Refleksi : Salah satu unsur utama bagi rakyat Sudan Selatan mau memisahkan diri 
dan mendirikan negara  sendiri ialah karena ketidakadilan yang mereka peroleh 
dan diskriminasi. Hasil kekayaan alam dikirim ke pusat negara Kartoum.  Gejala 
ketidakadilan dsb di Sudan juga  sudah bukan asing lagi rahasia  bagi rakyat di 
berbagai wilayah dalam kekuasaan rezim NKRI.


http://www.suarapembaruan.com/home/menanti-nama-sebuah-negara-di-sudan-selatan/2601

Menanti Nama Sebuah Negara di Sudan Selatan
Selasa, 11 Januari 2011 | 15:55



[JUBA] Selasa (11/1) ini adalah hari ketiga rakyat Sudan Selatan memberikan 
suara dalam referendum yang menghantar wilayah itu menjadi sebuah negara 
terbaru di dunia di Sudan Selatan yang memisahkan diri dari Sudan Utara.

Tetapi masih ada soal yang tersisa menuju negara baru tersebut, yaitu soal nama 
negara. Apakah nama negara baru itu nanti? Apakah Cush, Republik Nil, Sudan 
Selatan Baru atau Sudan Selatan Lama? Belum ada satu pun dari nama-nama itu 
yang disepakati. Meskipun benderanya sudah siap dan lagu kebangsaan sudah 
diciptakan.

Persoalan belum ada nama negara yang disepakati adalah bagian dari masalah 
idelogis di wilayah itu. Pasalnya para pemimpin kelompok pemberontak yang 
menandatangani kesepakatan damai dengan Pemerintah Khartoum pada 2005 berbeda 
dari para pemimpin Sudan Selatan yang mendorong referendum menuju kemerdekaan 
saat ini.

Pemimpin pemberontak karismatis Sudan Selatan John Garang yang hampir seluruh 
hidupnya berjuang untuk Sudan Selatan tidak pernah berjuang untuk memisahkan 
diri dari Sudan Utara dan membentuk negara baru. Dia hanya berjuang untuk 
sebuah Sudan yang baru, Sudan yang multi etnis dan Sudan yang sekuler. Tapi 
sayang John Garang meninggal dalam sebuah kecelakaan helikopter yang misterius 
pasca penandatanganan kesepakatan damai 2005 itu.

Sampai sekarang gerakan yang dipimpin John Garang itu pun disebut Gerakan 
Pembebasan Masyarakat Sudan atau Sudan Peoples's Liberation Movement (SPLM) dan 
bekas sayap militernya kini menjadi tentara Sudan Selatan atau yang disebut 
Tentara Pembebasan Masyarakat Sudan (the Sudan People's Liberation Army).

Sejumlah Nama
Sejumlah nama yang diusulkan sejumlah kelompok mulai mengemuka seiring dengan 
refendum Sudan Selatan tersebut. Ada yang mengusulkan nama negara baru itu 
nanti adalah Sudan Baru. Nama ini sudah menggema di antara orang-orang tua. 
Bahkan selama perang sipil 1983-2005, semua toko dan institusi-institusi 
lainnya di wilayah kelompok pemberontak, mulai dari toko-toko roti sampai 
tempat-tempat cuci pakaian menyebut Sudan Baru. Dengan nama itu dimaksudkan 
tidak menyingkirkan John Garang dan idiologinya.

Sementara Riek Machar, yang kini menjadi Wakil Presiden transisi daerah 
pemerintah daerah otonom, pada 1990-an membentuk Gerakan Kemerdekaan Sudan 
Selatan atau South Sudah Independence Movement. Tetapi kelompok ini juga ikut 
dalam negosiasi damai bersama SPLM pimpinan John Garang pada 2005. Kini dia 
memimpin pemungutan suara dalam referendum minggu ini.

Sedangkan kelompok lain mengusulkan Nama Nil Putih atau White Nile untuk nama 
negara baru itu nanti. Pasalnya Sungai Nil menjadi jalur transportasi, menjadi 
sumber kehidupan dan menjadi tempat yang membersihkan. Selain itu, Sungai Nil 
jugalah yang menghubungkan negara-negara yang dilewati sungai itu sejak dari 
Mesir. Tetapi seorang editor sebuah koran setempat mengusulkan nama negara itu 
Republik Nil.

"Hampir semua komunitas kami berada di sepanjang Sungai Nil dan secara historis 
hubungan kami dengan negara tetangga tersambung melalui Sungai Nil," kata 
editor koran setempat, Nhial Bol, di Juba. Juba adalah sendiri yang menjadi 
ibukota Sudan Selatan saat ini berada di tepi Sungai Nil.

Sementara warga di wilayah mayoritas Kristen yang juga ikut berjuang selama 
lima dekade dalam konflik dengan kelompok muslim di Sudan Utara mengusulkan 
nama baru untuk Sudan Selatan dengan mengacu pada Kitab Suci. Sebuah kelompok 
Kristen sudah mengkampanyekan nama Cush sebagaimana disebut dalam Kitab Suci 
untuk wilayah yang membentang dari Afrika Timur Laut sampai ke Mesir Selatan.

Nama ini juga disebut dalam lagu kebangsaan yang sudah dibuat enam bulan lalu 
oleh SPLM yang mengacu pada nama The Land of Cush atau Tanah Cush.

Tetapi Menteri Kebudayaan Pemerintahan Regional Sudan Selatan, Gabriel Changson 
Chang menegaskan, berbagai usulan soal nama baru negara itu harus melewatinya 
dan nama itu sampai saat ini masih tetap sama, paling tidak sampai sekarang. 
"Cush tidak memiliki hubungan langsung dengan Sudan Selatan," kata Chang yang 
adalah oposisi SPLM.

Dia menambahkan, "Namanya masih Sudan Selatan sampai kita berpikir mengubahnya."

Kalau pemilihan minggu ini bermuara pada pembentukan sebuah negara dan mendapat 
pengakuan dari dunia internasional pada Juli mendatang, maka rakyat Sudan 
Selatan akan mengadakan referendum kembali untuk menentukan nama negara baru 
itu. [AFP/A-21]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke