http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=22798

      Rabu, 19 Januari 2011 
     
      NASIONAL 
     
     
     
Pertemuan SBY-Tokoh Agama Mubazir 

             
            TEMU TOKOH AGAMA. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres 
Boediono berbincang dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin seusai 
melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh lintas agama di Istana Negara, 
Jakarta, Selasa (18-1) dini hari. (ANTARA/Widodo S. Jusuf) 
































      JAKARTA (LampostOnline): Pertemuan tokoh lintas agama dan Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai mubazir dan hanya sebagai ajang politik 
pencitraan. Forum tersebut tidak menyelesaikan substansi masalah bangsa.

      Ketua Presidium Tokoh Lintas Agama Din Syamsuddin mengakui pertemuan 
dengan SBY belum menyentuh persoalan sebenarnya. "Tidak persis seperti yang 
diharapkan. Belum substansi," kata Din dalam konferensi pers di Kantor Center 
for Dialogue and Cooperation among Civilizations di Menteng, Jakarta, Selasa 
(18-1).

      Din membantah suara kritis mereka merupakan gerakan pemakzulan SBY. 
"Tokoh lintas agama menyampaikan kritik dengan penuh rasa tanggung jawab 
disertai dengan fakta-fakta," kata Din. 

      Saat ini, ujar Din, banyak terjadi penyimpangan. Misalnya, dalam bidang 
ekonomi yang terlalu kapitalistik sehingga menimbulkan kesenjangan. Persoalan 
kemiskinan yang belum sepenuhnya teratasi.

      Di bidang hukum, penyelesaian kasus mafia pajak dengan terdakwa Gayus 
Tambunan yang berlarut-larut juga menjadi sorotan. Pemberantasan korupsi 
dianggap tersendat-sendat. Itu sebabnya, tokoh lintas agama meminta pemerintah 
serius menangani berbagai persoalan bangsa.

      Din mempertanyakan sikap pemerintah yang mempermasalahkan kritik dari 
para tokoh agama, yang dinilai telah masuk ke ranah politik. Menurut Din, 
politik kebangsaan akan selalu menjadi ranahnya para agamawan. "Gerakan moral 
ini sudah sejak dulu dan harus terus dilakukan," ujarnya. 

      Pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Senin malam dihadiri antara lain Din 
Syamsuddin, Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Andreas Yewangoe, tokoh 
Katolik Franz Magnis Suseno, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Ma'ruf 
Amin, Ketua Umum Walubi Hartati Murdaya, dan tokoh Konghucu Budi Tanoewibowo.

      Sebelumnya, para tokoh itu menyebut pemerintah telah melakukan sejumlah 
kebohongan publik, antara lain terkait dengan angka kemiskinan, penegakan HAM, 
terorisme, sistem pendidikan, dan kasus Lapindo yang tak kunjung usai.

      Pencitraan

      Sementara itu, Presiden World Conference Religion for Peace (WCRP) Hasyim 
Muzadi mengatakan pertemuan tersebut tidak menyelesaikan persoalan bangsa. 
"Kalau niatnya menyelesaikan masalah yang berat-berat, masih jauh. Indonesia 
telanjur menjadi tricky country yang penuh trik, siasat, pengalihan masalah, 
dan rekayasa," kata Hasyim dalam siaran persnya kemarin.

      Menurut Hasyim, pertemuan itu hanya spektrum politik pencitraan. Jadi, 
bukan masalah pertemuan terbuka atau tertutup. "Terbuka pun bukan jaminan. 
Misalnya, masalah Gayus yang sesungguhnya masalah pajak bergeser ke masalah 
paspor," katanya.

      Secara terpisah, Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan 
dalam pertemuan antara Presiden SBY dan tokoh agama tidak disinggung tentang 
poin-poin kebohongan pemerintah. Dalam pertemuan itu dibacakan tujuh catatan 
tokoh agama oleh Din Syamsuddin. 

      Julian mengatakan isi tujuh catatan itu tidak merepresentasikan seluruh 
tokoh agama. "Ketika pertemuan berjalan, sebagian dari pemuka agama merasa apa 
yang disampaikan Pak Din itu tidak mewakili semua pemuka agama," ujar Julian.

      Julian menjelaskan di kalangan tokoh agama sendiri masih terjadi 
perbedaan pendapat tentang catatan untuk pemerintah. "Ada perbedaan pandangan 
di antara tokoh agama. Ini berarti belum ada masukan yang bersifat final," ujar 
Julian. 

      Dia menambahkan tujuh catatan yang didampaikan Din itu masih perlu 
dibahas lagi di kalangan tokoh agama agar bisa merepresentasikan semua pihak. 
Karena itulah, tujuh catatan tersebut tidak diserahkan kepada pemerintah.

      Mengenai sikap dan tanggapan Presiden atas tujuh catatan itu, menurut 
Julian, SBY langsung menanggapi. "Presiden menjawab dan merespons semua poin 
yang disampaikan," ujarnya. 

      Julian mengingatkan pertemuan Presiden dan tokoh agama merupakan 
inisiatif tokoh agama. "Bukan permintaan pemerintah, diatur, dan sebagainya," 
kata Julian. (U-1)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke