Refl. Dibalik menjamurnya konflik SARA tentu saja ada yang menarik keuntungan. Siapa mereka itu, kalau bukan penguasa negara?
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=85635:menjamurnya-konflik-bermotif-sara&catid=78:umum&Itemid=131 Menjamurnya Konflik Bermotif SARA Oleh : Bhakti Dharma MT Tragedi di Cikeusik, Pandeglang, Banten, belum lama ini, semakin membuat kita prihatin akan karakter kekerasan atas nama agama di negeri ini. Penyerang tak hanya membakar rumah, tapi juga membunuh tiga anggota Ahmadiyah. Kebrutalan itu seolah didiamkan oleh polisi di sana. Kepolisian setempat beralasan, jumlah personel tidak cukup untuk menghadang kelompok yang menyerang Ahmadiyah. Dalih seperti ini sulit dipahami oleh akal sehat. Kalaupun fakta itu benar, bukankah mereka bisa meminta bantuan polisi di daerah lain? Jika aparat terdesak, kenapa pula tidak menghalau lewat tembakan peringatan? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menyatakan, ada kemungkinan peristiwa itu bisa dicegah. Ia kemudian berjanji akan menghukum siapa pun yang terbukti lalai dan bersalah, entah itu polisi, personel pemerintah daerah, anggota Ahmadiyah, maupun massa penyerang. Masalahnya, publik telanjur kurang percaya bahwa pemerintah benar-benar akan bertindak tegas. Orang juga ragu akan kemampuan pemerintah menyelesaikan urusan Ahmadiyah secara tuntas. Sebab, insiden seperti itu sudah terlalu sering terjadi, dan pemerintah selalu tak mampu melindungi anggota Ahmadiyah. Pengikut ajaran Mirza Ghulam Ahmad ini justru semakin kerap menjadi sasaran penyerangan setelah pemerintah mengeluarkan surat keputusan bersama pada 2008. Sebenarnya harus diingat bahwa dalam sejarah dunia ini, bentuk kekerasan dengan bermotifkan isu SARA akan sangat berdampak buruk terhadap keberlangsungan hidup, ketenteraman dan kedamaian umat manusia di dunia ini. Dampak yang ditimbulkannya akan jauh lebih dahsyat ketimbang konflik lain. Kekerasan yang bermotif suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sering kali tidak hanya melibatkan orang yang mengalami sengketa, melainkan melibatkan orang lain yang merasa satu kelompok dan solider terhadap kelompok yang berkonflik. Itulah sebabnya eskalasi konflik bermotif SARA cenderung meluas dan sangat sulit dipadamkan. Oleh karena itu, konflik berlatar belakang SARA tidak boleh terjadi kapan pun dan di mana pun, termasuk di Indonesia. Konflik bermotif SARA tidak menguntungkan siapa pun selain pihak ketiga yang mengail di air keruh dan mencari keuntungan di balik ketidaktenteraman antarumat beragama. Sayangnya, sejumlah potensi konflik terus dinyalakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, baik yang berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Dari luar negeri, rencana pembakaran mushaf Alquran yang dilakukan Pastor Terry Jones untuk memperingati runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) sempat menimbulkan ketegangan, tidak hanya bagi umat Muslim dan Nasrani di Amerika Serikat, melainkan juga umat beragama seluruh dunia. Meskipun pembakaran mushaf tersebut batal, ada sekelompok orang sempat menyobek kitab suci Alquran. Menanggapi aksi itu, kita diingatkan bahwa aksi pelecehan terhadap kitab suci umat Islam sama sekali tidak menyebabkan kesucian Al Qur'an ternoda. Sebagaimana firman Tuhan, Allah sendiri yang menjaga kesucian Al Qur'an itu. Pelecehan terhadap mushaf Al Qur'an ini juga tidak memberikan mudarat secara langsung kepada umat Islam, tetapi pasti melahirkan girah yang memberi kesempatan bagi umat Islam untuk menyumbangkan apa pun yang dimilikinya, termasuk nyawa untuk melakukan pembelaan terhadap kitab suci yang sangat dihormatinya. Kontraproduktif Situasi tersebut justru akan merugikan pelaku penyobekan dan bagi AS sendiri. Kita juga yakin bahwa rencana pembakaran ataupun penyobekan mushaf Al Qur'an sama sekali tidak memberikan kemaslahatan bagi pelakunya. Sebaliknya, kutukan dari umat beragama seluruh dunia tertuju kepada mereka, tidak hanya dari umat Islam, melainkan juga dari umat beragama lainnya. Tindakan itu sama sekali tidak rasional dan kontraproduktif. Bahkan tindakan pelecehan kitab suci ini memperburuk citra AS di mata masyarakat dunia. Di saat negara ini mengalami keterpurukan bidang ekonomi dan semakin bangkrut dalam perang di Irak dan Afganistan, kasus ini semakin mempersulit negeri Paman Sam itu melakukan pemulihan keadaan (recovery). Bahkan dengan mudah musuh-musuh politiknya memojokkan AS karena dinilai tidak mampu menghentikan peristiwa yang sangat memalukan ini. Dari dalam negeri, sejumlah peristiwa juga seperti menggelitik umat beragama untuk berkonflik. Yang patut dicurigai justru pihak ketiga yang menginginkan Indonesia kembali terjebak dalam konflik bermotif SARA. Mereka tahu betul bahwa Indonesia yang stabil akan mengantarkan bangsa ini menuju masyarakat yang maju menuju puncak peradaban. Sebaliknya, jika bangsa ini mengalami konflik yang tidak berkesudahan, seluruh potensi yang ada akan habis tersedot oleh konflik. Itu artinya, Indonesia akan tetap dalam keadaan lemah dan mudah dicocok hidungnya untuk mengikuti apa pun yang mereka inginkan. Untuk mengantisipasi agar konflik ini tidak meluas, aparat keamanan harus sigap segera mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan segera meredamnya. Konflik yang terjadi selama ini lebih disebabkan oleh masalah sosial ketimbang akibat perbedaan agama. Agama hanya dijadikan "bahan bakar" untuk mencari kawan dalam berkonflik, tetapi akibatnya bukan semakin meredam kekerasan, melainkan justru memperluas eskalasinya. Untuk itu, semua pihak harus secara dini mengantisipasinya ketimbang nantinya harus kerepotan memadamkan api kekerasan. Menghadapi konflik yang bermotif SARA ini, Indonesia sesungguhnya sudah berpengalaman. Konflik di Ambon dan Maluku serta sejumlah kekerasan di beberapa tempat telah secara nyata memberikan gambaran bahwa konflik hanya menyengsarakan rakyat. Konflik sama sekali tidak menguntungkan siapa pun. Tidak ada jalan lain bagi bangsa ini selain harus mencari jalan damai, bukan memperuncing persoalan. Bangsa ini adalah bangsa yang mengakui perbedaan agama. Oleh karenanya, maka Negara dengan segala kewenangannya harus mampu memberikan perlindungan terhadap seluruh warganya tanpa memandang apakah mereka sebagai pengikut ajaran agama minoritas maupun mayoritas. Dengan demikian, maka suasana kerukunan beragama di tanah air akan tetap dapat terpelihara dengan baik. Semoga bangsa kita dapat bertindak bijaksana dalam merespon konflik bermotif SARA seperti yang saat ini terjadi. Pemerintah kiranya secepat mungkin menuntaskan persoalan ini dan rakyat pun sangat diharapkan agar lebih bijaksana serta tidak terprovokasi dengan berbagai aksi yang berusaha merusak kerukunan beragama di negeri ini.*** Penulis adalah peminat masalah hukum dan sosial kemasyarakatan, aktif di KomPedan Medan. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
