KASUS TENAGA KERJA
      Hentikan Penempatan TKI ke Arab Saudi 

      Kamis, 17 Februari 2011

      JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah Indonesia diminta menghentikan 
sementara (moratorium) penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi. 
Ini karena bangsa dan negara lebih banyak mengalami kerugian dibanding manfaat 
dari penempatan TKI ke Saudi. 

      Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, berbagai 
kalangan sudah memberikan masukan kepada pemerintah untuk melakukan moratorium 
penempatan TKI ke Arab Saudi, namun pemerintah selalu lebih tergiur dengan 
banyaknya devisa yang dihasilkan TKI yang justru kerap dianiaya dan disiksa. 
       
      "Selama ini kasus pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa TKI di Arab 
Saudi sering direduksi dan hanya dilihat sebagai persoalan antara buruh dan 
majikannya. Apalagi, pihak Saudi juga menyatakan tidak akan menerima TKI lagi. 
Peran Pemerintah Indonesia menjadi tidak strategis dan tak berdaya di hadapan 
arogansi para majikan di Saudi yang banyak merampas hak-hak buruh migran kita," 
katanya di Jakarta, kemarin. 
       
      Sementara itu, Plt Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja 
Kemennakertrans Sunarno mengatakan, pengiriman TKI ke Arab Saudi dalam tiga 
bulan terakhir mengalami penurunan seiring pengetatan proses perekrutan dan 
penempatan calon TKI. Penurunan penempatan TKI ke Saudi mencapai 30 persen dari 
rata-rata 30.000 TKI menjadi 20.000 TKI per bulan. 
      "Semenjak pengetatan tiga bulan lalu, pengiriman TKI ke Arab Saudi turun 
30 persen. Pengetatan itu merupakan upaya perbaikan sistem perekrutan tenaga 
kerja dan akan kami berlakukan sampai situasi lebih kondusif," katanya. 
      Berdasarkan data Kemennakertrans, jumlah TKI yang dikirim ke Arab Saudi 
pada 2010 berjumlah 367.719 orang. Dari total ini, 337.564 bekerja di sektor 
informal, sedangkan sisanya bekerja di sektor formal. Sebelumnya, Arab Saudi 
secara resmi mengumumkan penghentian sementara penerimaan TKI mulai Senin 
(14/2). 
      Terkait hal ini, Sunarno mengatakan, pernyataan dari Kadin Arab Saudi 
hanya keinginan dari kelompok tertentu. Pemerintah Arab Saudi sendiri belum 
mengeluarkan pernyataan terkait pembatasan pengiriman TKI. "Belum ada 
pernyataan resmi dari pemerintah Arab Saudi," tuturnya. 
      Hal senada juga diungkapkan Kepala Badan Nasional Penempatan dan 
Perlindungan TKI (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat. Dia membantah berita-berita yang 
menyebutkan Arab Saudi menghentikan sementara perekrutan TKI. 
      "Saya sudah bicara langsung dengan Ketua Sanarcom (Saudi Arabia National 
Recrutment Committe) Saad Al-Badah bahwa yang diinginkan adalah agar diadakan 
asosiasi yang khusus menempatkan TKI ke Arab Saudi. Jadi, tidak seperti 
sekarang ini ada tiga asosiasi, yaitu Apjati (Asosiasi Perusahaan Jasa TKI), 
Himsataki (Himpunan Pengusaha Jasa TKI), dan IdEA (Indonesia Development 
Employee Association)," katanya. 
       
      Di lain pihak, Ketua Dewan Direktur Center for Information and 
Development Studies (CIDES) Ricky Rachmadi mendesak pemerintah menerbitkan 
surat keputusan bersama (SKB) lima menteri untuk penanganan permasalahan TKI. 
SKB lima menteri ini melibatkan Mennakertrans, Menteri Kesehatan, Menteri Luar 
Negeri, Menteri Hukum dan HAM, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan 
Perlindungan Anak. Kelima menteri tersebut bekerja di bawah koordinasi Menteri 
Koordinator Kesejahteraan Rakyat. 
       
      "Karena mafia TKW dan TKI sudah menggurita, maka penanganannya tidak bisa 
diberikan pada satu instansi, tapi harus dikoordinasikan di bawah Kantor Menko 
Kesra," katanya. 
       
      Ricky, yang juga wakil Sekjen Partai Golkar, mengatakan, KBRI dan KJRI di 
negara tujuan penempatan TKI harus diajak berdialog untuk memaparkan dan 
mencari jalan keluar dari permasalahan yang dialami TKI, khususnya di Timur 
Tengah dan Malaysia. Setelah mendapat penyiksaan fisik, pelecehan seksual, 
hingga gaji tidak dibayar majikan, TKI bermasalah saat ini banyak tidur di 
penampungan yang dalam kondisi berdesak-desakan. 
       
      Di tempat terpisah, anggota Komisi IX DPR Irgan Chairul Mahfiz 
menyayangkan keputusan pihak Arab Saudi yang menghentinkan penerimaan TKI 
sebelum ada perundingan dengan pihak dari Pemerintah Indonesia. Padahal, 
Indonesia juga melakukan upaya perbaikan dalam sistem perekrutan dan penempatan 
TKI ke luar negeri. 
       
      "Arab Saudi butuh TKI, dan Indonesia juga menempatkan Arab Saudi sebagai 
tujuan negara penempatan TKI. Seharusnya ada komunikasi antara Pemerintah Arab 
Saudi dan Indonesia untuk mencari solusi," tutur Irgan, yang juga Sekretaris 
Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini (tidak seperti yang tertulis di 
berita HU Suara Karya edisi Sabtu/12-2 halaman 12 yang menyatakan bahwa Sekjen 
PPP adalah Romahurmuziy). (Andrian/Bayu)  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke