Refleksi : Tentu saja impor lebih mudah dan lebih menguntungkan bagi rezim 
pengusaha komparador dari pada produksi dalam negeri. Tak banyak resiko tinggal 
teken kontrak dan terima fulus komisi.  


http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=22573

      Kamis, 13 Januari 2011 
     

      EKONOMI & BISNIS 
     
     
     

Pemerintah Lebih Suka Impor Daging Ketimbang Genjot Produksi 



      JAKARTA (LampostOnline) - Pemerintah dinilai lebih suka ambil jalan 
pintas lewat impor ketimbang meningkatkan produksi dalam negeri. Hal ini juga 
terjadi untuk komoditas daging sapi yang masih diimpor.

      Ketua Bidang Peternakan Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Nyoman 
Suparta mengatakan, pemerintah belum serius untuk melangkah menuju swasembada 
daging di 2014.

      Berdasarkan evalusasi kinerja Kementerian Pertanian di 2010, produksi 
daging sapi dan kerbau mencapai 0,45 juta ton atau meningkat 13,3 % dibanding 
2009. Sedangkan di 2011, ditargetkan sebesar 0,439 juta ton atau mengalami 
penurunan.

      "Kita punya lahan yang luas, masyarakat (SDM) juga banyak. Kita harus 
memproduksi daging sapi sebesar yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, 
berdasarkan data yang saya peroleh, di 2010 pemerintah mengimpor sapi 600 ekor 
dan 200 ribu ton daging sapi. Hal ini sangat kontadiktif untuk meningkatkan 
pendapatan petani," ungkapnya di kantor HKTI, Ragunan, Jakarta, Kamis 
(13/1/2011). 

      Ia juga menambahkan banyak keluhan dari petani di daerah yang mengaku 
kesulitan untuk menjual sapinya ke pasar, dan juga harga sapi yang relatif 
rendah. Harga rendah tersebut dikarenakan adanya permainan harga di tingkat 
pedagang.

      "Permainan harga selain di tingkat pedagang juga di tingkat pemotong. 
Pemotong sapi di Jakarta sering tidak konsisten dalam pembayaran sapi yang 
sudah dipotong atau sering terlambat membayar. Akibatnya pedagang yang merasa 
tidak mendapat harga yang pantas akan menekan peternak," imbuh Nyoman.

      Diungkapkan pula dengan adanya disparitas harga tersebut akan menyebabkan 
peternak semakin terpuruk. Nyoman memberikan contoh ia pernah menemukan kasus 
disparitas harga sebesar Rp 12 ribu per kg, dengan rincian harga daging sapi di 
tingkat peternak adalah Rp 18 ribu per kg, sedangkan di tingkat pedagang adalah 
Rp 30 ribu per kg.

      "Hal-hal semacam ini yang justru membuat peternak tidak untung," 
pungkasnya.

      Untuk menuju swasembada daging pada 2014 nanti, dilakukan upaya-upaya 
khusus untuk meningkatkan produksi daging, di antaranya adalah melalui 
penyelamatan sapi betina produktif, peningkatan Inseminasi Buatan (IB), 
pemberian pakan yang bermutu, serta penanganan penyakit hewan. (DETIK/L3)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke