http://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1880/utopi-ilmu/ch02.htm

Sosialisme: Utopis dan Ilmiah
Engels (1880)
Bab II
Dialektika

Dalam pada itu, bersama dengan dan sesudah filsafat Perancis abad ke-18 telah 
muncul filsafat Jerman baru, yang memuncak dengan Hegel. Jasanya yang terbesar 
ialah diangkatnya kembali dialektika sebagai bentuk tertinggi dari pemikiran. 
Ahli-ahli filsafat Yunani kuno semuanya dasarnya adalah dialektikus-dialektikus 
alamiah, dan Aristotel, orang intelek yang paling ensiklopedis di antara 
mereka, sudah menganalisa bentuk-bentuk yang paling esensiil dari pikiran 
dialektik. Di pihak lain, filsafat yang lebih baru, meskipun di dalamnya 
dialektika juga mempunyai eksponen-eksponen (wakil-wakil) yang brilian 
(misalnya, Descartes dan Spinoza), telah terutama lewat pengaruh Inggris, 
menjadi semakin tegang-kaku dalam apa yang dinamakan metode berpikir yang 
metafisik, yang hampir sama sekali menguasai juga orang-orang Perancis abad 
ke-18, setidak-tidaknya dalam karya khusus filsafat mereka. Di luar filsafat 
dalam arti yang terbatas, orang-orang Perancis meskipun demikian menghasilkan 
karya-karya agung tentang dialektika. Kita hanya perlu mengingatkan "Le Neveu 
de Rameau" (Kemenakan Rameau) dari Diderot dan karya Rousseau "Discours sur 
l'origine et les fondements de l'inégalité parmi les homes" (Uraian tentang 
Asal-usul dan Dasar dari Ketidaksamaan di kalangan Manusia). Di sini secara 
singkat kita tunjukkan watak yang esensiil dari dua cara berpikir ini.

Apabila kita perhatikan dan renungkan Alam pada umumnya, atau sejarah umat 
manusia atau aktivitet intelektuil kita sendiri, mula-mula kita lihat gambaran 
dari suatu kekacauan yang tak ada akhirnya dari hubungan-hubungan dan 
reaksi-reaksi, pergantian-pergantian dan kombinasi-kombinasi, di mana tak ada 
yang tetap apa, di mana dan sebagaimana telah adanya, tetapi segala-sesuatu 
bergerak, berubah, menjadi dan melenyap. Oleh karena itu, kita lihat mula-mula 
gambaran keseluruhannya dengan bagian-bagian individuilnya banyak-sedikitnya 
masih tinggal di latar belakang; kita lebih memperhatikan gerakan-gerakan, 
peralihan-peralihan, hubungan-hubungan daripada benda-bendanya yang bergerak, 
berkombinasi dan berhubungan. Konsepsi dunia yang primitif, naïf, tetapi pada 
dasarnya tepat ini adalah konsepsi filsafat Yunani kuno, dan pertama kali 
dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus: segala-sesuatu itu ada dan tiada, 
karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan 
melenyap.

Tetapi konsepsi ini, bagaimanapun juga tepatnya menyatakan watak umum dari 
gambaran gejala-gejala dalam keseluruhannya, tidaklah cukup untuk menerangkan 
detail-detail yang membentuk gambaran ini, dan selama kita tidak mengerti 
detail-detail ini, kita tidak mempunyai gagasan yang jelas tentang gambaran itu 
seluruhnya. Untuk mengerti tentang detail-detail ini kita harus melepaskannya 
dari hubungan alam atau hubungan sejarah mereka dan memeriksanya masing-masing 
ter-sendiri-sendiri, sifatnya, sebab-sebab khusus, akibat-akibatnya, dsb. Ini 
pertama-tama adalah tugas ilmu alam dan penelitian sejarah: cabang-cabang ilmu 
yang oleh orang-orang Yunani zaman klasik, atas alasan-alasan yang baik sekali, 
diturunkan ke kedudukan bawahan, karena mereka pertama-tama harus mengumpulkan 
bahan-bahan bagi ilmu-ilmu ini untuk dikerjakan. Sejumlah bahan alam dan 
sejarah tertentu harus dikumpulkan sebelum mungkin ada sesuatu analisa yang 
kritis, pembandingan dan penyusunan ke dalam golongan-golongan, susunan-susunan 
dan jenis-jenis. Karena itu, dasar-dasar dari ilmu alam eksak mula-mula 
dikembangkan oleh orang-orang Yunani pada periode Alexandria[1], dan kemudian, 
dalam Abad Pertengahan, oleh orang-orang Arab. Ilmu alam yang sejati mulai 
sejak dari pertengahan kedua abad ke-15, dan sejak itu ia telah maju dengan 
kecepatan yang senantiasa meningkat. Analisa Alam ke dalam bagian-bagiannya 
yang khusus, penggrupan proses-proses dan obyek-obyek alam yang berlain-lainan, 
ke dalam golongan-golongan tertentu, studi tentang anatomi intern dari 
badan-badan organik dalam bentuk-bentuk mereka yang bermacam-macam-inilah 
syarat-syarat fundamental bagi langkah-langkah raksasa dalam pengetahuan kita 
tentang Alam yang telah dibuat selama empat ratus tahun yang lalu. Tetapi cara 
kerja demikian ini juga telah meninggalkan pada kita sebagai warisan kebiasaan 
memandang obyek-obyek serta proses-proses alam terpisah-pisah, terasing dari 
hubungan mereka dengan keseluruhan yang maha besar; memandangnya dalam diam, 
tidak dalam gerak; sebagai tetap, bukan sebagai yang pada hakekatnya 
berubah-ubah, dalam kematiannya, bukan dalam kehidupannya. Dan ketika cara 
memandang hal-ihwal ini dipindahkan oleh Bacon dan Locke dari ilmu alam ke 
filsafat, ia melahirkan cara berpikir yang metafisik, sempit, yang khas bagi 
abad yang lalu.

Bagi seorang metafisikus, hal-ihwal dan pencerminan-pencerminan mereka di dalam 
pikiran, ide-ide, adalah terpisah-pisah, harus dipandang satu demi satu dan 
terasing satu sama lain, adalah obyek-obyek penyelidikan yang tetap, kaku, yang 
ditentukan sekali untuk selama-lamanya. Dia berpikir dalam antitese-antitese 
yang sama sekali tak terdamaikan. "Jalan pikirannya ialah `ya, ya; tidak, 
tidak'; karena apapun juga yang lebih daripada ini datang dari setan". Baginya 
suatu hal-ihwal itu ada atau tidak ada, suatu hal-ihwal tidak bisa pada waktu 
yang sama adalah dia sendiri dan sesuatu yang lain. Positif dan negatif secara 
mutlak saling mengecualikan; sebab dan akibat berada dalam antitese yang kaku 
satu sama lain.

Sepintas lalu cara berpikir ini nampaknya bagi kita sangat gemilang, karena 
itulah yang dinamakan akal sehat. Hanyalah akal sehat, orang terhormatlah dia, 
di dalam empat tembok dari kerajaan kamar-duduknya sendiri, yang mengalami 
avontur-avontur yang sangat indah segera dia memberanikan diri memasuki dunia 
penelitian yang luas. Dan cara berpikir yang metafisik, yang dapat dibenarkan 
dan perlu seperti halnya dalam sejumlah bidang yang keluasannya berlain-lainan 
menurut sifat obyek penelitian yang khusus, cepat atau lambat mencapai suatu 
batas, yang di luar batas ini ia menjadi berat-sebelah, terbatas, abstrak, 
tenggelam dalam kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan. Dalam memandang 
satu-satu hal-ihwal, ia melupakan hubungan di antara mereka; dalam memandang 
keadaan mereka, ia lupa akan awal dan akhir dari keadaan itu; dalam memandang 
diam mereka, ia melupakan gerak mereka. Karena pohon tidak dapat melihat hutan.

Untuk maksud sehari-hari kita tahu dan dapat mengatakan, misalnya, apakah 
seekor hewan itu hidup atau tidak. Tetapi, setelah diperiksa lebih teliti, kita 
ketahui bahwa hal ini, dalam banyak hal, adalah suatu masalah yang sangat 
rumit, sebagaimana diketahui betul oleh para ahli hukum. Mereka telah memeras 
otak mereka dengan sia-sia untuk menemukan suatu batas rasionil yang di luar 
batas ini membunuh anak dalam kandungan ibunya merupakan suatu pembunuhan. 
Persis sama tidak mungkinnya untuk menentukan secara mutlak saat kematian, 
karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah suatu gejala yang seketika 
itu juga, yang sekejap mata, melainkan suatu proses yang lama sekali.

Begitu juga, setiap keadaan organik pada setiap saat adalah yang itu juga dan 
bukan yang itu juga; setiap saat ia mengasimilasi materi yang disediakan dari 
luar, dan membebaskan diri dari materi lain; setiap saat beberapa sel dari 
badannya mati dan sel-sel lain membentuk diri lagi; dalam waktu yang lama atau 
pendek materi dari badannya diperbaharui sama sekali dan diganti oleh 
molekul-molekul materi lain, sehingga setiap keadaan organik adalah senantiasa 
dia sendiri dan juga sesuatu yang lain daripada dia sendiri.

Selanjutnya, setelah menyelidiki lebih teliti kita ketahui, bahwa kedua kutub 
dari suatu antitesis, positif dan negatif, misalnya, adalah sama tak 
terpisahkannya sebagaimana mereka itu juga saling bertentangan, dan bahwa 
kendatipun segala pertentangan mereka, mereka saling menyusup. Dan, begitu 
juga, kita ketahui bahwa sebab dan akibat adalah konsepsi-konsepsi yang hanya 
berlaku dalam penerapan mereka pada satu-satu hal; tetapi segera sesudah kita 
perhatikan satu-satu hal itu dalam hubungan umum mereka dengan alam-dunia 
sebagai keseluruhan, mereka saling bertumbuk, dan mereka menjadi campur-aduk 
apabila kita pandang aksi dan reaksi yang universal di mana sebab dan akibat 
secara langgeng bertukar tempat, sehingga apa yang merupakan akibat di sini dan 
sekarang akan menjadi sebab di sana dan pada waktu itu, dan vice versa 
(sebaliknya).

Dari proses-proses dan cara-cara berpikir ini tidak ada yang masuk rangka 
berpikir secara metafisik. Dialektika, sebaliknya, memahami hal-ihwal-hal-ihwal 
serta gambarannya, ide-ide mereka, dalam hubungan, rangkaian, gerak, awal dan 
akhir mereka yang hakiki. Karena itu, proses-proses seperti yang tersebut di 
atas adalah sebegitu banyak pembenaran dari metode prosedurnya sendiri.

Alam adalah bukti dialektika, dan harus dikatakan tentang ilmu modern bahwa ia 
telah melengkapi bukti ini dengan bahan-bahan yang sangat kaya yang bertambah 
banyak setiap hari, dan dengan demikian telah menunjukkan bahwa pada tingkatan 
yang terakhir Alam berlaku secara dialektik dan tidak secara metafisik; bahwa 
ia tidak bergerak dalam kesatuan abadi dari suatu lingkaran yang berulang 
terus-menerus, tetapi mengalami evolusi historis yang nyata. Dalam hubungan ini 
Darwin harus yang pertama-tama disebut sebelum semua lainnya. Dia telah 
memberikan pukulan yang paling berat kepada konsepsi metafisik tentang Alam 
dengan pembuktiannya bahwa semua keadaan organik, tumbuh-tumbuhan, hewan dan 
manusia sendiri, adalah hasil dari suatu proses evolusi yang berlangsung selama 
jutaan tahun. Tetapi kaum naturalis yang telah belajar berpikir secara 
dialektik sedikit dan jarang, dan bentrokan antara hasil-hasil penemuan dengan 
cara berpikir yang sudah berprasangka ini menerangkan kekacauan yang tiada 
habisnya yang sekarang sedang berkuasa dalam ilmu alam teoritis, keputusasaan 
baik para guru maupun para siswa, keputusasaan para penulis dan juga pada 
pembaca.

Karena itu suatu penggambaran yang tepat tentang alam-dunia, tentang 
evolusinya, tentang perkembangan umat manusia dan tentang pencerminan evolusi 
ini dalam pikiran manusia, dapat diperoleh hanya dengan metode dialektika 
dengan perhatiannya tetap pada aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang tak terhitung 
banyaknya dari hidup dan mati, dari perubahan-perubahan yang progresif dan yang 
mundur. Dan dalam semangat inilah filsafat Jerman yang baru itu telah bekerja. 
Kant memulai kariernya dengan memecahkan sistem surya yang stabil dari Newton 
dan kelangsungannya yang abadi, sesudah dorongan permulaan yang terkenal itu 
sekali diberikan, menjadi hasil dari proses bersejarah, pembentukan matahari 
dan semua planet dari massa berkabut yang berputar. Dari sini dia bersamaan 
waktu menarik kesimpulan bahwa, andaikan ini asal sistem surya, kematiannya di 
masa depan akibat keharusan. Teorinya ini setengah abad kemudian telah 
dibuktikan secara matematik oleh Laplace, dan setengah abad sesudah itu 
spektroskop membuktikan adanya dalam ruang angkasa massa gas pijar yang 
sedemikian itu dalam berbagai tingkatan kondensasi.

Filsafat Jerman baru ini memuncak dengan sistem Hegel. Dalam sistem ini-dan di 
sinilah jasanya yang besar-untuk pertama kali seluruh dunia, dunia alam, dunia 
sejarah, dunia intelek, digambarkan sebagai suatu proses, yaitu, sebagai dalam 
senantiasa gerak, berubah, peralihan, berkembang; dan dilakukan percobaan untuk 
menyelidiki hubungan intern yang membuat semua gerak dan perkembangan ini suatu 
keseluruhan yang terus-menerus. Dari titik pandangan ini sejarah umat manusia 
tidak lagi tampak sebagai olakan liar dari tindakan-tindakan kekerasan yang 
tolol, yang semua sama-sama terkutuk di meja pengadilan dari akal filsafat yang 
matang dan yang sebaik-baiknya dilupakan secepat mungkin, tetapi sebagai proses 
evolusi manusia sendiri. Sekarang adalah tugas intelek untuk mengikuti kemajuan 
yang berangsur-angsur dari proses ini melalui semua jalannya yang berliku-liku, 
dan untuk mengusut hukum intern yang menembus semua gejalanya yang nampaknya 
kebetulan.

Bahwasanya sistem Hegel tidak memecahkan masalah yang dikemukakannya di sini 
tidaklah penting. Jasanya yang membikin-zaman ialah bahwa ia telah mengajukan 
masalahnya. Masalah ini adalah masalah yang tak seorangpun akan dapat 
memecahkannya. Meskipun Hegel-dengan Saint-Simon-merupakan pikiran yang paling 
ensiklopedis dari zamannya, namun dia adalah terbatas, pertama, karena keluasan 
pengetahuannya sendiri yang semestinya terbatas dan, kedua, karena keluasan 
serta kedalaman yang terbatas dari pengetahuan serta konsepsi-konsepsi abadnya. 
Pada batas-batas ini harus ditambahkan batas yang ketiga. Hegel adalah seorang 
idealis. Bagi dia pikiran-pikiran di dalam otaknya bukanlah gambar-gambar yang 
sedikit atau banyak abstrak dari benda-benda dan proses-proses yang sebenarnya, 
melainkan, sebaliknya, benda-benda dan evolusi mereka hanyalah merupakan 
gambar-gambar yang direalisasi dari "Ide", yang ada di sesuatu tempat sejak 
selama-lamanya sebelum dunia ini ada. Cara berpikir ini telah 
menjungkirbalikkan segala-sesuatu, dan sama sekali berlawanan dengan hubungan 
yang sebenarnya dari benda-benda di dunia. Banyak kelompok fakta-fakta khusus 
dipahami dengan tepat dan cerdik oleh Hegel, namun, karena alasan-alasan yang 
baru saja diberikan, maka banyak yang dirusak, dibuat-buat, sukar, pendek kata, 
salah dalam hal detailnya. Sistem Hegel, dengan sendirinya, adalah suatu 
keguguran yang maha besar-tetapi ia juga merupakan yang terakhir dari yang 
semacam itu. Ia sebenarnya menderita kontradiksi intern dan yang tak dapat 
disembuhkan. Di satu pihak, dalilnya yang hakiki ialah konsepsi bahwa sejarah 
manusia adalah suatu proses evolusi yang, menurut kodratnya sendiri, tidak bisa 
mendapatkan batas intelektuilnya yang terakhir dengan penemuan sesuatu apa yang 
disebut kebenaran absolut. Tetapi, di pihak lain, ia menuntut sebagai hakekat 
dari kebenaran absolut itu sendiri. Sistem pengetahuan alam dan sejarah, yang 
meliputi segala-galanya, dan definitif untuk selama-lamanya, adalah suatu 
kontradiksi terhadap hukum fundamentil dari berpikir dialektik. Hukum ini, 
sesungguhnya, sekali-kali tidak mengecualikan tetapi, sebaliknya, meliputi ide 
bahwa pengetahuan sistematis tentang alam-dunia luar dapat membuat 
langkah-langkah raksasa dari abad ke abad.

Persepsi dari kontradiksi fundamentil dalam idealisme Jerman mesti menuju 
kembali kepada materialisme tetapi, nota bene, bukan kepada materialisme 
metafisik semata-mata, materialisme mekanis khas dari abad ke-18. Materialisme 
lama memandang semua sejarah yang telah lalu sebagai tumpukan kasar dari 
ketidakrasionilan dan kekerasan; materialisme modern melihat padanya proses 
evolusi umat manusia, dan bertujuan untuk menemukan hukum-hukumnya. Dengan 
orang-orang Perancis abad ke-18, dan bahkan dengan Hegel, berlaku konsepsi Alam 
dalam keseluruhannya, yang bergerak dalam lingkaran-lingkaran sempit dan tak 
berubah-ubah untuk selama-lamanya, dengan benda-bendanya di langit yang abadi, 
seperti diajarkan oleh Newton, dan dengan jenis-jenis organik yang tak dapat 
berubah-ubah, sebagaimana diajarkan oleh Linnaeus. Materialisme modern meliputi 
penemuan-penemuan yang lebih baru dari ilmu alam, yang menurut 
penemuan-penemuan itu Alam juga mempunyai sejarahnya dalam waktu, benda-benda 
di langit, seperti jenis-jenis organik yang di bawah syarat-syarat yang 
menguntungkan mendiami mereka, karena lahir dan musnah. Dan kalaupun Alam, 
dalam keseluruhannya, masih harus dikatakan bergerak dalam siklus-siklus yang 
berulang, siklus-siklus itu mengambil ukuran-ukuran yang tak terbatas lebih 
besarnya. Dalam kedua aspek itu, materialisme modern pada hakekatnya adalah 
dialektik, dan tidak lagi memerlukan bantuan dari semacam filsafat yang, 
bagaikan ratu, seolah-olah menguasai timbunan ilmu-ilmu selebihnya. Segera 
sesudah masing-masing ilmu yang khusus it harus membikin jelas kedudukannya 
dalam keseluruhan yang besar dari hal-ihwal dan dari pengetahuan kita tentang 
hal-ihwal itu, maka ilmu khusus mengenai keseluruhan ini adalah mubazir atau 
tidak perlu. Yang masih ada dari semua filsafat terdahulu ialah ilmu tentang 
pikiran dan hukum-hukumnya-logika formil dan dialektika. Segala-sesuatu lainnya 
termasuk dalam ilmu positif tentang Alam dan sejarah.

Akan tetapi, sedang revolusi dalam konsepsi Alam dapat dilakukan hanya jika 
seimbang dengan bahan-bahan positif yang bersesuaian yang diberikan oleh 
penelitian, sudah-jauh lebih dulu fakta-fakta sejarah tertentu telah terjadi 
yang menuju kepada perubahan yang menentukan dalam konsepsi sejarah. Dalam 
tahun 1831, pemberontakan kelas buruh yang pertama terjadi di Lyon: antara 1838 
dan 1842, gerakan kelas buruh nasional yang pertama, yaitu gerakan kaum Cartis 
di Inggris, mencapai puncaknya. Perjuangan kelas antara proletariat dengan 
borjuasi tampil ke muka dalam sejarah negeri-negeri yang paling maju di Eropa, 
seimbang dengan perkembangan, di satu pihak, dari industri modern, di lain 
pihak, dari kekuasaan politik borjuasi yang baru diperoleh. Fakta-fakta makin 
lama makin kuat menunjukkan kebohongan ajaran-ajaran ekonomi borjuis tentang 
persamaan kepentingan kapital dan kerja, tentang keselarasan universal dan 
kemakmuran universal yang akan menjadi akibat dari persaingan yang tidak 
berkekang. Semua hal ini tidak lagi dapat dianggap sepi, seperti juga 
Sosialisme Perancis dan Inggris, yang merupakan pernyataan teori dari hal-hal 
itu, meskipun sangat tidak sempurna. Tetapi konsepsi sejarah idealis yang lama, 
yang belum didepak, tidak mengetahui apa-apa tentang perjuangan-perjuangan 
kelas yang berdasarkan kepentingan-kepentingan ekonomi, tidak mengetahui 
apa-apa tentang kepentingan-kepentingan ekonomi; produksi dan semua hubungan 
ekonomi nampak baginya hanya sebagai unsur-unsur yang kebetulan, bawahan dalam 
"sejarah peradaban".

Fakta-fakta baru telah membikin penyelidikan baru mengenai seluruh sejarah yang 
lampau menjadi urgen. Kemudian nampak bahwa seluruh sejarah yang lampau, 
terkecuali tingkatan-tingkatan primitifnya, adalah sejarah 
perjuangan-perjuangan kelas; bahwa kelas-kelas masyarakat yang berperang ini 
adalah selamanya produk cara-cara produksi dan pertukaran-pendeknya, produk 
syarat-syarat ekonomi pada zamannya; bahwa struktur ekonomi masyarakat itu 
selamanya merupakan basis yang sesungguhnya, hanya bertolak dari sini kita 
dapat memberikan penjelasan yang terakhir tentang seluruh bangunan-atas dari 
lembaga-lembaga hukum dan politik maupun dari ide-ide keagamaan, filsafat dan 
ide-ide lainnya pada periode sejarah tertentu. Hegel telah membebaskan sejarah 
dari metafisika-dia telah membuatnya dialektis; tetapi konsepsinya tentang 
sejarah pada dasarnya idealis. Tetapi sekarang idealisme didesak dari tempat 
perlindungannya yang terakhir, filsafat sejarah; sekarang telah diajukan 
perlakuan yang materialis mengenai sejarah, dan telah ditemukan suatu metode 
untuk menerangkan "pengetahuan" manusia dengan "keadaan-keadaan"-nya, bukannya 
seperti dulu, menerangkan "keadaan-keadaan"-nya dengan "pengetahuan"-nya.

Sejak waktu itu Sosialisme tidak lagi merupakan suatu penemuan yang kebetulan 
dari otak cendikia ini atau itu, tetapi merupakan akibat yang mesti dari 
perjuangan di antara dua kelas yang berkembang dalam sejarah-proletariat dan 
borjuasi. Tugasnya tidak lagi membikin suatu sistem masyarakat 
sesempurna-sempurnanya, tetapi menyelidiki rangkaian kejadian-kejadian 
histori-ekonomi dari mana telah timbul sebagai keharusan kelas-kelas ini dan 
antagonisme mereka, dan menemukan alat-alat untuk mengakhiri konflik itu yang 
dengan begitu diciptakan dalam syarat-syarat ekonomi. Tetapi Sosialisme dari 
hari-hari terdahulu tidak bisa dipersatukan dengan konsepsi materialis ini 
sebagaimana konsepsi Alam dari kaum materialis Perancis tidak bisa dipersatukan 
dengan dialektika dan ilmu alam modern. Sosialisme dari hari-hari terdahulu 
tentu saja mengkritik cara produksi kapitalis yang sedang berlaku dan 
akibat-akibatnya. Tetapi ia tidak dapat menjelaskannya dan, karenanya, tidak 
dapat menguasainya. Ia hanya dapat menolaknya begitu saja sebagai buruk. 
Semakin keras Sosialisme terdahulu ini mencela penghisapan atas kelas buruh, 
yang tak dapat dielakkan di bawah kapitalisme, semakin kurang mampu ia 
menunjukkan dengan terang berupa apa penghisapan ini dan bagaimana timbulnya. 
Tetapi untuk ini perlulah-(1) mempertunjukkan cara produksi kapitalis dalam 
hubungan sejarahnya dan ketak-terelakkannya selama periode sejarah tertentu dan 
oleh karena itu juga mempertunjukkan keruntuhannya yang tak terelakkan; dan (2) 
menelanjangi watak hakikinya yang masih merupakan suatu rahasia. Hal ini telah 
dilakukan dengan penemuan nilai-lebih. Telah ditunjukkan bahwa perampasan atas 
kerja yang tak dibayar adalah dasar dari cara produksi kapitalis dan dari 
penghisapan atas buruh yang terjadi di bawah cara produksi kapitalis itu; bahwa 
kalaupun si kapitalis membeli tenaga-kerja buruhnya dengan nilainya yang 
sepenuhnya sebagai suatu barang dagangan di pasar, namun dia memeras lebih 
banyak nilai darinya daripada yang dia bayar untuknya; dan bahwa dalam analisa 
terakhir nilai-lebih ini merupakan jumlah-jumlah nilai dari mana ditimbun massa 
kapital yang senantiasa meningkat dalam tangan-tangan kelas yang bermilik. 
Asal-mula produksi kapitalis dan produksi kapital kedua-duanya dijelaskan.

Dengan dua penemuan besar ini, konsepsi sejarah materialis dan pembongkaran 
rahasia produksi kapitalis melalui nilai-lebih, kita berhutang budi kepada 
Marx. Dengan penemuan ini Sosialisme menjadi ilmu. Hal berikutnya ialah 
mengerjakan semua perincian serta hubungannya.
Catatan

1 Periode Alexandria dari perkembangan ilmu meliputi periode yang merentang 
dari abad ke-3 S.M. sampai abad ke-7 M. Ia memperoleh nama itu dari kota 
Alexandria di Mesir, yang merupakan salah satu pusat yang terpenting dari 
hubungan ekonomi internasional pada waktu itu. Dalam periode Alexandria, 
matematika (Euclid dan Archimedes), geografi, astronomi, anatomi, fisiologi, 
dll., mencapai perkembangan besar.-Red. 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke