http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/10/202288/68/11/Akrobat-para-Demagog


Akrobat para Demagog 

Kamis, 10 Februari 2011 00:00 WIB      
Penulis : M Bashori Muchsin, Guru Besar dan Pembantu Rektor II Universitas 
Islam Malang


ADA pameo 'mencari orang jujur di negeri ini ibarat mencari jarum di tengah 
lautan'. Pameo itu dapat terbaca bahwa negara ini memang mempunyai penduduk 
ratusan juta dengan kondisi geografis yang luas, tetapi mencari sosok yang 
teguh pendirian, kokoh dalam janji, istikamah dalam kejujuran, tak gentar di 
jalan yang benar, atau tak melakukan memenangkan gaya berpolitik ambivalensi 
(ambiguitas), atau tak rajin melakukan akrobat demagogis ternyata sulitnya luar 
biasa. 

Lembaga-lembaga akademis dan keagamaan, yang sebenarnya menjadi ujung tombak 
peradaban, karena di dalamnya dihuni dan dibentuk manusia-manusia yang 
berkenalan dengan ajaran kejujuran, belakangan ini juga menjadi elemen yang 
tergugat akibat ditengarai terlibat dalam koalisi penyimpangan kekayaan rakyat, 
atau tergelincir menjadi bagian dari rezim para demagog. Di berbagai lembaga 
strategis negara, dari hari ke hari semakin banyak ditemukan virus amanat 
kekuasaan, yang diaktori dan dimobilisasikan para demagog. 

Kita sudah lama diingatkan pemikir hukum Islam kontemporer Yusuf Qardawi bahwa 
memegang teguh kebenaran (kejujuran) di zaman sekarang ini ibarat memegang bara 
api yang panas. Ajaran yang kita pegang membuat kita seperti terpanggang oleh 
panasnya api akibat banyaknya tawaran menghanyutkan yang membuat kita bisa 
terlena dan terbakar hangus. 

Faktanya, kita terjebak menciptakan atmosfer euforia dan arogansi untuk membela 
para pendusta dan penyelingkuh kekuasaan. Mereka itu pun berupaya menghancurkan 
dan melumpuhkan setiap gerakan publik dan moral yang berusaha menegakkan 
keadilan bernyawakan keadaban dan egalitarian. 

Kita gampang membaca fenomena, ketika seseorang diberi kepercayaan mengendarai 
atau menakhodai suatu lembaga kenegaraan prestius, bukannya amanat publik 
berbasis keadilan kerakyatan, dan egalitarian, serta akuntabilitas yang 
ditegakkan, melainkan kepentingan pribadi, keluarga, kroni, dan partai. 
Kepentingan itulah yang membuatnya rela dan berani mengadopsi politik hegemonis 
(kepenguasaan dan penjajahan) dan memarjinalkan amanat jabatan, di samping 
menolak memerdekakan dirinya dari akrobat kemunafikan. 

Tatkala ada keuntungan yang dikalkulasi bisa membesarkan pundi-pundi 
kekayaannya, mereka itu secepatnya mencari celah dan strategi jitu yang bisa 
digunakan untuk melumpuhkan kebenaran dan kejujuran. Ajaran adiluhung 
dikorbankan atau dilindas demi memenangkan keuntungan ekonomi eksklusif 
berbasis kolusif. 

Elite politik kita, misalnya, telah menjadi elemen strategis bangsa yang tidak 
sepi dari stigmatisasi sebagai pemain akrobat yang lihai dan piawai, meski 
sudah berpuluh-puluh orang di antaranya masuk bui akibat kriminalisasi yang 
dilakukannya. Mereka menolak memerdekakan dirinya. Pasalnya dengan akrobat 
itulah, pintu keuntungan terbuka lebar dan liberal. 

Salah satu akar masalah utama yang membuat terperangkap atau mudah tergoda 
dalam abuse of power adalah ketidaksiapan secara mental dalam menerima amanat 
yang dipercayakan kepadanya. Mentalitasnya tidak siap jadi pengabdi atau 
penegak kejujuran, sebaliknya lebih senang menahbiskan kebohongan. Praktik 
politik bermodus pendustaan publik seperti korupsi atau suap-menyuap 
dijadikannya sebagai opsi logis yang dipanglimakannya untuk menggusur model 
politik berbasis kebeningan nurani. 

Kalau politik bernurani yang diamalkannya, tentulah uang haram atau tak 
memenuhi standar akuntabilitas tidak sampai mengalir ke kantongnya. Namun, jika 
tetap memaksa dan terus berusaha mencari-cari celah untuk memperoleh atau 
menerima dana ilegal atau tak jelas, berarti dalam dirinya kehilangan nurani 
kerakyatan. Politisi yang punya nurani kerakyatan tak akan berani mengambil, 
menyiasati, atau memolitisasi anggaran yang bukan menjadi haknya. 

Mengingat politisi di negeri ini banyak yang tidak bernurani, akhirnya anggaran 
yang semestinya menjadi haknya masyarakat digunakan sebagai objek 'jarahan'. 
Nuraninya sedang pekat untuk membaca realitas kemiskinan masyarakat yang 
membutuhkan distribusi dana dari negara. Ulah politisi yang 'menjarah' dana 
publik itu dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak masyarakat. 

Jauh-jauh hari, budayawan Mochtar Mubis dalam Manusia Indonesia pernah 
mengingatkan bahwa salah satu penyakit mentalitas yang sangat parah dimiliki 
manusia Indonesia adalah mental hipokrit atau tabiat kemunafikan yang 
dipertahankan dan bahkan diagungkan dalam kehidupannya, baik dalam kehidupan 
bermasyarakat, bernegara, berbudaya, maupun berpolitik. 

Pengagungan budaya ambiguitas itu paling mencolok dilakukan kaum politisi yang 
sibuk menggelar akrobat politik atau berambisi mendapatkan kekayaan dengan cara 
instan dan anomalistik. Mereka bukan hanya menghalalkan penipuan dan pendustaan 
publik, melainkan juga pintar menggunakan rumus 'simbiosis mutualisme'. 

Kekayaan yang diperoleh politisi kita di luar ukuran normal pendapatan atau 
gaji resminya per bulan merupakan pendapatan yang patut ditengarai mengandung 
salah satu unsur uang haram atau uang salah alamat, salah 
dalam peruntukan anggaran, bagian dari fee proyek pembangunan, suap melicinkan 
jalan merebut jabatan strategis, dan sumber-sumber lain yang tidak sepantasnya 
diterima atau bertentangan dengan sumpah jabatannya. 

Mereka berani menerima dana ilegal itu sebagai imbas dari mentalitas hipokrit 
yang ditahbiskannya. Tanpa keberdayaan dan keberjayaan mentalitas kemunafikan 
itu, tak akan mungkin mereka berani dan tega 'menjarah' hak-hak masyarakat yang 
dipercayakan pengelolaan dan pertanggungjawabannya. Dan keberaniannya bisa 
merajalela jika tetap ditoleransi atau diberi kelonggaran untuk memproduksi 
kejahatan elitenya itu. 

Budaya hipokrit yang digerakkan mesin politik itu akan tetap terus 
menggelinding dari generasi ke generasi atau menjadi semacam parasit di tubuh 
parpol dan korps, selama tidak ada keberanian dari parpol untuk mereformasi 
atau memerdekakannya dari cengkeraman virus kemunafikannya. Parasit kemunafikan 
ini pun dapat mengancam dan bahkan menghambat cita-cita terkonstruksinya 
pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 

Keberanian melawan akrobat kemunafikan yang dilakukan elite politik memang bisa 
mengandalkan gerakan kritis atau kontrol masyarakat (konstituen), tetapi beban 
konstituen dalam kehidupan keseharian, seperti dalam menyelesaikan problem 
pekerjaan, pangan, kesehatan, pendidikan, perumahan, dan lainnya jelas tidak 
menyita waktu dan energinya, sehingga parpol dan korps wakil rakyat sebagai 
kekuatan institusional politiklah yang diharapkan bisa melakukan gebrakan 
konkret demi rehabilitasi citra politisi dan terwujudnya pemerintahan yang 
bersih dan berwibawa. 

Akrobat demagogis di kalangan politisi kita tak boleh terus berjalan dan 
berjaya. Pasalnya keberjayaannya akan membuat kondisi kehidupan bangsa semakin 
mengenaskan. Masyarakat akan hidup kian merana dan berakumulasi 
ketidakberdayaan akibat akrobat demagogis yang dijadikannya sebagai supremasi 
berbingkai negara dan proyek-proyek pembangunan, serta apologi kepentingan 
sakral rakyat. 

Kritik publik, baik dari tokoh agama maupun forum rektor PTN dan PTS, 
selayaknya dijadikan sebagai 'pekan reformasi mentalitas atau moralitas diri 
politisi atau setiap pemegang amanat'. Akrobat demagogis wajib dihentikan siapa 
pun yang masih peduli dengan masa depan negeri ini. Sebab jika perbuatan ini 
terus diberdayakan atau dimenangkannya, rakyat akan banyak kehilangan 
kemerdekaan di lini strategisnya. 

Setiap elemen bangsa ini tidak boleh berhenti atau memadamkan suara-suara 
kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Perlawanan terhadap paradigma berpolitik 
atau membangun kekuasaan yang digerakkan para demagog wajib dijadikan sebagai 
'proyek juang' yang diwujudkan tanpa kenal lelah. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke