http://blog.uin-malang.ac.id/muham/2010/06/28/dialektika-karl-marx/

Tinjauan Tentang Materialisme Dialektik Karl Marx

Materialisme pada dasarnya merupakan bentuk yang paling radikal dari paham 
naturalisme. Sebagaimana diketahui, Naturalisme adalah teori yang me-nerima 
`natura' (alam) sebagai keseluruhan realitas. Istilah `natura' telah dipakai 
dalam filsafat dengan bermacam-macam arti. Dari dunia fisika yang dapat dilihat 
oleh manusia sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natu-ra 
adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam (Titus, dkk, 1984: 
293).

Menurut Wiiliam R. Dennes, seorang penganut naturalisme, ketika natu-ralisme 
modern berpendirian bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti ber-sifat 
kealaman, maka kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan 
adalah kejadian. Kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupa-kan 
satuan-satuan penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat dialami 
manusia. Satuan-satuan semacam itulah yang merupakan satu-satunya penyusun 
dasar bagi segenap hal yang ada (Katsoff, 1992: 216-218).

Alam (universe) itu merupakan kesatuan materi yang tidak terbatas; al-am, 
termasuk di dalamnya segala materi dan energi (gerak atau tenaga) selalu ada 
dan akan tetap ada, dan alam adalah realitas yang keras, dapat disentuh, 
material, obyektif dan dapat diketahui oleh manusia. Materialisme modern 
me-ngatakan bahwa materi ada sebelum ada jiwa (mind) dan dunia material adalah 
yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua. Charles S 
Seely; 1967 (Listiyono Santoso, 2003: 39).

Dalam arti sempit, materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa be-ntuk 
benda dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. 
Materialisme berpendapat bahwa semua kejadian dan kondisi adalah akibat la-zim 
dari kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi sebelumnya. Benda-benda organik atau 
bentuk-bentuk yang lebih tinggi dalam alam hanya merupakan bentuk yang lebih 
kompleks daripada bentuk anorganik atau bentuk yang lebih rendah. Ben-tuk yang 
lebih tinggi tidak mengandung materi atau energi baru dan prinsip fisika adalah 
cukup untuk merenungkan segala yang terjadi atau yang ada. Semua pro-ses alam, 
baik organik atau anorganik telah dipastikan dan dapat diramalkan jika segala 
fakta tentang kondisi sebelumnya dan dapat diketahui (Titus, dkk, 1984: 294).

Dengan demikian, materialisme selalu memberikan titik tekan bahwa ma-teri 
merupakan ukuran segalanya, melalui paradigma materi ini segala kejadian dapat 
diterangkan. Artinya, segala kejadian sebagai kategori pokok untuk mema-hami 
kenyataan sesungguhnya dapat dijelaskan melalui kaidah-kaidah hukum fi-sik. 
Keseluruhan perubahan dan kejadian dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip 
sains alam semata-mata, karena kenyataan sesungguhnya bersifat materi dan harus 
dijelaskan dalam `frame' material juga. Sedangkan satu-satunya dunia yang 
diketahui atau dapat diketahui adalah dunia yang sampai pada kita melalui indra 
(Listiyono Santoso, 2003: 40).

Sedangkan istilah dialektika-pada dasarnya- bukanlah merupakan termi-nologi 
baru dalam filsafat. Bila ditelusuri lebih jauh, pengertian ini telah 
terkan-dung dalam filsafatnya Herakleitos (500 SM) yang mendasarkan filsafat 
pada `pe-rtentangan-pertentangan', dan pertentangan adalah arti umum dan awal 
dari di-alektika. Sokrates kemudian juga menggunakan dialektika sebagai metode 
untuk memperoleh melalui cara-cara dialog, mempertanyakan dan kemudian 
memban-tah jawaban yang diperoleh untuk memperoleh kepastian pengetahuan. 
Istilah dialektika ini kemudian semakin terlembaga pada filsafat Hegel 
(1770-1831), yang merumuskan dialektika sebagai teori tentang persatuan hal-hal 
yang ber-tentangan. Dunia menurut Hegel selalu berada dalam proses 
perkembangan.  Proses perkembangan tersebut bersifat dialektik, artinya 
perubahan-perubahan itu berlangsung dengan melalui tahapan afirmasi atau tesis, 
pengingkaran atau antitesis dan akhirnya sampai kepada integrasi atau sintesis 
(Titus, dkk, 1984: 302).

Untuk lebih jelasnya, asal usul kata dialektika ini dijumpai dalam tulisan 
yakhot (1995: 11), yang artinya:

(Dialektika berasal dari kata yunani `dialego' yang artinya pembalikan, 
perbantahan. Di dalampengertian lama, dialektika bermakna sebagai seni 
pencapaian kebenaran melalui cara pertentangan dalam perdebatannya dari satu 
pertentangan berikutnya. Selanjutnya dialektika dipergunakan untuk suatu metode 
dalam memahami kenyataan.)

Dalam konteks ini Marx-dan juga Engels-menerima prinsip dialektik tersebut, 
te-tapi ia juga menolak prinsip ontologism dari dialektikanya Hegel. Kekeliruan 
He-gel, menurut Marx adalah karena Hegel menyajikan dalam bentuk mistik (Titus, 
dkk, 1984: 303).

Sebagaimana diketahui Hegel dan kaum idealisme lainnya, mengkanstra-tir suatu 
pemahaman bahwa alam merupakan hasil ruh (absolut), sehingga diale-ktika yang 
muncul adalah dialektika idea. Artinya, dialektika-dengan demikian ha-nya 
terjadi dan dapat diterapkan dalam dunia abstrak, yaitu ide atau pikiran 
ma-nusia (Listiyono Santoso, 2003: 42).

Prinsip dialektika Hegel dan kaum idealis ini ditolak oleh Marx. Bagi Marx, 
segala sesuatu yang bersifat rohani merupakan hasil materi, sehingga dialektika 
yang dia kembangkan adalah dialektika materi. Bahwa dialektika terjadinya di 
dunia nyata bukan di dunia materi sebagaimana yang dikonstratir Hegel. Karena 
itulah, filsafat Karl Marx disebut dengan `materialisme dialektik' (K. Bertens, 
1979: 80). Proses dialektika adalah suatu contoh yang ada di dalam dunia. 
Dialektika adalah suatu fakta empiris, manusia mengetahuinya dari penyelidikan 
tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan lebih lanjut tentang hubungan sebab 
musabab yang dibawahkan oleh ahli sejarah dan sains (Listiyono Santoso, 2003: 
43).

Di lain hal Karl Marx juga mengemukakan:

"metode dialektika saya sendiri bukan saja berbeda dari metode dialek-tika 
Hegel, tetapi lawan langsung darinya. Bagi Hegel, proses berpikir itu adalah 
pencipta dari dunia nyata, dan dunia nyata hanya manifestasi lahir dari "ide". 
Bagi saya sebaliknya dari itu, yang berupa dalam cita (the ideal) tidak lain 
dari dunia nyata (material world) yang direfleksikan oleh pikiran manusia dan 
dipindahkan menjadi buah pikiran"(Firdaus Syam, 2007: 169).

Penjelasan konsep materialisme dialektis Marx ini pada akhirnya mem-bawa 
pengaruh pada bangunan sistem pengetahuan yang dibentuk pada prinsip tersebut. 
Segala sesuatu harus dapat dijelaskan dalam kerangka benda sebagai satu-satunya 
yang nyata. Secara radikal bisa saja Marx berusaha untuk memberi-kan suatu 
pemahaman bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ma-nusia terhadap 
dunia nyata atau kenyataan obyektif, karena kebenaran pengeta-huan hanya ada 
pada dunia nyata, bukan dalam dunia ide (pikiran) manusia. Bah-kan pada tingkat 
selanjutnya, materialisme pada akhirnya hanya mempercayai bahwa pengetahuan 
ilmiah (ilmu) merupakan satu-satunya pengetahuan yang memadai (Listiyono 
Santoso, 2003: 43).

karya-karya Karl Marx

Diantara tulisan-tulisannya Karl Marx adalah Manifesto of The Communist Party 
(1848) karya Marx bersama Engels, The Eighteenth Brumaire of Louis Bor-naparte 
serta karya besarnya yakni Das Capital. Selain itu juga ada risalah yang 
berjudul Economic and Philosophic Manuscripts. Semasa hayatnya, tulisan Marx 
tidak banyak dibaca orang. Namun tidak lama kemudian gagasan dan seruan 
mo-ralnya, perbendaharaan kata-katanya, bahkan pendiriannya yang dianggap 
me-nyimpang, mulai mempengaruhi jalan sejarah dunia. Bagaimanapun juga 
Marx-isme merupakan buah karya intelektual, lantaran doktrinnya digunakan 
secara politik dan menghadirkan fenomena intelektual terpenting di zaman kita

(C Wright Mills dalam Imam Muttaqien (terj), 2003: 23).

Economic and Philosophic Manuscript, ditulis Marx tahun 1844, ketika beliau 
berusia 26 tahun. Dalam tulisannya Marx memiliki kecerdasan untuk me-nemukan 
bahwa industrialisme benar-benar hadir dan harus disambut sebagai satu-satunya 
harapan untuk membebaskan manusia dari keburukan nafsu ke-bendaan 
ketidakpedulian dan penyakit. Dalam manuskrip, Marx mengatakan bahwa 
kapitalisme manusia di alienasikan dari pekerjaan, barang yang dihasilkan, 
majikan, rekan sekerja dan diri mereka. Buruh menurut Marx tidak bekerja untuk 
mengaktualisasikan dirinya serta potensi kreatifnya karena "pekerjaan tidak 
atas dasar kesukarelaan tetapi atas dasar paksaan." Williamn Ebenstain dan 
Edwin Fogelman, hlm. 22 (Firdaus Syam, 2007: 174).

The Manifesto of The Communist Party, atau Manifesto Partai Komunis

dicetak pada bulan Februari, 1845 merupakan karya Karl Marx dan Engels telah 
mendapat respon yang luar biasa, dan karena karya inilah ia dikenal sebagai 
to-koh yang menjagad. Di kalangan pengikut Marxisme, ini tidak ubahnya sebagai 
"kitab" bagi petunjuk hidup dan perjuangan politik. Dalam buku ini dikemukakan 
mengenai hakikat perjuangan kelas, yang dijelaskan:

"sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini merupakan cerita dari 
perjuangan kelas. Kebebasan dan perbudakan, bangsawan dan kampungan, tuan dan 
pelayan, kepala serikat kerja dan yang ditentukan, berada pada posisi yang 
selalu bertentangan satu sama lainnya, dan berlangsung tanpa terputus". Karl 
Marx dan Engels, The Manifesto…,1967, hlm 79, (Firdaus Syam, 2007: 175).

Politik Marx

Masyarakat dan Negara. Negara menurut Marx sebagai alat belaka dari kelas  
penguasa (berpunya) untuk menindas kelas yang dikuasai (yang tidak ber-punya). 
Negara dan pemerintahan identik dengan kelas penguasa, artinya deng-an kelas 
bepunya dalam sejarah berturut dikenal kelas pemilik budak, kelas bang-sawan 
(tuan tanah), kelas borjuis. Ini berkaitan dengan dialektika bahwa 
perkem-bangan masyarakat feodalisme kemasyarakatan borjuis atau kapitalisme dan 
se-lanjutnya menuju masyarakat sosialisme yang perubahan itu merupakan 
kelan-jutan yang tidak dapat dielakkan. Untuk menuju masyarakat komunis, tidak 
de-ngan berdiam diri, melainkan harus berjuang bukan menanti dialektika sejarah 
itu (Firdaus Syam, 2007: 179).

Nasionalisme bagi Marx hanyalah bagian dari suprastruktur ideologi kapi-talis. 
Namun ia juga berpendapat ada sisi lain dari kapitalisme, yakni turut mem-bantu 
melenyapkan nasionalisme. Dalam bukunya Communist Manifesto, Marx  menulis 
perbedaan serta pertentangn nasional menurutnya semakin hari sema-kin 
menghilang. Hal ini dikarenakan adanya perdagangan bebas, kelompok borju-is, 
pasar dunia, keseragaman cara produktif serta berbagai kondisi kehidupan ya-ng 
memiliki keterkaitan erat dengan cara produksi itu. Menurutnya melalui 
pers-pektif ekonomi, nasionalisme itu akan lenyap sebagai kecurigaan usang dari 
zam-an industri. Williamn Ebenstain dan Edwin Fogelman, hlm. 21 (Firdaus Syam, 
2007: 183).

Agama. Bagi Marx religion is the opium of people, adalah ungkapannya yang 
terkenal bagaimana umumnya orang memiliki penilaian terhadap sikap kalangan 
komunis terhadap keberadaan agama ditengah masyarakat dan Ne-gara. Marx 
memandang agama tidak menjadikan manusia menjadi dirinya sen-diri, melainkan 
menjadi sesuatu yang berada diluar dirinya yang menyebabkan manusia dengan 
agama menjadi makhluk yang terasing dari dirinya sendiri. Agama adalah sumber 
keterasingan manusia ( Murtadha Mutahhari: 1987).

Agama harus dilenyapkan karena agama sebagai alat kaum borjuis kapi-talis untuk 
mengeksploitasi kelas pekerja. Agama dijadikan sebagai alat kekua-saan untuk 
mempertahankan kekuasaannya, selain dijadikan alat agar rakyat ti-dak melakukan 
perlawanan, pemberontakan, dibiarkan terlena dan patuh atas penguasa, dan semua 
ini sebagai fungsi eksploitasi agama. Agama adalah produk dari perbedaan kelas, 
selama perbedaan kelas ada maka agama tetap ada. Marx percaya bahwa agama 
adalah perangkap yang diapasang kelas penguasa untuk mejerat kelas pekerja, 
bila perbedaan kelas itu hilang, agama dengan sendirinya akan lenyap( Murtadha 
Mutahhari: 1987).



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke