Refleksi : Rakyat biasa senang kenaikan tarif listrik, karena hanya pengusaha 
yang ribut?.


http://us.detikfinance.com/read/2011/01/15/153339/1547240/1036/sofjan-wanandi-naikkan-tarif-listrik-pln-cuma-mau-ambil-gampang?f9911023


Sabtu, 15/01/2011 15:33 WIB

Sofjan Wanandi: Naikkan Tarif Listrik, PLN Cuma Mau Ambil Gampang  
Wahyu Daniel - detikFinance 

  

Foto: Setpres 
Jakarta - Pengusaha menganggap PLN hanya ingin mengambil jalan mudah menutupi 
tingginya biaya listrik lewat kenaikan tarif listrik, seperti yang dialami 
industri saat ini akibat dilepasnya capping (batas) tarif listrik golongan 
industri.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, 
seharusnya PLN bekerja keras untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan 
bakarnya sehingga biaya produksi listrik menjadi berkurang. Jangan masyarakat 
dan pengusaha yang dijadikan 'korban'.

"PLN jangan ambil gampang dengan menaikkan tarif listrik doang. Tapi juga harus 
lebh efisien menggantikan bahan bakarnya yang sekarang masih banyak menggunakan 
minyak yang harganya mahal. Coba kita lihat, proyek pembangkit listrik batubara 
10 ribu MW tidak jadi-jadi," ujar Sofjan kepada detikFinance, Sabtu (15/1/2011).

Sofjan mengatakan, pemerintah juga harus tanggung jawab membantu sehingga PLN 
bisa lebih efisien melalui suplai bahan bakar alternatif yaitu gas dan batubara 
yang lancar.

"Pelepasan capping ini adalah kesalah yang dibuat PLN tanpa izin DPR. PLN ini 
kan monopoli jadi jangan seenaknya. Dia kan perusahaan milik negara," kata 
Sofjan.

Menanggapi pernyataan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan yang menyatakan pengusaha 
manja karena meributkan soal tarif listrik ini, Sofjan tak mau berkomentar dan 
memperkeruh situasi.

"Dia (Dahlan) juga pengalaman jadi pengusaha. Jadi jangan karena dia Dirut PLN 
semua jadi naik dong. Ini memang bukan kesalahan Pak Dahlan, pemerintah juga 
harus ikut tanggung jawa, karena sekarang harga BBM mahal sehingga ongkos 
produksi listrik naik," kata Sofjan.

Sofjan mengatakan alasan pengusaha merasa tertekan dengan naiknya tagihan 
listrik ini adalah karena pengusaha harus menjaga daya saing mereka dalam 
menghadapi pasar bebas atau FTA (free trade area).

Seperti diketahui Juli 2010 lalu pelaku industri dan bisnis mendapat kebijakan 
kenaikan TDL dengan pola capping maksimal 18%. Kemudian pada periode 1 Oktober 
2010 pelanggan listrik bisnis seperti mal, hotel, perkantoran telah lebih 
dahulu dicabut batas kenaikan capping 18% sementara untuk pelanggan industri 
tetap memakai pola capping.

Namun per Januari 2011, tidak capping sehingga terjadi kenaikan TDL industri di 
atas 18% atau tepatnya sekitar 20-30%.

++++
http://us.detikfinance.com/read/2011/01/15/144258/1547147/1036/dahlan-iskan-yang-ribut-soal-tarif-listrik-hanya-pengusaha-manja

Sabtu, 15/01/2011 14:42 WIB

Dahlan Iskan: Yang Ribut Soal Tarif Listrik Hanya Pengusaha Manja  
Wahyu Daniel - detikFinance 

  

Foto: PLN 

Jakarta - Direktur PT PLN (Persero) Dahlan Iskan mengungkapkan kekesalannya 
terhadap beberapa pengusaha besar yang ribut soal kenaikan tarif listrik 
industri akibat pelepasan capping (batas) tarif listrik industri oleh PLN.

"Saya melihat beberapa pengusaha besar yang menentang dicabutnya capping TDL 
(tarif dasar listrik) industri ini sudah terlalu manja dan tidak menggunakan 
akal sehat. Mereka mau hanya industrinya saja yang hidup, mengalahkan industri 
lain dan membiarkan industri listrik kesulitan," tegas Dahlan dalam 
keterangannya, Sabtu (15/1/2011). 

Dahlan menambahkan, pengusaha-pengusaha tersebut minta terus dimanjakan dan 
dininabobokkan. Sementara industri lain sejenis yang jumlahnya lebih banyak 
selama ini sudah membayar listrik dengan tarif yang normal.

"Kalau mereka beralasan pencabutan capping ini menurunkan daya saing, saya 
perlu bertanya mengapa industri sejenis yang sudah membayar listrik dengan 
normal tidak kalah bersaing? Bahkan tidak kalah bersaing dengan mereka yang 
manja itu? Kalau kemanjaan seperti ini tidak dilawan, bangsa ini tidak akan 
maju," ungkap pernyataan Dahlan. 

Menurut Dahlan jika PLN terus mengikuti 'kemanjaan' industri ini, maka industri 
listrik tidak akan berkembang dan pada gilirannya keseluruhan perekonomian 
mengalami kesulitan.

"Mereka juga selalu beralasan pencabutan capping ini momentumnya tidak tepat. 
Mereka selalu beralasan kuno seperti itu. Ketika menjelang puasa, disebutkan 
momentumnya tidak tepat. Menjelang tahun ajaran baru momentumnya tidak tepat. 
Menjelang tahun baru momentumnya tidak tepat. Musim hujan, dikatakan 
momentumnya tidak tepat. Musim kemarau dikatakan momentumnya tidak tepat. 
Mungkin menjelang ulang tahun mereka pun akan mereka katakan momentumnya tidak 
tepat," papar Dahlan. 

Bahkan, lanjut Dahlan, sangat tidak logis jika pelepasan capping ini dikaitkan 
dengan kenaikan harga cabai yang sekarang terjadi. "Padahal modal utama 
pengusaha itu harus berpikir logis," imbuh Dahlan.

Dahlan melanjutkan, beberapa pengusaha bersuara seolah-olah keseluruhan 
industri terkena dampak pencabutan capping ini. Padahal, lanjut Dahlan, yang 
terkena hanya sebagian kecil, yaitu industri yang selama ini mendapatkan 
kemanjaan yang enak berupa tarif listrik yang lebih murah dari industri sejenis 
lainnya. 

"Saya akan lawan kemanjaan dan cara berpikir seperti ini," tegas Dahlan.

Dijelaskan Dahlan, jika masalah capping ini tidak diselesaikan maka akan 
menimbulkan penyakit parah di masa depan.

"Saya menduga jangan-jangan daya saing ekonomi kita tidak bagus justru karena 
sikap mental manja pengusaha jenis ini. Saya akan lawan!" tukas Dahlan.

Seperti diketahui pada Juli 2010 lalu pelaku industri dan bisnis mendapat 
kebijakan kenaikan TDL dengan pola capping maksimal 18%. Kemudian pada periode 
1 Oktober 2010 pelanggan listrik bisnis seperti mal, hotel, perkantoran telah 
lebih dahulu dicabut batas kenaikan capping 18% sementara untuk pelanggan 
industri tetap memakai pola capping.

Namun per Januari 2011, tidak capping sehingga terjadi kenaikan TDL industri di 
atas 18% atau tepatnya sekitar 20-30%.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke