http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/kapitalis-rasa-sosialis-pelajaran-dari-brasil/

Kamis 20. of Januari 2011 13:06 
Kapitalis Rasa Sosialis: Pelajaran dari Brasil
OLEH: SATRIO WAHONO



     
Dalam lanskap perekonomian global saat ini, kita tentu mengenal BRIC (Brasil, 
Rusia, India, dan China) sebagai empat negara dengan prospek pertumbuhan paling 
kinclong. 

Brasil patut mendapat catatan khusus di sini karena negara Amerika Latin sudah 
telanjur dicap sebagai negara yang terlalu sosialis dan, konsekuensinya, 
anti-kapitalis. Lihat saja Argentina, Bolivia, dan Venezuela sebagai contoh. 
Satu hal lagi, Brasil kian istimewa karena kesuksesannya melintasi krisis 
kapitalisme global dinakhodai oleh seorang presiden dari kalangan kelas 
pekerja, Lula de Silva. 


Ia menjabat selama dua periode atau delapan tahun, yang merupakan batas waktu 
maksimal seseorang boleh memegang posisi kepresiden­an. Lantaran kesuksesannya, 
banyak rakyat Brasil menangis terharu saat Lula turun tahta dan menyampaikan 
pidato perpisahannya pada Januari 2011.


Kapitalisme dan Sosialisme       
Brasil memang patut diacungi jempol. Betapa tidak, sejak 2003 sekitar 21 juta 
rakyat Brasil mampu keluar dari jerat kemiskinan dan sebelum 2008 negeri ini 
bahkan sudah mencapai tujuan Millennium Development Goals, yang menargetkan 
memangkas tingkat kemiskinan pada 2015. Kemudian, 10 persen orang terkaya 
Brasil menjadi 11 persen lebih kaya antara 2003 dan 2008, sementara 10 persen 
orang termiskin mendapati penghasilan mereka terkerek tinggi sampai 72 persen.


Hebatnya lagi, Brasil mampu membedakan diri secara khas dari Rusia, India, dan 
China, sebab Brasil mampu memangkas kesenjang­an sampai ke level 5,5 persen, 
dan itu dilakukan di tengah-tengah pusaran krisis dahsyat, sebagaimana 
diceritakan Mac Margolis dalam esainya, "The Land of Less Contrast" (Newsweek, 
December 7, 2009). Makanya, dunia saat ini, termasuk kita seharusnya, mulai 
menengok Brasil sebagai salah satu suri tauladan guna memerangi kemiskinan.


Semua prestasi moncer ini dirintis oleh Luiz Inácio Lula da Silva, seorang 
pemimpin serikat buruh dari partai kiri, Partai Buruh, naik ke puncak kekuasaan 
Brasil. Sebagai perwakilan partai kiri, Lula harusnya tidak bersahabat dengan 
kapitalisme. Namun, karena Brasil sudah telanjur mewarisi penerapan sistem 
pasar bebas, termasuk saat sosiolog dan teoretikus teori keterbelakangan 
Cardoso menjadi presiden, Lula dengan bijak mengumumkan sejak dari hari 
pelantikannya bahwa ia tidak akan menggalangi reformasi pasar bebas yang sudah 
dijalankan. Ironisnya, sekaligus untungnya, kebijakan inilah yang kemudian 
membuka jalan bagi rencana-rencana yang selalu Lula cita-citakan, yaitu 
menggunakan tangan negara secara langsung untuk membantu kaum yang paling 
membutuhkan. 


Logikanya sebagai berikut, dengan menjaga inflasi rendah dan melakukan belanja 
peme­rintah ala Keynes, suku bunga pun turun sehingga bank terdorong untuk 
memberikan kredit kepada nasabah berpenghasilan rendah. Peran pemerintah juga 
kian besar dengan plebisit-plebisit seperti pembe­rian bantuan tunai (semacam 
BLT di Indonesia) bagi kaum miskin dan tunjangan memadai bagi pekerja berupah 
minimum dan kaum pensiunan.


Sebagai tambahan, Lula meluncurkan suatu program bernama Bolsa Familia. 
Berdasarkan program ini, negara memberikan semacam tunjangan atau uang saku 
bulanan dengan besaran kecil antara US$ 10 dan US$ 70 kepada keluarga yang 
tetap bersedia mengizinkan anak-anaknya sekolah ketimbang mencari nafkah, dan 
keluarga yang mau melakukan pemeriksaan kesehatan berkala di klinik (semacam 
puskesmas) terdekat. Ide ini sejatinya tidak baru adanya. 


Cile dan Meksiko adalah negara yang sebenarnya menjadi pelopor, tetapi 
Brasil-lah yang di bawah kepemimpinan Lula melembagakannya sedemikian rupa dan 
masif sampai dapat menjangkau 55 juta orang di sebuah negeri yang berpenduduk 
total sekitar 193 juta jiwa.     


Terakhir, jika ada pepatah lama yang mengatakan, imitation is a form of 
flattery, peniruan adalah satu bentuk dari pujian, maka keberhasilan Brasil tak 
bisa dimungkiri telah mengundang banyak pujian. Ini karena banyak negara mulai 
meniru strategi Brasil. Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 150 juta sampai 200 
juta jiwa kini menerima bantuan langsung tunai di negara-negara dengan spektrum 
haluan ideo­logis yang merentang luas seperti Nikaragua yang sosialis, Kolombia 
yang berhaluan te­ngah, dan Amerika Serikat yang kapitalistis, terutama Kota 
New York. Sekaligus, kasus Brasil ini menjadi pelajaran bahwa ideo­logi 
kapitalisme dan sosialisme sebenarnya bisa diramu menjadi suatu strategi jitu 
dalam tataran operasional guna menciptakan kesejahteraan bagi sebanyak mungkin 
rakyat.  

Penulis adalah pengamat manajemen dan penulis buku The Mantra dan Animal-based 
Management.



Kembali ke : Home

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke