Refleksi : Prinsipnya jauh di mata jauh di hati, karena tidak menguntungkan 
kantong penguasa.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=269914

   Mempercantik Halaman Depan Indonesia
            Oleh Prakoso Bhairawa Putera 

            Jumat, 7 Januari 2011

            Membaca sebuah harian lokal di Bandung, baru-baru ini mengangkat 
tulisan "Bukan Pulau Terluar, Tetapi Halaman Depan" semakin menegaskan adanya 
cara pandang yang keliru selama ini dalam melihat keberadaan pulau-pulau 
terluar yang tersebar di sekeliling perairan batas laut Indonesia. Bahkan, saya 
sepakat dengan Aat Suratin bahwa dalam nomenklatur pemerintah pun, pulau-pulau 
di garis depan Nusantara ditulis sebagai 'pulau-pulau kecil terluar'. 

            Istilah semacam ini justru membuat citra yang tidak menguntungkan 
bagi pulau-pulau tersebut, terlebih bagi para penduduknya yang notabene masih 
saudara sebangsa dan se-Tanah Air (Indonesia). Seharusnya dan tidak ada pilihan 
lain untuk mulai mengubah cara pandang dan cara pikir bahwa pulau terluar 
adalah pekarangan depan rumah kita. 

            Layaknya halaman depan rumah, maka kita tentulah sebagai pemilik 
berusaha untuk mempercantik pekarangan dengan taman, memberikan ornamen-ornamen 
yang mencirikan penghuninya, dan tentulah kita akan mengusahakan agar 
pekarangan depan tetap terjaga dan dipelihara sepanjang waktu. Jika pulau-pulau 
terluar yang selama ini terasingkan dari penghuninya (Indonesia), wajar jika 
penduduk lokal pulau mencari kenyamanan kepada tetangga. 

            Harmen Batubara (2006) mengungkapkan isu yang acapkali muncul dari 
pulau-pulau terluar, yaitu keterbatasan sarana prasarana dan rendahnya akses 
untuk memperoleh hak layaknya penduduk lain di pulau-pulau besar, seperti Jawa 
atau pun Sumatera. Dengan terbatasnya akses transportasi, sanitasi yang layak, 
penerangan dan informasi komunikasi, menjadikan masyarakat harus rela hidup 
dengan kondisi keterbatasan, termasuk juga dalam tingkat kesejahteraan hidup. 

            Akibatnya, agar tetap dapat bertahan hidup, maka ramai-ramai 
menyeberang ke negara tetangga menjadi pilihan. Jika sudah seperti ini, mau 
tidak mau, suka tidak suka, ada rasa ketergantungan yang besar terhadap 
tetangga. Menyeberang ke negara tetangga pun terus-menerus berlangsung sehingga 
saudara-saudara kita lebih mengenal lagu kebangsaan negara tetangga ketimbang 
lagu Indonesia Raya. Mereka pun tidak sadar jika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
adalah presiden mereka. 

            Kondisi semacam ini memang butuh penyadaran secara bersama. 
Artinya, tidak hanya menyadari akan keberadaan pulau-pulau terluar menjadi 
sangat penting sebagai tapal batas wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik 
Indonesia). Lebih dari itu adalah penyadaran pada tiap diri elemen bangsa bahwa 
ada penafsiran yang keliru dalam melihat problematik pulau-pulau terluar, dan 
itu dimulai dari cara pandang. 

            Reorientasi menjadikan pulau terluar sebagai 'halaman depan' adalah 
pilihan tepat dan harus segera menjadi 'senjata' dalam menggerakkan seluruh 
potensi dan sumber daya yang dimiliki bangsa ini. Pemerintah pun perlu mulai 
aktif mempercantik pekarangan depan 'rumah' kita sendiri. 

            Menempatkan sarana dan prasarana dasar seperti sanitasi, listrik, 
transporasi, dan distribusi kebutuhan pokok menjadi prioritas utama. Hal inilah 
yang selama bertahun-tahun berganti generasi, diperoleh saudara-saudara kita di 
pulau terluar dari para tetangga yang tentu sangat senang menerima kedatangan 
saudara kita. 

            Keberpihakan terhadap nasib saudara di 'halaman depan' bukan 
sekadar jargon politik penarik suara ketika pemilihan umum, tetapi merupakan 
kewajiban untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik 
Indonesia (NKRI) yang semakin hari rawan ancaman 'pencaplokan' oleh negara 
tetangga. 

            Setelah pemenuhan hak-hak dasar terselenggarakan, mulai merawat 
pekarangan dengan mainstreaming pembangunan yang berpegang pada dual economics, 
nilai-nilai demokrasi lokal, dan revitalisasi dan rekonstruksi kelembagaan. 
(Muhamad Karim, 2009) Dual economics dipadang sebagai sebuah pendekatan yang 
tidak hanya berorientasi pada kelautan/perikanan tetapi juga memperhatikan 
potensi agraris juga. 

            Teori ini dipopulerkan oleh Boeke dan Ferroux yang menegaskan 
adanya penyertaan kegiatan pertanian dalam pengembangan wilayah berbasis 
kelautan/perikanan. Masyarakat Pulau Enggano telah mengenal tradisi ini, yaitu 
dengan menjadi nelayan dan mengelola perkebunan lada. Praktik khas tersebut 
sebenarnya telah sejak lama berada dalam masyarakat lokal yang dikenal dengan 
kearifan lokal. 

            Berpijak pada pengetahuan masyarakat setempat dalam pengelolaan 
wilayah dan sumber daya yang dimiliki, dalam pembangunan nilai-nilai demokrasi 
lokal harus juga mengacu pada pendekatan tersebut. Dekontruksi dan rekontruksi 
nilai-nilai tradisional dan budaya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan. 
Kuatnya nilai keterbukaan (outword looking), egalitarian, kejujuran dan 
keberanian menjadi modal sosial dalam pengembangan pembangunan di 'pekarangan' 
rumah. 

            Penegakan rasa persamaan hak sebagai bagian dari bangsa dan 
keadilan sebagai penduduk di wilayah negara Republik Indonesia, serta pemenuhan 
rasa dan hak menjadi penting. Semua itu untuk penyadaran dan sikap bagian dalam 
diri saudara-saudara kita di 'halaman depan' sebagai jiwa 'Merah Putih'. Tak 
ada anak tiri atau terbelakang dalam pengembangan dan pembangunan di NKRI ini, 
jika komitmen dan cara pandang menjadi acuan yang benar dan tidak atas 
kepentingan sekelompok saja. Penghormatan dan perlindungan terhadap hak dasar 
dan hak masyarakat lokal dari intervensi pemilik modal, menjadi perhatian 
serius dalam mempercantik pekarangan depan. *** 

            Penulis adalah Peneliti Muda bidang Kebijakan dan
            Administrasi LIPI, peserta Program Beasiswa Pascasarjana Ristek 
2010. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke