GEMA NESTORIANISME  DALAM PENOLAKAN AL QUR’AN  TERHADAP KEILAHIAN YESUS

http://conversation-with-muslim.blogspot.com/

GAMBARAN ISA DALAM AL QUR’AN
 
Pada bagian ini kita akan mengkaji 
mengenai tokoh Isa dalam Al Qur’an. Sumber-sumber kajian kami mengenai 
Isa dalam Al Qur’an didasarkan pada eksplorasi sejumlah ayat Al Qur’an 
yang berbicara secara eksplisit mengenai Isa dan bagaimana tanggapan 
para cendekiawan muslim terhadap ayat-ayat tersebut.
 
Kesaksian Mengenai Namanya
 
Geofrey Parinder menyatakan bahwa Isa disebut dalam 15 surah Al Qur’an sebanyak 
93 ayat[1]. Sementara Abd Al Fadi menyebutkan ada nama Isa disebutkan 93 kali 
dalam 15 ayat Al Qur’an[2]. Namun Anish Shorosh mengusulkan bahwa nama Isa 
disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 99 kali dalam 93 ayat Al Qur’an[3].
 Meskipun pendapat para ahli tidak sepaham, namun nama Isa sepakat 
disebut lebih dari duapuluh kali. Sementara Muhamad disebutkan sebanyak 
25 kali saja dalam Al Qur’an.



 
[Download Format PDF]
Al Qur’an mencatat bahwa Nama Isa selalu
 dihubungkan dengan Maryam, sehingga terkadang disebutkan Isa Putera 
Maryam. Berikut kita akan melihat sejumlah ayat yang menuliskan nama 
Isa.
 
Dalam Qs Al Maidah (3):45 disebutkan 
demikian: “(Ingatlah), ketika malaikat berkata: ‘Hai Maryam, 
sesungguhnya Allah menggembirakan kamu [dengan kelahiran seorang putera 
yang diciptakan] dengan kalimat (yang datang) daripadaNya, namaNya Al 
Masih Isa Putera Maryam,…”
 
Demikian pula dalam Qs Al Baqarah (2):87
 disebutkan: “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat)
 kepada Musa dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu 
dengan rasul-rasul dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran 
(mukjijat) kepada Isa Putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Rohul 
Qudus”
 
Dalam banyak ayat lain disebutkan 
mengenai nama Isa seperti dalam Qs 2:136, Qs 2:253, Qs 3:52, Qs 3:55, Qs
 3:59, Qs 3:84, Qs 4:157, Qs 4:163, Qs 4:171, Qs 4:172, Qs 5:17, Qs 
5:46, Qs 5:72, Qs 5:75, Qs 5:78, Qs 5:110, Qs 6:85, Qs 9:30, Qs 19:34, 
Qs 21:91, Qs 23:50, Qs 33:7, Qs 42:13, Qs 43:57, Qs 61:14, dll.
 
Nama diri Yesus dalam Qur’an adalah Isa 
yang dipergunakan dalam pengertian pribadi tanpa penjelasan. Bentuk nama
 itu telah memunculkan komentar yang perlu dipertimbangkan walaupun ada 
kesepakatan umum bahwa nama“Isa” berasal dari bahasa Syria “Yeshu” yang 
berasal dari bahasa Yahudi “Yeshua”[4].
 
Bambang Noorsena melacak pengertian nama “Isa” dengan memberikan ulasan: 
“Demikian
 juga, kendati nama Isa kurang merata dipakai dalam komunitas Kristen 
Arab, tetapi nama itu bisa dilacak asal-usulnya dari komunitas Kristen 
berbahasa Arami di wilayah Syria Timur. Selain nama itu ditemukan dari 
masa pra Islam, yaitu sebuah biara Bernama Isaniyyah (pengikut Isa) di 
Syria bagian selatan tahun 671 Ms, Juga nama itu adalah hasil 
korespondensi bunyi (phonetic corespondence) Yang lazim sebagai gejala 
linguistik. Biasanya aksara yod (y) berubah dalam Bahasa Arab ain atau 
hamzah. Seperti Yerusalayim menjadi Urusalim, Yordan Menjadi Urdun, maka
 kata Ibrani Yeshua dalam bentuk Arami Yesho dan Isho Dan vokal ‘o’ 
panjang juga acap menjadi ‘a’ panjang, misalnya: Shaloom, Menjadi 
Salaam. Walhasil, maka bentuk Arami/Suryani Isho menjadi nama Arab Isa[5]”
 
Bambang Noorsena menambahkan dalam pernyataan mengenai Isa, “Karena
 tidak ditemui problem apapun dari sudut liguistik, maka keberatan 
pemakaian istilah-istilah itu, sebagaimana tampak pada karya-karya 
Landauer dan Noldeke juga Harun Hadiwijono, agaknya lebih 
dilatarbelakangi oleh prasangka teologis seorang Kristen terhadap ajaran
 Islam[6].
 
Namun alasan yang dikemukakan Bambang 
masih terbuka untuk diperdebatkan. Jika penggunaan Yesus (Yahshua – 
Yeshua) menjadi bentuk populer Isa, adalah semata korespondensi bunyi 
‘Y’ (Yod, Ibrani) menjadi “Ain” dan “Hamzah”, lalu mengapa nama-nama 
Ibrani yang dimulai dengan huruf “Y” seperti “Yaakov”, “Yosef”, 
“Yokhanan”, tidak menjadi “Akub” atau “Osef” dan “Akhanan” ?. Bukankah 
dalam teks Qur’an mereka disebut dengan, “Yakub”, “Yusuf” dan “Yahya” ?.
 
G. J. O. Moshay memberikan ulasannya mengenai nama Isa sebagai berikut: “Para
 ahli bahasa dengan hati-hati mempertanyakan mengapa Al Qur’an mengacu 
Yesus sebagai Isa. Kalau menurut prinsip-prinsip linguistik dari rumpun 
bahasa-bahasa semit seperti bahasa Ibrani, bahasa Asyur, bahasa Aram, 
bahasa Arab, bahasa Etiopia, bahasa Funisia, Isa sebetulnya bukan 
terjemahan bahasa Arab dari Yesus, Jesu atau bahasa Yunani Iesous. 
Sesungguhnya yang benar adalah istilah yang digunakan oleh para 
penerjemah bangsa Arab yang menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru kedalam 
Bahasa Arab yaitu Yesou atau Yesu”[7] Geofrey
 Parinder pun berpendapat yang serupa (Bambang Noorsena mengutip 
Parinder, seakan-akan Parinder membenarkan bahwa Isa merupakan bentuk 
Syriac untuk Yesus). Selengkapnya pendapat beliau adalah: “Bentuk
 tua dalam bahasa Syria, Yeshu, terjaga dalam penerjemahan Injil Arab 
modern sebagai Yasfi. Disarankan bahwa orang-orang Kristen 
Dinegeri-negeri yang berbicara  dengan bahasa Arab seharusnya 
menggunakan Nama Isa seperti dipakai oleh seluruh orang muslim disekitar
 mereka. Namun penerjemahan baru dari Perjanjian Baru dalam bahasa Arab 
Yang dipersiapkan oleh Prof. Abdul Malik di Kairo, memperkuat Yasu 
Sebagai bentuk tradisionil dan kuno dan tidak ada orang-orang Kristen 
Arab yang tampak memakai bentuk Isa” [8]
 
Sementara DR. Harun Hadiwijono menyoroti
 bahwa ungkapan Isa merupakan pengucapan terbalik dari Yosua yang 
ditulis dengan huruf Arab, “Ain”, “Shin”, “Ya” yang seharusnya “Ya”, 
“Shin”, “Ain”[9].
 Bambang Ruseno Utomo, MA., meskipun mengakui ada unsur akar nama 
“Yoshua” dan “Mashiah” pada nama “Isa”, namun, “…didalam Al Qur’an 
menjadi kehilangan makna aslinya atau mengalami perkembangan pemahaman 
sesuai dengan konteksnya yang berbeda dengan penggunaannya didalam 
Alkitab[10].
 
Dari pemaparan diatas, nama Isa yang 
tertulis dalam Al Qur’an ternyata masih menjadi perdebatan. Ketidak 
jelasan asal-usul nama Isa merupakan perspektif tersendiri yang harus 
dikaji lebih mendalam khususnya hubungannya dengan nama Yesus.
 
Terlepas dari probabilitas linguistik 
diseputar nama Isa, Al Qur’an menegaskan bahwa itulah namanya yang 
diwahyukan pada Muhamad. Al Qur’an dan Islam secara khas menyebut nama 
Isa sebanyak lebih dari 20 kali.
 
Kesaksian Mengenai Hakikatnya
 
Jika kita telah menelaah mengenai nama 
Isa yang tertulis dalam Al Qur’an. Lalu bagaimanakah hakikat Isa 
dijelaskan oleh Al Qur’an ?. Al Qur’an memberikan keterangan mengenai 
hakikat Isa sebagai berikut:  “(Ingatlah) ketika malaikat berkata: 
‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran 
seorang putera Yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang dari 
padaNya). Namanya Al Masih Putera Maryam, seorang terkemuka didunia Dan 
diakherat dan salah sseorang diantara orang-orang yang didekatkan 
(kepada Allah)” (Qs 3:45)
 
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa
 disisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam 
dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah (seorang 
manusia),maka jadilah ia”(Qs 3:59)
 
“Sesungguhnya Al Masih, Isa Putera 
Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang terjadi) kalimatNya yang 
disampaikanNya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh daripadaNya” (Qs 4:
 171) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: 
’Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam” (Qs 5:17)
 
“Dan (ingatlah) ketika Allah 
berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah engkau mengatakan kepada 
manusia:’Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah ?’. Isa 
menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakanApa yang 
bukan hakku (mengatakannya)” (Qs 5:116)
 
“Al Masih putera Maryam itu hanyalah
 seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul
 dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya-duanya biasa memakan 
makanan” (Qs 5:75)
 
Sejumlah besar Theolog dan Apologet 
Kristen cenderung menghubungkan kata “Kalimat” atau “Kalam” pada diri 
Isa dengan istilah “Logos” atau “Davar” yang dimiliki Yesus sebagaimana 
terekam dalam Yohanes 1:1,14. Seorang mantan muslim bernama Abdiyah 
Akbar Abdul Haq berusaha meyakinkan pembaca muslim bahwa Al Qur’an 
menyingkapkan hakikat Isa sebagai Firman Yang Maha Kuasa. Beliau 
menuliskan:
 
“The Qur’an confirms the Injil in 
the declaration that Jesus Christ was the Word of God who became flesh 
and dwelt amongst us. We read in surah 3:45 (…) Muslim commentators have
 endeavored to minimize the full impact Of the plain declaration of the 
Koran that Jesus Christ was the Word Of God Incarnate”[11]
 
Sebetulnya, jika kita jujur mencermati 
ayat-ayat yang telah dikutip, sangat jelas bagaimana sesungguhnya sikap 
Al Qur’an mengenai hakikat Isa. Isa adalah Kalam Allah (Qs 3:45), misal 
Penciptaannya seperti Adam, Jadilah, maka jadi (Qs 3:59), menolak 
dipertuhan oleh pengikutnya (Qs 5:116), orang yang menyebut Isa adalah 
Allah, kafir (Qs 5:72), Isa makan seperti layaknya rasul yang lain (Qs 
5:75).
 
Memang disebutkan Isa adalah Kalam 
Allah, terkemuka didunia dan diakhirat, namun pengakuan ini tidak 
membawa dampak teologis maupun soteriologis terhadap Muhamad dan 
pengikutnya. Jika Isa adalah Kalam Tuhan sebagaimana dipahami oleh orang
 Kristen mengenai Yohanes 1:1,14, seharusnya Muhamad dan pengikutnya 
menjadi Kristen atau pengikut Yesus atau memandang Yesus sebagaimana 
Kitab Perjanjian Baru memberikan kesaksian Dia sebagai Sang Firman Yang 
Maha Kuasa sendiri.
 
Apa yang dikatakan pakar Islam sendiri 
mengenai pengertian Isa sebagai “Kalam Allah” atau “Kalam dariNya”. 
Masyhud S.M menjelaskan bahwa, “menurut Qur’an arti daripada “Kalam” 
atau “Kalimat” adalah, “…berarti “ujian” (Qs 2:124), “ketetapan” (Qs 
39:19,71). Kalimat juga bermakna “omongan” dan “omongan” atau “kalam” 
ada dua macam. Kalam Qodim dan Kalam hawadits. Dan ini jelas, bahwa 
“kalimat” yang masuk (dimasukkan oleh Allah) ke tubuh Maryam, ialah 
kalimat hawadits bukan Kalam Qodim. Dengan demikian, maka Isa tidak ada 
unsur keTuhanannya”[12].
 
Fakhar al Din Razi memberikan komentar mengenai “Firman DariNya” sebagai 
berikut:[13] “The
 Word from Him” (Qs 3:45), the pronoun (Him) just as the same pronoun 
“in his name” refers to the Messiah. Why then the pronoun is not of the 
same gender as “the Word”?, Because the person referred to is masculine”.
 Razi berargumentasi bahwa kata ganti “Dia” menunjuk pada “Sang Firman”,
 sementara kata ganti laki-laki berikutnya menunjuk pada Mesiah Yesus.
 
Sementara itu menanggapi sebutan Isa sebagai “Roh dariNya”, Muhamad Wahid 
memberikan keterangan : “Kalau
 dikatakan bahwa nabi Isa adalah RUHULLAH memang tidak bisa disalahkan, 
bila pengertian ini tidak diartikan dengan bentuk substansi atau  
dikhususkan kepada nabi Isa. Mendapat gelar RUHULLAH (Qs 4:17) maka 
ibunya mendapat tiupan RUHANAA (Qs 21:19, Qs 66:12). Karena keteguhan 
iman Maryam,dia mendapat tiupan RUHANNA dan kepadanya juga dikirimkan 
RUHANNA manakala beliau mendekatkan diri pada Allah. Jelaslah dari 
keterangan diatas bahwa RUH itu bukanlah suatu substitusi yang berdiri 
Sendiri kemudian ditiupkan diri manusia, sebagaimana meniupkan angin 
dalam ban Itulah yang dimaksud dengan Firman Allah”[14]
 
Sebagaimana nama Isa mengundang 
kontroversi mengenai akar dan sumbernya, demikianlah hakikat Isa 
diperdebatkan. Kebanyakan Teolog maupun Apologet Kristen meyakini bahwa 
hakikat Isa dalam Qur’an adalah serupa dengan Yesus dalam Yohanes 
1:1,14. Namun eksposisi ayat yang telah dipaparkan secara eksplisit 
membantah nilai ketuhanan Isa. Bahkan siapapun yang menisbatkan essensi 
ketuhanan pada diri Isa dituduh kafir.
 
Sebutan Isa “Kalam Allah” atau “Roh 
Allah” tidak memiliki dampak atau konsekwensi logis berupa ketaatan 
sebagai kekristenan memahaminya melalui Kitab Perjanjian Baru. Beberapa 
komentator Muslim menghubungkan “Kalam dan Roh Allah” pada Isa sebagai 
sebuah proses kelahiran yang istimewa (tanpa ayah dan ibu).
 
“Al Qur’an mengakui fakta bahwa Yesus 
tidak mempunyai ayah seperti manusia pada umumnya, akan tetapi hal ini 
tidak berarti ia mengakui Yesus sebagai Anak Allah atau Allah itu 
sendiri”, demikian komentar DR. Maneh Hammad Al Johani[15].
 
Kesaksian Mengenai Karyanya
 
Al Qur’an tidak memberikan catatan 
terperinci dari kehidupan dan karya Isa. Dalam sejumlah ayat dikatakan 
bahwa ia mengajarkan Injil dari Allah (Qs 5:46), melakukan berbagai 
muzizat dengan penyertaan Ruhul Kudus (Qs 2:87), melakukan muzizat 
mencipta burung dari tanah liat dengan izin Allah (Qs 5:110), 
menyembuhkan berbagai penyakit, kebutaan, dll (Qs 5:110), mengajarkan 
Tauhid pada Allah (Qs 5:117), berpengetahuan akan hari kiamat (Qs 
43:61), datang dengan muzizat dan menghalalkan sebagian yang diharamkan 
orang Yahudi (Qs 3:50).
 
Kematian dan kebangkitan Yesus yang 
sentral dalam Perjanjian Baru, tidak memiliki gema yang signifikan 
secara soteriologis maupun kristologis. Kisah Isa dalam Al Qur’an 
dimulai dengan kelahirannya yang ajaib dan akhir kehidupannya yang penuh
 teka-teki. Ada sejumlah pernyataan Al Qur’an yang mengakibatkan 
teka-teki dan perbedaan pendapat dikalangan Muslim sendiri mengenai 
akhir hidup Isa.
 
“Dan kesejahteraan semoga 
dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal 
dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Qs 19:33)
 
“(Ingatlah) ketika Allah berfirman: 
‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu 
dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersihkan kamu dari orang-orang 
yang kafir …” (Qs 3:55)
 
“..Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi  mereka” (Qs 
5:117)
 
“Dan karena ucapan mereka: 
‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putera Maryam, Rasul 
Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak Pula menyalibnya, 
tetapi (yang mereka bunuh) orang yang diserupakan Isa bagi Mereka. 
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa,
 benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak 
mem Punyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mngikuti 
persangkaan  Belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu
 adalah Isa Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepadaNya” (Qs 
4:157-158)
 
Perhatikanlah frasa kalimat yang 
digarisbawahi diatas. “Aku mati”, “Aku bangkit”, “Aku mewafatkanmu”, 
“Aku mengangkatmu kepadaKu”, “Wafatkan aku”, “Tidak disalib”, “Tidak 
dibunuh”, “Orang lain yang diserupakan”, “Allah mengangkat Isa”. Sangat 
sulit menemukan suatu kronologi yang historis dari kisah-kisah yang 
kontradiktif dan terpisah-pisah tersebut. Oleh karenanya, diantara 
pakar-pakar Muslim pun terjadi banyak perbendaan pendapat mengenai 
teka-teki akhir kehidupan Isa di bumi.
 
Ada yang berpegang pada teori bahwa Isa 
tidak mati tapi diangkat oleh Allah. Ada teori bahwa Isa tidak disalib 
tapi orang lain yang disalibkan. Ada teori bahwa Isa mati suri saat 
disalib lalu berhasil diselamatkan ke Kashmir dan mati tua disana.
 
Secara singkat akan kita tinjau sejenak 
beberapa pendapat yang berselisih mengenai akhir hidup Isa putera 
Maryam. Ali Yasir menjelaskan bahwa Isa memang disalibkan namun tidak 
mati melainkan nampaknya saja seperti mati[16].
 Senada dengan Yasir, Syafii R. Batuah mengatakan bahwa Isa mengalami 
mati suri saat di salibkan. Dirawat oleh para muridnya lalu hijrah ke 
Kashmir dan mati tua disana dalam usia 120 tahun. Sampai hari ini ada 
kuburan Isa yang dikenal sebagai Yus Asaf di India[17].
 
Prof. DR. Syalaby tidak sependapat dengan pemahaman diatas. Beliau menyimpulkan 
mengenai akhir hidup Isa dengan mengatakan: “Menurut
 pendapat saya bahwa Al Qur’an yang tidak menyebutkan secara pasti 
tentang Isa masih hidup dengan jasadnya dan untuk mengelak kesangsian 
tentang kelahirannya tanpa bapak dan dikatakan bahwa ia kekal selamanya 
yang menyebabkan lahirnya pikiran salah mengenai kebutuh annya, maka ada
 baiknya jika kaum muslimin berpegang bahwa Isa telah wafat dan tamat 
seperti nabi-nabi yang lain. Dan ia hanya hidup dengan ruhnya saja dalam
 kehidupan sebagai kemuliaan dan pengangkatan derajat”[18]
 
Mengenai tokoh “yang diserupakan” tidak 
ada informasi eksplisit dalam Al Qur’an. Kebanyakan Muslim merujuk pada 
Injil Barnabas (yang dinyatakan palsu oleh kekristenan), yang 
menjelaskan bahwa orang yang diserupakan adalah Yudas Iskariot[19].
Demikianlah sekilas perbedaan pendapat 
diantara tokoh-tokoh Islam mengenai akhir hidup Isa. Adapun tanggapan 
terhadap kontradiksi ayat mengenai akhir kehidupan Isa tidak akan 
dibahas dalam tulisan ini. Kami hanya memaparkan data Qur’anikal dan 
pendapat para komentator Islam mengenai karya Isa dalam kehidupan dan 
akhir kehidupannya.
 
Kesaksian Mengenai Ajarannya
 
Qur’an mencatat secara singkat apa yang 
diajarkan oleh Isa putera Maryam. Isa mengajarkan mengesakan Allah atau 
Tauhid (Qs 5:117), Isa mengajarkan Taurat dan Injil (Qs 5:46). Berikut 
kutipan ayat yang berbicara mengenai kenyataan tersebut.
 
“Dan Kami iringkan jejak mereka 
(nabi-nabi bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab-kitab
 yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya 
kitab Injil sedang didalamnya Ada petunjuk dan cahaya dan membenarkan 
kitab yang sebelumnya: Taurat” “Aku tidak pernah mengatakan kepada 
mereka kecuali apa yang Engkau berikan kepadaku ,yaitu : ‘Sembahlah 
Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”
 
 
Kesaksian Mengenai Gelarnya
 
Al Qur’an mencatat beberapa gelar Isa 
yang dominan. Isa di sebut sebagai “Kalam Allah” (Qs 3:45), Isa sebagai 
“Roh Allah” (Qs 4:171, Qs 66:12, Qs 21:91), Isa sebagai “Nabi” (Qs 
19:30, Qs 2:136, Qs 4:163, Qs 6:84, Qs 33:7, Qs 57:26), Isa sebagai 
“Rasul” (Qs 2:87, Qs 2:253, Qs 3:48-49, Qs 3:53, Qs 5:111, Qs 57:27), 
Isa sebagai “Hamba Allah” (Qs 4:172, Qs 43:59, Qs 19:30), Isa sebagai 
“Tanda” (Qs 19:21, Qs 21:91, Qs 23:50, Qs 3:50), Isa sebagai “Rahmat 
Allah” (Qs 3:45), Isa sebagai “Saksi” (Qs 4:159, Qs 5:117), “Al Masih” 
(Qs 4:157, Qs 4:171, Qs 5:17, Qs 5:72, Qs 9:31).
 
Gelar-gelar Isa dalam Al Qur’an memiliki
 konotasi yang positip, agung, mulia. Namun gelar-gelar itu tidak 
mendatangkan konsekwensi logis berupa ketaatan kepada Yesus sebagaimana 
yang dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Penyebutan gelar-gelar Isa tetap 
mengambang dan kehilangan kesinambungannya dengan Yesus dalam Perjanjian
 Baru.
 
John Gilchrist berkata, “Al Qur’an 
yang dengan benar menyebut Yesus, Al Masih, tidak berusaha untuk 
menjelaskan gelar itu. Kalau begitu, apa makna yang sebenarnya ?”[20].
 
Sebagai kesimpulan pengkajian kita 
terhadap sejumlah ayat dalam Al Qur’an, baik mengenai Nama Isa, Hakikat 
nya, Karya nya, Gelar nya bahkan Ajaran nya, kita tetap tidak melihat 
sosok tokoh yang jelas. Kita melihat gambaran yang samar mengenai Yesus 
dalam Al Qur’an yang dinamai Isa oleh Muslim. Kenyataan ini seperti 
digambarkan oleh Anton Wessels, “Ringkasan dari kata-kata Al Qur’an 
mengenai Yesus ini cukup mengemukakan betapa fragmentaris Yesus 
digambarkan dalam Qur’an”[21]. Selanjutnya beliau menambahkan, “Citra Yesus 
dalam Qur’an sangat mempengaruhi semua pendapat Muslim tentang Dia sampai pada 
zaman kita ini. Seringkali pendapat itu bersifat polemis dan menentang orang 
Kristen. Namun ada juga suara-suara lain”[22].
 
KESAMAAN PANDANGAN QUR’AN DAN NESTORIANISME
MENGENAI HAKIKAT YESUS
 
Sebagaimana telah diuraikan pada Bab I 
mengenai sejarah kontroversi mengenai Keilahian dan Kemanusiaan Yesus, 
yang melibatkan beberapa tokoh gereja untuk bersidang dan merumuskan 
ajaran yang benar tentang hakikat Yesus. James P. Eckman mendeskripsikan
 zaman itu sbb: “As one studies the early church, it becomes clear 
that the emergence of error usually prompted the church to seek a more 
satisfactory explanation of a theological question. This was true of 
doctrin of Christ. Throughout the period from 325 to 451, major 
interpretations emerged, often heretical, that challanged the church to 
think more precisely about defining the relationship of Jesus’ two 
natures”[23]
 (jika seseorang mempelajari sejarah gereja mula-mula, menjadi jelas 
bahwa masuknya  kekeliruan biasanya mendorong gereja untuk menemukan 
penjelasan teologis yang sangat masuk akal. Hal ini adalah doktrin yang 
benar tentang Mesias. Sepanjang tahun 325-451, kebanyakan berbagai 
penafsiran yang muncul, terkadang menyimpang sehingga menantang gereja 
untuk memikirkan lebih tepat untuk mendefinisikan hubungan kedua tabiat 
Yesus)
 
Ada dua sekolah teologia penting yang 
menekankan secara ekstrim aspek keilahian Yesus dan kemanusiaan Yesus. 
Sekolah Alexandria dan sekolah Anthiokhia. Sekolah Alexandria 
dipengaruhi oleh ajaran filsafat Plato mengenai “tabiat Ilahi” sehingga 
mempengaruhi pemahaman mereka bahwa Keilahian Yesus sedemikian rupa 
menguasai kemanusiaan-Nya. Menurut Apollinaris dari sekolah Alexandria 
menyatakan bahwa Yesus sepenuhnya Tuhan dan jiwa-Nya digantikan dengan 
Logos Ilahi. Dengan pemahaman ini berarti kemanusiaan Yesus tidak 
sempurna.
 
Sementara sekolah Anthiokhia dipengaruhi
 oleh Aristoteles yang menekankan kesatuan jiwa dan tubuh sehingga tidak
 mengenal konsep dikotomi. Pandangan ini berpengaruh terhadap pemahaman 
terhadap Yesus. Nestorius seorang Patriakh Konstantinople, pada tahun 
428 menyatakan bahwa Yesus benar-benar manusia yang terpisah dari 
keilahian-Nya.
 
Abdiyah Akbar Abdul Haqq menjelaskan 
bahwa pemahaman Nestorius memiliki kesamaan dalam pernyataan Qur’an 
terutama Qs 3:45 dan Qs 5:75 yang berbunyi sbb:
 
“(Ingatlah), ketika Malaikat 
berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan 
kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) 
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di 
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada 
Allah)”
 
“Al Masih putera Maryam itu hanyalah
 seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa 
rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan 
makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli 
kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana 
mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).
 
Beliau mengatakan, “The Koranic 
passage quoted earlier (Qs 3:45) maintains a position very much to the 
Nestorian Church. Nestorius, who was bitterly opposed by Cyril, 
maintained that Jesus, “Consubtansial with the Father is Christ: This is
 true, for in the divinity He is eternal. Consubstantial with us (is He)
 naturally: This is true, for He is too was a man as we also are (The 
Bazaar of Heraclides, Clarendon Press, 1925, p.196)[24]
 artinya, “bagian ayat Qur’an diawal menekankan posisi yang mendekati 
Gereja Nestorian. Nestorius yang secara sengit ditentang oleh Cyrilius 
menyatakan mengenai Yesus sbb: yang sejajar dengan Sang Bapa adalah 
Mesias, hal ini benar karena dalam keilahian-Nya Dia kekal. Yang sejajar
 dengan kita adalah tabiatnya, hal ini benar karena dia juga adalah 
manusia yang sama dengan kita”.
 
Selanjutnya beliau menambahkan, “The
 rejection of the idea that Jesus Son of Mary was the son of God is in 
line with the Nestorian position. It is opposed to calling Mary the 
Mother of God and Jesus the Son of Mary, the Son of God. Again, it is 
enlightening to note that Nestorius himself regard the sonship of Christ
 due to the virgin birth as a creative reality similar to Adam. 
Referring to the Nativity narratives in the Synoptics, Nestorius 
explains that the Holy Spirit of God acted creatively in the virgin 
birth. In this way Christ was born of Mary as a new creation-the type 
man for a redeemed humanity, Adam (The Bazaar, pp.196, 311, 62)”[25]
 artinya, “penolakkan gagasan bahwa Yesus Putra Maria adalah Putra Tuhan
 sejajar dengan pandangan Nestorius. Pandangan ini menentang untuk 
menyebut Maria sebagai Bunda Tuhan dan Yesus Putra Maria sebagai Putra 
Tuhan. Sekali lagi ini mengentengkan pernyataan bahwa Nestorius sendiri 
menganggap status Anak pada Mesias yang ditujukan pada kelahiran Sang 
Perawan sebagai ciptaan belaka yang sejajar dengan Adam. Menunjuk pada  
kisah kelahiran dalam Injil Sinoptik, Nestorius menjelaskan bahwa Roh 
Kudus terlibat aktif dalam melakukan penciptaan dalam kelahiran Sang 
Perawan. Dengan cara ini Mesias yang dilahirkan Maria sepeti ciptaan 
baru, jenis manusia untuk penebusan manusia, Adam).
 
TANGGAPAN TERHADAP PANDANGAN QUR’AN 
MENGENAI HAKIKAT YESUS
 
Sekalipun pandangan Qur’an menyatakan 
penolakkan atas keilahian Yesus sebagaimana dinyatakan dalam beberapa 
ayat seperti Qs 3:59 dan Qs 9:30 sbb: “Sesungguhnya misal 
(penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah 
menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 
"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia”.
 
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair 
itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera 
Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru
 perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , 
bagaimana mereka sampai berpaling?”
 
Namun ayat yang tersedia patut dieksplorasi dengan mendalam. Jika kita 
mengikuti laporan Qs 3:45 sbb: “(Ingatlah),
 ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan 
kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat 
(yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang 
terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang 
didekatkan (kepada Allah)”, frasa “Kalimat daripada-Nya” dapat 
dipertanyakan apakah berstatus “qodim” (kekal) atau “hawadits” 
(ciptaan)? Jika status “Kalam” pada diri Isa adalah “hawadits” 
sebagaimana layaknya Adam yang terjadi dari “Kun” (Jadilah), seharusnya 
Isa tidak memiliki gelar istimewa “Rohullah dan Kalimatullah?” Jika 
keistimewaan Isa setara dengan Adam, mengapa hanya Isa yang memiliki 
gelar “Kalimatullah” dan “Rohullah?”
 
Meminjam konsep Al Ghazali mengenai hubungan Allah dan Firman-Nya dikatakan 
sbb: “Bahwa
 Al Qur’an yang dibaca melalui lidah, tertulis dalam lembaran-lembaran, 
serta bisa dihafalkan tersebut, bersamaan dengan itu sebenarnya qodim 
(tanpa permulaan), qaimah (berdiri sendiri) dalam Dzat Allah, tidak 
menerima perceraian, perpisahan, baik melalui perpindahan ke hati maupun
 lembaran”[26]
 
Ketidakjelasan hakikat Isa dalam Qur’an 
dan hakikat Yesus dalam Injil tentu dapat membingungkan seseorang. 
Daripada menyalahkan laporan Injil mengenai hakikat Yesus, lebih baik 
mengikuti petunjuk dalam Qs 10:94 sbb: “Maka jika kamu (Muhammad) 
berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka
 tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. 
Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu 
janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu”. Dan
 Kitab yang dibaca oleh orang Kristen tiada berselisih memberikan 
kesaksian bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Tuhan Yang Hidup (Mat 16:16, 
Yoh 1:18; 20:31).
 
“Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak (Tuhan) yang hidup!"
 
“Tidak seorang pun yang pernah 
melihat Allah; tetapi Anak Tunggal (Tuhan), yang ada di pangkuan Bapa, 
Dialah yang menyatakan-Nya”.
 
“tetapi semua yang tercantum di sini
 telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak (Tuhan)
 dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”.
 
Dia adalah Sang Firman Tuhan yang menjadi manusia (Yoh 1:14)
 
“Firman itu telah menjadi manusia, 
dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu 
kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh 
kasih karunia dan kebenaran”.
 
Ayat yang sama terdapat dalam Qs 4:171 sbb: “Wahai
 Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah
 kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al 
Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan 
dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan 
tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan 
rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", 
berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya 
Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala 
yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi 
Pemelihara.”. Sekalipun ayat ini menyerang keyakinan Kristen 
mengenai keilahian Yesus, namun ayat-ayat di atas jelas memperlihatkan 
istilah-istilah yang tidak dapat dijelaskan dalam Al Qur’an (frasa 
“Kalimat-Nya” dan “Roh dari-Nya”) melainkan sangat jelas jika membaca 
Injil.
 
Teguh Hindarto, MTh.

[1] Geofrey Parinder, Yesus dalam Qur’an, dit. Ali Masrur dkk, Bintang 
Cemerlang, Yogyakarta 2001, hal 12
[2] Abd Al Fadi, Almasih dalam Injil dan Al Qur’an, dit. Jalan Al Rahmat, 
Jakarta [t.th], hal 1
[3] Op.Cit., Anish Shorosh, hal 107
[4] Op.Cit., Geofrey Parinder, hal 12
[5] Bambang Noorsena, Mengenai Kata Allah, Institute for Syriac Christian 
Studies, November 2001, hal 46
[6] Ibid., hal 46-47
[7] Who Is This Allah ?, Dorchester House Publications, 1995, p. 142
[8] Op. Cit., Geofrey Parinder, hal 14
[9] Iman Kristen, BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hal 320-321
[10] Op. Cit., Terdengar Gemanya, hal 72
[11] Abdiyah Akbar Abdul Haq, Sharing Your Faith with a Muslim, Bethany House 
Publishers, 1980, p. 67
[12] Masyhud S.M., Dialog Santri Pendeta, Pustaka Dai, 1992, hal xiv
[13] Loc.Cit., Abdiyah Akbar Abdul Haq, p. 67
[14] Muhamad Wahid., Seluk Beluk Mati dan Hidup, Mutiara Solo, 1981, hal 24
[15] Maneh Hammad Al Johani, Yang Benar Tentang Yesus, Qalam, 1996, hal 21
[16] Simon A.Y., Mengungkap Misteri Penyaliban Yesus, YABUMI, 1994, hal 18-19
[17] Syafii R. Batuah, Dari Palestina ke Kashmir, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 
1997, hal 4-6, 30-36
[18] Ahmad Syalaby, Perbandingan Agama : Agama Masehi, Bumi Aksara, 1994, hal 
42-43
[19] Rahnip, M.BA., Terjemah Injil Barnabas, PT. Bina Ilmu, hal 275-276
[20] John Gilchrist, Kristus menurut ajaran Islam & Kristen, dit. Jalan Al  
Rahmat, Jakarta (t.th), hal  21
[21] Anton Wessel, Memandang Yesus, BPK-Gunung Mulia, 1990, hal 39
[22] Ibid., hal 41
[23] Exploring Church History, Evanggelical Training Association, 2002, p.33
[24] Sharing Your Faith Wit a Muslim, Minneapolis: Bethany House Publishers, 
1980, p. 70-71
[25] Ibid., p.72
[26] Nurullah & Fauzan, Inti Tauhid: Ketaqwaan Kepada Allah, Kepanjen: Husaini, 
1988, hal 32-33




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke