TRIPOLI, KOMPAS.com - Aksi protes massal merebak di dunia Arab. Terinspirasi 
gelombang demonstrasi yang menjatuhkan rezim berkuasa di Tunisia dan Mesir, 
massa Iran, Aljazair, Bahrain, Libya, Jordania, Suriah, dan Yaman kini turun ke 
jalan untuk tujuan yang sama.

Efek domino perlawanan rakyat Tunisia merambat ke banyak negara di Timur Tengah 
dan Afrika Utara. Rabu (16/2), demonstrasi besar-besaran disertai tindak 
kekerasan oleh aparat merebak di Teheran, Iran.

Kubu propemerintah dan oposisi bentrok ketika oposisi memperingati kematian 
seorang mahasiswa, Sanee Zhaleh, yang ditembak mati aparat pada unjuk rasa 
antipemerintah, Senin.

Massa oposisi Iran berdemonstrasi, menyanyikan slogan-slogan anti-Presiden 
Mahmoud Ahmadinejad dengan dalih mendukung revolusi Arab. Dua tokoh opososi 
Iran, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, yang menjadi target untuk 
dijatuhi hukuman mati oleh parlemen, Rabu, menyalahkan penguasa dan memuji aksi 
para demonstran.

Karroubi bahkan melawan dengan mengatakan, "Akan membayar dengan harga apa pun 
untuk membawa perubahan demokrasi atau sosial dan politik." Ia melawan dan 
menyerukan perjuangan rakyat lewat situs pribadinya, sahamnews.org, bahwa ia 
telah siap "membayar harga apa pun".

"Saya menyatakan bahwa saya tidak takut ancaman apa pun. Dan sebagai prajurit 
bangsa yang besar, saya siap berkorban," katanya.

Anggota parlemen dari kalangan garis keras menyerukan agar Karroubi, Mousavi, 
dan Mohammad Khatami, tokoh proreformasi Iran, diseret ke pengadilan dan 
dihukum mati. Mereka dituding sebagai pendukung unjuk rasa aksi antipemerintah 
yang menyebabkan seorang mahasiswa tewas pada Senin lalu.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, "musuh" yang merencanakan 
demonstrasi antipemerintah di Teheran, Senin, akan gagal mencapai tujuan. "Ini 
bukti jelas bahwa Iran memiliki musuh. Iran adalah sebuah negara yang ingin 
maju dan mencapai puncaknya serta ingin mengubah hubungan antara negara-negara 
di dunia," ujarnya dalam siaran langsung di televisi negara.

Berkuasa 41 tahun

Aksi unjuk rasa massal untuk menggulingkan rezim otokratik juga muncul di 
Benghazi, kota terbesar kedua di Libya, Rabu. Unjuk rasa ini adalah yang 
pertama kali dilakukan sejak pemimpin Libya Moammar Khadafy berkuasa pada 1969. 
Massa berpawai dan berorasi mendesak Khadafy mundur.

Khadafy adalah kepala negara terlama di dunia saat ini. Sejak menggulingkan 
kekuasaan Raja Idris pada 1 September 1969, tokoh yang setia dengan pangkat 
kolonelnya itu telah berkuasa lebih dari 41 tahun. Ia menguasai negeri 
berpenduduk sekitar 6,5 juta jiwa (estimasi tahun 2010) itu nyaris tanpa 
oposisi.

Menurut media lokal, massa pengunjuk rasa akhirnya bentrok dengan polisi. 
Akibatnya, lebih dari 14 orang, termasuk polisi, mengalami luka-luka. Massa 
berunjuk rasa karena marah dengan penangkapan seorang aktivis hak asasi manusia.

Aksi serupa juga melanda Bahrain, sebuah negara pulau di Teluk Persia. Memasuki 
hari ketiga aksi itu, massa Syiah yang semula menuntut reformasi politik, yakni 
kebebasan politik yang lebih besar dan hak-hak politik, beralih menuntut 
pengunduran diri Perdana Menteri Khalifa bin Sulman al-Khalifa yang telah 
memimpin sejak 16 Desember 1971.

Tuntutan agar perdana menteri mundur muncul setelah massa tidak puas terhadap 
tindakan polisi yang menembak mati dua warga Syiah dalam aksi pada Senin dan 
Selasa. Dua peserta unjuk rasa yang tewas itu adalah Ali Abdulhadi Mushaima dan 
Fadel Salman Matrouk yang ditembak aparat pada hari Selasa.

Massa oposisi juga meneruskan aksi protes di Aljazair. Sejak rakyat Tunisia 
melakukan hal yang sama, rakyat Aljazair mulai bergerak. Mereka mendesak rezim 
Presiden Abdelaziz Buoteflika yang berkuasa sejak 27 April 1999 turun dari 
jabatannya.

Demonstran marah kepada Bouteflika dengan berkumpul di Alun-alun 1 Mei di pusat 
kota Algiers, ibu kota negara. Mereka berteriak "Bouteflika turun".

Di negara-negara Arab lain, seperti Jordania, Maroko, Suriah, Yaman, juga 
terjadi aksi massa menentang pemerintahan yang berkuasa.

Fenomena di Timur Tengah dan Afrika Utara sekarang ini seperti mengulang 
sejarah. Pada masa lalu, negara-negara Eropa memberontak kepada pemimpin 
Katolik, kemudian diikuti dengan serangkaian kejatuhan kerajaan di kawasan itu. 
Tujuannya adalah demi penegakan demokrasi (AP/AFP/REUTERS/CAL)



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke