--- "kim" <kimhook@...> wrote:
>
> --- "liver_duke" <endyonisius@> wrote:
> 
> >Apakah musik suatu perkara eksak? Or 
> ...
> 
>
> Gak tau yah, yg jelas musik mah persoalan "feeling" yg di
> curahkan sbg seni.
> 
> Tempo hari, beta telusuri musik sunda, kecapi suling di
> Jawa Barat. Pak Dadan sebagai pemain kecapi induk, kecapi
> rincik dan juga sebage peniup suling, selin penembang
> dan betapa merana kehidupan dia sebage seniman.
> 
> Kabupaten kadang undang dia utk main dan berikan warna
> ke-daerahan, jika ada bangunan baru baru diresmikan, jika
> ada kesenian daerah dipentaskan. Bupati mengundang dia.
> 
> Sebage seniman jelas bukan sebage gembel jalanan, kendati
> keadaan miskin, dia tak akan prnah minta uang dan sedekah-
> an buat kebutuhan sehari-hari.
> 
> Yang menjadi kendala buat pa' Dadan, pada abad ke 21 ini
> masyarakat sudah mempunyai beda paham, baik itu dari segi
> selera budaya ataopun tabiat hidup.
> 
> Masyarakat daerah Sunda kini sudah mengkhianati anugrah
> dari nenek moyang dalam bidangkesenian, kecapi suling.
> Masyarakat sekarang lebih menghargai budaya Arab. Apa yang
> berbau ke arep-arepan, dia akan dapat perhatian dari mas-
> yarakat.
> 
> Anjing bukan ?!
>

beda bumi, beda suling na .. aing mo cerita soal dayak nih.

belasan taon lalu waktu gw masih nyerocos siaran musik ethnik
di radio, pernah ngundang salah satu seniman dayak yg profesi
formalnya buruh pabrik kayu. namanya christian mara, pernah
dimuat di kompas dgn julukan "pendekar sape' dayak terakhir".

sape' adalah sejenis musik petik mirip gitar senar empat,
umunya fretless (tanpa garis pemisah not), necknya panjang
dan lubang resonansi di sisi body karena dipenuhi motif ukir.
pula bermainnya solis (gak kenal akord), cenderung monoton.

lalu ada suling labu, anatominya persis suling biasa tapi
di ujungnya ditampung lewat wadah yg dibuat dari labu air.
seorang ethnomusikolog dari diknas yg pernah kuundang siaran
pernah menjuluki alat musik itu sbg "bag-pipes" versi dayak.
karena memang suara yg dikeluarkan harus lewat wadah labu itu,
sementara gagang sulingnya bisa ada lebih dari satu batang.

kelengkapan musik lainnya serupa gamelan berikut gong, yg
lebih kecil tapi dibuat lebih nyaring (komposisi material
besi adukannya lebih tebal biar gak sember), disebut kenong.
formasinya pentatonik, mirip yg ada di jawa ato bali bahkan
thailand, kemungkinan langsung dari kebudayaan cina totok.
semuanya merupakan perangkat standard sebuah ensamble dayak.

nah, si chris mara adalah salah satu seniman adat yg masih
setia menggunakan perkakas demikian utk proses berkeseniannya.
walau dalam rangka mencari duit, dia juga bikin rekaman lagu2
karangan sendiri dgn corak "campur sari" pake organ tunggal.
rekaman pribadi dgn fasilitas studio terbatas (murah) serta
distribusi ala indie yg disebarkan tiap acara kampung 17an
ato pesta nikah dan adat (gawai), tapi hasil dan popularitasnya
cukup meledak dan bisa bikin hidup. sementara pekerjaannya sbg
buruh pabrik lebih dimanfaatkan supaya dapat tumpangan tempat
tinggal di barak di ptk lantaran jauh dari kampungnya (400 km).
  
maka begitulah, doi kuundang buat siaran di radio dalam rangka
siaran musik ethnik atas sponsor ford found dan radio prancis.
dia berkisah bahwa setiap lagu memiliki makna khusus, namun
bisa dibuat pula untuk pergaulan popular. dia ditemani seorang
karyawan lusuh pegawai bank swasta, yg kebetulan beberapa taon
berikutnya sukses jadi anggota dewan dprd entah gimana. jelasnya,
si karyawan itu lantas susah dihubungi lagi alias jd som som.
tinggallah si christ mara terus berjuang dan lumayan kesohor
jadi wakil musik dayak di acara daerah maupun provinsi, bahkan
keliling spanyol, belanda, sampe pasadena termasuk asia timur.
tetep pake cangcut dan jubah gk pake lengan biar itu tato pada
mentereng sembari doi nyanyi sepenuh hati dan nari ala trance.

beberapa bulan lalu sempet ketemu chris di dinas parawisata.
doi spontan memeluk di depan umum, "pa khabar nih?", tanyaku.
"oo masih tetep nyanyi dan bikin lagu. besok mo ke sarawak ada
undangan kawinan. sekarang sy sekalian bikin dan jual alat musik
khas, banyak permintaan dan gak tertampung karena bikin sendiri
dan pake tangan. gak jadi buruh karena pabrik bangrut, sekarang
lebih fokus bermusik". lantas kuajak dia ketemu si kepala dinas.
orang ginian termasuk langka, apalagi produktif bikin lagu plus
perangkatnya yg khas. sudah perlu butuh dukungan langsung dari
yg berwenang tertutama anggaran. paling gak yg berhubungan dgn
hak paten dari instrumen musik terutama hak cipta intelektual
terkait karya lagu sbg royalti. sebelum pindah pengakuan dan
diadopsi si negara tetangga yg secara sistematis lebih sanggup
membayar dan mengimpor segala aset termasuk budaya tradisional.

begini nih yg kudu serius dipikirin dan dijabanin, gak cuma
murang maring ato seterusnya menggugat doang .. ya khan?



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke