http://riaupos.co.id/news/2011/02/peringatan-untuk-pemimpin-di-indonesia-oleh-harmaini/

Peringatan untuk Pemimpin di Indonesia Oleh: Harmaini
Posted by idris on February 18, 2011 0
Akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 diwarnai dengan peristiwa politik yang 
sangat mengejutkan dan mengancam di beberapa negara khususnya di negara benua 
Afrika yang sedang bergejolak.

Dimulai dari negara Pantai Gading menjalar ke Tunisia dan menular ke Mesir.

Ada satu kesamaan di ketiga negara tersebut yaitu masalah kepemimpinan yang 
terlalu lama memimpin dan akhirnya rakyat menjadi jenuh dan muak.

Yang terjadi pada rakyat adalah konflik laten pada semuai rakyat. Konflik laten 
yang sama tersebut memuncak dan akhirnya mudah untuk digerakkan. Apa yang 
terjadi di Afrika setali dua uang dengan apa yang terjadi pada tahun 90-an, di 
mana Uni soviet pecah menjadi beberapa negara yang dulunya memang negara-negara 
yang secara sejarah tidak sama.

Selanjutnya, Jerman Barat dan Timur menjadi satu Jerman. Jerman Barat dan 
Jerman Timur dulunya satu terpisah karena perbedaan paham kenegaraan, namun 
karena rakyatnya satu lambat laun tidak tahan terpisah dan akhirnya tembok 
Berlin pun dirubuhkan sebagai simbol penyatuan Jerman.

Yugoslavia hampir sama dengan UniSsoviet. Bergejolak dan karena memang dulunya 
mereka berbeda dan disatukan, namun perbedaan tersebut tidak dapat bertahan 
lama, akhirnya masing-masing membentuk negara bagian yang satu rumpum seperti 
Serbia, Kroatia, Bosnia dan lain sebagainya.

Di Indonesia, pada tahun 1998 terjadi gejolak yang hampir sama dengan yang 
terjadi di Mesir, yaitu terlalu lamanya rezim Soeharto berkuasa dan menimbulkan 
kemuakan pada rakyat dan muncul peristiwa Mei 1998 yang akhirnya mengakhiri 
kekuasaan Soeharto.

Bosan-Kohesi
Apa yang terjadi di beberapa negara di benua Afrika ini seharusnya menjadi 
pelajaran bagi pemimpin di Indonesia mulai dari Presiden sampai pada pemimpin 
daerah. Presiden Irak mengambil pelajaran dengan menurunkan gajinya dan 
dibagikan untuk rakyat miskin, presiden Yaman mengganti perdana menteri.

Apa yang dilakukan kedua pemimpin negara Teluk tersebut bisa menjadi semacam 
kekhawatiran apa yang terjadi di Mesir tidak terjadi negerinya.

Di Indonesia mantan Presiden Soeharto memberikan pelajaran pada kita, bahwa 
memimpin terlalu lama akan memberikan efek bosan dan akhirnya rakyat akan 
bergejolak. Efek bosan ini adalah suatu hal yang sifatnya manusiawi.

Kebosanan sebenarnya tidak hanya masalah lama atau tidak lama seseorang 
memimpin, tapi juga masalah penampilan pejabat yang ditampilkan seseorang 
seperti gaya hidup dan kebijakan yang diambil.

Masalah lama atau tidak lama dapat menjadi pemicu yang besar apabila seseorang 
tersebut menampilkan suatu kebijakan yang sama semenjak dimulai memimpin sampai 
pada saat mumculnya gejolak dan ditambah kebijakan tersebut tidak membawa pada 
perubahan ke arah yang lebih baik.

Masalah penampilan yang ditampilkan seperti gaya hidup yang mewah sementara 
rakyatnya susah untuk membeli beras satu kilogram dapat menimbulkan kebencian 
dan prasangka dan ini adalah benih-benih gejolak.

Dulu awalnya kepemimpinan rakyat sebagai kelompok masyarakat terkait dengan 
pemimpinnya tapi apabila anggota masyarakat merasa kebebasan atau hak-hak 
pribadinya terancam, maka ia akan melawan. Apa yang terjadi di Indonesia, 
Tunisia dan Mesir adalah merupakan dari keadaan tersebut.

Di Indonesia pemimpin daerah sampai presiden harus mengetahui keadaan ini. 
Fenomena yang nampak sekarang sepertinya sudah mengarah pada ketidakbenaran dan 
rakyat mulai bosan dengan gaya-gaya para pemimpin di Indonesia.

Beberapa pemimpin di Indonesia hidup bak berada di negara yang kaya aman 
sejahtera, padahal kurang lebih 30 juta masyarakat Indonesia masih 
dikategorikan miskin. Dan beberapa anggota dewan mulai dari daerah sampai pusat 
seperti kurang sense of feeling terhadap apa yang dirasakan konstituennya.

Dalam bidang hukum telah terjadi mafia hukum pada instansi kepolisian, 
kejaksaan dan pengadilan. Contoh mafia hukum seperti yang terjadi pada 
Artalyta, kasus penukaran napi, kasus Cirus Sinaga dan belum lagi kasus KKN 
yang masih hidup di berbagai lini kehidupan negara ini, mulai dari daerah 
sampai pusat.

Dalam bidang pertanian, pemerintah berencana akan mengimpor beras, pembebasan 
bea masuk produk pangan serta rendahnya serapan gabah petani oleh Bulog.

Keadaan-keadaan di atas menyebabkan masyarakat diberbagai daerah mudah 
meluapkan kemarahannya walaupun masalahnya sepele. Maka sering kita melihat dan 
mendengar di berbagai daerah hampir setiap hari terjadi perkelahian  antar 
warga, yang terjadi sebenarnya adalah ada masalah laten yang sudah komplikasi 
di negeri ini.

Masalah laten tersebut berupa kebosanan, ketidakpuasan, kebencian dan 
ketidakpercayaan pada pemimpin atau pejabat di negeri ini.

Apabila keadaan ini tidak cepat disadari oleh pemimpin kita, maka tunggulah 
rasa bosan akan memunculkan kohesi untuk melakukan kegiatan melawan seperti 
yang terjadi di beberapa negara Afrika saat ini.

Tragedi Mei 1998 bukan tidak mungkin terjadi lagi dan mungkin akan lebih parah. 
Harapan masyarakat dulu setelah Presiden Soeharto turun  adalah adanya 
perbaikan, tapi malah lebih parah yang dirasakan masya-rakat.

Pemimpin dan pejabat sekarang ibarat si miskin dapat uang berlimpah, tidak tahu 
cara memanfaatkannya akhirnya uang tersebut habis entah kemana, jangankan dapat 
bahagia malah dapat umpat, cela dan dosa.

Tokoh lintas agama, forum rektor dan sejumlah guru besar mengatakan dalam 
pertemuannya bahwa negara terancam gagal karena apa yang terjadi sekarang sudah 
mengarah pada ketidakbenaran. Apa yang disampaikan tokoh-tokoh tersebut berupa 
pesan yang wajib untuk didengar dan ditaati oleh seluruh pe-mimpin dan pejabat 
di negari ini.

Pemimpin dan pejabat di negri ini mungkin perlu bejalar ke Presiden Iran 
Ahmadinejad, yang meninggalkan kemehawan dan fasisitas yang didapatnya seperti 
hanya memakai baju yang biasa dan selalu peduli pada kemakmuran rakyat dan 
kemajuan negaranya.

Mungkin perlu juga belajar pada mantan presiden Korea Selatan yang memberikan 
seluruh hartanya untuk diberikan pada orang miskin di negaranya. Mungkin juga 
perlu belajar pada pejabat-pejabat di Jepang dan Korea Selatan yang mau 
mengundurkan diri karena merasa bersalah.

Perlu juga belajar dari cara hidup Bung Hatta wakil presiden pertama kita yang 
hidup sederhana, tidak perlu pencitraan diri dan selalu ingin membesarkan 
koperasi.***

Harmaini Dosen Fakultas Psikologi UIN Suska Riau.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke