http://endyonisius.blogspot.com/2011/01/memaknai-kekalahan.html

Konon, hidup manusia adalah sebuah kompetisi. Lengkap dgn segala
kompleksitas dan tujuannya, yg pasti akan berujung pada hasil akhir
berupa kemenangan. Bila ada yg menang, tentu ada yg dikalahkan,
atau mungkin draw (win-win solution). Persoalannya, kapan anda
akan menang jika tak pernah kalah, atau apa makna kemenangan jika
tak mengenal kekalahan? Dua sisi mata uang ini seharusnya berbobot
setara, walau ada embel2 bahkan status "kemenangan membanggakan" di
atas sebaliknya "kekalahan pilu". Secara leksikal, nilai kemenangan
memang identik dengan unggul kompetitif, berjaya, bahkan untung.
Menang adalah simbol kekuatan, prestasi, dan harga diri, menjadikan
kekalahan seolah terkutuk melalui didera malu, rendah diri, dan
tidak berkualitas. Padahal banyak contoh nyata terhadap nilai
"kemenangan secara memalukan" (menghalalkan segala cara?), serta
sebaliknya "kekalahan dgn kepala tegak". Dalam konteks umum
kompetisi, tujuan akhir memang memaksa hasil yg nomor satu walau
belum tentu bermakna optimal. Maka kemungkinan memang perlu
ditambahkan unsur lain seperti aturan kesepakatan, atau meminjam
konteks olah raga dikenal "sportivitas" yg menjadi esensi dari
kesejatian "sport" itu sendiri. Dekonstruksi makna kekalahan
perlu disikapi sbg penyeimbang yg sepadan seperti istilah
"kemenangan tertunda".

Bukan berlebihan jika sepak bola dapat mewakili esensi manusia
dalam segala dimensi. Sepak bola bisa indah melalui hukum "trias
politica" melalui aspek olahraga (sport), permainan (game), dan
prestasi (goal). Melalui aspek olahraga telah mencakup segala
unsur dasar bersifat atletik yakni lari, lompat, dan lempar,
kemudian permainan yg bersifat kompetitif (individual maupun
kelompok), serta prestasi dalam konteks pertandingan dan bukan
perlombaan. Juga terdapat "trias politica" lainnya melalui
pemenuhan jasmani (bugar secara kardiovaskuler, kekuatan otot,
daya tahan, dan fleksibilitas), pola pikir (sehat logika, nalar,
dan kreatif), serta mentalitas (tangguh, fair, objektif).
Sehingga sepak bola boleh dianggap pula sedikit dari olahraga
yg mengakomodir "trias politica" sistem nilai akhir berupa
menang, draw, dan kalah. Kumpulan ragam "trias politica" versi
sepak bola inipun bukan kebetulan menjelma secara aktual dan
faktual melalui tiga kontestan sepakbola terbaik sejagad 2010
yakni Messi, Iniesta, dan Xavi yg dikenal sbg trisula Barcelona.
Messi merupakan penyelesai akhir, Iniesta sbg penghubung termasuk pembuat 
perbedaan di lapangan, sementara Xavi adalah penyuplai kesemuanya sekaligus 
dalang utama. Jika masih ingin ditambah
menuju paripurna sepak bola dgn meminjam Barcelona, adalah "trias
politica" sbg tim tempur kelas dunia, pelatih muda berkarakter
sekaligus santun, serta manajemen klub ideal.

Ketika Barca takluk 1-3 dari Real Betis di leg dua perempat final
Copa Del Rey kemarin (20/1/2011), adalah kekalahan pertamanya
setelah memecahkan rekor di 28 laga sebelumnya. Catatan ini
memperbaiki 27 laga berurutan tanpa terkalahkan pada periode
1973-74 saat kedatangan Johan Cruyff serta di bawah kepemimpinan
Rinus Michels, era keemasan dan masuknya rezim total football di
tubuh Catalans. Kejayaan yg diperbaiki oleh tim yg kini memiliki
ciri tersendiri bernama Taka Tiki dan terbukti sukses menumbangkan
sang inventor dari Belanda melalui ajang final Piala Dunia 2010.
Maka saat timnya gagal menoreh rekor ke 29, apakah kekalahan itu
menjadi aib memalukan? Sang pelatih yg harus bertanggungjawab
memberikan komentarnya, dgn gaya khas dan cara yg jauh dari
pecundang, "Kami memang harus kalah untuk bisa mengapresiasi
sesuatu. Sebagai jalan untuk bisa lebih baik lagi, adalah
menganalisis kesalahan yang terjadi," kata Pep Guardiola. Seraya
tak lupa mengapresiasi tim yg mengalahkannya, "Kami semua paham
betapa berbakatnya Real Betis dan paham apa yg bakal terjadi.
Bayangkan bila mereka unggul 3-0, mungkin kami bisa tersingkir",
papar pelatih yg barusan berusia 40 tahun dan tetap meloloskan
timnya ke semifinal dgn agregat 6-3. Makna dari kekalahan adalah
merupakan ambang kesadaran untuk tetap berpijak dan realistis,
setidaknya secara pola pikir yg sehat logika serta keseimbangan
mental. Karena sesuai salah satu azas trias politica di atas,
sepak bola memang bukan melulu perkara jasmani.

Kekalahan dapat membantu untuk terus berkembang dan awas, bahkan
introspeksi seperti tim Spanyol yg justru menelan kekalahan di laga
pembuka Piala Dunia 2010. Bukanlah kebetulan jika separuh tim juara
dunia anyar itu bermaterikan pendekar didikan Pep muda dan santun
begini. Filosofi yg dapat memberikan empati ketika sedang
mengalahkan saingannya, juga mendatangkan simpati di saat gagal
menang. Kaliber seorang Ferguson yg harus menerima fakta bahwa
pasukannya kalah telak 0-2 di Roma 2009 oleh pelatih ingusan
(saat itu), justru mengundang pujian, "Jika aku harus pensiun,
kurasa sudah ada pengganti pilihanku sendiri!". Dialah Pep, sang
rival yg barusan mengalahkannya di ajang puncak idaman para
pelatih klub dunia. Sungguh berbeda dgn makna kekalahan yg pernah
diperagakan oleh seorang pelatih lain dgn komentar terkenalnya,
"Kekalahan terindah dalam karirku", saat Barcelona mengalahkan
Inter Milan namun gagal secara agregat di ajang Champion 2010.
Memang ada unsur strategi di situ, namun imbuhan berupa komentar
yg seolah menihilkan hasil kemenangan bagi sang lawan. Contoh
pemenang yg luput menyadari makna menang sehingga kemenangan
telah membunuh pemenangnya. Sepak bola memang terkadang
membutuhkan menang mutlak pada babak tertentu, namun sepak bola
bukan melulu perkara sang pemenang memenangkan kemenangan.
Menang terkadang siklus yg bisa kejam, seperti dunia mencatat dgn
disumpalnya "You are what you say" sang pelatih itu saat kembali
bertandang ke Neu Cam dalam konteks El Clasico yg berakhir 0-5.

Kemenangan adalah berkah, namun beresiko membius dan menyisakan
sedikit ruang berkaca dan latihan di sana. Menang tentu membanggakan,
sekaligus menimbun godaan ego dan eforia kesombongan. Walau dihindari
untuk kalah, namun kekalahan dapat mentoleransi dan daya paksa tinggi
untuk senantiasa rendah hati dan bukanlah rendah diri. Perlu therapy
0-3 bagi Garuda di Stadion Bukit Jalil untuk kembali menapak ke bumi
hingga kembali menutup pesta dgn kemenangan di kandang walau luput
juara. Kalah bukan pilihan, tapi kekalahan adalah sumber kesabaran
dan introspeksi yg semestinya bagian dari proses kemenangan. Menang
dan kalah merupakan komplementer yg mendewasakan sebuah proses di
atas tujuan akhir. Selayaknya satu peristiwa tahun 490 SM di lereng
Gunung Olympus telah mengajarkan pesan kemenangan dari seorang
prajurit bernama Pheidippides yg berlari sepanjang 42 kilometer
untuk mengabarkan kemenangan pasukan Yunani atas Persia. Ia berseru
"Nenikikamen!" (Kita menang!), lalu terjatuh dan meninggal di tempat.
Refleksi peristiwa yg kelak mengilhami budaya lari Maraton serta
memberi makna motivasi, sportivitas, heroisme, dan prestasi sbg
cikal semboyan "Citius, Altius, Fortius" (lebih cepat, lebih tinggi,
lebih kuat), dipahami dalam konteks meraih kemenangan sejati.
Kematian Pheidippides bukanlah kelemahan apalagi kekalahan, seperti
halnya pelatih Pep saat menerima kemenangan lawannya. There is no
difference between mind and sky, serta tak ada satu awanpun, entah
awan terang kemenangan maupun awan gelap kekalahan, yg sanggup
mengubah warna langit apalagi hijaunya lapangan sepak bola.

-duke-



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke