu. 

            Data itu, menurut Johan, di antaranya merupakan data-data yang 
dapat digunakan KPK untuk menelusuri sosok pemberi suap Gayus Tambunan. 

            Menurut Johan Budi, KPK memang tengah menelusuri bagian potongan 
kasus suap Gayus yang belum tersentuh kepolisian, yaitu siapa pemberi suap ke 
Gayus sebagai penyelenggara negara. (Hanif S/Jimmy Radjah/Nefan Kristiono)  
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke