http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2011012223511715
Minggu, 23 Januari 2011
BURAS
Budaya Uang, Karakter Pasar!
H. Bambang Eka Wijaya
"KETIKA Presiden Yudhoyono mencurahkan isi hati (curhat) di Rapim
TNI-Polri gajinya tujuh tahun tak kunjung naik, tebersit implikasi budaya uang
merasuki siapa saja, tak peduli Presiden atau kacung, dengan karakter pasar
yang mengukur segala sesuatu dengan satuan nilai mata uang!" ujar Umar. "Jelas
menyedihkan jika seorang pemimpin berharap di muka umum untuk menilai dirinya
dengan satuan nilai mata uang!"
"Tapi itu kan cuma curhat!" timpal Amir.
"Meski cuma curhat!" tukas Umar. "Konteksnya kurang tepat, membandingkan
gajinya dengan gaji prajurit yang dinaikkan setiap tahun! Padahal, prajurit
mengabdikan jiwa-raganya secara tulus-ikhlas untuk negara, tanpa pamrih, hingga
justru dikerdilkan jika pengabdian mulia itu hanya diukur dengan satuan nilai
mata uang!"
"Dari situ yang perlu ditarik hikmahnya!" sambut Amir. "Presiden sebagai
kepala negara dan kepala pemerintahan, bagai air mancur (fountain) di kolam
bangsa! Jika dari air mancur itu mengalir warna tertentu, warna air seisi kolam
jadi sama!"
"Bangsa kita memang sudah terputar dalam pusaran budaya uang dengan
karakter pasarnya!" tegas Umar. "Dalam politik, ikut pilkada harus tahu harga
kursi yang direbutnya, mulai sewa perahu, kampanye, sampai operasi fajar!
Terkait hukum harus bayar pengacara! Dalam ekonomi, mau buka usaha sebelum
melangkah harus lebih dulu membuat akta badan usaha, SIUP, SKITU, HO, dan
lain-lain! Pokoknya uang, uang, dan uang!"
"Budaya uang dengan karakter pasarnya melucuti nilai-nilai budaya dengan
sendi humanitasnya lewat rumus P4-product, price, promotion, place!" timpal
Amir. "Suatu ritual budaya sakral, atau gelar seni yang indah, dipaket menjadi
product, dilabeli harga (price) sekali tampil, dipromosikan agar pembeli
tertarik, lalu disajikan di tempat (place) yang bukan semestinya buat ritual
sejenis! Kesakralan dan nilai humanitas keindahan seni dikosongkan, diganti
satuan nilai mata uang!"
"Akibat segala sesuatu diukur dengan satuan nilai mata uang, tanpa
kecuali manusia bahkan oleh seseorang atas dirinya sendiri, budaya uang dengan
karakter pasarnya mendegradasi harkat-martabat manusia jadi sekadar benda
fungsional dengan harga sesuai supply-demand!" tegas Umar. "Sisi manusia buruh
disisihkan karena secara fungsional cuma alat produksi, nilai satuan mata uang
(UMK dan UMP Lampung) diri mereka cuma di bawah satu juta rupiah sebulan! Tapi
jangan kira itu cuma pada buruh! Dengan determinasi budaya uang dan karakter
pasar di kolam bangsa, setiap kita juga cuma satuan nilai mata uang sesuai
fungsionalnya!" ***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/