Refleksi : Bukan menuju negara gagal, tetapi sudah gagal. Jadi dari segi  
regional mamupun paham duniawi dan surgawi harus berpegang pada fasafal 
pembebasan. Kaum agama harus berpegang pada theologia pembebasan, bila mau 
membebaskan umatnya dari kemiskinan dan tipu muslihat penguasa, jadi 
bukan lagi teologia melepat pada penjilatan penguasa yang membawa umat seperti 
hewan ternak untuk disembelih. 

Falsafaf pembebasan harus menjadi pegangan dan pedoman bagi yang tidak mau 
hidup dalam penipuan penguasa yang berazaskan pembodohan yang mensumsumkan 
ketebelakangan dengan kemiskinan abadinya, demi untuk bisa menciptakan 
masayarakt baru dimana hak hidup memada nan aman, sejahtera dijamin.  Kehidupan 
memada nan sejahtera tidak akan jatuh dari langit, melainkan harus 
diperjuangkan.

Lihat Sudan Selatan, Mesir Tunisia, mereka berani berontak dengan kekuatan masa 
untuk melepaskan belunggu. 

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=85634:indonesia-menuju-negara-gagal&catid=78:umum&Itemid=131


      Indonesia Menuju Negara Gagal?        
      Oleh : Fadil Abidin



      Indonesia sebagai failed state (negara gagal) menjadi topik perbincangan 
paling hangat dalam dua tahun terakhir ini. 

      Di Google, bila kita ketik "Indonesia negara gagal", hanya dalam tempo 30 
detik akan muncul lebih dari 1 juta topik. Memang banyak forum digelar, dan 
ratusan artikel ditulis para ahli, untuk mengupas nasib negeri kita yang 
terindikasi sebagai negara gagal.

      Forum Lintas Agama dan Forum Rektor PTN dan PTS di kampus Universitas 
Negeri Jakarta, Rawamangun (4/2/2011), menyatakan ciri-ciri negara gagal antara 
lain, merosotnya pelayanan publik dan delegitimasi peran negara. Di Indonesia 
saat ini, 17 gubernur dan 157 bupati/walikota terindikasikan melakukan korupsi. 
Ironisnya, tersangka masih dilantik menjadi kepala daerah, lalu masih bisa 
melantik bawahannya di penjara. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin 
menambahkan, tingkat kehidupan bangsa Indonesia kini sudah mendekati taraf 
keterpurukan dan sedikit lagi masuk dalam kategori failed state (negara gagal).

      Apa itu negara gagal? Sosiolog Noam Chomsky, dalam buku Failed States: 
The Abuse of Power and the Assault on Democracy, sebuah negara bisa dinyatakan 
gagal bila tidak punya kemampuan melindungi warganya dari berbagai tindak 
kekerasan dan ancaman kehancuran. Negara tidak bisa menjamin hak-hak rakyatnya, 
baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Institusi-institusi demokrasi 
juga gagal dipertahankan. Sebuah negara bangsa dianggap gagal jika tidak bisa 
memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan baik.

      Menurut The Fund for Peace dan Foreign Policy Magazine yang dirilis tahun 
2010, Indonesia menempati urutan ke-61 dari 177 Failed State Index 2010. Urutan 
pertama ditempati oleh Somalia dan terakhir oleh Norwegia. Mengutip Stoddard 
dalam Ethnonationalism and the Failed State: Sources of Civil State 
Fragmentation in the International Political Economy Emerge, ia menyebut ada 
empat kategori negara/bangsa. Urutan 1-37 dalam indeks disebut sebagai negara 
runtuh (collapsed state). Urutan 38-129 disebut negara gagal (failed state), 
dan Indonesia termasuk di dalamnya. Urutan 130-164 disebut sebagai negara lemah 
(weak state). Urutan 165-177 disebut sebagai negara kuat (strong state).

      Rotberg dalam The Nature of Nation-State Failure menyebut negara gagal 
dengan indikasi antara lain berupa keamanan rakyat tidak bisa dijaga, konflik 
etnis dan agama tak kunjung usai, korupsi merajalela, legitimasi negara terus 
menipis, ketidakberdayaan pemerintah pusat dalam menghadapi masalah dalam 
negeri, dan kerawanan terhadap tekanan luar negeri.

      Masalah Kemiskinan

      Menurut studi yang dilakukan World Economic Forum dan Universitas Harvard 
sekitar tahun 2002 tentang negara gagal. Karakteristik negara gagal, antara 
lain, adalah tingginya angka kriminalitas dan kekerasan, korupsi yang 
merajalela, miskinnya opini publik, serta suasana ketidakpastian yang tinggi. 
Negara gagal pada awalnya banyak karena kegagalan di bidang ekonomi, yaitu 
ketidakefisienan yang parah dalam mengatur modal dan tenaga kerja dan 
ketidakmampuan melakukan distribusi/pengadaan pelayanan dan barang dasar bagi 
penduduk ekonomi lemah. Akibat selanjutnya adalah kemiskinan dan pengangguran 
yang berkepanjangan.

      Sebuah studi kemiskinan Bank Dunia bertema Making The New Indonesia Work 
For The Poor menunjukkan bahwa di negara ini masih terdapat sekitar 39,1 juta 
orang atau sekitar 17,75 persen populasi masyarakat yang miskin. Artinya, angka 
kemiskinan di Indonesia selama satu dasawarsa terakhir belum membaik secara 
signifikan.

      Tak pernah ada kabar gembira untuk rakyat kebanyakan. Dahaga rakyat akan 
kebijakan pro-mereka ibarat penantian panjang tak berujung. Alih-alih berupaya 
meringankan beban hidup rakyat, pemerintah malah sedang bersiap 
mengimplementasikan kebijakan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) 
bersubsidi. Ironisnya, saat rakyat harus bersabar dalam nestapa, pemerintah 
beberapa kali menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) serta TNI/Polri. Aparat 
birokrat bahkan telah menerima remunerasi.

      Ketika tepuk tangan bergema di ruang parlemen saat Presiden mengumumkan 
kenaikan gaji PNS, rakyat kecil hanya bisa meratap karena tak ada yang peduli 
pada nasib mereka. Ironisnya lagi, kenaikan gaji PNS maupun remunerasi tidak 
otomatis membuat kinerja pemerintah bertambah baik. Kualitas pelayanan 
birokrasi terhadap rakyat tetap saja buruk. Kejahatan oknum birokrat terhadap 
negaranya sendiri tetap marak. Hingga pekan ini harga bahan pangan masih 
melambung tinggi.

      Tidak adanya kemajuan dalam program kemiskinan tersebut, menurut ekonom 
Institut for Development of Economic And Finance (INDEF), Iman Sugema, 
setidaknya bisa dilihat dari tiga sisi: income, beban hidup, dan ada tidaknya 
program antikemiskinan yang dibuat pemerintah. Kemudian tentang kemiskinan, 
pemerintah menggunakan patokan daya konsumsi atau purchasing power parity (PPA) 
per kapita USD1 per hari sebagai patokan kemiskinan, sementara PBB menggunakan 
patokan PPA USD2 per kapita per hari.

      Tidak terlalu penting lagi mana yang lebih manusiawi, tetapi kedua angka 
patokan itu rasanya tidak relevan lagi dengan perkembangan atau laju kenaikan 
harga barang dan jasa di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Harga 
bahan pangan di Indonesia bahkan terus melonjak sepanjang 2010 hingga kini. 
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan kualitas papan (perumahan) dan 
kualitas sanitasi yang memengaruhi langsung aspek kesehatan penduduk. Itulah 
sebabnya kualitas kesejahteraan menjadi jauh lebih penting untuk dikedepankan 
daripada sekadar statistik tentang jumlah warga miskin.

      Negara Gagal?

      Hari-hari ini, berita di radio, televisi, koran dan media online selalu 
dihiasi dengan pemberitaan korupsi dan mafia pajak yang dilakukan Gayus 
Tambunan cs. Selain Gayus, ada seorang pejabat kantor pajak bernama Bahasyim 
yang punya kekayaan Rp 932 miliar yang diduga hasil korupsi. Dan ironisnya 
hanya Rp 67 miliar saja yang disita oleh negara. Selain berita soal korupsi 
yang dilakukan para pejabat dan kepala daerah, ada pula berita seputar rencana 
kenaikan gaji presiden dan para pejabat negara yang berjumlah sekitar 8.000 
orang. Anggota dewan juga tidak ketinggalan meminta kenaikan gaji pula.

      Ketika sebagian orang bergelimang harta dan berhasil mengumpulkan harta 
dengan segala macam cara, termasuk dengan korupsi. Negeri ini juga selalu 
dihiasi kisah penderitaan anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Nasi aking 
menjadi salah satu menu rakyat. Tiwul dan gaplek yang terbuat dari ubi kayu 
menjadi pengganti nasi yang harganya melambung tinggi. Bangkai ayam menjadi 
buruan para orang miskin di kota. Di televisi, kita pernah menyaksikan 
bagaimana beberapa warga kota yang menjadikan tikus got sebagai lauk pengganti 
ikan. Di banyak daerah, kasus bunuh diri semakin meningkat sebagai akibat 
kemiskinan, terlalu banyak hutang dan penyakit yang tidak kunjung sembuh.

      Artinya, kini kemiskinan telah merebak. Pantaslah Indonesia dikategorikan 
negara gagal. PBB memperhitungkan hampir separuh penduduk Indonesia hidup di 
bawah dua dollar perhari. Bagaimana orang bisa hidup dengan uang Rp 20.000 
sehari di tengah harga pangan melambung tak terkendali?

      Apakah Indonesia sudah menjadi negara gagal? Belum. Tapi 
setidak-tidaknya, Indonesia menuju dengan cepat ke arah itu. Banyak ukuran 
dalam membuat indeks negara gagal tersebut. Tapi secara umum disebutkan antara 
lain, pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, 
kemiskinan, pengangguran, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi 
merosot.

      Negara nomor satu paling gagal adalah Somalia, disusul Chad, Sudan dan 
Zimbabwe di Afrika. Tapi coba bayangkan jika Indonesia masuk satu jajaran 
dengan negeri itu, bersama sejumlah negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin, 
semacam Timor Leste, Myanmar, Konggo, Haiti, Ethiopia, dan Uganda.

      Sebagai catatan akhir, kegagalan negara bukanlah semata kegagalan 
pemerintah yang berkuasa, melainkan semua pihak yang terlibat dalam distorsi 
kebijakan publik yang dibutuhkan untuk menyejahterakan masyarakat. Merekalah 
yang sebenarnya memberikan kemiskinan kepada rakyat.***

      Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kemasyarakatan, Mahasiswa FIP 
Program PSKGJ Unimed


     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke