Refleksi : Soeharto  tukang bohong, maka tentunya saja penerusnya pun tidak 
akan berbeda jauh. Negara yang pemimpimnya tukang bohong membebankan malapetaka 
kehidupan bagi rakyat.


http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=270245

KEBOHONGAN PRESIDEN
SBY Harus Sadar, Hentikan Pencitraan 

Adhie Massardi, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB). 
Rabu, 12 Januari 2011


JAKARTA (Suara Karya): Seruan bahkan kecaman yang disuarakan sejumlah tokoh 
lintas agama di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (10/1), seharusnya bisa 
menyadarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk segera menghentikan 
politik pencitraan dan melakukan tindakan konkret mengatasi berbagai problem 
bangsa dan negara. 

Tudingan bahwa Presiden SBY melakukan sembilan kebohongan harus dicermati agar 
tidak merusak kredibilitas dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan ini. 

Peringatan itu disampaikan Sekretaris Eksekutif Komisi Hak KWI Romo Benny 
Susetyo dan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi di 
Jakarta, Selasa (11/1). 

Romo Benny mengingatkan, Presiden SBY harus bertindak secara nyata dan jangan 
hanya beretorika untuk menyelamatkan republik ini, padahal negara sedang menuju 
kehancuran. 

"Mengapa Presiden SBY harus melakukan kebohongan kepada rakyatnya, padahal 
Presiden SBY sebenarnya memiliki kemampuan untuk tidak berbohong dan mewujudkan 
keinginan rakyatnya? Kebohongan ini sengaja diciptakan karena Presiden SBY 
tidak berani bertindak untuk lebih baik," ujarnya. 

Menurut dia, sangat wajar kalau sejumlah tokoh masyarakat termasuk tokoh lintas 
agama menyuarakan keprihatinan atas ketidaktegasan Presiden SBY, bahkan 
cenderung melakukan kebohongan publik untuk menutup faka-fakta yang sebenarnya. 

"Karena kerap melakukan pencitraan, akhirnya Presiden SBY dituding melakukan 
kebohongan kepada masyarakatnya. Kalau memang SBY serius mau memberantas 
korupsi, intervensilah lembaga dan aparat pejabat penegak hukum yang tidak 
serius bekerja. Jangan hanya cuma menginstruksi di depan televisi, tapi publik 
melihat tidak ada yang dikerjakan aparat penegak hukum di lapangan," ujarnya. 

Kalau memang Presiden mau melakukan perbaikan dan bertindak menyelamatkan 
bangsa dan negara, sebenarnya dia bisa bertindak. "Pecat saja menteri atau 
pejabat pemerintah yang tidak sependapat dengannya atau yang mengganggu kinerja 
dalam perbaikan masa depan bangsa," katanya. 

Romo Benny juga meminta Presiden jangan hanya membuat rapat kerja-rapat kerja, 
tetapi tidak pernah ada hasilnya. Lebih baik Presiden kembali ke konstitusi, 
yaitu melakukan penegakan hukum, perbaikan ekonomi dan tindakan riil lainnya 
yang memang dibutuhkan rakyat Indonesia. 

"Presiden harus berani bertindak secara nyata. Jangan setengah-setengah atau 
menggantung seperti saat ini karena akan makin menimbulkan antipati dari 
masyarakat," katanya. 

Adhie Massardi juga meminta Presiden menghentikan politik pencitraan. Sudah 
selayaknya pemerintah mengganti jargon pencitraan mereka dengan aksi nyata. 
Masyarakat tidak butuh lagi dengan pertunjukan-pertunjukan yang mengarah kepada 
pencitraan politik. 

"Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah sebuah langkah nyata, sebuah aksi 
atas berbagai masalah yang memang sedang dihadapi masyarakat," katanya. 

Perbaikan ekonomi ini tidak bisa dilakukan hanya dengan pencitraan, tetapi 
bagaimana caranya agar harga sembako lebih murah dan terjangkau masyarakat. 
"Pemerintah harus melihat kenyataan bahwa rakyat makin miskin," katanya. 

Sementara itu, sebelas tokoh masyarakat mendeklarasikan berdirinya Gerakan 
Integritas Nasional (GIN) yang dilatarbelakangi oleh adanya masalah besar yang 
dihadapi bangsa Indonesia saat ini, seperti rendahnya tingkat integritas 
nasional, terutama di kalangan pejabat publik. 

Sebelas tokoh masyarakat tersebut yakni Ahmad Syafii Maarif, Salahuddin Wahid 
(Gus Solah), Natan Setiabudi (mantan Ketua PGI), Bambang Ismawan, Putut 
Prabantoro, Kasturi Sukiadi, Parni Hadi, Wisjnubroto, Thresia Kristianty, 
Sudrajad, dan Teguh Santosa. 

Ketua GIN Salahuddin Wahid mengatakan, rendahnya integritas bangsa pejabat 
publik terlihat dari banyaknya kasus politik uang saat pilkada dan kepala 
daerah yang tersandung kasus korupsi. 

"Bahkan, ada kepala daerah yang menjadi terdakwa bisa dilantik dan melantik 
pula. Integritas bangsa sudah tidak jelas," katanya. (Joko S

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke