http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/12/194979/70/13/Kritik-Keras-Tokoh-Agama



Kritik Keras Tokoh Agama 
Rabu, 12 Januari 2011 00:01 WIB      

KRITIK datang silih berganti ditujukan kepada pemerintahan Presiden Yudhoyono. 
Bahkan, pada hari yang sama, Senin (10/1), kritik keras dilontarkan dua 
kalangan yang berbeda. 

Yang pertama berasal dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Ia 
menilai negara gagal meletakkan fondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan 
rakyat dan keadilan sosial. Sumber kegagalan itu ialah pemimpin yang hanya 
mementingkan pembangunan citra. 

Kritik dari partai oposisi tentu perkara yang lazim. Sepatutnya partai oposisi 
setiap awal tahun, terlebih di hari ulang tahun partai, menyampaikan evaluasi 
yang tajam kepada yang berkuasa. 

Yang extraordinary ialah bila pemuka lintas agama juga menyampaikan kritik, 
bahkan lebih keras dan lebih pedas. 

Dan itulah yang terjadi. Sembilan pemuka agama, terdiri dari Syafii Maarif, 
Andreas A Yewangoe, Din Syamsuddin, Uskup D Situmorang, Biksu Pannyavaro, 
Salahuddin Wahid, I Nyoman Udayana Sangging, Franz Magnis Suseno, dan Romo 
Benny Susetyo, menganggap pemerintahan Presiden Yudhoyono telah gagal mengemban 
amanah rakyat. Sudah terlalu banyak kebohongan yang dilakukan pemerintah atas 
nama rakyat. 

Lebih dari itu, para pemuka agama itu berjanji mengajak umat mereka untuk 
memerangi kebohongan yang dilakukan pemerintahan Presiden Yudhoyono. 

Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif bahkan mengingatkan pemerintah, 
mulai presiden hingga kepala desa, untuk membuka telinga lebar-lebar. 
"Telinganya harus dibuka untuk mendengar aspirasi rakyat. Jangan ditutupi 
telinganya." 

Pemuka agama meminta pemerintah membuka telinga, jelas, seruan yang sangat 
tajam. Ini menunjukkan pemerintah, yang dipilih rakyat itu, sudah tidak peduli 
dengan suara rakyat. Membuka telinga saja enggan, apalagi mengubah kebijakan 
yang keliru. Dari perspektif itu, tidaklah mengherankan bila tingkat kepuasan 
publik terhadap Yudhoyono terus merosot sejak Juli 2009. 

Menyebut pemerintah berbohong, jelas, penilaian yang sangat negatif. Sebab itu 
menyangkut legitimasi moral yang mendalam. Bukankah siapa pun yang berbohong 
tak pantas dipercaya? 

Terlebih, karena yang tidak percaya itu adalah para pemuka agama, yang 
menyandarkan diri pada nilai-nilai yang dipertanggungjawabkan terutama secara 
vertikal, yaitu kepada Sang Khalik. 

Suara mereka jelas suara yang bersih dari kepentingan sempit. Suara mereka 
bukan suara oposisi yang memang selayaknya menekankan segi-segi kegagalan yang 
berkuasa. Oleh karena itu, sesungguhnya tiada alasan bagi Presiden Yudhoyono 
untuk tidak mengindahkannya. 

Pertanyaannya, apakah kritik itu didengarkan? Apakah pemerintahan Presiden 
Yudhoyono membuka telinga? 

Tak mudah untuk jujur. Lebih mudah memproduksi kebohongan demi kebohongan untuk 
menutupi kegagalan. Padahal, honesty is the best policy. Termasuk, jujur untuk 
mengakui gagal...


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke