Hehehe...paling kaya di indonesia nantinya...malah carut marut rebutan 
kekuasaan terus...bener mah kaga...
-----Original Message-----
From: "wawan" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 13 Feb 2011 03:50:32 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [proletar] Dunia Ucapkan Selamat

WASHINGTON DC, JUMAT - Ucapan selamat dan pujian atas kemenangan revolusi Mesir 
mengalir dari seluruh dunia setelah Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri, 
Jumat (11/2) petang. Meski bernada positif, ucapan-ucapan itu menyiratkan 
kepentingan setiap negara.

Presiden AS Barack Obama, yang langsung memutus rapat di Kantor Oval sesaat 
setelah diberi tahu perkembangan terbaru di Mesir, Jumat, mengatakan, rakyat 
Mesir telah berbicara dan mendapatkan "demokrasi tulen". Obama berpesan kepada 
pihak militer, yang kini memegang kekuasaan di Mesir, untuk memastikan 
peralihan politik yang kredibel di mata seluruh rakyat Mesir. "Hari-hari di 
depan akan sulit," kata Obama mengingatkan.

Dalam pernyataan terpisah, Wakil Presiden AS Joe Biden menyebut perubahan di 
Mesir adalah momen "sangat menentukan" dalam sejarah Mesir dan kawasan Timur 
Tengah. Biden berharap peralihan kekuasaan di Mesir adalah perubahan yang tak 
bisa diutak-atik lagi.

AS berada dalam posisi terjepit dan canggung selama 18 hari aksi demonstrasi 
rakyat menuntut perubahan rezim di Mesir. Di satu sisi, AS perlu menunjukkan 
peranan sebagai pemimpin demokrasi dunia dan menekan Pemerintah Mesir memenuhi 
tuntutan rakyat. Namun, di sisi lain, AS juga harus ekstra hati-hati agar 
jangan sampai kehilangan sekutu utama paling strategis di Timur Tengah.

Israel, negara yang paling takut dengan instabilitas kawasan dan mendukung 
Mubarak untuk bertahan sejak awal, berharap agar transisi menuju demokrasi di 
Mesir dan negara-negara tetangganya dilakukan secara mulus. Seorang pejabat 
Israel juga menekankan, siapa pun penerus Mubarak harus menjaga perdamaian 
dengan Israel, yang ditandatangani pendahulu Mubarak, Presiden Anwar Sadat, 
pada tahun 1979.

Harapan serupa diungkapkan Kanselir Jerman Angela Merkel. "Saya berharap Mesir 
tetap menjaga perdamaian di Timur Tengah, tetap menghormati perjanjian (damai) 
dengan Israel dan menjamin keamanan Israel," tutur Merkel.

Harapkan stabilitas

China, yang sempat khawatir tsunami politik dunia Arab bisa menginspirasi para 
aktivis pro- demokrasi di negara komunis tersebut, berharap agar stabilitas dan 
ketertiban masyarakat segera diwujudkan kembali di Mesir. Dengan nada sumbang, 
koran berbahasa Inggris China Daily menyebut aksi protes anti-Mubarak itu telah 
menyebabkan "kerusakan" di Mesir.

Pekan lalu, China menyerukan kepada dunia internasional untuk tak mencampuri 
urusan dalam negeri Mesir. Untuk mencegah para aktivis demokrasi mengikuti 
perkembangan di Mesir, Pemerintah China sempat memblokir beberapa kata kunci 
terkait revolusi di Mesir dalam situs-situs blog di China.

Seruan untuk mewujudkan stabilitas juga disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia 
Sergei Lavrov. "Kami berharap perkembangan terakhir ini akan membantu pemulihan 
stabilitas dan memastikan seluruh struktur pemerintahan berfungsi kembali," 
tutur Lavrov, yang negerinya disebut-sebut memendam kemungkinan aksi seperti di 
Mesir menjelang pemilu tahun depan.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma 
memuji Mubarak, yang telah tunduk kepada kemauan rakyat, dan mengambil 
"keputusan sulit berdasarkan kepentingan rakyat Mesir yang lebih luas".

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengaku salut terhadap keputusan Mubarak 
mengundurkan diri. "Perancis menyerukan kepada seluruh rakyat Mesir untuk 
melanjutkan perjuangan mereka menuju kebebasan," seru Sarkozy.

Perdana Menteri Inggris David Cameron menyerukan segera terbentuknya 
pemerintahan sipil yang demokratis sebagai bagian dari transisi menuju Mesir 
yang terbuka, demokratis, dan bebas. Pernyataan senada disampaikan PM Australia 
Julia Gillard dan PM Jepang Naoto Kan.

Juru bicara Hamas di Gaza, Sami Abu Zuhri, memuji "awal kemenangan revolusi 
rakyat Mesir".

Iran, yang sedang merayakan 32 tahun Revolusi Iran pada tanggal yang sama 
dengan terjadinya revolusi di Mesir, menyebut perubahan di Mesir itu sebagai 
"kemenangan besar".

Qatar menyambut baik perubahan di Mesir, sementara di Yaman, ribuan orang turun 
ke jalan dan meneriakkan, "Kemarin Tunisia, hari ini Mesir, dan besok 
orang-orang Yaman akan membebaskan diri dari belenggu!" (AFP/Reuters/DHF)




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke